Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Berasa kenal


__ADS_3

Yang lain dah pada masuk dan sementara Anisa duduk di luar menunggu Pram yang belum datang. Katanya sih masih di jalan.


Anisa menunggu di luar sampai Pram datang, terlihat Pram gegas keluar dari mobil nya menghampiri Anisa yang langsung berdiri menyambut kedatangan Pram.


“Sayang, sudah belum kamu fitting nya?” tanya Pram sambil mengecup keningnya Anisa lalu keduanya berjalan memasuki butik tersebut.


Lalu mereka langsung mencoba gaun yang sudah 90% jadi itu, keduanya masing-masing mencoba di tempat ganti, kebetulan yang sudah selesai dan tinggal Pram dan juga Anisa saja yang belum.


Keduanya sama-sama keluar dari ruang ganti dan mata Pram terpelongo melihat ke arah Anisa yang menggunakan gaun pengantin yang berwarna biru pastel dan lengkap dengan kerudungnya yang tampak sangat cantik biarpun belum mengenakan make up.


“Masya Allah ... cantik sekali Dek ...” Aisyah berucap sangat mengagumi kecantikan sang adik.


“Masya Allah ... luar biasa, cantiknya kamu mantu Ibu.” Gumamnya bu Bella sambil menatap ke arah Anisa yang tampak malu-malu di pandangi oleh banyak orang.


Sang ibu mengulas senyuman di bibirnya yang sangat merekah, memandangi putri bungsunya yang tampak cantik meskipun belum mengenakan riasan wajah.


Kedua netra mata Pram beberapa saat tidak berkedip dan melotot pada Anisa yang tersipu malu. Dia baru berkedip setelah lengannya di senggol oleh Renita sambil menggoda.


“Sangat cantik bukan? istri mu ini ... awas bola mata mu melompat! apa masih ingin mencari yang lain?” godanya Renita yang sambil mengulas senyumnya.


“Ach Kak Renita bisa saja. Masa bola mata ku melompat kan gak mungkin,” Pram menggelengkan kepalanya.


“Iya kan ... bisa saja orang mata mu tidak berkedip begitu, ha ha ha ...” timpalnya Renita lagi sambil mengamati penampilan nya Pram yang gagah dan tampan. “Kau juga tampan pake bgt dengan setelan ini. Iya gak?”


“Hooh. Tampan sekali gagah dan berwibawa.” Timpalnya bu Farida dan Aisyah menatapi ke arah Pram yang dengan gaya ala pangeran.


Anisa pun menatapi Pram dengan senyuman di bibir dan dalam hati mengagumi ketampanan Pram yang timbul lah rasa was-was kalau banyak wanita yang akan menyukai Pram termasuk Carolin. Yang sepertinya naksir pada Pram.


Kemudian Pram dan Anisa bercengkrama dengan desainer soal kurang dan lebihnya yang bersangkutan dengan gaun pengantin yang Anisa pakai saat ini.


Desainer pun menyanggupi apa yang harus diperbarui lagi dengan gaun dan setelan Pram yang katanya kebesaran, dan gaun Anisa pun terlalu ketat.


Selesai fitting, mereka langsung di ajak makan siang bersama di sebuah restoran. Di saat tengah makan. Anisa pamit ke toilet sebentar.

__ADS_1


“Aku ke toilet sebentar ya?” Anisa berdiri dan meraih tas kecil nya.


“Oh iya,” sahutnya Pram sambil mengangguk. “Perlu di antar gak?”


“Nggak ach, bisa sendiri kok.” Kata Anisa sambil berlalu meninggalkan tempat tersebut.


Yang lain hanya melihat punggungnya Anisa yang pergi membawa langkahnya yang mau ke toilet.


Anisa berjalan dan langsung memasuki toilet untuk buang air kecil dan membasuh mukanya yang terasa panas. Tidak lama kemudian Anisa keluar dari toilet dan berjalan untuk menghampiri meja di mana dia dan keluarga makan siang bersama.


Manik mata Anisa tengah menunduk, tiba-tiba bahunya ada yang menyenggol oleh seorang wanita cantik yang sepertinya dia terburu-buru ke toilet.


“Sorry,” ucapnya sambil buru-buru masuk ke dalam toilet.


Anisa bengong, berasa kenal tapi entah di mana? anisa yang masih berdiri di tempat terus memutar memorinya mengingat siapa dia. “Masa allah ... dia!”


Anisa teringat wajah wanita tersebut mirip Adisty yang tiada lain dan tiada bukan adalah kekasihnya Pramana. “Adisty ... dia Adisty? Ada di kota ini. Apakah Pram sudah tahu kalau dia ada di kota ini?”


Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi ruang hati Anisa yang juga kepikiran apakah meraka sudah bertemu lagi atau belum atau mungkin juga menjalin komunikasi lagi atau gimana? Anisa menggelengkan kepalanya lalu gegas membawa langkahnya meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi ke belakang atau ke arah toilet.


Pram menoleh pada sang istri. Aku tadinya mau menyusul kamu ke toilet.”


“Em ... gak usah, gak usah di susul kok, aku sudah ada di sini kan!” Anisa tampak gugup dan bagaimana pun Anisa khawatir  kalau Pram ketemu dengan wanita yang mirip Adisty di sana.


“Ya ... kalau sekarang aku buat apa ke sana? kalau kamu nya juga sudah berada di sini.” Timpalnya Pram sambil meneguk minumnya.


“Pram ... biarkan istrinya makan dulu, jangan di ajak mengobrol dulu lah,” lirihnya sang bunda.


“Makan dulu Nisa ... habiskan, sayang lho mubazir,” ucap Aisyah sambil menunjuk pada piring Anisa.


“Tapi Kak Aisyah ... biasanya kalau sedang jatuh cinta itu jarang lapar lho. Bawaannya itu kenyang dan malas untuk makan, orang lihat pasangan saja berasa cukup kenyang kok he he he ...” Renita menimpali perkataan dari Aisyah.


“Iya Kak, rasanya kenyang saja. Ha ha ha ...” Pram tertawa kecil dan tidak bersuara. “Nggak ach tetap saja aku butuh makan untuk tenaga.”

__ADS_1


“Itu Cuma untuk pribahasa saja, katanya pengantin baru itu asal berdua berasa kenyang dan pada kenyataan nya memang tidak seperti itu ... apa lagi setelah lama berumah tangga tetap saja materi juga sangat di butuhkan untuk menunjang hidup.” Kata Bu Farida sambil menatap pada Anisa dan Pram.


“Itu benar Bun ... tetap saja finansial itu sangat di butuhkan. Bukan Cuma cinta dan kasih sayang.” Pram mengangguk dan membenarkan perkataan dari ibu mertuanya.


“Makanya pria itu harus bertanggung jawab dalam segala hal. Kalau bisa dalam segala hal.” Seru Aisyah.


Selesai makan, mereka pun langsung beranjak dari tempat, sesekali Anisa melihat kanan kiri, siapa tahu wanita itu berada di restoran tersebut. Tetapi tidak ada bayang-bayang nya di sana.


“Mencari siapa Nisa?” selidiknya Aisyah sambil ikut celingukan.


 “Ooh tidak ada Kak.” jawabnya Anisa sambil menggeleng. Lalu berjalan membawa langkahnya bersama yang lainnya, keluar dari restoran tersebut.


Pram yang berjalan dekat Anisa meraih tangannya sehingga tampak Pram menuntun tangan sang istri dengan mesra.


Dalam hati Anisa masih juga bertanya, wanita tadi itu benar Adisty bukan sih? tapi dia merasa yakin sih kalau itu Adisty kekasihnya Pram. Ingin bertanya pada Pram takut gimana-gimana. dan hatinya merasa cemburu juga bila Pram dengan dia, apalagi sampai kembali, sesak dan sakit hati anisa pastinya. Di saat baru mau memulai rumah tangga yang seutuhnya bersama Pram.


“Anisa mau sama siapa pulangnya?” tanya bu Farida pada Anisa.


Anisa menoleh pada Pram sambil mengatupkan bibirnya tak berkata-kata ataupun senyuman.


“Nisa pulang sama kalian, aku mau bali lagi ke kantor.” Pramana yang menjawab.


“Ya ... terpisah lagi deh ... kangen!” Renita sambil menyenggol tangan Pram.


“Apa sih Kak ... kangen lah, masa nggak.” Pram tersenyum.


“He he he ... kak Renita menggoda saja mereka.” Aisyah menggeleng.


Yang lain masuk ke dalam mobil Alphard. Anisa masih berdiri karena tangannya masih di pegang oleh Pram.


“Sayang. Nanti sore siap-siap ya? kita kan makan malam berdua kan? cuph.” Pram mengecup kening dan pipi Anisa kanan dan kiri.


Lalu Anisa mengangguk pelan dengan wajah tampak kebingungan ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa dukungannya ya ... makasih


__ADS_2