Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Siuman


__ADS_3

Suasana begitu hening. Semua orang yang berada di ruangan VIP tersebut terdiam, tak satupun yang mengucapkan suara. Mereka memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Ibu Farida sebagai ibu kandungnya Anisa dia ... tentunya merasa sedih dan kecewa, tapi tak ada yang harus disalahkan dengan kejadian ini. Kembalikan kepada yang maha kuasa kalau mungkin ini sudah takdir buat Anisa dan ini adalah yang terbaik.


Pramana yang selalu duduk di dekat Anisa terus memandangi wajah Anisa yang pucat paseh namun masih tampak cantiknya. Dan sesekali melihat ke arah jari-jari lentik gadis itu.


Sehingga suatu saat dia menemukan jari-jari Anisa bergerak dengan perlahan. "Nisa?"


Semua yang berada di sana terkesiap ketika mendengar gumaman Pramana! biarpun pelan tetapi jelas. Membuat mereka pun beranjak dari duduknya dan mendekati tempat tidur di mana Anisa Tengah berbaring lemah.


Dengan perlahan kedua manik mata Anisa terbuka, sekejap tertutup kembali di detik kemudian terbuka sambil menggerakkannya melihat ke kanan dan ke kiri dan di hadapannya, di sekitar dirinya berjejer kedua orang tua dari Anisa, ibu dan ayah mertua dan juga Pramana.


"Alhamdulillah ... kamu sudah siuman Nak ..." ucapnya bu Bella dan juga sang Bunda berbarengan dengan wajah yang sumringah, bahagia melihat Anisa sadarkan diri.


"Aku ... aku ada di mana?" gumamnya Anisa sembari berusaha untuk duduk! namun ditahan oleh ibu Bella dan sang Bunda agar Anisa terus berbaring saja jangan duduk dulu atau perlahan dan mereka memasang bantal di punggungnya.


Begitupun dengan Pramana sudut bibirnya tertarik ke samping melihat Anisa siuman. "Kamu sudah sadar!"


"Emangnya aku kenapa? lagian aku lagi di mana?" tanya kembali Anisa sembari menggerakkan menik matanya ke ruangan sekitar yang terasa asing bagi dirinya.


"Kamu berada di rumah sakit, dan kamu di bawa ke sini karena pingsan di kamar mandi, emang Nisa nggak ingat!" ucap bu Bella sembari mengusap-mengusap punggung tangan Anisa punggung tangan Anisa.


Anisa terdiam dan sedikit mengingat-ingat! memutar memorinya ke beberapa waktu yang lalu dan apa yang sudah terjadi pada dirinya? pingsan di kamar mandi.


Walau kepalanya masih terasa pusing, namun dia masih bisa mengingat dengan perlahan. Terbayang lah ketika terakhir dia berada di kamar mandi dan melihat darah yang keluar dari bagian tubuhnya lantas tidak ingat lagi.


"Aku kenapa, Bu? Bunda aku ada di mana sekarang?" Anisa kembali bertanya dan menatap ke arah dua wanita yang berwajah cemas dan sangat khawatir.


"Bukannya barusan sudah di katakan, kamu pingsan di kamar mandi dan kamu mengalami keguguran!" ucap Pramana dengan lirih.

__ADS_1


"Apa? aku keguguran, kamu nggak main-main kan? kamu serius kan?" tanya kembali Anisa dengan suara yang memang masih terdengar parau.


Lalu Anisa menoleh ke arah yang lain, yaitu kedua wanita yang berada di kanan-kirinya Pak Lukman dan Pak Joni sebagai ayahnya. "Nisa sudah keguguran dan bayi yang Anisa kandung meninggal?"


Semua menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan dari Pramana.


Anisa terbengong-bengong dan dia juga tidak mengerti apa yang saat ini dia rasakan, sedih atau bahagia? karena bagaimanapun bayi yang dia kandung bukanlah yang dia inginkan. Sekalipun Anisa tidak membencinya tapi sekaligus tidak mengharapkan nya.


Tetapi tak ayal air matanya pun menetes sembari tangannya menyentuh ke bagian perut, yang mulanya ada isinya Dan sekarang sudah kosong. Dan Anisa pun menatap nanar ke arah Pramana bibir nya bergetar entah apa yang ingin dia katakan pada Pramana.


"Siapa yang bawa aku ke sini? aku masih ingat kalau rencananya aku memang mau periksakan kehamilan! tapi kenyataannya yang ingin aku periksakan telah tiada!" Anisa menggigit Bibir bawahnya dan buliran air mata pun keluar dari sudut mata indahnya tersebut.


"Itu benar, aku cepat pulang karena untuk menjemput mu! aku sudah membuat janji dengan dokter kandungan yang akan memeriksakan mu. Tetapi di kamar kamu nggak ada dan setelah aku ... cari, kamu berada di kamar mandi dengan pintu terkunci. Keadaan mu pingsan juga pendarahan. maaf jika aku sudah lalai dan kurang memperhatikanmu!" ujar Pramana.


Dia menundukkan wajahnya, Pramana merasa sedikit bersalah. Bagaimanapun dia seorang suami yang tidak perhatian kepada Anisa sebagai sosok istri.


Ibu Bella beranjak dan mendekati Sang putra yang nampak sedih. "Pram ... kamu nggak salah, ini memang sudah takdir! mungkin sudah jalannya Anisa harus kehilangan calon bayinya. Anak itu adalah titipan. Dan suatu saat akan digantikan dan kamu tidak perlu menyalahkan diri."


"Seharusnya ... Bunda sudah lama datang ke sini, tapi karena macet menjadikannya baru sekitar 30 menitan di sini, ya kan Yah?" Bu Farida menoleh pada sang suami yang langsung merespon dengan anggukan.


"Oh ... siapa yang beritahu Bunda?" tanya Anisa kembali dengan suara yang pelan.


"Ibu mertua mu yang bilang sama Bunda, katanya kamu di rumah sakit makanya kami cepat-cepat datang. Eeh di jalan kena macet!" ungkap sang Bunda kembali.


Kemudian Anisa pun terdiam lagi dan memejamkan kedua matanya mengingat dan membayangkan kalau calon bayinya kini sudah tiada. "Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun!" gumamnya Anisa, kemudian membuka kembali menik matanya.


"Nisa minta maaf ya ... mungkin Nisa sudah merepotkan kalian semua!" Anisa mengedarkan pandangannya ke arah orang-orang yang berada di sana.


"Jangan bilang seperti itu Nisa ... sesungguhnya Anisa tidak merepotkan kami, Anisa jangan sedih ya? insya Allah! Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik, doakan saja semoga calon bayinya Anisa ... Allah tempatkan di surga firdaus dan akan menyambut kita suatu saat nanti!" sang ibu mertua kembali menghampiri dan memegangi tangan Anisa.

__ADS_1


"Kata ibu mertua mu itu benar, doakan saja ... karena Allah itu lebih menyayanginya, ketimbang kita, bayi itu tidak berdosa makanya akan langsung diangkat ke surganya. Dan mendoakan kita yang masih berada di dunia ini," timpalnya sang ibunda sembari mengulas kan senyuman di raut wajahnya.


"Jujur Anisa tidak tahu, Anisa harus sedih atau Harus bahagia? sesungguhnya Anisa tidak pernah membencinya tapi sekaligus Anisa pun tidak menginginkan nya! karena itu--" Anisa menggantungkan ucapannya karena kepalanya langsung dipeluk oleh sang ibunda.


"Sudahlah, Nisa ... jangan ingat-ingat lagi ya? nanti kamu sedih, kamu stress. Mendingan kita banyak-banyak berdoa!" tambahnya sang ibunda dengan sangat lirih dan suaranya bergetar ikut bersedih.


Ibu Hajah Bella pun turut memeluk Anisa yang posisinya agak duduk.


"Ya sudah ... sekarang Anisa sudah siuman dan biarkan dia istirahat, jangan banyak diajak ngobrol dulu! kasihan," kata Pak Lukman pada sang istri dan juga besannya.


Apakah Nisa mau minum? atau mau makan!" tanya sang Bunda.


Dan Anisa langsung menggeleng. "Tidak Bunda!"


Kemudian. Orang tua Anisa dan mertuanya beralih posisi, kini mereka duduk-duduk di sofa dan mereka menikmati makan malamnya, sementara Anisa berbaring lemah sembari memejamkan matanya.


"Apa kamu tidak ingin minum dan makan? makan buah ya!" terdengar suara Pramana yang tidak jauh dari Anisa.


Membuat Anisa membuka kelopak matanya dan menoleh ke arah Pramana. "Makasih ya atas semuanya?"


"Makasih buat apa? justru aku yang minta maaf karena aku sudah lalai dan tidak memperhatikan mu!" lagi-lagi Pramana mengucapkan maaf kepada Anisa.


"Kamu nggak usah minta maaf ... kamu nggak salah apa-apa! justru aku harus berterima kasih karena kamu membawa aku ke sini!" balasnya Anisa.


Kemudian Pramana pun menyuapi Anisa dengan buah yang dia kupas dan Anisa pun menerimanya.


"Permisi ... pasien mau diperiksa dulu ya!" suara suster yang datang bersama dokter yang menangani Anisa.


"Oh iya silakan, Oh ya Dok ... tolong dia diberikan obat yang bagus ya? agar cepat sembuh!" ucap Pramana kepada dokter tersebut.

__ADS_1


Dokter Pun tersenyum lalu mengangguk, lantas memeriksakan kondisinya Anisa saat ini ....


Bersambung


__ADS_2