Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Tidak mungkin


__ADS_3

Setelah mereka duduk bersama kembali. Pak Lukman dan Bu Bella menghadap kedua gadis yang masih berada di sana.


"Sebaiknya kalian pulang saja. Nanti keburu malam." Kata pak Lukman sambil menatap kedua gadis itu.


Tadinya pak Lukman mau cerita kalau Pram sudah menikah, namun kata sang istri biarlah Pram sendiri yang cerita. Jangan kita yang cerita, makanya niat itu dia urung.


Adisty menatap pada pak Lukman yang menyuruhnya pulang,


"Em sekali lagi ... aku mohon maaf yang sebesar-besarnya telah meninggalkan Pram di hari pernikahan."


Sorot pandangan Pak Lukman mengarah pada Adisty. Di tatapnya dengan sangat tajam. "Sebenarnya saya kecewa. Sangat kecewa karena kau pergi begitu saja. Padahal kalau belum siap jangan setuju, bukan kabur yang tinggal ijab khabul."


"Sekali lagi, aku minta maaf, Yah. Bukannya tidak setuju tapi ... karena ada tawaran kerja yang tidak bisa di tunda lagi. Makanya aku pergi." Adisty menunduk malu.


"Kini kamu datang membawa penyesalan, setelah menghancurkan puing!


-puing cinta dan perasaannya Pram, Adis kira ... Pram tidak sakit hati hem?" jelas pak Lukman.


"Adisty mendongak. Aku tahu, Ayah ... makanya Adis mau minta maaf langsung pada Pram.


"Minta maaf itu mudah, dan orang tua mu pun sudah datang ke sini untuk meminta maaf. Atas ke kebodohan putrinya tapi ... cermin yang retak tidak mungkin memantulkan gambar dengan sempurna lagi--"


"Manusia tidak ada yang sempurna. Ayah ... namun masalah nya ... semua sudah berlalu dan baiknya Adis lupakan hal itu dan berikan ram ruang." Bu Bella menimpali perkataan dari suaminya.


Adisty menangis tersedu. Sepertinya orang tua Pram pun tampak sangat kecewa dengan gagalnya pernikahan kemarin. Ia menunduk dalam dan benar-benar menyesal atas semua ini.


Carolin merangkul bahu temannya tersebut. "Apa kah Pram sudah menikah?" celetuknya Carolin.


Bu Bella dan pak Lukman salik bertukar pandangan, mendengar pertanyaan dari Carolin.


Pak Lukman sedikit mengerutkan keningnya memandangi ke arah Carolin.


"Saya pernah mendengar dari supir nya Pram dan itu di benarkan oleh Pram sendiri." Tambahnya Carolin.


Adisty sangat terkesiap mendengar perkataan dari Carolin soal Pram sudah menikah, kepala Adis menggeleng dan tidak percaya. "Apa yang kau katakan Cer? tidak mungkin Pram sudah menikah, sama siapa? itu tidak mungkin!"


Lagi-lagi hu Bella dan pak Lukman saling bersitatap. Tadinya tidak cerita langsung biar Pram yang bicara langsung sama Adisty dan saat ini merek Apun tahu kalau Pram berada di rumahnya Anisa.

__ADS_1


"Kenapa tidak ada yang menjawab? ini tidak benar bukan? tidak mungkin Pram menikah sama wanita lain, dia sangat mencintaiku dan aku kembali ke sini untuk menjalankan kembali hubungan dengan dia. Karena aku mau menikah sama dia." Adisty mengedarkan pandangan ke arah orang-orang yang berada di sana.


"Sebaiknya ... Adis tanyakan sendiri pada Pram, kami ... rasanya kurang etis untuk bicara itu--"


"Kenapa Ayah? bilang saja. Iya atau tidak?" Adis mulai frustasi mendengar Pram sudah menikah dari Carolin.


Dalam hati, Carolin tersenyum melihat Adisty tampak panik dan frustasi. "Mampus, dengan begitu kau akan membenci Pramana dan tidak ada saingan lagi buat aku yang akan mengejar Pram sampai dapat."


"Em, Adis. Sebaiknya kita pulang yo? sudah malam!" ajak Carolin.


"Aku tidak mau pulang, sebelum mendapat jawaban kalau berita yang ku dengar itu adalah bohong." Adisty tidak mau pulang kalau belum mendapat jawaban yang benar.


Bu Bella menatap suaminya yang kebingungan.


Pak Lukman menghela nafas dalam-dalam lalu dia memutuskan untuk bilang saja yang sesungguhnya. Agar Adisty tidak berharap lagi pada Pram.


"Ayah harap, kamu tidak menyalahkan Pram sedikit pun, karena ... Pram sudah menikah waktu itu juga. Setelah kamu menghilang ... kamu mencari mempelai pengganti agar pernikahan tetap berlangsung--"


"Apa? tidak, itu tidak mungkin, Pram tidak mungkin mau menikah dengan wanita lain." Suara Adisty meninggi.


"Tidak mungkin ... tidak mungkin Pram mau menikahi wanita selain aku ... hik-hik-hik." Adisty kembali menangis dan lebih kejer. Dia tidak sangat kecewa berita yang dia dengar.


Namun tidak lama kemudian ... dai berhenti menangis dan mengusap wajahnya yang basah. Dia tetap merasa itu tidak mungkin, siapa tahu itu tidak benar. Hanya untuk dia tidak mendekati Pram dan itu kemauan dari orang tua Pram saja.


"Aku tidak percaya, sebelum Pram sendiri yang cerita dan aku melihat sendiri wanita tersebut." Gumamnya Adisty yang lalu berdiri meraih tas nya.


Kemudian pergi tanpa berpamitan. Yang langsung di susul oleh Carolin namun sebelumnya Carolin berpamitan terlebih dahulu pada orang tua nya Pramana.


"Kasihan juga sih, tapi gimana! Pram tidak mungkin menikahi Anisa bila saja dia sendiri tidak pergi meninggalkan pernikahan." Gumamnya Bu Bella setelah Adisty dan Carolin tidak berada di sana lagi.


Pak Lukman menutup pintu utama dan terdengar suara mesin mobil Carolin menjauhi kediaman Pramana.


"Tidak mungkin Pram menikahi Anisa, Bu ... bila dia datang. Sekarang sudah terlanjur dan kita harus fokus kalau Pram dan Anisa mau mengesahkan pernikahannya. Semoga Pram tidak tergoda dan memantapkan hati pada Anisa." Ungkap pak Lukman.


"Iya, Yah ... Sekarang Pram sudah terlihat sayang sama Anisa, buktinya dari luar kota malah pulang ke sana. Padahal kantor dan kediaman mas Joni itu jarak tempuhnya sangat jauh lho. Itu artinya dia rela menempuh jarak jauh demi bersama istrinya." Tambah Bu Bella.


"Itu betul, Bu ... sekarang rasa cinta itu mulai tumbuh pada Anisa dan jangan matikan lagi, dengan adanya Adisty. Sudah lah, kita tidak perlu bilang kalau Adisty datang ke sini, apalagi pada Anisa, kita harus menjaga perasaan nya Anisa." Timpalnya pak Lukman kembali.

__ADS_1


"Mobil siapa tuh, Yah?" tanya sang istri ketika mendengar suara mesin mobil yang memasuki halaman rumah.


"Suara mesin mobil nya Pram, Bu ..." sang suami menatap ke arah sang istri sembari memasang pendengarannya ke sumber suara.


Benar saja, tidak lama kemudian pintu terbuka yang di dorongan dari luar seiring ucap salam dari Pram dan Anisa.


"Assalamu'alaikum ..." Pram dan Anisa beriringan memasuki ruang tengah menghampiri Bu Bella dan pak Lukman yang menyambut dengan senyuman.


"Wa'alaikum salam ... Hai ... mantu kesayangan ibu, akhirnya balik lagi ke sini. Kangen dan gimana kabar kamu Nak ... sudah lebih baik kan?" Bu Bella langsung memeluk Anisa penuh rindu.


"Baik, Bu ... Anisa sih masih ingin di sana, tapi kasian Pram terlalu jauh ke kantornya." Jawabnya Anisa dalam pelukan sang ibu mertua.


"Kasian atau memang tidak mau jauh dari aku?" goda Pram setelah mencium tangan sang ayah mertua.


"Siapa bilang? kasihan aja tiap hari pulang pergi jauh banget kan!" elaknya Anisa.


"Iya, Oya deh ... ngalah saja. gimana Nona saja lah." balasnya Pram sambil mendudukan dirinya di sofa.


"Eeh, Aden sudah pulang, tadi ada itu--"


"Bi?" Bu Bella menggeleng dan sedikit menggerakan ujung matanya ke arah Anisa, sebagai tanda kalau bibi jangan bilang soal Adisty, apalagi di hadapan Anisa.


"Ada apa Bi?" tanya Pram pada bibi yang menggantungkan perkataannya.


"Em ..." bibi menggaruk tengkuknya.


"Bi, siapkan makan malam, biar kita makan bersama lagi malam ini. Setelah lamanya rumah ini sepi dan makan malam pun cuma kita-kita saja, begitu maksud Ibu." ralat Bu Bella.


"Ooh iya, baik, sebentar Bibi siapkan." Bibi kembali ngeloyor ke belakang untuk menyiapkan makan malam.


Anisa duduk di samping Bu Bella yang memegangi tangannya. Dan mengajak ngobrol.


"Pram, barusan baru saja pulang, Adisty dari sini!" suara pak Lukman sangat pelan, agar tidak di dengar oleh Anisa.


"Apa?" Pram terkaget-kaget ternyata Adisty nekad juga datang ke rumah. Suara Pram hampir saja keras, namun pak Lukman langsung menempelkan telunjuk nya di bibir agar Pram bicara sangat pelan.


Anisa yang sedang mengobrol dengan Bu Bella sesekali melirik ke arah Pram yang tampak sangat serius mengobrol dengan sang ayah ....

__ADS_1


__ADS_2