Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
merajut kembali


__ADS_3

Anisa menajamkan pandangannya pada layar ponsel Pram, di sana tertulis nama Adisty.


Jantung Anisa berdegup sangat kencang, melihat nama itu muncul dan setelah panggilannya mati pun. Terpampang wajah wanita cantik yang dia tau itu wajah Adisty.


"Ya Allah ... sakit dada aku!" dada Anisa terasa sesak dan terasa bagaikan tertimpa suatu benda yang sangat berat sesak dan menyakitkan, ternyata mereka kembali berhubungan setelah sekian lama menghilang. Begitu pikirnya.


Anisa berdiri mematung dengan tangan bergetar! dia menyimpan kembali ponsel milik Pramana di tempatnya semula.


"Ternyata kekasihnya sudah kembali dan mereka merajut kasih seperti dulu lagi!" Anisa menatap kembali ponsel yang tergeletak di atas nakas yang lagi-lagi terjadi panggilan dari nama yang sama.


Tidak terasa sudut matanya terdapat buliran air bening, sebagai luapan rasa sesak dan sakit di relung hatinya.


Anisa menghapusnya dengan kasar kemudian membawa langkah kakinya yang berat meninggalkan kamar Pram, langkahnya terasa mengambang antara menapak dan tidak.


Anisa mengusap wajahnya sembari menghela nafas dalam-dalam seraya istighfar dalam hati.


"Astagfirullah ... Astagfirullah ... ya Allah, berikan hati aku kesabaran seluas-luasnya, aku harus tahu diri kalau pernikahan ku dengan Pramana memang bukan pernikahan yang sesungguhnya! hanya sebuah tanda tangan di atas kertas!"


Kemudian Anisa melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. Berjalan menghampiri meja makan yang terdapat kedua mertuanya sudah berada di sana.


Tetapi Pram masih belum ada, mungkin dia masih membakar ikan di belakang. Anisa pun melanjutkan langkahnya menuju belakang. Dimana Pram masih mengipas bakar ikan.


"Belum matang ya?" tanya Anisa sembari berusaha menyembunyikan perasaannya yang terasa gondok dan sakit.


"Bentar lagi matang kok, kamu suka nggak? bakar ikan?" tanya Pram tanpa menoleh ke arah Anisa.


"Dimasak apa aja pun! aku suka kok," jawabnya Anisa sembari berjalan meninggalkan kembali Pramana.


Sejenak Pramana menatap punggung Anisa, memandangi lehernya yang jenjang yang tidak tertutup oleh rambut karena diikat menyerupai sanggul.


Kemudian Pramana membawa bajar ikannya ke meja makan dan langsung menyantapnya dengan lahap! tentunya bersama yang lain juga. Tetapi biarpun sudah makan banyak ikan bakar, dia masih tergoda dengan balado ikan yang dibuat oleh Anisa! sehingga makannya pun beberapa kali nambah.

__ADS_1


Sang Ibunda hanya tersenyum simpul, melihat putranya yang makan sangat banyak. Sehingga nambah beberapa piring.


Begitupun dengan sang ayah yang tersenyum lebar melihat putranya yang tidak seperti biasanya, kali makan sangat banyak.


Anisa yang berada di sebelah Pramana memandangi tanpa ekspresi. "Bikin malu makanya! kayak tadi nggak makan aja! nanti dikira nggak dikasih makan lagi di sana," batinnya Anisa.


"Nisa, kenapa makannya sedikit? katanya suka sama ikan?" tegur sang ibu mertua.


"Sudah kenyang, Bu. Lagian ini aku makan banyak ikan nih." Anisa menunjuk piringnya yang masih ada potongan ikan di sana.


"Aduh, Den ikan bakarnya masih ada nggak? jangan-jangan Mamang gak kebagian nih!" mang Pei menatap piring ikan yang tinggal kepala dan masih ada sedikit lagi.


Pramana bengong pada mang Pei sambil menikmati ikan balado buatan Anisa.


"Ya ampun ... lupa, Mang. Tapi masih ada kok dikit, kalau masih kurang! ini masih ada balado nya! masih banyak enak lho ..." ucapnya Anisa yang ditujukan kepada Mang Pei.


"Oh iya, Mamang lupa! dan ini baru pasti lebih enak rasanya ... karena Neng Anisa yang buatkan." mg Pei duduk dan mengambil piringnya.


Pramana hanya nyengir lalu menyudahi makannya, karena memang perutnya sudah terlalu kenyang! maklum makanya kali ini menghabiskan beberapa piring nasi.


Anisa pun menyudahi makannya dengan meneguk air putih sehingga sampai tersisa setengahnya! lalu menyodorkan kembali air minum kepada Pramana yang langsung diteguk hingga kandas.


Kemudian Pram beranjak dan naik ke lantai atas, karena ingat dia belum salat isya. Namun seingat Pramana tadi dia menyimpan sarung dan peci di meja makan, sehingga dia membalikkan badannya untuk turun kembali.


Yang hampir saja bertabrakan dengan Anisa yang sedang menaiki satu persatu anak tangga tersebut.


"Di mana sarung dan peciku?" tanya Pramana sembari melihat ke arah meja makan yang berada di bawah.


"Sudah aku simpan di kamarmu! Oh ya, tadi pas aku menyimpan sarungmu di sana. Kebetulan ponsel mu mendapat panggilan dan aku nggak ... nggak angkat kok! cuman lihat doang dan kontaknya ... bernama ... Adisty," ucap Anisa dengan sedikit ragu-ragu.


"Apa? apa kau bilang? Adisty menelepon! beneran Adisty telepon ku?" katanya Pramana dengan nada antusias dan Anisa menganggukan kepalanya satu kali.

__ADS_1


"Kenapa nggak bilang dari tadi sih? ini udah lama sekali waktunya, bisa-bisanya kamu nggak bilang secepat itu padaku!" Pramana menggerutu sambil berjalan cepat, hingga dalam sekejap pria itu sudah tidak nampak di depan mata Anisa.


Anisa yang terdiam berdiri di tengah-tengah tangga, dengan sudut mata Yang Melihat ke arah Pramana barusan berjalan.


Pramana buru-buru masuk ke dalam kamar, tentunya dia langsung menghampiri di mana ponsel dia berada. Lalu dia menghidupkan layarnya dan benar saja ada beberapa panggilan yang diantaranya dari Adisti sampai 5 kali panggilan.


"Adisty! itu benar nomor Adisty Alhamdulillah nomornya aktif lagi." Lalu kemudian Pramana langsung telepon balik, tetapi sayang nomornya kembali tidak aktif dan tidak dapat dihubungi.


Pramana menjadi bengong terheran-heran. "Kenapa nomornya nggak aktif lagi? padahal tuh benar-benar nomor Adisty yang berapa kali manggil, tapi ketika dipanggil balik malah nggak aktif."


"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan!" operator yang menjawab demikian.


"Astagfirullah ... nomornya nggak aktif lagi, bisa-bisanya Anisa tidak bilang sedari tadi. Coba dia ngomong dari tadi kek! mungkin aku masih sempat ngomong sama dia." Gumamnya Pramana sembari membawa langkahnya keluar dari kamar tersebut.


Dan langkahnya terayun ke kamarnya Anisa, yang kebetulan pintunya tidak dikunci sehingga Pramana bisa masuk begitu saja.


"Kenapa sih nggak dari tadi ngomongnya? bisa-bisanya kamu--" perkataan Pramana menggantung seiring dengan sedikit suara Anisa yang memekik.


"Ach ... ngapain masuk?" Anisa pun terkesiap dengan kedatangan Pramana ke kamarnya, sementara Dia sedang mengganti baju.


Kedua netra Pramana masih sempat melihat tubuh Anisa yang hanya memakai dalaman saja, dan wanita itu langsung menarik selimut untuk menutup semua tubuhnya.


"Ck, kenapa ganti baju di sini? kamar mandi kan ada!" suara Pramana sembari mengembalikan tubuhnya menghadap pintu dan memberi ruang agar Anisa menyelesaikan ritual ganti bajunya.


"Siapa suruh masuk? nggak ketuk dulu main nyelonong boys aja." dalih Anisa sambil menyingkirkan selimut dan meneruskan untuk memakai piyama nya.


Dengan perasaan Anisa yang tiada menentu. Dadanya berdebar-debar sangat kencang.


Begitupun yang dirasakan oleh Pramana yang langsung teng ... naik ke ubun-ubun dan entah perasaan apa itu? sehingga darah yang mengalir deras di tubuhnya terasa memanas dan pergerakannya begitu cepat serrr ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Tidak lupa aku mengingatkan jangan lupa like comment dan dukungan lainnya ya makasih banyak


__ADS_2