
Tubuh Adisty terkulai kemudian pingsan membuat si pria semakin merasa panik. Kepalanya celingukan ingin minta tolong tapi tak ada orang satupun! adapun kendaraan begitu cepat berlari tidak peduli dengan area sekitar.
"Aduh gimana dong! orangnya pingsan?" manusia sambil berjongkok memeluk kepalanya Adisty.
Si pria mengarahkan pandangannya ke arah mobil Adisty yang dilihat-lihat sih emang kosong mobilnya. "Apa mungkin mobil itu miliknya wanita ini?"
Dan si pria itu mencoba memangku tubuhnya Adisty mendekati mobil tersebut. kebetulan pintunya pun tidak terkunci langsung saja Adisty didudukan di sana. Kunci mobil pun terlihat menggantung di tempatnya.
Di tengah-tengah kursi ada sebuah tas. Dengan sedikit ragu-ragu si pria mengambilnya dan mengecek apa saja isinya? siapa tahu aja itu memang tas milik wanita yang sedang pingsan tersebut.
"Oh my God ... ini kan Adisty mantannya Pramana yang kabur itu!" gumamnya pria tersebut sembari memandangi kartu pengenal yang ada di dompet dari dalam tas.
Si pria nekat, dia berniat mau membawa Adisty dari tempat tersebut dan sebelumnya dia menelpon seseorang! agar dapat mengambil motornya yang terparkir di samping jalan tersebut.
Sebelum melajukan mobilnya. Dia mencari-cari siapa tahu di dalam mobil tersebut ada air minum. Namun sayang sekali jangankan airnya botol kosong pun tidak ada.
"Aish ... mobil ini sedang kemarau sekali, tidak ada air setetes pun tapi aku yakin sih kalau ini mobilnya." Sepersekian detik kemudian mobil melaju dengan kecepatan sedang, untuk mencari sebuah warung yang setidaknya mendapatkan air minum terlebih dahulu! sebelum lanjutnya ke rumah sakit jika itu diperlukan.
"Kalau dia sadar nanti dan dia berontak lagi, terpaksa aku mau membawanya ke rumah sakit biar dia berikan obat penenang, lagian Apa sih yang buat dia pengen bunuh diri segala? heran gue!" gumamnya pria tersebut yang tiada lain adalah Deni, sepupunya Anisa.
Sambil mengemudi, sesekali Deni melihat ke arah Adisty yang belum sadar. "Bodoh sekali kamu, pengen bunuh diri segala. Di saat orang lain pengen hidup memperbaiki diri, ini malah kembalikan nya. Sadar woi kamu itu masih muda dan cantik! ngapain bunuh diri segala? sempit amat pikiran lo!" Deni terus bermonolog sambil memutar kemudi dan menepikan nya tidak jauh dari sebuah warung.
"Ibu warung? tolong deh, bawakan saya sebotol air putih. Saya khawatir teman saya ini kenapa-napa! kalau saya tinggalkan!" Deni memekik pada tukang warung.
Deni tidak berani meninggalkan Adisty, takutnya pas dia meninggalkan mobil tersebut, Adisty sadar dan berbuat sesuatu yang tidak diinginkan. Karena Deni tidak ingin mengambil resiko! makanya dia meminta tukang warung untuk mengantarkannya segelas botol air minuman.
Tidak lama kemudian, tukang warung pun mengantarkan sebotol air mineral kepada Deni, dan setelah membayarnya, Deni pun langsung bersiap untuk memberikan Adisti minum agar segera sadar, sementara tukang warung sudah pergi Deni langsung bergerak cepat.
Deni bukan hanya minumkan nya saja, tapi Deni pun menyiram wajah Adisty dengan cipratan air.
__ADS_1
Sehingga tubuh Adisty bergerak dan membuka matanya perlahan. "Aku berada di mana? tanya Adisty sembari mengedarkan pandangannya disertai suaranya yang parau.
Kemudian Adisti memejamkan kembali kedua manik matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya apa yang sudah terjadi dan menimpa pada dia sebelumnya.
"Apa kau tidak menyadarinya, kalau kamu sedang berada di dalam mobil?" jawabnya Deni sembari menutup botol minumannya.
Tiba-tiba tubuh Adisty melonjak Dan dia bangun, berusaha untuk keluar dari mobil seraya berkata. "Kenapa aku di sini? biarkan aku bunuh diri, aku nggak mau hidup tanpa orang yang aku cintai!" Adisty berusaha membuka pintu mobil yang kini terkunci.
"Bukakan pintunya? biarkan aku keluar, aku tidak ingin hidup! Buka ..." suara Adis di sembari menggebrak-gebrak pintu.
Deni terkesiap, namun dia merasa lega. Untungnya pintu terkunci sehingga dia tidak kecolongan yang kemungkinan saja Adisty kabur dan berbuat sesuatu.
"Tenang, kamu harus tenang! kalau kamu ada masalah itu bisa diperbincangkan, bukan mengambil jalan pintas. Kamu itu cantik dan menarik, hidup kamu masih panjang tidak perlu kamu mengambil jalan pendek. Cukup aja celana mu yang pendek! hidupmu jangan dibikin pendek!" ucap Deni sambil siap-siap menangkap tangan Adisty takutnya kabur begitu saja.
"Buka pintunya? aku pengen keluar! biarkan aku mengakhiri hidup ku, aku tidak mau hidup" tanpamu yang kucintai. Aku tidak sanggup bila harus melihat dia bahagia bersama wanita lain." Pekiknya Adisty sambil terus mendorong-dorong pintu mobil.
"Sebaiknya. Aku mau ke dokter agar kamu lebih tenang, rasanya aku was-was melihat kamu seperti ini!" deni bersiap kembali melajukan mobil untuk ke tempat dokter.
Benar saja pada detik kemudian Adisty kembali mengebrak-ngebrak pintu mobil yang berada di sampingnya! di saat mobil itu pun sedang melaju dengan kecepatan sedang.
Sekarang Adisty menoleh pada Deni, menatapnya dengan sangat tajam dan tangannya bergerak mengarah mencengkram tangan Deni yang sedang menyetir. "Hentikan mobilnya? aku bilang berhenti?"
Deni semakin gugup di saat Adisty menggoyang-goyang dan menarik tangan Deni yang sedang fokus menyetir.
"Bang-sat ... hentikan mobilnya? dan kenapa kau harus menolongku biarkan saja aku mati, biarkan saja aku mati ..." kini suara Adisty semakin tinggi dan menjerit-jerit.
Ckiiittttt ....
Deni mengerem mendadak setelah tangannya dihempaskan dari kemudi oleh Adisty jadi langsung menoleh kepada Adisty yang terus menjerit-jerit bagai orang gila saja.
__ADS_1
Sehingga Deni semakin yakin kalau dia harus membawanya ke sebuah klinik agar diberi obat penenang.
...----------------...
"Semua keperluan mu sudah aku siapkan dan berada dalam tas ini begitupun dengan pakaian ku jika diperlukan." Ungkapnya Anisa sembari menunjuk ke arah tas milik yang Pramana.
"Di Bandung itu akan PP Sayang, pulang pergi seharian. Jadi tidak perlu membawa baju banyak paling cukup satu atau dua saja. Kalau ke Surabaya nanti iya ... membawa baju ganti yang agak banyakan!" sahutnya Pramana sembari mendekati sang istri yang berdiri dekat jendela.
"Itu juga nggak banyak kok, cuman dua setel saja. Kan aku sudah bilang tadi bila diperlukan." ralatnya Anisa.
Pramana lebih mendekat lantas memeluknya dari belakang. Menciumi pucuk kepalanya kepalanya Anisa.
"Ya udah .... kita istirahat takutnya kesiangan besok paginya pagi-pagi kan?" melirik dengan sudut matanya kepada Pramana.
"Kita akan berangkat dari sini sekitar jam 04.00. Agar sampahnya lebih pagi. Dan sorenya sudah bisa pulang menuju ke sini!" Pramana menempelkan dagunya di pucuk kepala Anisa.
Anisa memeluk kedua tangan brahmana yang tengah berlaku dirinya. "Yank?"
"Hem, apa sayang?" Pramana merubah posisinya menjadi berhadapan dengan tangan berpegangan.
"Nggak ... Aku cuma pengen bilang aja, kalau aku sayang sama kamu." Anisa menatap lekat pada Pram yang membalas tatapan itu dengan sorot mata yang berbinar.
"Aku juga sayang kamu sayang! dan tetaplah bersamaku! melewati hari-hari bersama dalam suka maupun duka. Jangan pernah termakan pada sesuatu yang akan mengganggu kebahagian kita." Pramana menarik kedua bahunya Anisa ke dalam pelukannya.
"Kamu tidak akan pernah meninggalkan aku sekalipun kembali kepada kekasih mu itu!" Anisa tiba-tiba bertanya demikian sembari mendongak menatap kedua netra nya seakan mencari kejujuran di sana.
Bibir Pram menyeringai, mendengar ucapan dari Anisa. "Sayang ... aku tidak akan meninggalkan mu karena siapa pun apalagi mantan. Aku hanya ingin kamu sayang."
Mendengar perkataan Pram seperti itu. Membuat hati Anisa berbunga-bunga bak ibarat di taman bunga yang tengah bermekaran indah ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, dan terima kasih atas penyemangatnya.