Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Bukan gak mau


__ADS_3

"Mau kemana?" tanya Pramana ketika berpapasan dengan Anisa yang sudah rapi seperti mau pergi.


"Oya, aku mau ke toko dulu. Mau membeli pakaian," jawabnya Anisa sembari mengecek isi tas kecil milik nya.


Pramana yang baru saja dari ruang keluarga berbincang dengan keluarga. Niatnya mau ke kamar sebentar, menatap ke arah Anisa yang katanya mau ke toko itu.


"Sama siapa?" tanya Pramana yang masih berdiri di tengah-tengah tangga, begitupun dengan Anisa yang juga berdiri di sana.


"Sama mang Pei." Anisa menurunkan kakinya.


Geph!


Anisa melirik tangannya yang dipegang oleh Pramana. Gadis yang mengenakan kerudung persegi empat itu, menunduk dan memandangi tangan Pramana.


"Sorry." Pramana langsung melepaskan tangan Anisa dari genggamannya. "Perginya sama aku aja! biarkan mang Pei istirahat!"


"Tapi aku sudah nyuruh mang Pei untuk mengantar ku!" jawabnya Anisa sembari melirik ke arah Pramana.


"Nggak apa-apa, nanti aku bilang sama dia! kasihan mang Pei mau istirahat." Tambahnya Pramana.


"Em ... kamu nggak apa-apa kan? mengantar aku?" ucap Anisa menatap ragu.


"Emangnya kenapa? kalau aku mengantar mu? kamu nggak mau aku yang antar bukan?" kini Pramana balik bertanya.


"Bukan, bukan aku nggak mau diantar kamu! cuman ... aku nggak enak aja kalau kamu terpaksa!" kata Anisa.


"Sudah, Nggak usah banyak bicara! sebentar aku mau ngambil kunci dulu." Pramana langsung membawa langkahnya yang lebar menaiki anak tangga.


Sehingga dalam sekejap Pramana sudah berada di lantai atas dan menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil yang dia simpan di tempatnya.


Sementara Anisa langsung turun dan berpamitan pada sang ibu mertua dan juga yang lainnya. "Bu, Ayah ... Nisa pergi dulu ya."


"Kamu mau ke mana nih?" tanya Renita.


"Aku mau ke toko dulu kak. Apa mau nitip sesuatu?" tawarnya Anisa pada Renita.


"Nggak ach. Tapi ... Oya, nanti kalau pulang beliin aku martabak bulan ya? uangnya dari kamu dulu lah, ya?" kata Renita kembali.


"Oh iya, oke. Nanti aku belikan kalau ketemu ya, Kak! Anisa mengangguk.


"Hati-hati ya Nisa ... jadi sama siapa perginya?" lirihnya Ibu Bella yang ditunjukan kepada Anisa.

__ADS_1


"Tadinya seperti itu, Bu ... tapi kata Pram, mang Pei biarkan istirahat saja dan aku pergi sama dia," sahutnya Anisa.


"Oh ... jadi Pramana yang mau mengantar Anisa? bagus itu mendingan perginya sama Pram aja," bu Bella mengangguk.


"Bagus itu, yang mengantar Anisa. Pram saja. Lagian dia juga nggak ada kerjaan!" timpalnya sang ayah mertua.


"Iya, iya dong ... kalau istrinya mau pergi ya di antar! kecuali dia benar-benar sibuk di kantor. Kalau lagi di rumah! antar saja. Nanti istrinya diambil kalong wewe kan baru tahu rasa!" celetuknya Andre sambil melirik ke arah sang adik yang baru saja menuruni anak tangga.


"Kamu ini, mana ada kalong wewe ngambil orang gede. Kalau anak-anak sih mungkin!" Renita menepuk paha Andre.


"Jangan salah, kan Anisa juga bawa anak kecil yang masih di dalam perutnya--"


"Husssttt ... ngomong apa sih kalian, pamali!" Ibu Bella menimpali perkataan dari Andre. "Jangan ngomong gitu! lagi hamil, istrinya juga lagi hamil, jangan asal ngomong."


"He he he. Iya, Bu ... amit-amit!" kata Andre sambil mengetuk-ngetuk keningnya.


Kemudian Pram berpamitan untuk mengantar Anisa keluar. "Ayah sku pergi dulu!"


"Hati-hati ya? jangan laju-laju bawa mobilnya! biar lambat asal selamat," pesan sang ibu.


"Baik, Bu ... ya sudah. Assalamu'alaikum?" Pram pun mengundurkan diri, membawa langkahnya mendekati pintu utama.


Disusul oleh Anisa setelah bersalaman kepada kedua mertuanya.


"Baik, aku nggak lupa kok!" balasnya Anisa sambil melintasi pintu utama.


Kini Pramana sudah berdiam diri di depan kemudi, menunggu Anisa yang masih berdiri di depan pintu mobil. "Sedang menunggu apa sih?"


"Nggak, ini ... aku cek isi dompet dulu, takut gak bawa duit." Jawabnya Anisa.


Lalu kemudian dia menarik pintu mobil. Kemudian duduk di samping Pramana.


"Hem," gumamnya Pramana sembari menyalakan mesin mobilnya.


Detik kemudian mobil Pramana merayap, keluar dari halaman rumah kediaman Pramana dan Anisa.


"Em ... emangnya di sekitar sini ada yang jual martabak bulan?" tanya Anisa melirik ke arah Pramana sembari memasang bel safety.


"Biasanya ada. Emang siapa yang mau martabak?" jawabnya Pramana tanpa menoleh ke arah Anisa.


"Itu tadi Kak Renita. Minta dibelikan martabak," jawabnya Anisa sembari melihat-lihat ke depan siapa tau melihat yang kalau lagi jualan.

__ADS_1


Setelah itu ... suasana begitu hening, yang ada hanya suara mesin mobil yang terdengar begitu halus dan mereka masing-masing memilih untuk sibuk dengan pikirannya sendiri.


Dan Pramana mengingat cerita tadi di kantor, katanya Carolin berbuat ulah kepada Anisa dan entah apa sebabnya.


"Ehem. Tadi di kantor kamu ngomongin apa sama Carolin?" tanya Pramana sembari mengarahkan pandangannya yang fokus ke depan.


"Ha?" Anisa menoleh ke arah Pramana lalu berkata lagi. "Ngomongin apa? nggak ngomongin apa-apa."


"Jangan bohong, tadi orang kantor bilang sama aku! katanya Carolin bertengkar sama Anisa, dan masalahnya aku nggak tahu. Emangnya ada masalah apa dengan kalian berdua?" tanya kembali Pramana dengan nada datar.


"Kalau aku sih ... nggak ada masalah apa-apa! tadi juga aku mau keluar dari lobby kok, nggak tahu kalau ada dia. Tetapi tiba-tiba tanganku ditarik sama Carolin." Jelasnya Anisa.


"Terus bagaimana?" Pramana menoleh sebentar, lalu dia memfokuskan kembali pandangannya ke jalanan.


"Entah, aku nggak tahu. Hanya intinya ... mungkin dia nggak suka kalau aku setiap hari ke kantor! katanya dia merasa terganggu dengan kehadiranku di sana." Anisa Melik sekilas.


"Cuma itu doang ya?" selidik Pramana kembali.


"Iya, itu aja kali. Aku nggak ngerti juga!" jawabnya Anisa sembari menaikan bahunya. "Tanya aja sama teman mu itu, lagian ... ngapain aku cari masalah? masalah hidup aku aja udah berat kok!" seru nya Anisa sembari melepaskan pandangan nya keluar jendela.


Sesaat, kedua netra mata Pramana melihat pada Anisa yang wajahnya mengarah ke samping jendela.


"it's oke. Lagian males aku bertanya!" Pramana mengagungkan kepalanya.


Sementara Anisa tidak lagi mengeluarkan suaranya, melihat ke arah samping di mana banyak roda empat dan roda dua saling berpacu dengan waktu. Mungkin mereka pun sama ada yang jalan-jalan! ada yang baru pulang kerja dan juga keperluan lainnya.


"Lho, aku itu mau ke toko biasa saja. Bukan ke mall kayak gini," barulah Anisa menoleh kepada Pramana setelah mobil itu berhenti di depan sebuah Mall.


"Iya ... kan di dalam juga banyak toko pakaian!" jawabnya Pramana sembari mematikan mobilnya.


"Tapi, kan ... maksud aku toko-toko yang di pinggir jalan saja, lebih murah. Kalau di mall kan harganya pasti mahal!" tambahnya Anisa sembari celingukan melihat-lihat, kali saja di sekitar sana ada toko pakaian yang di pinggir jalan.


"Sudah lah ... turun aja!" kata Pramana sembari membuka pintu mobilnya.


Anisa terdiam sambil memandang gedung mall tersebut, tahu-tahu Pramana sudah berdiri di sampingnya dan membukakan pintu.


"Mau turun nggak? apa nggak jadi belanjanya!" suara bariton itu membuat Anisa menoleh kemudian menurunkan kedua kakinya yang bergantian.


Lalu kemudian keduanya berjalan beriringan memasuki Mall tersebut, yang tampak ramai dengan para pengunjungnya dan Anisa diajak Pramana ke lantai sekian di mana Di sana banyak konter-konter pakaian untuk wanita hamil dan juga wanita berkerudung ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Terima kasih ya atas like comment dan subscribe nya juga agar dapat notifikasinya dan dukungan lainnya juga


__ADS_2