Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Ruang untuk berdua saja


__ADS_3

Selesai meeting. Pramana pun berjalan menghampiri mobilnya Di mana terparkir cantik di area parkiran.


Mang Pei pun langsung menyambutnya dan membukakan pintu. Sebelum masuk mobil Pramana pun mengangkat tangannya di udara yang diarahkan kepada rekan dan kliennya yang barusan mengadakan pertemuan yang sama-sama mau meninggalkan tempat tersebut. Setelah itu barulah dia masuk dan duduk di kursi belakang.


"Kita mau balik ke kantor saja, Den?" tanya mang Pei sembari mengitari mobilnya.


"Kita ke restoran aja dulu membeli makanan. Setelah itu kita ke rumah sakit!" jelasnya Pramana.


"Baik Den," sahutnya Mang Pei seraya memutar kemudinya.


Setibanya di sebuah restoran ... Pramana langsung memesan makanan yang akan dia bawa ke rumah sakit dan makannya di sana saja.


Dengan menenteng beberapa kantong makanan, yang satu diberikan kepada mang Pei untuk makan siang dan yang lainnya akan dibawa ke rumah sakit.


Pramana sudah memasang bell safety di tubuhnya, kemudian menyuruh sang sopir untuk jalan membawa dia ke tempat yang menjadi tujuan.


Namun di tengah jalan kedua netra mata Pramana menemukan sebuah mobil yang di dalamnya dia merasa kenal, tetapi Pramana tidak mau terlalu memikirkannya dan dia pikir paling itu salah penglihatannya saja.


Selang berapa puluh menit, akhirnya tiba juga mobil yang di kendarai oleh mang Pei memasuki parkiran sebuah rumah sakit yang lumayan besar dan Pramana sendiri turun menjinjing makanannya! berjalan melalui koridor rumah sakit lalu dia memasuki pintu lift yang akan menyambungkannya ke ruang VIP di mana Anisa di rawat.


"Assalamu'alaikum ..." ucap salam dari Pramana setelah membuka pintu ruang tersebut dan memasukinya.


"Wa'alaikum salam ..." jawabnya Bunda Farida dan Anisa, di sana hanya ada mereka berdua saja.


"Ibu sudah pulang ya? tanya Pramana sembari menyimpan kantong plastik yang dibawanya di meja sambil planga-plongo mencari keberadaan ibunya.


"Ibu Sudah pulang bersama ayah!" jawabnya Bunda Farida.


"Ooh ... tadi ayah ke sini ya?" Pramana mendudukan dirinya di tepi tempat tidur Anisa yang kebetulan sedang duduk dan memainkan ponselnya.


"Iya, sama bibi juga ke sini." Jawabnya Nisa dengan nada datar.


"Kalian pasti belum makan siang, aku ... bawakan makan siang untuk kita makan bersama!" ucapnya Pramana sembari menoleh ke arah Anisa dan ibu mertua.


Dan keduanya menggeleng, karena memang jam makan siang sih masih sebentar lagi.


"Ya sudah! kalau gitu kita makan sama-sama yok?" ajaknya Pramana yang kini diarahkan kepada Anisa.

__ADS_1


Anisa pun mengangguk sementara Ibu Farida yang sudah duduk duluan di sofa, turun ke lantai dan membuka apa saja yang Pramana bawa.


"Wah ... makanannya enak-enak sekali ini, sayang makan dulu!" Bunda Farida menoleh ke arah Anisa yang langsung merespon dengan anggukan.


Tangan Pramana menyentuh pergelangan Anisa untuk membantunya berjalan, namun Anisa menolaknya dan menepis tangan itu.


"Aku bisa jalan sendiri!" ucapnya Anisa dengan lirih serta berdiri bersiap mengayunkan langkahnya.


"Ya ... kali aja nggak bisa atau masih lemas kan bisa aku bantu!" balasnya pria itu sambil tersenyum kepada Anisa.


Anisa hanya mencabikan bibirnya ke depan lalu berjalan mendekati bundanya lalu duduk di bawah, disusul oleh Pramana yang duduk tidak jauh dari Anisa.


"Aduh, Bunda kayaknya mau makan di luar aja deh! di sini agak panas dan Bunda mau makan di taman ah nggak apa-apa kan! kalian di sini berdua saja ya? Bunda sambil ingin melihat pemandangan!" bunda Farida beranjak membawa bagian makannya, dia bilang mau makan di taman saja.


Sebenarnya bukan karena panas atau apa! hanya Bunda Farida mengerti mungkin mereka berdua butuh ruang untuk berdua aja sehingga dia berinisiatif dan beralasan ingin makan di taman karena di dalam panas.


"Masa sih di sini panas? orang ada ac-nya kok Bunda aneh-aneh saja deh." Anisa merasa heran sembari mendongak pada Bundanya.


"Iya deh, Bunda ... masa sih panas? aku bisa atur suhu ac-nya kok kalau memang panas," ucapnya Pramana sembari menoleh ke arah AC.


"Nggak apa-apa, kalau suhunya di turunkan ... kasihan sama Anisa, biar Bunda aja yang makan di luar nggak apa-apa kok! nanti bunda kembali." Kata bunda Farida sembari meraih satu gelas minuman air mineral yang tersedia di meja.


"Kenapa senyum-senyum? tanya Anisa ketika melihat Pramana senyum-senyum sendiri.


"Em ... itu cuman ingat tadi, di jalan ketemu orang gila!" dalihnya Pramana.


"Ooh gitu," gumamnya Anisa sembari mengambil satu paket makanan buat dirinya.


Begitupun dengan Pramana, dia langsung mengambil ayam bakar madu dan sambal goreng juga sayur asem.


Sedangkan Anisa yang dia nikmati menu yang sama cuman Anisa memakai lalapan seperti timun, kemangi dan lainnya.


"Sebentar!" pinta Pramana sembari menatap ke arah Anisa.


Anisa terdiam dan merasa heran dengan maksud dari Pramana.


Tangan Pramana bergerak mengarah ke samping mulut Anisa yang ada bumbu ayamnya, kemudian dia membersihkannya dengan jari sebelum memakai tisu.

__ADS_1


"Makan kok belepotan!" ucapnya kembali.


Anisa tampak malu-malu-malu kemudian menunduk Seraya tersenyum. "Makasih ya?" ucapnya Anisa sangat pelan.


Kemudian Pramana tersenyum seraya mengangguk, lantas dia pun meneruskan makannya.


"Apa kau yakin akan ikut pulang sama Bunda?" tanya Pramana sambil menikmati makannya.


Anisa mengangkat wajahnya melihat ke arah Pramana yang sedang memandangi dan menikmati ayam bakar yang berada di tangannya.


"Emangnya gak boleh. Aku ikut Bunda?" tanya Anisa.


"Boleh-boleh, boleh banget aku gak larang kok! Lagian itu kan orang tuamu." Jawabnya Pramana sembari melirik ke rah Anisa sehingga kedua pasang mata mereka pun bertemu sejenak saling bersitatap dengan pandangan yang terkesan dalam.


"Oh kirain nggak boleh." Anisa pun mengangguk namun dalam hati berkata lain. "Kenapa kau tidak mencegah aku? seandainya kamu melarang ... aku nggak akan pergi."


"Seandainya aku tidak mengizinkan untuk pergi apa kau akan mendengarkan ku?" batinnya Pramana mengalihkan pandangan ke arah ayam bakar yang sedang dia nikmati.


"Apa kamu akan menyusul ku ke sana?" tanya Anisa sembari menunduk kan kepalanya.


"Apa kamu mau aku menyusul ke sana?" Pramana malah balik bertanya.


Membuat Anisa merasa kesal. "Em ... nggak usah! nggak perlu ke sana!" dengan nada yang agak marah.


"Kamu kenapa melarang aku ke sana? suka-suka aku dong ... bila mau ke sana atau enggak," jawabnya Pramana lebih dingin.


"Ya udah, nggak usah ke sana ngapain?" tambahnya Anisa kembali.


"Ehem ... kalau kamu pengen aku ke sana ya bilang aja. Aku pasti menyusul ke sana kok cuman nggak bisa setiap hari ya? soalnya ... kan kantorku terlalu jauh kalau seandainya dari sana." Suara Pramana dengan nada yang lebih lembut.


"Nggak usah, siapa juga yang pengen kamu ke tempat aku! Sudah ku bilang nggak apa-apa nggak usah disusul juga!" ketusnya Anisa! padahal dalam hati tersenyum karena memang itu yang dia mau.


"Yakin nggak mau kalau aku ke sana? tapi kalau aku yang mau ke sana gimana?" tanya Pramana sambil mengulum senyumnya, serta tatapan yang sangat dekat.


Dan kini tangannya malah bergerak mengarah ke pipi Anisa dan mengusapnya dengan lembut.


Membuat Anisa mematung tidak berkata-kata dan mengunyah pun terhenti begitu saja, apalagi di saat wajah Pramana semakin mendekat merasa jantung ini berhenti berdetak.

__ADS_1


Cuph! kecupan mesra mendarat di pipi kanan Anisa bikin warna pipi Anisa berwarna merah sangat merona dia menunduk malu namun Pramana tidak berhenti di situ saja! dia mendekatkan kembali wajahnya dengan tidak ragu mencium keningnya Anisa yang dengan refleks memejamkan kedua manik matanya yang indah ....


Bersambung


__ADS_2