
Sekitar pukul sepuluh ... Anisa terbangun dan langsung teringat kalau dia mau masak buat Pram makan siang.
Setelah mencuci muka, Anisa pun turun dan berjalan menuju dapur. Dan mulai berkutat dengan tugasnya menggoreng ayam yang sebelumnya di ungkeb dulu. Lanjut goreng ikan.
"Mau bibi bantuin Neng?" tawarnya bibi yang sambil menyiapkan masakan buat makan siang orang di rumah.
"Ooh, tidak usah, Bi ... Bibi kerjakan tugas yang lain saja, yang ini biar aku yang handle sendiri saja." Anisa menggeleng, biar dia mengerjakannya sendiri.
Ayam goreng dan ikan goreng dah matang dan tinggal bikin sambel dan menyiapkan lalapan seperti timun dan kol goreng.
Kini semuanya sudah siap dan Anisa sudah kemas dan tinggal jinjing saja, namun sebelum pergi dia ingin mandi dulu biar bersih dan wangi.
Saat ini Anisa mengenakan kerudung pashmina berwarna biru Dongker, dengan celana longgar warna senada. Dia menyambar tas nya lalu keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan untuk mengambil bekal makannya Pram.
"Tidak Makan dulu di rumah Nisa?" tanya sang ibu mertua yang sedang bersantai di ruang televisi bersama suaminya.
"Em, tidak Bu ... mungkin nanti saja sama Pram! kebetulan bawa agak banyakan, ya sudah, Nisa pergi dulu ya Bu ... Assalamu'alaikum." Anisa gegas membawa tempat makan siang buat Pramana ke luar rumah dan mendatangi mang Pei yang sudah siap sedia di mobil.
"Mau pergi sekarang Neng?" tanya mang Pei yang tengah duduk di belakang kemudi.
"Jangan Mang, namun tahun depan saja. He he he ..." Anisa terkekeh.
"Ha ha ha ... Neng, Aden kelaparan atuh kasian. Nanti mencari di luar Neng ... jangan biarkan itu terjadi." Kata mang Pei sambil tertawa.
"Tapi kalau dia sayang dan menghargai istri yang sudah berusaha masak untuk dirinya, kenapa harus mencari yang lain Mang!" balasnya Anisa sambil memasang bell safety di tubuhnya.
"Iya itu bener Neng." Mang Pei pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Oya, Mang ... apakah dulu kekasih Aden sering ke kantor dan mengantar makan siang untuk Aden?" selidiknya Anisa.
"Kalau mengantar makan siang sih ... jarang kalau setau Mamang, datang juga jarang kan dia kuliah." jawabnya mang Pei sambil terus fokus menyetir.
"Ooh, gitu ..." Anisa membulatkan mulutnya.
Selang beberapa puluh menit, pada akhirnya Anisa tiba di depan kantor nya Pram. Anisa turun dari mobil sejenak memandangi gedung yang tinggi tersebut.
Anisa berjalan membawa langkahnya ke dalam gedung tersebut sambil membawa wadah makan siang. Ia terus berjalan keluar dari pintu lift menuju ruangan Pram.
"Met siang Bu ... bos sedang ke mushola dan sebentar lagi akan kembali." Kata sekertaris nya Pram yang ramah dan cantik.
"Ooh, gitu ya. Makasih ya info nya. Boleh saya masuk?" Anisa mengangguk hormat pada wanita cantik nan elegan tersebut.
"Oh iya silakan. Bu ..." sekertaris nya Pram menyilakan Anisa untuk masuk ke dalam ruangannya Pram, dan malah dia antar sampai ke pintu.
__ADS_1
Anisa pun masuk ke dalam ruangan Pram yang kosong melompong. Dia simpan wadah di atas meja dan dia sendiri duduk di sofa panjang.
Mengedarkan pandangan ke arah meja kerja Pram dan melihat sebuah foto yang terpajang miring di sana. Membuat Anisa merasa penasaran dan beranjak dari duduknya.
Langkah Anisa tertuju ke meja kerja Pram yang dia tuju tentunya adalah melihat foto yang terpajang itu, yang ternyata foto pernikahan yang pertama Pram dan dirinya.
Anisa menyunggingkan senyumannya sambil mengambil fas foto tersebut, lalu dia simpan kembali di tempat.
Ternyata benar yang dia katakan Pram kalau foto Adisty di kantor pun sudah tidak ada.
Lalu Anisa kembali ke tempat semula dan duduk di sana, mengambil sebuah buku lalu di bukanya.
Tidak lama kemudian Pram kembali dengan peci di kepala. Mengulas senyuman pada Anisa yang sedang duduk santai dengan membaca buku.
"Sudah ku duga kau pasti sudah datang," ucap Pram sambil mendekati sang istri dan langsung mencium pipi nya dengan singkat.
"Dari mushola ya?" Anisa menyentuh tangan Pram.
"Bukan sayang, aku dari klab malam he he he ..." Pram mencubit pipi Anisa tampak geram.
"Ya sudah, makan dulu ya!" Anisa mengambil wadah dan membukanya terus mengambil botol air mineral.
"Sayang dah makan belum?" tanya Pram sambil menoleh pada Anisa.
"Belum," Anisa menggeleng.
Kemudian Anisa dan Pram menikmati makan siangnya berdua, saling menyuapi satu sama lain, keduanya tampak sangat bahagia antara Pram dan Anisa bak dunia milik berdua saja sementara yang lain cuma ngontrak.
"Aku dah kenyang ach. Kamu habiskan saja." Anisa menyuapkan suapan terakhirnya.
"Hem, ini masih banyak dan kamu harus makan banyak biar lebih berisi tubuhnya--"
"Aish ... ini juga sudah berisi kok. Ngapain terlalu gemuk. Nanti jatuh nya kegemukan, jelek." Anisa memotong perkataan dari Pram.
"Tidak apa, kalau gemuk kan tidak cepat kurus. Setiap hari kan aku sedot ha ha ha ..." Pram tertawa renyah.
"Apaan sih ... emangnya minuman? main sedot aja." Anisa mencubit kecil paha nya Pram.
"Auwh, sakit dong sayang. Tega ich punya istri galak juga!" pekik Pram sambil mengusap paha nya dan berpura-pura merasa sakit.
"Ach bohong ... gak sakit juga." Anisa pun ikut mengusapnya takut beneran sakit.
Kemudian Pram menghabiskan makannya hingga tandas dan tinggal duri-duri nya saja.
__ADS_1
Anisa sudah membersihkan tangannya lebih dulu, lalu membereskan bekas makannya dan bersiap untuk pulang.
Pram yang baru saja keluar dari kamar dan mencuci tangan. Menatap ke arah Anisa. "Mau kemana?"
"Mau pulang lah, ngapain di sini. Kamu juga harus kerja." Anisa menoleh ke arah belakang.
"Tidak apa-apa, malah aku senang di temani istri tercinta di sini jadi lebih semangat lho." Pram mendekat dan memegang kedua tangan Anisa yang memegangi wadah dan ia simpan ke meja.
Tangan Anisa di tariknya ke sofa agar duduk di sana bersama Pramana.
"Aku mau pulang, dan kamu kan mau kerja." Anisa dengan suara pelan serta menatap lekat Pram yang menatap begitu dalam dan tajam, nafasnya mulai memburu bagai menahan sesuatu.
"Jangan dulu pulang, temani aku dulu sebentar." Suara Pram parau dan nafas yang terdengar berat.
Perasaan Anisa sudah tidak enak. Melihat gelagat Pram yang tampak menginginkan sesuatu itu.
"Tapi kamu harus kerja. Aku sudah terlalu lama di sini." Tambahnya Anisa lagi. "Biarkan aku pulang--"
Pram membungkam mulut Anisa dengan mulutnya. Membuat Anisa tak bersuara lagi dalam durasi yang cukup lama mereka di posisi yang sama.
Setelah beberapa waktu kemudian. Lalu Anisa gegas ke kamar yang berada di sana, berdiri di dekat cermin merapikan pakaiannya juga kerudung yang berantakan.
Sementara Pram yang duduk menyandarkan punggungnya ke bahu sofa, kedua tangan di rentangkan. Kaki terbuka, kepala mendongak ke langit-langit dan kemejanya tampak kusut.
Apa yang dia rasakan iyalah harus bertarung memerangi keinginannya yang begitu hebat menyerang dirinya yang terasa lemah.
Pramana berdiri mendekati Anisa yang baru saja keluar dari kamar yang ada di ruangan tersebut.
"Apa kau mau pulang sekarang?" Pram memeluk Anisa dari belakang. Dia tampak berat untuk di tinggalkan, kepalanya menunduk menyentuh kepala Anisa
Kedua tangan Anisa memegang tangan Pram yang melingkar di perutnya. "Kamu kenapa sih ... kamu itu harus kerja dan gak enak bila di lihat orang kantor lainnya."
"Aku kangen, sayang!" Pram masih memeluk Anisa dari belakang dan semakin erat.
"Masa aku harus temenin kamu di sini sih ..." Anisa berbalik dan kini berhadapan dengan Pram.
Kini Pram melingkarkan tangannya di pinggangnya Anisa di tarik nya hingga tubuh mereka sangat rapat. "Boleh, temenin aja biar mangg Pei pulang sendiri."
"Nggak ach, aku mau pulang saja. Karena kalau aku di sini justru kamu itu tidak kerja-kerja ... buktinya seperti sekarang." Balas Anisa sambil menggeleng.
"Pram?" suara itu seiring dengan terbukanya pintu yang di dorong dari luar.
Membuat Anisa terkejut. Namun Pram biarpun terkejut tapi segera dapat menenangkan diri nya. Sehingga tidak sedikitpun merubah posisinya. Menatap ke arah Carolin yang tiba-tiba datang dan nyelonong boy ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Makasih banyak atas dukungan dari kalian ya.