
"Aku pikir dia nggak akan makan, karena sudah makan di luar. Tapi ternyata ... aku salah! makanan yang aku bawa disantap juga," batinnya Anisa sembari pura-pura membaca buku.
"Kamu lagi apa?" tanya Pramana sembari melirik ke arah Anisa yang membaca buku.
"Apa? kau tidak melihat kalau aku sedang apa?" jawabnya Anisa balik bertanya dengan nada dingin, dia merasa kesal dengan omongan Pramana yang tadi.
"Yang benar saja, atau mungkin kau sudah pintar bisa membaca buku dalam keadaan terbalik seperti itu?" Pramana menunjuk ke arah buku yang berada di tangan Anisa yang ternyata terbalik.
Setelah diperhatikan memang benar. Buku yang dipegang Anisa jungkir balik. Membuat Anisa merasa malu setengah mati.
Anisa segera membalikkan bukunya sambil tersenyum simpul, wajahnya memerah menahan malu. Bisa-bisanya dia membaca buku sambil terbalik.
"Aku pikir kau sudah pintar! membaca buku dalam keadaan terbalik seperti itu, atau kamu lagi memperhatikan aku ya?" Pramana meneguk minumnya di sela-sela menikmati makan siangnya itu.
"Nggak, siapa yang memperhatikan mu? mana ada jangan geer deh." Akunya Anisa sambil mengangkat bukunya agar menutupi wajah dia dari pandangan Pramana.
Sesaat bibir Pramana tersenyum menatap ke arah Anisa, lalu kemudian melanjutkan lagi makannya sampai kandas.
Setelah Pram selesai makannya. Anisa pun segera membereskan dan juga bersiap untuk pulang, karena mang Pei pasti menunggunya lama di bawah.
"Selesai makan, jangan lupa salat! ucap Anisa sembari membalikan tubuhnya memunggungi di mana Pramana berada.
"Sebelum ke sini, aku sudah salat kok," jawabnya Pramana sembari mengelap mulutnya dengan tisu.
"Ooh, bagus lah!" gumamnya Anisa sembari melangkahkan kaki mendekati pintu ruangan tersebut.
"Kau mau pulang? Apa perlu ku antar ke bawah?" kata Pramana sembari tersenyum ke arah Anisa.
Anisa menghentikan langkahnya sejenak, lalu menolehkan kepalanya ke arah Pramana. "Nggak usah. Makasih? aku bukan siapa-siapa! apalagi berharap yang macam-macam, terima kasih atas tawarannya! aku bisa jalan sendiri," ucapnya Anisa.
Lalu kemudian Anisa melanjutkan langkahnya melintasi pintu tersebut. Meninggalkan ruangan kerja Pramana.
__ADS_1
"Ya sudah. Siapa juga yang ingin mengantar mu, aku sibuk kok. Dan cuman nawarin doang!" gumamnya Pramana sembari kembali menyibukkan dirinya.
Anisa terus berjalan santai di sebuah koridor kantor tersebut dengan sedikit melamun.
"Mau pulang Bu?" tanya sekretarisnya Pramana yang sedang berjalan juga menenteng beberapa berkas.
"Iya," permisi jawabnya Anisa dengan ramah.
"Sampai jumpa lagi besok!" balas sekretarisnya dengan senyum simpul.
Begitupun dengan Anisa, lalu Anisa kembali berjalan mengayunkan langkahnya, mendekati ke arah pintu lift. Dia harus menunggu beberapa saat sampai pintu lift terbuka dan keluar seorang lah laki-laki yang berwajah tampan berpakaian rapi nan formal, langsung melintasi Anisa.
Anisa yang tidak terlalu memperhatikan orang tersebut, langsung aja masuk ke dalam lift. Begitu pun dengan pria yang baru saja keluar dari lift! namun setelah Berapa langkah pria itu menoleh ke belakang yaitu arah dalam lift dan Anisa pun mengangkat wajahnya melihat ke arah depan, sehingga pandangan mata mereka pun bertemu. Tetapi keburu pintu lift tertutup.
"Anisa?" gumamnya pria itu.
"Hendar?" gumamnya Anisa dari dalam lift.
Air mata Anisa langsung menetes luapan rasa sakit di dadanya, karena dengan tidak sengaja. Bahkan dia pun yakin kalau orang itu adalah Hendar, orang yang sudah menanam benih di rahimnya tersebut.
"Ya Allah ... ngapain sih aku harus ketemu sama orang itu lagi, aku yakin kok kalau ada itu Hendar bukan orang lain. Hik-hik-hik!" serunya Anisa dalam hati.
"Ngapain orang itu ada di sini?" gumamnya Anisa lagi sembari mengusap air mata yang menetes di pipi.
"Kenapa Anisa ada di sini? bener kok dia Anisa! gue nggak salah. Gue nggak pikun kok, dan gue ingat wanita yang pernah gue tiduri." Gumamnya Hendar.
Anisa berjalan keluar dari pintu lift dan dia langsung melintasi lobby yang menuju di mana mobilnya menunggu.
Namun sebelum keluar dari lobby kantor, tangannya ada yang narik membuat Anisa terkesiap! dan langsung menoleh. Ternyata dia Carolin yang menarik tangan Anisa di bawanya ke pojokan.
"Mbak Caroline?" gumamnya Anisa menatap ke arah tangan nya yang di tarik oleh Carolin dan juga orangnya bergantian.
__ADS_1
"Iya, aku. Emang kenapa?" Carolin mengangkat dagunya sembari berkata dan memperlihatkan kalau dia tidak suka pada Anisa.
"Apa maksudnya nih? menarik ku ke sini?" Anisa menatap heran kepada Carolin yang nampak begitu angkuh.
"Saya heran, ngapain sih lu tiap hari datang membawa makan siang buat Pramana. Nggak capek tiap hari bolak-balik kantor? kenapa nggak sekalian aja menginap gitu di kantor! atau kerja di sini gitu?" suara Carolin dengan nada bertanya.
"lho. Emang apa masalahnya Mbak? emangnya aku merugikan Mbak kalau aku datang setiap hari nganterin makan siang buat Pramana. Emang Anda terganggu?" balasnya Anisa dengan nada yang berusaha tenang.
"Jelas dong! jadinya setiap kali saya bawakan makanan buat Pramana nggak pernah dimakan! kenapa? karena kamu selalu datang bawakan dia makan siangnya." Carolin dengan menggerak-gerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Kenapa nyalahin aku Mbak, bukannya sebelum ada aku pun yang nganterin makan siang buat dia emang ada, ibu sering datang atau sopirnya yang mengantarkan makan siang untuknya. Terus kenapa aku yang disalahin!" Anisa menatap datar pada wanita yang usianya mungkin lebih di atas dia.
"Kalau dulu ibunya atau sopir yang mengantarkan makan siang buat dia, gue nggak memjadi masalah. Lagian dulu dia jalan sama temen gue. Adisty tapi sekarang gue yang deketin dia! jadi jelas dong gue merasa terganggu, karena adanya kamu yang selalu datang ke kantor ini untuk mengantar makanan!" seru nya Carolin sambil menunjuk-nunjuk ke arah wadah yang dijinjing oleh Anisa.
"Ehem, tapi denger ya? kalau seandainya dia mau makan makanan yang kamu bawa, kan bisa aja makan siang yang aku bawa di pulangkan lagi, atau enggak dimakan bila perlu kasih sama orang. Nggak apa-apa! itu berarti ... dia nggak mau makan apa yang kamu berikan!" akunya Anisa kembali.
"Heh wanita yang berkerudung--"
"Nama saya Anisa, Mbak saya ada namanya." Anisa memotong perkataan dari Carolin yang menyebutnya wanita berkerudung.
"Iya, kamu Anisa. Terserahlah nama kamu siapa. Kamu harus tau ya? dia cuma nggak enakan saja kamu udah dari rumah datang ke sini nganterin makan siang, kalau seandainya tidak dia makan! dan sayangnya gue yang dicuekin sama dia, nggak menghargai niat gue. Tahu nggak? tadi gue ajak dia makan siang di luar sekalian ada meeting, apa katanya? di kantor juga pasti sudah ada makan siang dari rumah, tau gak coba kau di posisi gue ...."
"Aku nggak mau di posisi, Mbak. Ngapain? Mbak itu bagaikan pagar makan tanaman! sudah tahu Pramana itu kekasih sahabat Mbak, kenapa Mbak deketin juga?" kini suara Anisa sedikit tegas.
"Heh, lo itu nggak tahu apa-apa!" kedua manik mata Carolin yang bulat Indah itu melotot ke arah Anisa.
Dan Anisa tanpa merasa segan sama sekali membalas delikan Carolin padanya.
Tangan Caroline mulai terangkat melayang di udara, dengan niat mau menampar pipi Anisa ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Ayolah like nya mana? komennya nggak ada like nya pun nggak ada bikin sedih, mohon dukungannya ya makasih.