
Saking merasa paniknya, ibu Bella sampai-sampai tubuhnya merasa lemas! lututnya bergetar, tiada daya dan tenaga sehingga tubuhnya pun luruh ke lantai dengan pandangan kosong melompong.
Bibi yang melihat kondisi bu Bella seperti itu langsung membantu sang majikan untuk berdiri. "Bangun Bu ... ayo sama bibi!"
"Antar saya ke mobil, saya mau ikut Pramana mengantar Anisa!" pinta Bu Bella sembari membawa langkahnya yang sangat gontai dan lemas itu keluar dari kamarnya Anisa.
"Tapi Ibu tidak apa-apa?" tanya Bibi nggak pada sang majikan.
"Nggak usah khawatir. Saya tidak apa-apa, Bi ... ayo antar saya, bantu saya ke bawah!" sambungnya bu Bella.
Dan baru saja mau menuruni anak tangga, Pak Lukman dan yang baru saja datang dari suatu tempat, menghampiri sang istri. "Ada apa ini? Bi ... Ibu kenapa?" pak Lukman menatap sang istri dan bibi bergantian.
"Itu, Yah ... Anisa pendarahan, Saya sangat kuatir," jawabnya sang istri sambil berjalan tergopoh-gopoh menuruni anak tangga.
"Oh, yang barusan mobil Pramana keluar itu membawa Nisa?astagfirullah ... kenapa Nisa seperti itu?" kata Sang suami dengan memegangi tangan sang istri.
"Emang mobilnya Pramana sudah berangkat?" tanya Bu Bella pada suaminya.
"Sudah, Bu ... barusan aja! kirain Ayah itu nggak ada apa-apa!" sahutnya pak Lukman lagi.
"Ya sudah, Yah ... kita susul aja kasihan dia, ya Allah ... ibu nggak nyangka. Dia pingsan di kamar mandi, mana pintunya terkunci juga! dari tadi dia kurang sehat. Ibu suruh istirahat saja! dan dia pun menurut, dia nggak ada turun
Eeh pas Pramana datang seperti itu, Yah ..." ujar Bu Bella sambil berjalan.
Pak Lukman mendengarkan, lalu dia langsung menghidupkan kembali mobilnya.
"Bibi tunggu di rumah ya!" kata Pak Lukman kepada Bibi yang masih memegangnya tangan Bu bela.
"Iya Tuan! ya Allah semoga saja neng Nisa tidak kenapa-napa!" bibi mangngguk-ngangguk kan kepalanya seraya mengusap dada yang terasa begitulah berdebar ikut khawatir.
"Iya, Bi ... berdoa saja ya! semoga Anisa gak kenapa-napa begitupun dengan bayinya, Astagfirullah ... takut, jadi khawatir dia kenapa-napa!" gumamnya bu Bella.
Kemudian dia memasuki mobilnya, dia bersama Pak Lukman menyusul Pramana yang sudah duluan dan entah mau ke rumah sakit mana.
__ADS_1
Mobil Pramana yang lebih dulu, melaju pesat membawa Anisa yang masih juga belum sadarkan diri yang tetap berada dalam pangkuan.
Tentunya Pramana tampak sangat cemas dan khawatir melihat kondisinya Anisa seraya terus bergumam. "Nisa bangun, Nisa bangun?" tangannya memeluk kepala Anisa di dada.
Wanita cantik itu tetap saja memejamkan matanya dan dia pun tidak mengenakan kerudung, mana ingat Pramana dengan itu. Boro-boro yang ada panik! gimana caranya agar Anisa cepat tertolong.
Sesekali Pramana menempelkan pipinya di kening Anisa dan terus berkata. "Nisa bangun? kamu harus kuat!"
Hati Pramana mencelos sedik, ada rasa takut kehilangan. Takut kalau dia akan kehilangan Anisa.
Mang Pei yang menyetir, sekali melihat ke arah belakang melalui kaca spion yang berada di atas kepala, dia merasa sedih melihat kondisi Anisa dan juga Pramana yang tampak terpukul.
Beberapa saat kemudian mobil pun berhenti di depan sebuah rumah sakit yang terdekat, dan mang Pei pun bergegas turun. Buru-buru membukakan pintu buat Pramana yang memangku tubuh Anisa seraya meminta berangkar kepada pihak rumah sakit.
Anisa langsung dibawa ke ruang gawat darurat dan ditangani oleh dokter dan Pramana hanya bisa mengantar ke depan pintu saja! dan dia dilarang untuk masuk hingga terpaksa dia menunggui saja di depan pintu, dengan ekspresi wajah yang begitu sangat cemas, khawatir. Was-was bercampur menjadi satu, takut menimpa terjadi sesuatu pada Anisa.
Pramana menoleh pada mang Pei, biar dia memberi tahu ibunya kalau mereka sudah berada di rumah sakit ini.
Mang Pei pun mengangguk seraya mengambil ponselnya. "Oh iya, Den. Berapa kali ada panggilan dari tuan, dia pasti menyusul kita dan tidak tahu kita ke mana!"
Sesekali pria muda itu mendongak serta memegangi kepalanya tampak prustasi. Bingung, Khawatir memandangi ke arah pintu. Berharap pintu terbuka dan memberi kabar kalau Anisa baik-baik saja.
Setelah menunggu beberapa saat, dari dalam pintu ruang UGD terbuka dan keluarlah seorang dokter perempuan dan Pram jalan langsung menghampiri.
"Keluarganya pasien nya mana ya?" dokter sambil membuka maskernya.
"Saya, Dok. Saya suaminya!" jawabnya Pramana dengan cepat.
"Tuan, istri anda mengalami kuguguran dan dia harus lebih cepat dan kami tangani, dan kami meminta persetujuan dari pihak keluarga atau suaminya!" jelasnya dokter sembari menatap ke arah Pramana.
Mendengar perkataan dokter barusan. Hati Pramana langsung mencelos sedih, rasanya terluka. "Dok! saya mohon cepat tangani istri saya! buat yang terbaik untuknya, selamatkan istri saya dok." Suara Pramana bergetar dan penuh permohonan.
"Baik, kalau begitu silakan Anda mengurus administrasinya dan persetujuan sama suster. Dan mohon doanya supaya semua lancar." Dokter melirik ke arah seorang suster yang sudah memegangi sebuah berkas.
__ADS_1
Pramana pun bergegas mengikuti suster ke ruang administrasi untuk mendatangi sebagai persetujuannya dalam hal penanganan Anisa.
Di koridor Rumah sakit tengah berjalan ibu Bella dan suaminya Pak Lukman beserta langkah-langkah yang tergesa-gesa ingin segera sampai ke tempat tujuan. Terlihat beberapa suster dan pasien yang tengah berjalan.
"Ya Allah ... Yah, Ibu sampai lupa membawa tas! saking paniknya kali ya," kata ibu Bella pada suaminya.
"Tidak apa-apa, kalau ada apa-apa juga nanti kita bisa pulang lagi!" kata sang suami sambil terus berjalan.
"Semoga saja Anisa tidak kenapa-napa ya, Yah! kok hati Ibu jadi nggak enak begini ... khawatir dia gimana-gimana."
"Berdoa saja, Bu ... semoga Anisa baik-baik saja dan kita hanya bisa berdoa bukan? hanya bisa berencana Allah juga yang maha menentukan segalanya! dan mudah-mudahan dengan doa ... bisa merubah semuanya!" ujar Pak Lukman dengan lirih.
"Iya, Yah. Memang maunya seperti itu, ibu juga berdoa terus dalam hati ini ya Allah ... semoga Anisa tidak kenapa-napa!" timpalnya sang istri lagi.
Setelah sekian lama berjalan Dan akhirnya sampai juga di area UGD dan bertemu dengan Mang Pei.
"Pram mana, Mang?" tanya bu Bella pada Mang Pei.
"Oh, Aden kayaknya ke ruang administrasi!" jawabnya mang Pei sembari menunjuk ke salah satu tempat.
"Gimana keadaan Anisa nya, Manf?" tanya Bu Bella setelah menoleh ke arah yang manf Pei tunjuk.
"Sepertinya ... Neng Anisa agak repot, Bu. Makanya masih di ruang UGD dan Aden diminta untuk memenuhi syarat administrasi." Jawabnya mang Pei sembari mendudukan dirinya di kursi.
Pak Lukman pun duduk di sebelahnya Mang Pei. Dengan wajah yang tanpa khawatir dengan keadaan mantunya, apalagi sang istri bu Bella yang tampak gelisah! gusar dan berjalan mondar-mandir.
"Bu ... mendingan duduk di sini yang tenang dan banyak berdoa, semoga Anisa tidak kenapa-napa! Oh iya pak Joni sudah di beri tahu belum? bagaimanapun mereka harus tau Anisa sedang di rumah sakit." Ungkap pak Lukman sembari mengingatkan kalau orang tua Anisa sudah dikasih tahu apa belum.
"Astagfirullah ... iya Yah ... belum dikasih tahu! tapi harus bilang gimana? masa langsung bilang begitu, nanti mereka cemas." Bu Bella menatap sang suami dia kebingungan harus bilang apa kepada Pak Joni.
"Ya bilang aja seperti itu, mau gimana lagi. Mereka pun harus tahu kondisi putrinya gimana!" kata Pak Lukman kembali.
Bu Bella pun mengangguk lalu minta ponsel suaminya! karena dia boro-boro membawa ponsel, tas juga nggak. Ketika mau telepon ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa like dong ... jangan pelit jempolnya, heheskssih ya