Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Tidak percaya


__ADS_3

Waktu yang terus berputar membawa hari pada siang yang begitu cerah, bahkan panasnya Begitu terik membakar jiwa.


Di langit yang berwarna biru beriring-iringan awan putih silih saling berkejaran.


Di sebuah ruangan yang berada di salah satu gedung bertingkat tinggi yang bernamakan CP Pramegah.


Pramana sedang berkutat dengan aktivitasnya dan dia baru saja kembali dari sebuah pertemuan, dia nampak gelisah dan sekali-kali melihat ke arah jarum jam, di mana biasanya jam segini Anisa sudah datang untuk mengantarkan makan siangnya, tapi kali ini wanita itu belum juga terlihat batang hidungnya.


"Tumben ya, Anisa belum datang dan biasanya dia selalu datang Untuk mengantarkan makan siangku. Tapi kenapa sekarang belum muncul juga apa dia marah karena semalam? tapi ... tidak mungkin juga dia marah! masa sama orang lain dia nggak marah sama aku marah! yang jelas-jelas aku bertanggung jawab sudah menjadi suaminya." Gumamnya Pramana sembari menaikkan tubuhnya, berdiri dan mendekati kaca jendela.


Yang mempertemukan pemandangan area parkiran yang terlihat jelas dari sana.


Tangan Pramana tampak memainkan ponselnya, dia ingin sekali menelpon Anisa. Tapi dia lupa kalau dia belum menyimpan nomor teleponnya Anisa. Membuat dia senyum-senyum sendiri.


"Kenapa jam segini belum datang sih? nggak tahu apa aku sudah lapar, mau keluar juga kan biasanya dianterin dari rumah, ck!" Pramana berdecak kesal dan tiba-tiba netra matanya melihat ada sebuah mobil masuk ke area parkiran yang tentu saja itu mobil rumah yang dibawa oleh mang Pei.


"Nah ... itu dia baru datang! tumben sekali telatnya minta ampun, jam berapa ini?" gumamnya Pramana kembali seraya melihat ke arah jarum jam yang berada di tangannya itu.


Namun Pramana merasa heran, karena yang keluar dari mobil tersebut cuma mang Pei sendiri membawa tempat makan siang untuknya, jelas Pramana merasa heran. "Ke mana Anisa? kok cuman mang Pei sendirian ke sini, Anisa nya mana!"


Pramana mundur dari jendela dan mendudukan kembali dirinya di kursi kebesarannya sembari menunggu mang Pei sampai.


Dan setibanya mang Pei datang, langsung menghampiri dan memberikan makan siang nya Pramana.


"Neng Anisa nya mana Mang, kenapa nggak datang?" Pramana langsung aja mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


"Ooh, Neng Anisa itu baru bangun, Den ... dari pagi katanya kepalanya pusing, gara-gara semalam sulit tidur ... makanya dia baru bangun!" suara Mang Pei yang begitu antusias menjawab pertanyaan dari Pramana.


"Oh begitu ya! pantas dia gak nganterin makanan!" Pramana sedikit menganggukkan kepalanya.


"Kenapa, Aden kangen ya? yang biasanya dianterin sama Neng Anisa, dan sekarang dianterin sama Mamang lagi." Mang Pei menggoda sang majikan.


"Em, bu-bukan itu mang. Biasanya kan dia yang datang, dia pun sudah saya larang berkali-kali tapi ngeyel. Sekarang dia tidak datang!" Pramana berkilah.


"Iya Den ini atas perintah ibu, katanya neng Nisa istirahat saja jangan ke mana-mana. Kasihan soalnya kepalanya agak pusing katanya." Tambahnya mang Pei seraya mendudukan dirinya di atas sofa yang berada di hadapan meja kerja Pramana.


Pramana tidak lagi berkata-kata, dia langsung saja menyantap dan menikmati makan siangnya dengan sangat lahap. Karena dia memang sudah terlalu lapar.


Di saat seperti itu ... datanglah Carolin dengan membawakan sebuah pizza, datang-datang dia menatap ke arah Pramana yang sedang makan siang.


"Tumben kau baru makan dan mana perempuan itu? kok supir kamu lagi yang nganterin, apa dia sudah bosan ataukah capek?" tanyanya Carolin sembari mengulas senyumnya, pada akhirnya hari ini dia tidak melihat perempuan itu di ruangan Permana.


Dengan refleks kedua mata Carolin melotot kepada mang Pei. "Apa? Mang, wanita itu istrinya Pramana? jangan deh, Mang gak lucu?"


Pramana hanya menatap datar ke arah sopirnya tersebut, yang tanpa ragu dan tanpa memikirkan apapun langsung berkata yang sebenarnya.


"Bener atuh Non. Neng Anisa itu istrinya Aden, emangnya nggak tahu ya? kalau Den Pram menikah nya dengan neng Anisa, karena gagalnya menikah dengan neng Adisty ... jadinya mempelai wanita di gantikan oleh neng Anisa." Jelasnya kembali Mang Pei.


Mulut Carolin menganga seraya melirik ke arah Pramana. "Apa benar yang dikatakan sopir kamu itu? kamu gagal menikah sama Adisty, jadinya sama wanita itu? yang sekarang sedang hamil berarti kamu sama dia ..." Carolin menggerakkan jarinya ke kanan dan kiri.


Pramana yang menghabiskan lebih dulu makannya lalu meneguk minuman yang berada di botol, barulah dia mengangguk seraya berkata. "Yang dikatakan mang Pei benar. Aku gagal menikah dengan Adisty dan lalu ... aku menikah dengan Anisa!"

__ADS_1


"Apa?" suara Carolin menghentak.


"Iya, aku menikah dengan dia karena Adisty tidak ada dan akhirnya ... keluarga memutuskan untuk kami berdua menikah agar kami tidak menanggung malu, karena pernikahan kami gagal!" ralatnya Pramana.


"Jadi wanita itu istri kamu dan anak itu?" gumamnya Carolin. Dia bener-bener shock mendengar penjelasan dari mang Pei juga Pramana, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


"Kamu tega Pram, kamu gagal menikah dengan Adisti lantas kamu menikah dengan Anisa? aku nggak menyangka kok kamu setega itu?" Carolin terus menggelengkan kepalanya.


"Haduh ... Non itu lucu ya? kenapa Aden yang dibilang tega? justru yang tega itu neng Adisty, kenapa dia pergi meninggalkan pernikahannya dengan Aden? coba kalau dia nggak pergi, nggak mungkin Den Pram menikah sama neng Anisa!" belanya Mang Pei sembari membereskan bekas makan Pramana, lalu lalu dia berpamitan untuk pulang.


Carolin terbengong-bengong, benar-benar dia tidak menyangka sama sekali. Kalau ternyata Pramana tidak gagal menikah walaupun mempelainya digantikan. "Rasanya aku tidak percaya, kok kamu tega seperti itu!"


"Seperti yang dikatakan sopir ku barusan, bukan aku yang tega tapi Adisty itu yang tega meninggalkan kudan kamu tahu itu! sampai detik ini pun aku masih mencari dia, soal pernikahan aku dengan Anisa, sudahlah aku tidak ingin membahasnya." Pramana berniat membersihkan kedua tangannya dengan air yang berada di wastafel di bagian dalam ruangan tersebut.


Sebenarnya Carolin bukan cuma menganggap Pramana tega karena telah menikahi wanita lain dan sudah mengkhianati Adisty, tapi ... dia merasa terhalangi lagi. Sementara dia sangat ngebet dan terobsesi dengan Pramana.


Kemarin terhalang oleh sahabatnya sendiri yaitu Adisty, dan sekarang terhalang lagi sama wanita baru yang bernama Anisa.


"Benar-benar ya, gue nggak menyangka sama sekali. Ternyata wanita yang mengaku sepupunya itu adalah istrinya Pramana! pantas dia datang ke kantor nganterin makan segala! kalau dia memang istrinya, lagi-lagi aku udah kecolongan. Kemarin jelas-jelas sama Adisty dan sekarang dia menikah sama orang lain, resek!" Caroline terus bermonolog dalam hatinya, membuat ia semakin marah dan benci sama Anisa.


Pramana kini sudah mendudukan dirinya di kursi kebesarannya tersebut dan mulai lagi beraktivitas. Menatap ke arah Caroline yang mematung dengan wajah merah tampak kesal dan marah.


"Padahal kenapa dulu kamu nggak mencariku? untuk menggantikan Adisty. Aku mau kok menjadi istri mu! suara Carolin yang terdengar bergetar menatap Pramana.


"Kamu ini bicara apa sih Cer, sudahlah nggak usah bahas itu lagi. Sekarang aku mau kerja karena sebentar lagi pulang, kebetulan ini hari libur." Jawabnya Pramana seolah tidak ingin membahas apapun ....

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2