Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Berenang


__ADS_3

Ketika pas Pramana menginjakkan kakinya di lantai atas, kedua netra matanya menemukan Anisa sedang menyetrika.


"Katanya kamu sakit! tapi kok sedang menyetrika?" Pramana menghampiri dimana Anisa berdiri dengan tumpukan bajunya.


Anisa menoleh sekilas, lalu mengedarkan kembali penglihatannya pada kerjaan yang masih menumpuk di depannya. "Siapa bilang aku sakit?"


"Mang Pei bilang kamu sakit kepala, makanya nggak datang ke kantor. Aku pikir kamu istirahat ternyata sibuk juga." Sambungnya Pramana sembari memandangi kemeja miliknya yang sedang Anisa setrika.


"Sudah, tadi istirahat. Lagian memang bukannya begini ya kerjaan seorang wanita itu. Harus selalu kuat sekalipun sakit harus bisa melakukan pekerjaan rumah!" jawabnya Anisa kembali sembari mondar-mandir kan tangannya yang sedang memegang setrikaan.


"Hem ..." kepala Pramana mengangguk baguslah kalau kamu kenapa.


Kemudian Pramana pun melanjutkan langkahnya yang lebar meninggalkan Anisa, menuju kamar pribadi nya.


Sesaat Anisa melihat punggung nya Pramana yang sedang berjalan, dan langsung menundukkan kepala ketika Pramana menoleh kepadanya.


Pramana menarik kedua sudut bibirnya melihat Anisa langsung menunduk ketika dia menoleh. Detik kemudian Pramana pun menghilang.


Hari sudah menjelang sore dan karena merasa panas sekali, Anisa pun tergoda untuk berenang di kolam renang yang berada di belakang rumah, berendam di sana bersama sang kakak ipar, Renita.


Anisa sendiri menggunakan celana pendek dan kaos oblong biasa, sementara Renita mengenakan kaos dan celana panjang. Lagian dia berjilbab.


Gejebuuurrrr ....


Gejebuuurrrr ....


Anisa menceburkan dirinya ke dalam air yang bergantian dengan Renita sehingga tampak bahagia, sehingga menimbulkan suaranya terdengar ke lantai atas di mana Pramana sedang bersantai di kamarnya dan langsung menghampiri balkon melihat siapa yang sedang berada di kolam renang.


"Ya ampun ... ternyata dia yang lagi berenang!" Pramana melepas pandangannya ke bawah tepatnya ke kolam renang yang ada Anisa nya. Terlihatnya tubuh Anisa yang mencetak karena pakaiannya basah.


"Ck ... ngapain sih! kalau kepanasan ya berendam saja dalam bathub! bukan kolam renang nanti kelihatan orang gimana?" gumamnya Pramana sembari meninggalkan area balkon dan langsung turun ke lantai dasar, lantas menuju ke belakang rumah.


"Mau ke mana Pram?" tanya sang Bunda yang sedang berada di dapur yang tengah bersiap masak buat makan malam.


"Ke kolam renang, Bu. Itu di kolam renang ada anak badaknya sedang berenang he he he ..." jawabnya Pramana sambil terus berjalan ke belakang.

__ADS_1


"Hoalah ... istrinya sendiri dibilang Anak badak! ada-ada saja si Aden-Aden!" gumamnya si Bibi sembari tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Astagfirullah ... ya ampun, si Abang malah membiarkan dua anak bedak itu berenang, ditonton pula!" ucapnya Pramana setelah sampai di area kolam renang.


Dan di sana ada Andre yang sedang melihat istrinya yang sedang bergaya kodok berenang di air.


"Sayang? sebelah sana sayang, ayo yang lincah dong ... masa kalah sama Anisa." Teriaknya Andre pada sang istri.


Kemudian Andre menoleh ke arah Pramana. "Kau ini apa-apaan sih? jelas-jelas itu istri mu dan istriku sedang berenang! malah dibilang Anak badak."


"Terus anak apa dong, kalau bukan anak badak? anak buaya?" jawabnya Pramana sembari mengarahkan pandangan ke arah Anisa yang tampak happy bermain air bersama Renita sang kakak ipar.


"Bukan! tapi anak kecebong!" timpalnya Andre sampai berjongkok di dekatnya Pramana aja.


"Anak kecebong, anak mu yang masih dalam rahim noh!" Pramana menunjukkan ke arah Renita dengan dagunya.


"Lah iya. Nanti juga kamu akan ngerasain gimana nikmatnya menanam kecebong, ha ha ha ... sekarang aja belum bisa. Sabar ... pengen gak sih? secara kan sudah punya istri tapi belum bisa digunakan! pengen gak sih ngerasain?" pertanyaan Andre yang nyeleneh sembari menyenggol bahunya Pramana.


"Kau ini nanya apa sih? nggak ngerti aku!" Pramana pura-pura nggak ngerti dengan apa yang di tanyakan oleh Abangnya itu.


"Masa kamu nggak ngerti sih? pura-pura gak ngerti ya ... kamu kan sudah dewasa masa nggak ngerti apa yang aku maksudkan. Emangnya nggak pernah merasakan sesuatu apa? kalau nggak! berarti kamu nggak normal wajib periksakan ke dokter noh." Tambah nya Andre.


"Oo! berarti normal ya? kalau begitu ada dong ... keinginan untuk menyentuh istrinya, ha ha ha ..." Goda Andre sambil tertawa lepas.


"Adalah namanya juga normal! eh tidak-tidak, gak ada. Gak ada kayak gitu! bukan muhrim!" jawabnya Pramana sembari menjauh dari sang Abang, berjalan ke arah Anisa yang berada di pinggiran sebelah sana.


"Bukan muhrim ... colek dikit nggak papa kali sch ... orang sudah sah dimata dan negara kok he he he ..." gumamnya Andre.


"Ngapain sih berenang di sini segala kan ada bathub di kamar mandi, berendam aja di sana." gumamnya Pramana setengah dekat dengan Anisa.


"Seperti ini berenang, adem banget kan!" jawabnya Anisa tanpa menoleh ke arah Pramana.


"Terus Apa susahnya berendam di bathub? di kamar mandi kan sama-sama air! dan juga lebih aman," tambahnya Pramana kembali sambil mengedarkan pandangan ke arah sekitar.


"Di kamar mandi itu, berendam ... bukan berenang namanya!" sahutnya Anisa kembali sembari memercikan air ke wajahnya.

__ADS_1


Pramana memandangi gadis itu yang tampak sangat cantik walau dengan natural tanpa Mak up sama sekali, apalagi air yang menempel di kulitnya bagai permata yang berkilauan tersorot cahaya.


"Iya ... kan sudah ku bilang berendam di kamar mandi, bukan nyuruh berenang ada-ada saja sudah naik?" pintanya Pramana agar Anisa segera naik.


Anisa menoleh ke arah Pramana. "Kenapa? Aku masih pengen berenang! panas banget soalnya."


"Nisa aku bilang naik, naik?" Pramana sedikit mengeratkan giginya memekik dengan suara yang tertahan! serta menyuruh Anisa untuk naik dari kolam renang.


"Aish ... main perintah saja, orang masih pengen berenang kok!" tolaknya Anisa.


"Kalau kamu nggak mau naik, aku yang akan turun dan aku akan buat kamu seperti malam kemarin biar dilihat sama Kak Nita dan Abang." Kata Pramana penuh ancaman kepada Anisa hanya sekedar ingin Anisa naik dari kolam renang.


Degh.


Anisa berkata sembari melihat ke kanan-kiri dan ke arah Renita yang agak menjauh dan menghampiri suaminya. "Maksud kamu apa sih? mengganggu kesenangan orang saja!"


"Anisa ... nggak tahu kah? kalau kamu itu sudah menonton kan lekuk tubuh mu yang seksi dilihat orang banyak! kan kamu tahu dengan bajumu yang basah kayak gini selonggar apapun lekukan tubuhmu akan terlihat dengan jelas!" ujar Pramana sembari menatap tajam ke arah Anisa yang langsung menjalankan tangan yang menutupi bagian dadanya sambil menurunkan lagi tubuhnya ke dalam air.


"Tapi, kan di sini nggak ada orang luar, yang ada orang dalam saja!" Anisa masih membela diri karena dia merasa nggak ada siapa-siapa selain keluarga. Lagian dirinya nggak pakai pakaian yang seksi kok pakaian longgar.


"Memang keluarga! tapi ku tanya sama kamu, kamu muhrim mereka bukan?" tanya Pramana.


"Bukan!" sahutnya Anisa kembali dengan jelas.


"Kalau bukan, cepetan naik?" pinta Pramana dengan tegas sembari mengeluarkan tangannya pada Anisa.


Namun Anisa malah menatap datar tangan Pramana yang di ulurkan untuknya.


"Enak saja, memperlihatkan diri sama orang banyak. Aku aja belum menikmatinya." Gumamnya Pramana sangat pelan yang nyaris tak tak terdengar.


"Nisa ... sini susul kakak dong ... gaya batu apa?" teriaknya Renita dari sebelah sana. "Jangan mau kalah sama perutnya yang lebih gendut dong ..."


"Buruan naik, Nisa ... atau mau aku lakukan lagi nih? di depan mereka!" Pramana kembali tampak geram, dan mengancam.


Sehingga Anisa buru-buru merapat lalu meraih tangannya Pramana, lantas naik ke bibir kolam dan Pram pun membalut kan handuk ke tubuh Anisa yang bagian atas ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya.


__ADS_2