
Hari ini semua keluarga sudah berkumpul dan mereka bersiap untuk ke hotel, menginap di sana dan besok paginya yaitu resepsi pernikahan dan Anisa.
"Apakah semuanya sudah siap? dan jangan lupa ada yang ketinggalan dan nggak bolak-balik lagi!" tanya Pak Joni yang menatap ke arah semuanya.
Semua yang berada di ruang keluarga itu saling pandang seraya bertanya satu sama lain. Apa yang mau dibawa sudah siap semua, jangan sampai ketinggalan.
Pramana dan Anisa yang masih berada di dalam kamarnya, semua yang mau dibawa sudah dikemas dan sudah siap dengan menjinjing. Namun ketika Anisa mau keluar dan membawa tasnya.
Pramana yang sedang mengenakan jam di tangannya, langsung meraih pinggang Anisa hingga tubuh wanita cantik, berbulu mata lentik dan panjang itu berbalik tubuhnya menubruk dada Pramana.
"Apa-apaan sih? di bawah sudah siap mau berangkat ke hotel!" pujinya Anisa sembari mengangkat wajahnya melihat ke arah wajah Pramana yang menunduk melihatnya.
"Emangnya kenapa? kalau mereka sudah siap untuk berangkat ke hotel, kita bisa berangkat berdua! lagian itu lebih baik, jadinya nggak ada yang ganggu kita. He he he ..." Pramana menunjukkan giginya yang putih nan bersih itu kepada Anisa.
"Iih ... kan kita ikut rombongan masa kita berdua aja, bawa mobil sendiri dong--"
"Iya, bawa mobil sendiri, bila perlu suruh mang Pei untuk bawa! biar kita bisa santai-santai!" Pramana menempelkan hidungnya di pipi Anisa menghirup bau nya yang begitu semerbak.
"Sudah ach, kita kumpul di bawah yo ... sebentar lagi mau berangkat." Anisa melepaskan diri dari pelukan Pram.
Namun Pram tidak melepaskan, melainkan semakin mengeratkan rangkulannya hingga keduanya sangat menempel rapat.
"Yank ..." Anisa bergumam yang langsung dan Pram langsung meraup bibir Anisa.
Pram menyentuh ya dengan sangat lembut. Nyess ... dingin, lembut dan juga menimbulkan rasa hangat.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
__ADS_1
Suara ketukan pintu mengagetkan Anisa dan Pram yang sedang menikmati ritual terenak nya. Sehingga keduanya sontak menoleh ke arah pintu yang terdengar di ketuk tersebut.
Dengan cepat tangan Pram mengusap bibirnya yang lembab. "Siapa sih? mengganggu saja!" gumamnya kesal.
Anisa mendorong dada Pram dan langsung membawa langkahnya mendekati daun pintu.
"Nisa ... ini akak. Kamu masih ada di dalam kan? itu mau ikut rombongan gak? mau berangkat." suaranya Aisyah dari balik pintu.
"Iya, Kak sebentar ..." balasnya Anisa sembari membukakan pintu tersebut.
Aisyah berdiri di depan pintu kemudian dia mengolah senyumnya kepada sang adik kamu sudah siapkan Dek?"
"Iya, Kak. Sudah kok Sudah siap dan barang yang mau aku bawa juga semuanya sudah siap, tinggal pergi saja," jawabnya Anisa sembari menoleh ke arah belakang di mana kopernya sudah berjajar.
"Oh iya, Kakak menemukan sesuatu yang aneh dari kamu Dek.
"Yang aneh? yang aneh gimana Kak?" Anisa mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti dengan yang dimaksud oleh sang kakak.
"Makasih Kak? makasih banyak dan doakan terus aku ya! semoga aku bisa istri yang baik dan tidak terlalu banyak menuntut, gitu kan!" Anisa menatap sang kakak dengan sudut bibir yang tertarik ke samping.
"Menuntut hak itu boleh, karena itu memang kewajiban juga! cuman kita harus lebih banyak bersyukur dengan apa yang diberikan suami kepada kita. Semampu nya dia." Aisyah merangkul bahunya sang adik.
Di saat Anisa dan Aisyah sedang bercengkrama, Pramana membawa dua tas nya ke luar dari kamar tersebut.
Anisa hanya melirik dengan ujung matanya ke arah Pram, yang berjalan gontai menarik dua koper miliknya dan Pram.
"Kak, sepertinya hari ini aku bersih-bersih deh. Karena sudah bersih juga," Anisa mengalihkan pandangannya kepada Aisyah yang kini mereka sedang duduk di sebuah sofa panjang.
"Oh iya dong ... kalau sudah bersih segeralah bersih-bersih mensucikan diri, dan segera lah melayani suami sepenuhnya. sebab melayani suami wajib hukumnya." Ujar Aisyah pada sang adik.
"Kak, gimana kalau kita tidak bisa melayaninya dengan baik dengan alasan tertentu?" tanya Anisa pada Aisyah.
__ADS_1
"Alasan nya apa dulu? suami itu sala satu yang Allah muliakan dan harus kita hormati, istri itu harus tunduk padanya menuruti perintahnya selagi itu baik. Ada kisah di jamannya nabi kita nabi Muhammad shalallahu alaihi salam. Yang menceritakan kalau suaminya itu sedang pergi ke Medan perang dan suaminya itu ... berpesan pada sang istri. yang bunyinya itu, wahai istri ku. janganlah kau keluar dari rumah ini sebelum aku pulang. Terus pada keesokan harinya datanglah utusan dari orang tua sang istri, kalau salah satu orang tuanya itu sakit keras. Diharap putrinya itu dapat menemui orang tuanya yang sedang sakit itu." Aisyah menjeda perkataannya itu sejenak.
Dan Anisa mendengarkan sangat antusias dan menatap sang kakak.
"Kata di istri itu bilang sama sang utusan, kalau dia akan datang pabila sang suami sudah pulang. Hari kemudian keluarganya yang sakit itu semakin parah, sang urusan kembali datang untuk menyampaikan kabar tersebut. Sementara si istri itu belum bisa datang karena suaminya itu belum pulang juga dari Medan perang. Pulanglah si utusan tersebut, pas keesokannya lagi si utusan kembali dengan membawa kabar yang lebih penting. Yaitu membawa kabar bahwa orang tuanya si istri itu sudah meninggal. Sampai tiga kali utusan datang menyampaikan kabar berharap si istri itu datangi keluarganya, namun dengan tunduk ya si istri dengan perintah dari suaminya sehingga dia mengabaikan keluarganya. Kalau di zaman sekarang tentunya si istri akan di hujat habis-habisan bukan cuma dari keluarga tapi juga oleh netizen. Karena dia anak yang durhaka yang tidak perduli sama sekali paa keluarganya yang dari sakit keras sampai sekarat dia tidak datang. Tapi sesungguhnya orang tua si istri itu di angkat derajatnya dan insyaallah di tempatkan di surganya Allah karena mempunyai putri yang sholehah dan sangat patuh pada suaminya."
"Masya Allah ..." gumamnya Anisa. "Kalau sekarang banyak alat komunikasi ya, sehingga di mana pun bisa meminta ijin untuk menemui keluarganya."
"Iya, itu kan di zamannya nabi yang tentunya tidak ada sarana untuk komunikasi secepat kilat seperti sekarang ini, terkecuali surat dan itu pun harus di antar pula sama orang. Ada juga kisah lainnya tentang melayani dan kepatuhan istri terhadap suami. Kisah dari Hushain bin Muhshan, bahwa sang bibi bercerita kepadanya, "Saya datang kepada Rasulullah karena satu keperluan, Kemudian Rasulullah Shallallahu 'hi Wasallam bertanya, "Siapakah Anda, apakah Anda memiliki suami?" Saya menjawab, "Benar." Nabi berkata, “Bagaimana Anda melayaninya?" Saya menjawab, "Saya melayaninya dan patuh kepadanya kecuali di saat saya capek." Nabi berkata, "Lihatlah, bagaimana kepatuhan mu kepadanya. Sesungguhnya dia adalah surga mu dan neraka mu."
Anisa mengangguk-anggukkan kepalanya dan meresapi apa yang sang kakak terangkan.
"Intinya ... istri itu harus patuh pada suami. Terkecuali melenceng dari syariat. Itu bisa di tentang!"
"Tadi ngajak pergi, sekarang malah masih duduk manis dan membiarkan ku sendiri!" Pram berdiri dan nyender di sisi pintu dengan tangan dilipat di dada.
Anisa dan Aisyah menolehkan kepalanya ke arah Pram yang tampak dingin.
"Maaf, sedikit banyaknya. Aku belajar dulu dari Kak Aisyah," ucapnya Anisa.
"Belajar apa?" Pramana menaikkan kedua alisnya.
"Belajar tentang patuhnya istri kepada suaminya," sahutnya Anisa sembari mengenakan kerudungnya.
"Oya, semuanya sudah siap tinggal berangkat!" tambahnya Pramana sembari membalikan tubuhnya dan mengayunkan langkah meninggalkan tempat tersebut.
Bibir Anisa menerbitkan senyuman memandangi punggung Pram, seraya beranjak dan berkata pada sang kakak. "Ayo Kak?"
Lalu keduanya berjalan beriringan keluar dari tempat tersebut. menyusul Pram yang sudah menuruni anak tangga. Di lantai bawah sudah tidak ada siapa-siapa selain Pram yang menunggui Anisa yang masih berjalan di tangga bersama sang kakak ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Seperti biasa aku akan mengundang reader ku semua ke dunia halu aku, yaitu mengundang kalian semua ke acara resepsinya pernikahan Anisa dan Pram. dan pasti banyak nama yang tidak bisa aku sebutkan, pertama ... karena aku nggak tahu namanya, sebab mungkin nggak pernah komen sama sekali yang kedua mungkin aku lupa namanya🙏