Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Belah durian


__ADS_3

"Itu salepnya cara gunainnya gimana?" Anisa mengambil salep kecil dari tangan Pramana.


"Sini aku aplikasikan, caranya gimana ... ya dioleskan lah. Nggak mungkin kan diminum he he he ..." Pram duduk di dekat Anisa.


Anisa pun memberikan kembali salamnya kepada Pramana.


Kemudian Pramana hendak mengaplikasikan salep itu di bagian atas dulu. Seperti di leher bagian samping dan belakang ada yang merah-merah sebagai tanda kepemilikan yang ia buat semalam.


Tanda kepemilikan itu benar-benar baru semalam Pramana berani membuatnya, karena sebelum-sebelumnya ia nggak berani buat. Entah risih atau gimana, yang jelas gak berani saja kalau sebelumnya.


"Emangnya maka itu, bisa hilang dengan cepat gitu?" Anisa menyentuh bagian kulit yang ada tanda merahnya tersebut.


"Katanya sih ... akan sedikit menyamarkan dan memang lebih cepat untuk menghilangkan!" jawabnya Pramana sembari mengoleskannya di atas bagian dada yang tampak lebih banyak.


"Lagian ngapain sih bikin kayak gituan? jadinya kan perih gini!" Anisa kembali sedikit menggerutu.


"Tapi kan lebih nikmat sayang, sensasinya lebih berasa. Dan nanti juga pasti akan ketagihan, percaya deh, dan itu aku tahu dari teman ku yang sudah menikah!" timpal Pram sambil terus mengoleskan salepnya biar sedikit tapi rata yang dirasakan oleh Anisa nyess. Sejuk.


"Tapi kan kalau dilihat orang aku jadi malu!" tambahnya anisa kembali.


"Ya ... nggak mungkin lah, kan kamu pakai kerudung! nggak mungkin dilihat orang Cuma aku aja yang lihatnya," ucap pria itu lagi lalu meminta Anisa duduk lebih tengah.


"Eeh mau ngapain?" ketika Pramana mendorong bahunya agar berbaring atau setidaknya mencondongkan tubuhnya bisa ke belakang, serta memposisikan kakinya agar terbuka.


Tentunya Anisa malah menutup kembali dan merapatkan kedua kakinya.


"Sayang gimana sih, katanya sakit dan terasa bengkak di bagian itu. Aku mau obati lho!" Pramana menatap tajam ke arah Anisa yang tampak malu-malu.


"Nggak-nggak, biar aku sendiri aja yang mengobatinya. Aku mau oleskan sendiri di kamar mandi saja!" Anisa meminta salep tersebut.


Namun Pramana tidak serta-merta memberikan salep tersebut kepada Anisa, malah dia kekeh yang ingin mengobatinya. "Sayang kenapa sih mau tanya sama suami!"

__ADS_1


"Tapi aku malu!" protesnya Anisa bagaimanapun dia malu lah. Kalau di lihat dengan pandangan yang begitu saja.


"Kenapa mesti malu sih? kan sudah aku pakai dan setidaknya aku sudah tidak asing lagi!" Pram kekeh dan menyuruh Anisa untuk berbaring.


Pada akhirnya Anisa pun menuruti permintaan dari Pramana. Anisa pun menutupi wajahnya yang merasa sangatlah malu ketika Pram tanpa ragu menarik penghalang daerah yang akan dia obati.


Dengan kaki terbuka. Pram melihat seutuhnya, yang benar saja tampak sedikit lecet dan bengkak. Bibirnya senyum-senyum sendiri. mengingat semalam yang dia lakukan terus dan terus, sementara Anisa belum terbiasa. Masih mending tidak pinsan juga anak orang. Setelah puas menatap dan senyum-senyum sendiri Pram pun mengoleskan nya dengan lembut di area tersebut.


"Och ... ngilu banget!" gumamnya Anisa sambil menggigit bibir bawahnya dan tidak berani melihat ke arah Pram. Rasanya malu banget dibuatnya, sumpah.


Pramana menyudahi dan menutup salepnya, dengan senyuman yang terus merekah dari bibir pria tersebut. "Sudah, gimana rasanya? lebih baik bukan?"


Anisa pun bangun dengan wajah yang merah merona. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Pramana.


"Gimana mau jalan-jalan keluar atau mau lanjutin yang semalam?" pertanyaan itu sengaja keamanan ajukan untuk menggoda istrinya.


Kedua manik mata Anisa terbelalak dengan sangat sempurna ke arah Pramana ini aja baru diobatin sudah adanya dilanjutin. "Tidak-tidak, mendingan kita jalan keluar saja ke tempat berenang."


Dengan refleks Anisa menjauh dari Pramana. Dan buru-buru Dia penampakan kakinya ke lantai menuju kamar mandi seraya menyembah sesuatu yang terlihat tapi atas tempat tidur.


Anisa hanya bisa tersipu malu dan menyembunyikan, wajahnya di balik punggungnya Pramana.


"Gimana durennya manis kan? Uuh pasti manis dong ... makanya tidur aja sampai lupa waktu, bangun kesiangan! padahal itu bukan malam pertama lagi tapi sudah malam yang sekian kalinya, yang pertama cuman satu. Belah durennya doang ha ha ha!" goda andre kepada sang adik.


Pramana hanya mengulum senyumnya, sambil mengambil gelas air minum yang lalu ia teguk nya. Untuk menghilangkan rasa dahaga di tenggorokannya.


"Aku tidak bisa membayangkan, gimana Pram dengan lahapnya menikmati itu wah ... Kayanya gak bakalan cukup dua tiga kali. Sepertinya tidak berhenti kali ya wk wk wk ..." tambah Deni dengan tawa lebarnya.


Pak Joni sama istri, dan pak Lukman sama istri juga keluarga dekat lainnya. Kebetulan duduknya di kursi yang berbeda dari para anak muda, sehingga berada agak bebas untuk bicara.


Sambil nikmati angin yang sepoi-sepoi menghadap ke arah laut. Dan orang-orang yang telah menikmati indahnya pantai.

__ADS_1


"Kalian ini jangan menyerang Anisa dan brahmana kasihan ... mendingan kita tanya, gimana rasanya tuh pertama kali melakukan ritual pencucian pedang pusaka pemberian nenek moyang. Langsung berhasil atau tidak? langsung rontok gak itu karatnya hi hi hi ..." timpanya Renita sembari mengedarkan pandangannya kepada Anisa dan Pram yang masih tampak malu-malu.


"Huuh ... Katanya nggak boleh nyerang. Tapi ditanya juga sama aja kali ach ..." kata Deni dan Andre kepada Renita.


Aisyah, suaminya dan Dea cuma tertawa sambil menyimak obrolan mereka semua tanpa menimbrung dengan kata-kata.


"Em ... rasanya itu--"


"Yank ... apaan sih? nggak boleh bilang-bilang tahu, malu!" bisiknya Anisa seraya memotong perkataan dari suaminya.


Pram tersenyum ke arah Anisa lalu kembali mengedarkan pandangannya ke arah sang kakak, Deni dan Renita. "Rasanya itu ... panas dingin, pusing kalau nggak kesampaian!"


Mulanya Anisa sudah deg-degan dan juga sudah panik, takut Pramana mengatakan secara detail. Tetapi tidak juga.


"Tapi kalau sudah kesampaian, nggak pusing lagi ya Pram? pada akhirnya Azis mengeluarkan suaranya.


"Insya Allah yang kalian lakukan itu akan mendapatkan pahala! jika kalian melakukannya dengan ikhlas." Tambahnya Aisyah sembari mengulaskan senyuman dari bibirnya.


Pramana dan Anisa hanya mengganggukan kepalanya.


"Rumah tangga itu tergantung niat kita, dan hasilnya gimana! apa kita akan buat mudarat atau manfaat? ibadah atau sebaliknya. Semuanya tergantung pada diri kita sendiri." kata Aisyah kembali.


"Aku jadi pengen secepatnya menikah, biar aku bisa beribadah!" celetuknya Dea.


"Dea, menikah itu jangan sampai terburu-buru apalagi karena dorongan orang lain. Seperti keluarga, omongan orang. kebutuhan tertentu! nikah itu harus siap sesiap-siapnya. Karena hasilnya nanti setelah menikah gimana? tergantung niatnya dari sekarang." Jelas Aisyah. "Dan kita harus benar-benar pandai memilih dan memilah! calon pasangan yang akan mendampingi hidup kita kelak, karena berumah tangga itu bukan untuk satu hari, mingguan atau bulanan!" tapi insya Allah untuk seumur hidup!"


"Aku mau menambahkan ya! beeumah rumah tangga itu membutuhkan kejujuran, keterbukaan agar tidak timbul kesalahpahaman satu sama lainnya. Kita pasti punya masa lalu mau kelam mau biasa aja! pokoknya masa lalu dan apakah kita akan bisa menerimanya! itu harus, karena menikah bersama komitmennya! sesuatu yang tidak pernah dilakukan sebelum menikah. Setelah menikah itu benar-benar pasangan suami istri yang harus berubah lebih baik." Azis berujar panjang lebar.


Lalu beberapa saat kemudian Pramana menggandeng tangan Anisa. Diajaknya untuk berjalan-jalan mendekati pantai, berlarian di sana tampak sangat bahagia.


Namun dari jauh. Ada sepasang mata yang menatap ke arah sepasang suami istri itu dengan pandangan yang setajam elang yang hendak memangsa korbannya ....

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2