Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Mangga bunga


__ADS_3

"Yah, Bunda. Aku pergi dulu," pamitnya Pramana pada kedua mertuanya.


"Hati-hati ya Pram, jangan ngebut bawa mobilnya. Dan titip Anisa ya?" ucap Bu Farida pada Pramana.


"Hooh, jangan ngebut-ngebut! yang alon-alon saja yang penting selamat." Tambahnya pak Joni.


Anisa menoleh pada Pramana yang tengah mencium tangan kedua orang tuanya tersebut.


"Sama gue nggak bakalan pamit nih!" celetuknya Deni sembari mengeluarkan tangannya minta dicium tangan oleh Pramana.


"Lu gila, apaan? lu kan mau pulang juga, ngapain gue salaman sama lu nggak ada kerjaan!" Pramana ngeloyor ke teras yang langsung disusul oleh Deni.


"Ya udah ... Dea juga pamitan ach, lain kali ke sini lagi. Paman, Bibi ..." pamit Dea kepada Pak Joni dan Bu Farida.


"Iya! sampaikan salam kami kepada orang tua mu ya? jangan lupa oleh-olehnya di bawa! soalnya kami nggak ada lagi oleh-oleh yang lain!" kata Bu Farida pada Dea.


"Iya, Bi ... Makasih udah ngerepotin deh, Oh iya Anisa nggak dia bekali oleh-oleh nih?" Dea melirik Anisa yang sedang merapikan kembali kerudungnya.


"Nggak usah! gue nggak mau bawa!" sambarnya Anisa.


"Bibi sudah suruh dibawa. Tapi nggak mau, ya udah bawa sama kamu aja lah." kata Bu Farida lagi sambil mesem.


"Mendingan dibawain aja sama Kak Aisyah! di sana kan banyak yang makan, kalau di Nisa nggak ada makan nanti. Sayang kalau mubazir!" Anisa menjelaskan pada sang Bunda.


"Hooh, nanti bunda bawain sama Kak Aisyah juga." Sang bunda mengangguk.


"Dek kalau suami menyuruh atau meminta sesuatu jangan ditolak ya? kecuali sesuatu yang tidak diperbolehkan oleh agama kalau masih dalam batas kewajaran sih turutin saja." Aisyah pada Anisa.


Anisa pun mengangguk pelan. Lalu berjalan menuju teras.


"Pram, selaku kakak sepupu Anisa. Gue titip Anisa sama lu, sayangi dia dan cintai dia. Ya gue tau lu masih cinta sama kekasih lu yang meninggalkan itu, tapi gue yakin dengan seiring berjalan waktu lu pasti bisa mencintai Anisa." Deni menepuk pundak Pram.


"Kue gak janji, Den. Gue masih butuh waktu untuk menata hati gue masih butuh waktu untuk mengembalikan kepercayaan gue Hah ... dan gue masih berharap Adisty itu kembali dalam pelukan gue!" akunya Pramana sembari menghela nafas panjang.


"Lalu bagaimana dengan Anisa? masa kamu melepaskan dia, dia itu gadis baik, aku pastikan kamu tak akan nyesel deh dapatin dia! walau memang dia punya masa lalu! itu bukan keinginan dia bukan sesuatu yang sengaja. Sebuah insiden yang kelam." Tambahnya Deni.

__ADS_1


Pramana terdiam dan tidak tau harus jawab apa lagi pada Deni yang sepertinya sayang sama Anisa.


Lalu kemudian, Pramana menoleh jarum jam yang ada di pergelangan tangannya. "Oke, Nanti kesorean. Aku pulang dulu! sampai jumpa minggu depan!"


"Oke! gue juga mau pulang, sampai minggu depan jumpa lagi. Aku mau ngajak temen-temen yang lain, nanti ke sananya biar ramai. Itung-itung reunian lah ... iya gak?" balasnya Deni sembari mengenakan helmnya.


Anisa, Dea dan Aisyah baru muncul ke permukaan teras dan Aisyah untuk mengantar kepergian sang adik Anisa dan juga kepulangan Dea yang menjinjing kantong kresek yang lumayan besar.


"Ya udah, Kak. Nisa pulang dulu ya! Assalamu'alaikum," ucapan Anisa.


Kakak dan adik itu berpelukan sesaat lalu kemudian Anisa mengayunkan langkahnya mendekati mobil Pramana dan sebelumnya dia melambaikan tangan, berpelukan dengan Dea.


"Kak Deni. Jangan ngebut-ngebut lho bawa motornya!" Anisa menoleh ke arah Deni yang langsung mengangguk.


"Anisa ingat ya? sampai jumpa minggu depan awas lu cuekin gue!" ucap Dea sambil melambaikan tangan kepada Anisa.


Anisa tersenyum lalu berjalan mendekati Pramana yang masih berdiri dan membukakan pintu untuknya.


Sebelum masuk mobil, Anisa melihat kerah kemejanya Pramana itu melipat ke dalam. Sehingga dia menyempatkan diri untuk membetulkannya! Pramana terdiam dan memandangi wajah Anisa yang berada dekat di hadapannya itu.


"Ya ... buat apa aku punya istri kalau nggak berfungsi!" dalam hati Pramana, namun dia tidak mengucapkannya di mulut.


Kini Anisa sudah berada di dalam mobil Pramana dan tangannya melambai ke arah teras di mana sekarang sang Bunda dan sang ayah pun berada di teras serta memandangi kepergian dirinya.


Langit terlihat mendung. Namun bukan berarti hujan dan waktu pun sudah menunjukkan pukul 04.00 sore dan Anisa masih dalam perjalanan, sekitar setengah perjalanan lagi untuk sampai di kediamannya pak Lukman.


"Shcuuut ... kok aku jadi ngiler ya? berasa sudah berada di lidah!" gumamnya Anisa sambil celingukan ke depan, ke kanan dan ke kiri.


"Mencari apa?" tanya Pramana tanpa menoleh kepada Anisa.


"Em, siapa tahu aja ada pedagang buah gitu, buah mangga yang motongnya kayak dibikin bunga-bunga kayak gitu, terus di kasih sambal, shcuuuut .... berasa dalam mulut!" jawabnya Anisa sembari terus melihat-lihat.


"Buah mangga yang dipotong menyerupai kembang! Oh ya-ya-ya , ya ....aku tahu." Suara Pramana pelan sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


Kepala Pramana pun turut mencari-cari Siapa tahu di depan ada yang jualan seperti itu tetapi nggak ada, ada juga yang potong dadu, rujak buah.

__ADS_1


"Itu ada, tuh rujak buah mau nggak?" tawanya Pramana sembari melirik sekilas ke arah Anisa.


"Hem ... kali aja di situ ada buah seperti yang aku maksud tadi!" jawabnya Anisa.


Kemudian Pramana pun menepikan mobilnya tidak jauh dari yang jualan rujak tersebut, namun sepertinya cuma ada rujak doang yang dipotong-potong dadu tidak ada mangga yang seperti Anisa mau.


Anisa terdiam karena yang dia mau bukan seperti itu. "Mas, ada nggak mangganya yang satuan gitu dikupas terus dipotong-potong menyerupai bunga lalu dikasih sambel atau garam yang pakai cabe bubuk gitu!"


"Oh nggak ada Neng, lagian yang suka di kayak gitu itu buahnya agak mengkal, tidak terlalu matang nggak terlalu mentah juga. Yang saya bawa hanya mentahan aja!" jawabnya si penjual rujak.


"Oh, ya udah deh gitu aja lah, rujak potongan itu ... cuman jangan dikasih mangga mentah ya! terlalu asam buat aku jadi nanas, bengkuang. Jambu air dan ubi itu aja, nggak usah pakai mangga nggak usah pakai kedondong!" pintarnya Anisa.


Pramana yang berdiri di samping Anisa hanya melihat-lihat perbuahan yang ada di depan matanya tersebut.


"Oh ya. Emangnya nggak apa-apa makan nanas?" selidiknya Pramana pada Anisa.


"Kenapa? kurasa kenapa-apa dan itu cuma mitos doang," jawabnya Anisa dengan nada datar.


"Nggak ... aku cuman nanya doang takutnya kenapa-napa seperti banyak orang bilang." Pramana menolehkan kepalanya lalu, kembali berjalan mendekati pintu mobil setelah membayar satu kap kecil rujaknya Anisa.


"Nggak ach, cuman mitos saja itu." Anisa sambil berjalan dan memakan rujaknya.


Kemudian mereka kembali memasuki mobilnya Pramana. Yang di bukakan pintunya oleh Pramana. Lalu dia mengitari mobilnya menuju belakang kemudi.


Mobil pun kembali melaju dengan kecepatan sedang! biar nggak laju-laju yang penting nanti sampai dengan selamat.


Punggung Anisa bersandar ke bahu jok, sembari menikmati pedasnya rujak yang berada di tangannya.


"Ohok-ohok!" Anisa keselek rasa pedas yang mandek di tenggorokannya.


Membuat Pramana menyempatkan tangannya untuk mengambil botol minuman yang berada di sampingnya, diberikan kepada Anisa. Pramana tampak cemas melihat Anisa yang batuk-batuk seperti itu hingga mengeluarkan air mata ....


...🌼---🌼...


Gimana kabar hari ini semoga baik-baik saja ya Makasih sudah membaca karya aku yang recehan ini.

__ADS_1


__ADS_2