
Pramana menyimpan barang itu di atas meja, kemudian membuka setelannya niat untuk mandi. Namun sebelum pergi ke kamar mandi dia iseng membuka lemari tempat pakaian wanita dan ternyata sudah kosong! pakaian yang dia persiapkan untuk Adisty raib sudah, mungkin sudah dipindahkan oleh art ke tempat lain sehingga tempat itu kosong melompong.
"Di pindahkan ke mana semua pakaian wanita, apakah dipindahkan ke kamar lain? Dan tiada barang satupun milik Anisa di sini." Gumamnya Pramana bermonolog sendiri sambil celingukan.
Kepala Pramana menoleh kanan dan kiri. "Apa iya sudah dibawa ke kamar lain? terserah sih!" Pramana menggoyangkan kedua bahunya kemudian melanjutkan niatnya untuk ke kamar mandi.
Ketika Pramana tadi pulang, Anisa sedang berada di samping rumah sedang menyiram bunga, dan dia sempat melihat kalau Pramana membawa suatu barang yang berbentuk segi empat dan Sonia pikir itu pasti pas bunga yang tadi pecah. Mungkin dia sudah perbaiki dan dibawa pulang.
"Adudududududuh ... pengantin baru, suaminya dah pulang! kenapa nggak disambut?" suara Renita memecah keheningan membuyarkan lamunan dari Anisa.
"Kak Renita ngagetin saja deh!" Anisa tersenyum ke arah Renita yang tiba-tiba saja berada di sana.
"Lagian ngapain kamu ngelamun? itu suami kamu sudah pulang! disambut kek, dikasih kecupan tangan. Pipi dan kening--"
"Tapi kan Kak ... sebenarnya nggak boleh aku bersentuhan dengan dia," jawabnya Anisa sembari kembali menyiram bunga dengan air yang selangnya dia pegang.
"Ach sentuhan gitu mah biasa saja, gak aneh. Orang pacaran saja berani! masa yang udah sah di mata hukum aja nggak berani. Asal jangan kebablasan aja! ya ... anggap saja sebagai pendekatan. Iya kan?" sahutnya Renita.
"Kak Renita bisa aja! sama aja Kak." Anisa menggeleng lalu dia menyudahi kegiatannya karena memang sudah semua bunga dia siram.
"Emangnya menyediakan minum saja nggak boleh? sudah sana!tunjukkan kalau kamu itu calon istri yang baik yang perhatian yang penuh kasih sayang. Sehingga dia tidak akan salah memilih deh!" sambungnya Renita sembari menunjuk ke arah dalam rumah dengan dagunya.
"Ya ampun, Kak ... panjang sekali itu he he he," ucapnya Anisa sembari terkekeh.
"Nisa, suaminya sudah pulang! kenapa nggak disambut beri dia segelas minum, pasti dia haus setelah itu barulah bantu ibu untuk memasak!" kini suara sang ibu mertua dari balik jendela yang tepatnya dari dapur.
"Nah ... kan, apa aku bilang juga! di sambut suaminya! sudah aku bilangin dianya nggak mau nurut nih, Bu ..." ucapkan Renita pada Anisa lalu memekik yang ditujukan pada sang ibu mertua.
"Iya-iya nih saya salah." Jawabnya Anisa sambil berjalan menghampiri pintu belakang di mana sang ibu mertua ada di sana.
"Iya, Bu ... biasanya kalau pulang minumnya air apa?" tanya Anisa pada ibu mertua yaitu ibu Hajah Bella.
"Kalau pulang kerja! air putih saja, kalau pagi-pagi atau malam bikin susu jahe!" jelasnya sang ibu mertua.
__ADS_1
"Oh gitu ya? ya sudah Anisa bikinkan air putih dulu." Kemudian Anisa menuangkan air putih ke dalam gelas lalu dia bawa ke lantai atas yang akan dia suguhkan kepada Pramana di kamarnya.
Langkah demi langkah yang Anisa tapaki satu persatu anak tangga yang dia lewati, pada akhirnya dia berhenti di depan pintu kamarnya Pramana.
Sebelum masuk dia pun mengetuk terlebih dahulu namun tak ada sahutan dari dalam! sehingga Anisa memberanikan diri untuk masuk, perlahan mendorong handle pintu tersebut dan ternyata kamar itu kosong. Namun terdengar suara kucuran air dari kamar mandi.
Anisa meneruskan langkahnya menuju ke dalam kamar Pram. Kemudian dia simpan gelas air Putri tersebut di atas nakas. Manik matanya melihat barang yang berbentuk segi empat tersebut di meja! namun kali ini dia tidak berani untuk menyentuh. takus seperti tadi lagi, yang ada hanya bikin rusuh.
Sejenak Anisa menatap barang tersebut. Lalu kemudian langkahnya berlanjut kembali melintasi pintu dan meninggalkan kamar Pramana.
Selanjutnya Anisa membantu bibi dan ibu mertua memasak untuk makan malam.
"Nisa harus tahu, makanan kesukaan apa aja yang menjadi favoritnya Pramana," ucapnya sang ibu mertua yang Anisa dengarkan dengan seksama.
"Rendang ayam, rendang daging malah, telur di masak apa saja. Sop buntut. Ikan goreng! pepes ikan kalau tempe dia kurang suka, tahu pun dia kurang suka ingat ya tahu tempe Pramana tidak suka."
"Oh iya, misalkan ingat, Bu ... kalau Pramana nggak suka tahu dan tempe! tapi kalau sayuran suka kan Bu ..." tanya Anisa kembali.
Kemudian Anisa pun berkutat di dapur. Membantu ibu mertua dan asisten memasak.
Sementara Renita sesekali pengen muntah dan menjadikannya sering bolak-balik wastafel untuk membuang isi perutnya.
"Kak Renita mau aku oles kayu putih ya punggung nya?" tawarnya Anisa kepada Renita, dia merasa tidak tega melihat Renita yang muntah-muntah.
"Aku ini sedang ngidam. Anisa ... bukan masuk angin--"
"Tapi kan, siapa tahu aja bisa Kak. setidaknya mengurangi," Anisa memotong perkataan dari Renita.
"Nggak usah, nggak usah biar aku sendiri aja kamu lanjutin aja masaknya, biar nanti aku oles sendiri!" Renita sembari memainkan kedua matanya.
"Ya sudah, kalau nggak mau aku bantu! aku cari yang ikhlas aja Anisa tersenyum lalu mengorak-arik masakannya yang kali ini Anisa Membuat pesmol ikan.
"Pramana di jamin ikhlas bila kau perlakukan dengan halus, lembut ... penuh kasih sayang." Tambahnya Renita.
__ADS_1
Ibu bella hanya tersenyum melihat kedua mantunya itu sambil sibuk masak, biarpun Ibu Hajah Bella sudah lebih tua dari ibu Farida. Tetapi terbilang aktif dan masih rajin.
Kini Anisa sedang berada dalam kamarnya dengan masih menggunakan mukena sehabis salat magrib dan menyempatkan diri untuk membaca Alquran biarpun berapa ayat.
Selanjutnya Anisa membuka mukena dan merapikannya lalu mengikat rambutnya yang terurai.
Begitupun dengan Pramana yang berada di kamarnya! dia membuka pas foto yang tadi dia perbaiki dan mengganti kacanya sehingga kini nampak sempurna kembali membuat bibir Pram senyum lebar.
"Akhirnya bisa sempurna lagi. Di mana kamu sekarang sayang? berapa hari ini aku bolak-balik hubungi nomor kamu yang malah tidak aktif!" Pramana perlahan mengembuskan nafas nya yang tampak berat.
Kemudian Pramana mengambil sebuah jam tangan dari laci bersama kotaknya. Dia pandangi dan dia baca kembali secarik kertas ucapannya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Kata Ibu ditunggu makan! di bawah?" suara Anisa dari balik pintu.
Pramana yang menoleh ke arah sumber suara langsung menyimpan jam yang sedang dia pegang, lalu disimpan kembali seperti semula.
Pramana membawa langkahnya mendekati pintu tersebut, berjalan dengan sangat teratur dan ternyata Anisa Masih berdiri di depan sana.
"Kenapa berdiri saja! mau jadi patung?" ketusnya Pramana kepada Anisa sambil berjalan.
"Ach tidak kok! kalau aku menjadi patung pasti nggak ada suara," sahutnya Anisa sembari berjalan mengikuti Pramana.
Pramana membawa langkah nya dengan gadis itu menuruni satu persatu anak tangga. Yang membawa mereka berdua di meja makan yang sudah berkumpul di sana seperti sang Ibu, Ayah. Andre dan Renita istrinya, duduk manis di meja makan ....
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya ya. Like komen dan lainnya.
__ADS_1