
Kini mereka semua sudah berada di dalam perjalanan menuju hotel, namun Pramana dan Anisa tetap berbeda kendaraan, Pramana lebih memilih dengan mobilnya pribadi yang di sopir kan oleh mang Pei.
Anisa menyandarkan kepalanya di bahu Pramana, yang tengah sibuk dengan layar laptopnya yang berada di pangkuan.
Dengan pandangan yang lepas keluar jendela menikmati sebuah senja yang indah berwarna merah ke kuning-kuningan.
"Yank, kayaknya indah sekali ya kalau seandainya di senja seperti kita berada di sebuah pantai. Menghabiskan waktu, menikmati di mana matahari akan tenggelam dan berganti malam!" gumamnya Anisa dengan pandangan terus melihat keluar jendela.
"Terus sayang maunya ke mana kita bulan madu? apa mau ke tempat yang berbau-bau pantai, laut!" tanya Permana cara menempelkan bibirnya di kening Anisa.
"Emangnya kamu mau ke mana?" Anisa malah bertanya tanpa menoleh.
"Kalau aku terserah kamu saja maunya ke mana, aku akan ikut. Jadi terserah sayang maunya kemana! kan dari kemarin-kemarin juga aku tanya mau bulan madu ke mana Sayang?" balasnya Pramana kembali.
"Aku mau ke Lombok, dan menginap di hotel villa ombak. itupun bila kamu berkenan, kalau nggak juga nggak apa-apa! terserah kamu mau mengajak ku ke mana." Anisa mengutarakan isi hati, namun dengan cepat dia meralatnya.
"Oh ... jadi sayang pengen ke Lombok? boleh, dan aku akan mencari jadwal yang tepat dam untuk aku ngambil liburan." ucapkan mana dengan lirik dan laki-laki menimbulkan bibirnya di kening sang istri.
Anisa menggerakkan tubuhnya duduk dengan tegak dan menoleh kepada Pramana. "Beneran boleh dan mau mengajak aku ke sana?"
Pramana mengarahkan tangannya ke pipi Anisa, lalu mengusapnya dengan lembut. "Tentu sayang ... kemana pun kamu mau ... aku akan mengajak mu ke sana. Hem!"
"Makasih Yank ... makasih banget," Anisa merangkul lehernya Pramana lalu mengecup pipinya dengan singkat.
Tidak terasa di perjalanan, akhirnya mobil Pramana pun sudah sampai di area parkiran hotel! yang akan menjadi tempat resepsinya acara mereka berdua.
Keduanya memasuki lobby hotel tersebut dan langsung naik ke lantai 18 dimana penginapannya di sana, sementara buat resepsinya nantinya di ballroom yang cukup luas agar mampu menampung banyak orang dan di acara itu akan menampilkan Acara musik gambus dengan artis terkenal dan di lanjutkan dengan ceramah dari seorang ustadz terkenal di Negara ini.
Pram membawa satu koper dan satunya di bawakan oleh mang Pei. Sementara Anisa berjalan dengan gontai dengan tas kecilnya dan menggandeng tangan Pram yang berjalan di sampingnya lebih cepat.
__ADS_1
Mang Pei segera kembali dan akan bergabung dengan keluarga yang lain, setelah memasukkan kopernya ke dalam kamar Pram dan Anisa.
Anisa berdiri termangu di dalam kamar hotel tersebut yang luas 3x lipat dari kamar normal, satu set sofa, lemari pendingin. Lemari besar. Manik matanya indah dibuat terperangah dan terpana melihat suasana kamar yang sudah di dekor kamar pengantin. Bar Raja dan ratu. Bertaburkan kelopak bunga merah serta sepasang angsa putih yang berhiaskan pita merah di lehernya tampak sangatlah cantik.
Berhias bunga-bunga nan indah dominan dengan warna merah, hijau dan ungu.
"Gimana sayang, suka gak? dengan kamarnya." Pram memeluknya dari samping dan menempelkan bibirnya di pipi Anisa.
"Kita kan bukan sedang bulan madu. Tapi mau resepsi, kok kamarnya semewah ini sih kaya kamar yang mau honeymoon saja." Anisa menggeleng.
"Emangnya sayang tidak suka? sia-sia dong aku menyiapkannya, lagian kan malam besok juga kita masih di sini. Bukan setelah resepsi langsung pulang," ucapnya Pramana dengan ekspresi wajah yang agak kecewa, karena dia merasa istrinya tidak bahagia.
"Bukannya tidak suka, suka kok sangat suka. Em ... pasti dekor di lokasinya lebih Indah. Aku pengen ke sana, kita lihat yuk!" ucapnya Anisa sambil memudarkan rangkulan dari suaminya.
"Boleh, kita ke sana sekarang yok!" Pram menarik tangan Anisa.
"Ups, kan kamu belum salat Maghrib. Salat dulu deh." Anisa menarik tangannya lalu mendekati koper untuk mengambil sarung, sajadah dan peci buat Pramana.
Beberapa saat kemudian, Pramana pun kembali setelah mengambil air wudhu. Lalu dia memasang sajadah dan menggunakan sarung dan sebelumnya dia mengecek arah kiblat dengan benda pintarnya.
Selepas melipat sarung dan sajadahnya kemudian Pramana menghampiri sang istri yang tengah duduk di sofa. "Ayah sayang kita ke balroom. Setelah itu kita makan malam bersama.
Anisa pun beranjak dari tempatnya duduk, kemudian tangan Permana menggenggam tangan Anisa dan menariknya, berjalan. Keluar dari kamar hotel tanpa mencoba dulu tempat tidur.
Mereka berjalan menuju balroom, tempat yang akan di pakai untuk resepsi hari esok. Namun sebelum sampai di Balroom mereka berdua bertemu dengan Aisyah dan suaminya Azis juga anak-anak.
"Hai ... Ferly ... Fika," Anisa berjalan cepat melepaskan tangannya dari genggaman Pram dan merangkul kedua ponakannya.
Pram bengong menatap tangannya yang barusan menggenggam tangan Anisa yang malah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Pram. Mau ke balroom kan, ayok?" Azis mengajak Pram yang malah bengong sambil berdiri di tempat.
Sementara Anisa sudah lebih dulu berjalan cepat dengan keponakannya. Fika dan Ferly.
Kemudian mereka pun berjalan bersama, barong yang sudah di dekor indah. Dengan ribuan bunga-bunga yang terpasang di jalan masuk. Pelaminan, di samping, di tengah! yang bergelantungan juga, di meja pun ada dan banyak lainnya.
Sungguh dekorasi yang sangat mewah, kursi pelaminannya pun berwarna emas. Membuat pasang mata yang melihatnya terpesona dan setengah tidak berkedip, Memandangi suasana di tempat tersebut, berhiaskan lampu-lampu dan pencahayaan yang indah.
"Insya Allah cantiknya, Aku tidak menyangka kalau hasilnya akan secantik ini karena ketika difoto itu nggak seindah ini."ucap Anisa sembari melirik ke arah Pramana yang terdiam melepaskan pandangan ke tempat yang luas dan indah tersebut.
"Kakak juga tidak menyangka kalau hasilnya akan lebih indah, lebih cantik dari gambarnya! berasa Kakak sendiri yang menghadapi resepsi itu he he he ..." timpalnya Aisyah sembari menerbitkan senyumannya.
"Sungguh hasil yang maksimal, yang bagus dan tidak mengecewakan!" tambah suaminya Aisyah ya itu Azis sembari menganggukan kepalanya.
Sedangkan Fika dan Ferly dia jalan-jalan lebih masuk ke dalam.
"Abang, Fika. Awas ya? jalannya menabrak dekorasi! nanti yang bikinnya marah lho ... kan bikinnya susah!" pesan sang ayah kepada kedua buah hatinya.
Dan kedua anak itu hanya menganggukkan kepalanya serta terus saja melihat-lihat ke lebih dalam lagi.
"Ternyata kalian berada di sini rupanya! kami pikir kalian di kamar masing-masing!" suara itu datang dari arah belakang.
Yaitu suara ibu Farida yang bersama Bu Hajah Bella, Pak Lukman dan Pak Joni juga keluarga yang lainnya.
"Ya, tambah lagi nih rombongan! yang mengganggu ketenangan kita," Pramana mesem sembari bergumam.
Mendengar gumaman dari Pramana demikian, jemari Anisa menari di pinggangnya Pramana. Sedikit mencubit pinggang pria itu. "Bicara apa sih? nanti kedengaran orang! nggak enak tahu!" setengah berbisik.
Pramana malah mengulum senyumnya sembari menarik pinggang Anisa, merangkulnya tanpa merasa malu di hadapan orang-orang dan juga mencium kepalanya.
__ADS_1
Membuat yang melihat mereka berdua merasa malu sendiri dengan pemandangan yang ada. Sementara Pramana bersikap santai aja lain dengan Anisa yang menunjukan wajah merah merona dan tersipu malu ....
Bersambung