Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Tidak sengaja


__ADS_3

Lalu kemudian Anisa pun masuk ke dalam ruangan Pramana yang sebelumnya ... Anisa mengucapkan terima kasih kepada sekertaris tersebut.


Anisa membawa langkahnya menuju meja kerja Permana dan menyimpan yang dia bawa untuk makan makan siangnya di sana. Dia berdiri sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


Untuk sementara waktu, Anisa mematung di dekat meja kerja Pramana yang sedang tidak berada di tempat itu.


Kemudian kedua manik mata Anisa tertuju pada sebuah foto yang berada di meja tersebut, yaitu foto Pramana bersama seorang wanita cantik yang berambut sebahu.


foto itu menggambarkan keduanya yang sangat bahagia saling merangkul bahu serta tawanya pun yang lepas.


Tangan Anisa bergerak perlahan, dia ingin menyentuh foto tersebut namun belum juga sampai, dia sudah dikagetkan dengan suara bariton dari arah belakang.


"Ngapain kau di sini?" suara itu membuat Anisa sontak berbalik dan mengagetkan Anisa. Dengan tidak sengaja pas foto yang ingin dia sentuh malah ke senggol begitu saja.


Dan prekk ....


Pas foto terjatuh ke lantai dan kacanya pecah, remuk berkeping kecil.


Membuat keduanya terkesiap dan mematung di tempat. Melihat ke arah lantai dimana pas foto itu tergeletak di sana dan kacanya pun remuk redam.


Beberapa saat kemudian Pramana berjongkok seraya berkata. "Kamu apa-apaan? baru saja kau datang ke sini sudah menghancurkan milikku!"


"Ma-maaf, a-aku ti-tidak sengaja. aku tidak sengaja!" suara Anisa terbata-bata dan dia pun ikut berjongkok mengambil pinggiran pas foto tersebut.


"Astagfirullah ... ngapain sih? kamu ke sini buat keributan?" Pramana berkata dan menunduk melihat ke arah Anisa yang sedang berjongkok di hadapannya itu.


"Aku, aku minta maaf dan aku tidak berniat mem-membuat keributan. A-aku ke sini disuruh Ibu untuk mengantarkan makan siang, sekali lagi maaf. Aku tidak sengaja!" Anisa mendongak sekilas menatap wajah Pramana yang memerah.


Pramana menggelengkan kepalanya dengan kasar! lalu dia membungkuk dan mengambil pas foto yang ada di tangan Anisa, dia simpan di meja dengan cara terhentak sehingga pecahan kacanya sedikit menyembur ke atas. Untungnya tidak terjatuh ke lantai lagi pecahannya apalagi menimpa Anisa yang berada di bawahnya.


Anisa berdiri sembari menunduk dalam, dia merasa sangat bersalah. Kedatangannya ke tempat itu yang pertama kali harus memberikan kesan buruk dimana dia memecahkan pas foto yang mungkin menjadi kesayangan dari Pramana sendiri.

__ADS_1


Jujur Pramana sangat marah, kesal. Rasanya ingin dia berteriak mencaci, memaki wanita yang berada di depannya itu hanya gara-gara menjatuhkan pas foto kesayangan dia.


Berkali-kali Pramana menghela nafas sangat panjang untuk mengontrol emosinya yang hampir saja meluap-luap, kedua tangan nya pun yang menggantung mengepel kuat.


Sementara Anisa menunduk dalam jantungnya berdegup sangat kencang, dia pasrah bila Pramana akan memarahinya. Namun entah kenapa justru air matanya jatuh duluan. Sehingga menetes ke punggung tangan yang sedang dia satukan di bawah.


Pramana hanya terdiam apalagi melihat wanita yang berada di hadapan nya menangis, seketika hatinya mulai meluluh apalagi dia masih sadar diri tidak seharusnya dia marah-marah ataupun mencaci maki pada Anisa yang mungkin memang tidak disengaja.


"Sekali lagi aku minta maaf, aku tidak sengaja menjatuhkannya niat ku hanya untuk melihat-lihat saja!" suara Anisa bergetar tanpa mengangkat wajahnya ataupun melihat ke arah Pramana.


Pramana tidak bicara sedikitpun, dia hanya menggerakkan tangannya dan mengeluarkan pecahan kaca dari pas foto tersebut ke dalam kantong.


Dalam beberapa saat Anisa masih mematung di tempat! sementara Pramana sudah menggerakkan dirinya membuang kantong berisi pecahan kaca ke dalam tong sampah dan takutnya ada sisa yang berada di lantai sehingga dia menyapukannya.


Dengan diam-diam Anisa pun melihat pergerakan dari Pramana dengan perasaan yang masih tidak menentu.


"Aku tidak butuh patung di sini, pergilah dari sini?" ucapnya Pramana dengan suara dingin pada Anisa.


"Apa perlu aku bantu untuk menyapunya?" tawarnya Anisa sembari mengusap kasar sudut matanya yang tadi berderai dengan air mata.


"Tetapi kau belum makan! tadi ibu menyuruhku untuk mengantarkan makan siang untuk mu!" Anisa melirik ke arah meja yang dia simpan tempat makan siang di sana.


"Nanti aku makan, dan sekarang kamu pergi pulang ke rumah! jangan menjadi patung di sini. Jangan mentang-mentang kamu istriku dan kamu bisa menemani aku di sini, aku nggak butuh!" Pramana menunjuk ke arah pintu dengan nada suara sedikit tinggi.


Anisa kaget dengan refleks dia memejamkan kedua matanya. Rasanya kok aneh dibentak oleh seorang pria yang sudah berstatus jadi suami, beda dengan yang lain. Lalu detik kemudian Anisa pun berbalik sembari berkata. "Maaf aku sudah membuat mu marah! sekarang aku mau pulang, Assalamualaikum!"


Anisa membawa langkahnya sembari menelan Saliva nya yang terasa kering di tenggorokan. Dadanya pun terasa sesak, sakit dan entah apa yang membuat dia sakit.


Dia lantas berjalan melewati koridor kantor dengan menundukkan kepalnya. Setelah sekian lama perjalanan akhirnya dia sampai juga di parkiran, mendatangi mobil yang tadi mengantarnya.


"Sudah, Neng mana wadahnya?" tanya mang Pei karena melihat Anisa tidak membawa wadah yang tadi dia bawa.

__ADS_1


"Oh itu ... belum dimakan, Mang dianya baru keluar dari meeting." jawabnya Anisa.


"Oh gitu biasanya ibu suka menunggunya makan dulu, makanya wadahnya suka ke bawah lagi!" sambungnya Mang Pei.


"Gimana dong, Mang? orang dia belum makan. Lagian aku disuruh pulang segera." Jawabnya Anisa kembali sembari menaiki mobil tersebut.


"Ya sudah atuh kalau begitu, kita pulang saja!" kata Mang Pei sembari menundukkan dirinya di belakang kemudi.


"Iya mang jalan saja!" Anisa mengangguk dan sembari memasang bell safety mobil di pinggangnya.


Mobil langsung merayap meninggalkan area parkiran tersebut dan gedung di mana menjadi kantor seorang Pramaba, Anisa duduk bersandar dengan pandangan ke depan serta tatapan kosong! dia melamun begitu anteng mengingat kejadian tadi. Dimana tidak sengaja menjatuhkan pas foto miliknya Pram dan kekasihnya itu.


Di sepanjang perjalanan Anisa melamun sampai-sampai ditanya sama mang Pei pun Anisa tidak menjawab, mang Pei cuma menggelengkan kepalanya ketika melihat Anisa sedang melamun. Dari kaca spion di atas kepalanya.


Selang beberapa puluh menit kemudian, akhirnya mobil sampai juga di kediaman Pak Lukman dan Anisa langsung turun dari mobil Dan disambut oleh sang ibu mertua.


"Gimana, ada Pram nya di kantor?" tanya nya sambil menatap ke arah Anisa yang sedang berjalan dengan santai.


"Ada, Bu ... baru keluar dari meeting. Makanya makan siangnya belum dimakan! jadi aku nggak bawa wadahnya!" jawabnya Anisa.


"Oh ya nggak apa-apa, kalau dia baru keluar meeting! ya sudahlah. Masuk dan kita makan dulu ya? biar gemuk juga sehat janin yang ada dalam kandungan mu itu." Bu Haji Bella menggandeng tangan Anisa diajak nya ke dalam.


"Karena yang lain sudah pada makan, tinggal kita berdua saja yang makan." Kata sang ibu mertua sembari menundukkan dirinya dan mengambil piring.


"Lho ... kenapa Ibu gak makan sama mereka saja!" Anisa merasa heran.


"Nggak apa-apa tadi ayah sudah Ibu temenin kok, kasihan kamu nggak ada temennya! ayo makan jangan sungkan-sungkan anggap saja rumah sendiri. Mau apa ambil mau apa? makan! kalau mau masak sendiri.Boleh, kalau mau sesuatu bilang biar di belikan," ujarnya Bu Haji Bella.


"Iya, Bu ... nggak usah khawatir, aku pasti mendengar kata-kata Ibu kok." Anisa tersenyum sembari mengambil piringnya lalu menemukan nasi dan sayur juga sambal dan lalapan.


Kemudian mereka berdua pun menikmati makannya dengan sangat lahap.

__ADS_1


Sekitar pukul 05.00 sore Pramana pulang dengan menjinjing sebuah barang persegi empat yang tidak terlalu kecil seukuran buku saja dengan dibungkus kertas kado ....


Bersambung.


__ADS_2