
Pramana tidak tahu harus bahagia atau bersedih dengan kabar tentang Adisty, entah mungkin hatinya mulai goyah dan sudah mulai diisi dengan satu nama adalah Anisa! yang setiap hari dia temui dan dia rasakan kebaikannya juga perhatiannya.
"Ya Allah ... aku jadi bingung! aku nggak tahu harus gimana, bahagia atau sebaliknya dengan kabar yang katanya Adisty akan pulang sebentar lagi!" Pramana mendongak ke langit-langit sembari memegangi kepalanya, belum apa-apa dia sudah nampak frustasi.
Lalu kemudian sorot matanya mengarah pada sebuah foto yang ada di meja tersebut, yaitu foto dirinya dengan Adisty yang masih juga terpajang.
"Apa aku termasuk suami yang zalim ya? aku menikah dengan Anisa tapi foto yang masih ku pajang adalah foto Adisty. Apa pantas di bilang aku suami yang baik?" kini tangannya Pramana mengarah pada pas foto tersebut, dia membalikkan nya menghubungi langit-langit.
"Gimana perasaan Anisa setiap kali melihat foto ini. Dan juga orang-orang yang tahu Anisa adalah istriku, tapi yang aku simpan gambar Adisty. Hah! ya Tuhan ... aku jadi bingung! sementara aku nggak mungkin menceraikan Anisa, bahkan harapan orang tua ku menikahi kembali setelah dia lahiran! Ck."
Sesaat kemudian ... tangan Pramana mengambil kembali pas foto yang barusan dia buat tergeletak, lalu dia cabut fotonya Pram robek berkeping-keping! lantas Pramana membuangnya ke tong sampah, sehingga pas foto yang barusan itu kosong dari gambarnya.
"Mungkin seperti ini lebih baik, daripada aku pasang foto Adisty yang jelas-jelas sudah meninggalkan ku di hari pernikahan yang seharusnya ... kita bahagia, dan akhirnya luka menyelimuti jiwa. Sehingga aku terpaksa melabuhkan diri di suatu tempat yang tidak aku kira sebelumnya." Huuuuh ... Pramana mengembuskan nafas dari mulut nya.
Ketika datang jam makan siang ... tentunya Pramana menunggu Anisa yang datang dan membawakannya makan siang. Namun yang ditunggu tidak kunjung juga datang, yang datang mang Pei lagi.
"Anisa mana mang? kenapa mamang sendiri yang ke sini?" tanya Pramana ketika Mang Pei baru saja melintasi pintu ruangannya sudah di kasih pertanyaan.
"Assalamu'alaikum, Aden ... itu, Neng lagi kurang enak badan! entah meriang entah apa katanya. Makanya tidak bisa datang ke sini untuk mengantarkan makan siang buat Aden," ucapnya mag Pei sembari menyimpan tempat makan siangnya Pramana di meja.
"Ck, kenapa lagi tuh orang?" Pramana berdecak dan mengalihkan pandangannya ke lain arah.
"Tadi saja, Ibu sudah memberikan ramuan buat neng Anisa dan seperti yang Mamang dengar sih ... mending neng Anisa segera dibawa ke rumah sakit saja periksakan ke dokter, kehamilannya biar ketahuan. Ada keluhan apa? kasihan akhir-akhir ini neng Nisa kurang fit!" tambahnya mang pei sembari mendudukkan dirinya di kursi sofa.
"Iya nanti sore akan saya bawa ke rumah sakit! sekarang saya masih sibuk." Timpalnya Pramana sembari membuka wadah makan siangnya, kemudian dia mulai melahap dan menikmati makannya.
Mang Pei menatapi majikannya makan siang dan baru pulang setelah Pramana selesai makan.
Ketika tiba jam pulang kerja. Pramana pun langsung pulang, dengan cepat membawa mobil ya sehingga tidakbutuhkan waktu yang lebih lama untuk tiba di rumahnya.
Setibanya di rumah, Pramana dan bertanya pada orang rumah. "Di mana Anisa? eh ... Assalamualaikum ..." Pramana pun mencium tangan sang bunda penuh hormat.
"Wa'alaikum salam ... warahmatullahi wabarakatuh. Ada, masih di dalam kamar nya mungkin." Jawabnya sang ibunda.
"Ooh, aku ke sana dulu." Pramana langsung berjalan mendekati anak tangga dengan terburu-buru menapakkan kakinya di sana.
Anisa yang sedari pagi kurang sehat, dia hanya berdiam diri saja di kamar. Kata ibu mertua juga Anisa istirahat saja yang cukup dan nanti sore akan periksakan. Karena merasa ingin ke toilet, Anisa pun berjalan memasuki toilet dengan pelan, serta kedua tangan memegangi pinggangnya bagian belakang
Setelah berada di dalam kamar mandi ... Anisa semakin merasa payah. Dan tiba-tiba kepala Anisa bertambah pusing dan perut semakin mules, mual juga. Sakit melilit rasanya bagai sesuatu yang di aduk-aduk.
Kepala pusing dan sakitnya yang tidak tertahankan! Anisa semakin gugup ketika merasa ada yang keluar melalui paha nya.
Anisa dibuat panik setelah melihat yang warna merah di telunjuknya, setelah menyentuh salah satu bagian yang basah di bawah bokongnya. "Darah!"
__ADS_1
Mana Kapala pusing berat, tubuh terasa lemas banget. Di tambah lagi seperti ini. Anisa yang merasa kebingungan dan dia tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa? perasaannya semakin panik, shock bercampur menjadi satu.
Mata Anisa berkunang-kunang, penglihatan menjadi tidak jelas. Sehingga dia tidak bisa lagi menahan keseimbangan, tubuhnya pun luruh ke lantai dan ... akhirnya Anisa tidak sadarkan diri.
"Nisa-Nisa?" panggil Pramana sembari mendorong pintu kamar Anisa dan mendapati kamar tersebut kosong melompong.
Kedua netra mata Pramana menyapu kondisi kamar yang tampak rapi cuma tempat tidur saja yang berantakan dengan selimut, kemudian mengedarkan pandangannya ke balkon pun kosong.
"Nisa, kamu di mana? Anisa!" panggil kembali Pramana dengan mulai heran dan cemas, kemudian Pramana mendekati pintu kamar mandi yang terdengar sayup-sayup suara air yang mengalir dari keran.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Pram mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan kalau Anisa memang berada di sana, namun setelah beberapa saat Pramana berdiam diri di sana. Tidak ada suara Anisa yang menyahut! yang terdengar hanya suara air saja yang terus mengalir tanpa henti.
"Anisa, kita akan berangkat ke rumah sakit bukan? kamu sedang berada di kamar mandi bukan? ayo kita pergi? dan aku sudah bikin janji sama dokter kandungannya, Anisa?" panggil Pramana lagi dengan suara yang agak keras.
Di tunggu-tunggu, tidak juga ada jawaban, jangankan orangnya yang keluar. Suaranya saja tidak terdengar satu patah kata pun.
"Anisa kamu di dalam kan?" suara Pramana semakin meninggi.
"Entah lah, Bu ... sedari tadi aku panggil-panggil nggak ada suaranya! hanya suara air saja yang terdengar dari dalam!" jawabnya Pramana dengan nada cemas ikutan panik.
"Lho, kok ... gitu? gimana dong Pram cepetan buka pintunya?" suara Bu Bella dengan nada sangat khawatir.
"Pintunya dikunci dari dalam, Bu ..." jawabnya Pramana putus asa.
"Iya buka dong Pram ... pintunya buka!" kata Sang Ibu sembari menggedor pintunya.
Bragh ....
Bragh ....
Bragh ....
"Nisa ...kamu di dalam, Nak ... Ini Pram sudah pulang. Bukannya mau ke klinik periksakan kehamilan, sekalian berobat Nisa!"
"Kuncinya di mana ya?" Pramana mencari kunci dalam laci yang tidak ketemu juga.
"Gimana? perasaan ada yang kuncinya!" gumamnya sang ibu yang tampak cemas.
__ADS_1
Bibi pun datang ke sana yang penasaran. "Neng Anisa nya mana? Bu ... neng Anisa mana?"
"Nggak tahu, Bi ... mungkin di dalam kamar mandi." Suaranya ibu Bella.
"Masya Allah ... Neng ... masak pingsan di dalam si neng?" gumamnya bibi.
Bu Bella melihat ke arah Pramana yang sedang mencari kunci.
"Pram, kalau nggak ada, sudahlah ... Ini aja dobrak pintunya! ibu takut Anisa kenapa-napa." Kata Ibu semakin membuat Pramana ketar-ketir.
Pramana pun langsung menghampiri ke daun pintu dan berusaha untuk mendobraknya.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Setelah berapa kali tubuh Pramana menghantam pintu. Pada akhirnya pintu pun terbuka, biarpun harus mengorbankan tubuh yang terasa remuk, sakit dan sebagainya.
Blak ....
Pintu terbuka dan tampak Anisa tergeletak di lantai tak sadarkan diri, membuat semua yang berada di sana menjadi panik. Dan Pramana pun langsung melompat menghampiri tubuh Anisa.
"Nisa? Nisa bangun?" Pramana menepuk-nepuk pipi Anisa yang pingsan tersebut.
Ibu Bella dan Bibi saling menjerit memanggil nama Anisa.
"Nisa ... kenapa kamu, Nak ... Masya Allah cepetan, Pram cepetan angkat dia, ya Allah ... kenapa Anisa." Teriak Bu Bella yang tampak panik dan cemas bukan main.
"Neng, ya Allah ... neng Anisa kenapa ya Allah, ada apa dengan neng Nisa? bangun neng ..." suara bibi.
"Anisa pingsan, Bu ..." ucapnya Pramana, dia langsung mengangkat tubuh Anisa! namun dia kaget karena dia menyentuh bagian paha Anisa yang basah serta bukan air biasa, tetapi cairan berwarna merah.
"Kenapa lagi pram?" tanya sang ibu ketika melihat Pram hentikan pergerakannya, yang tampak shock menatapi tangannya yang berwarna merah.
"Anisa pendarahan, Bu ..." ucap kembali Pramana dan sekarang dia langsung memangku tubuh Anisa berjalan dengan terburu-buru keluar dari kamar Anisa.
Sang ibu semakin cemas dengan kondisi Anisa yang kata Pramana pendarahan ....
...🌼---🌼...
Ayolah ... jangan pelit-pelit like dan komennya, apalagi kalau ada typo nya makasih sebelumnya ya reader ku tercinta
__ADS_1