Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Butuh waktu


__ADS_3

Sebelum terpejam kedua manik mata Anisa, sesekali melihat ke arah belakang di mana Pramana tertidur memeluknya.


"Kamu itu nggak ngerti gimana was-was nya aku, kalau orang rumah tau gimana? apalagi Kak Aisyah, dia kan lebih tahu tentang agama," gumamnya Anisa.


Lama-lama manik mata Anisa pun terpejam seiring dengan suara dengkuran yang keluar dari hidungnya Pramana.


...-------------...


Sepulang Adisty dari kantor, dia tampak lesu dan lemes. Bagai tak ada gairah sama sekali.


"Sepertinya kamu tampak capek sekali Adis," sapa sang Bunda ketika melihat putrinya tampak lemas dan tak bergairah.


"Aku capek, Mah bukan hanya karena kerjaan! tapi tadinya aku mengajak Pramana untuk ketemuan, kalau nggak bisa ke temu di tempat lain ....ya aku datangi saja ke kantornya dan aku akan menyisihkan waktu untuk menemui dia di sana. Tapi katanya dia pergi ke luar kota ya ... gagal deh!" keluhnya Adisty seraya meneguk minumnya yang disediakan oleh sang Bunda.


"Oh yang sabar aja, nanti juga waktunya pasti ketemu. Mungkin dia lagi sibuk ... makanya belum menemui kamu," ucap sang bunda.


"Katanya dia belum siap ketemu aku, sedih deh Mah ... padahal aku pergi hanya beberapa bulan saja. Dan itu juga buat sementara bukan selamanya." Adisty dengan nada sedih.


"Jangan sedih, karena bagaimanapun itu memang salah kamu. Mungkin Pram masih butuh waktu," tambahnya sang ibunda.


"Tapi Mah ... ya sudahlah, aku masuk dulu kamar. Pusing ach." Adisty mengangkat bokong dan meninggalkan sang bunda.


Dia berjalan gontai menuju kamarnya, menapakkan kaki nya di anak tangga. "Apa aku datang ke rumah nya ya, aku harus minta maaf pada orang tuanya."


Adisty menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Membaringkan dirinya di sana. Kemudian Adisti bangkit kembali dan berniat untuk membersihkan diri.


"Hai ... Tante, apa kabar? duh ... lamanya kita nggak jumpa!" suara Caroline dia pun baru sempat datang untuk menemui sahabatnya Adisty.


"Eeh Carolin, ke mana aja? ya ampun ... Adisty nggak ada. Kamu pun nggak pernah datang, dan Adisty sudah berapa hari di sini kok baru datang?" balas ibu Adisty kemudian mereka berpelukan cepaka-cepiki pipi kanan dan kiri.


"Maaf Tante ... aku sibuk dan mana Adis nya Tante? aku kangen deh!" Carolin mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat.


"Adisty berada di kamar nya! temui aja sana, dia pasti senang kamu datang!" balas ibunya Adisty sembari menunjuk ke arah lantai atas.

__ADS_1


"Oke, aku ke sana dulu ya!" Carolin pun membawa langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai atas dimana kamarnya Adisty berada di sana.


"Adis? Adis ... Di mana kau berada?" Blak ... Caroline langsung mendorong handle pintu sehingga pintu tersebut terbuka dengan lebar dan tampak di dalam kamar, Adisty sedang duduk di depan kaca rias! dia sudah tampak rapi dan cantik.


Adisty menoleh kepada Carolin. "Kapan kamu datang? aku baru saja datang! barusan bercengkrama dengan tante sebentar, langsung masuk ke sini." Caroline memegangi tangan Adisty.


"Kan aku sudah bilang aku di luar kota dan aku udah pulang beberapa hari yang lalu! kamu nya aja baru datang ke sini," jawabnya Adisty.


"Aku sibuk nggak sempat. Lagian kamu juga kenapa nggak datang ke rumah?" Caroline dan Adisti saling berpelukan saling melepaskan rindu. Setelah sekian lama tidak bertemu.


"Jujur aku nggak habis pikir deh, ngapain sih lo kabur-kabur segala? mana di hari pernikahan lagi, gak kasihan apa sama calon suami dan juga orang tua. Kalau belum siap menikah ... kenapa disetujui dan anehnya aku itu, kan hubungan sama dia itu bukan sebulan dua bulan! kan aneh!" ucapkan Carolin sembari mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.


"Ceritanya sangat mendadak dan aku nggak mungkin cerita dulu, berunding dulu ... hari itu juga harus pergi. Memang sih, entah kenapa? kok aku pas hari H nya. pikiran dan hati aku serasa mengambang! padahal pernikahan dengan Pram memang yang aku harapkan. Dan sudah rencanakan dari awal mula." Jawabnya Adisty.


"Nah lho, ngapain lu ... ngapain juga harus mengambang segala? atau tidak yakin, kan sama dia pacaran lama. Gue tadi bilang, kalau belum mantap kenapa setuju-setuju saja dengan rencana pernikahan!" Carolin menggeleng.


"Entah lah, sekarang aku menyesal sudah ninggalin Pram dan ... sekarang untuk ketemu saja sulit." Adisty tampak sedih dan menyesali semuanya.


"Apa Adis tahu belum ya, kalau Pram sudah nikah! jangankan lu yang nyesel, gue juga nyesel! kenapa waktu itu gue tidak berada di tempat. Siapa tau kalau gue di sana ... gue yang kadi mempelai pengganti." Carolin melamun.


"Ach nggak, gue gak mikirin apa-apa kok! Oh jadi sampai sekarang kalau belum ketemu Pram juga?" selidiknya Caroline.


Adisty menggeleng seraya berkata. "Belum! tadinya hari ini aku ngajak ketemuan sama dia! kalau nggak bisa di luar, ke kantor nya juga nggak apa-apa aku akan datang ke sana! tapi katanya dia nggak bisa, katanya dia belum siap ketemu aku, sebesar itu kah kesalahan aku? hik-hik-hik."


"Aku rasa ... dia bukan ke luar kota, tapi dia memang kecewa sama Lo." Batinnya Carolin.


Caroline terdiam sambil memeluk Adisty yang sedang menangis, karena Pramana belum mau ketemu dia.


"Bagaimana kalau kita datang ke rumahnya? kau masih ingat kan alamatnya. Kalau aku sih lupa-lupa ingat deh ..." ajaknya Carolin yang mengajak Adisty untuk mendatangi kediaman nya Pramana.


Adisty memudarkan rangkulannya. "Serius kamu mau menemani ku untuk datang ke rumahnya? aku masih ingat!"


"Ya udah, kalau gitu ... kita berangkat sekarang saja mumpung masih sore!" Caroline bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Kita berangkat sekarang!" hadits telpon langsung terbangun bang mencari tasnya yang sudah mengisi ponsel dan dompet.


"Kita pergi pakai mobilku saja!" kata Caroline sambil berjalan yang disusul oleh Adisty.


"Kalian berdua mau ke mana?" tanya sang Bunda Adista. Melihat putri dan temannya turun dari lantai 2.


"Mah, aku mau ke rumahnya Pramana dulu, sekalian aku mau minta maaf sama kedua orang tuanya!" ucap Adisty kepada mama nya.


"Oh ... kalian berdua mau ke sana?" selidiknya sang ibunda kembali.


"Iya, Mah! kami berdua, nanti malam juga pasti pulang kok!" ucap kembali Adisty sambil berjalan mendekati pintu utama bersama Caroline.


"Ayo Tante, kami berangkat dulu! Carolin melambaikan tangan sambil melintasi pintu tersebut.


"Hati-hati ya? jangan ngebut lho," pesan ibunya Adisty sembari menyusul mereka berdua ke teras.


Adisty dan Carolin mengangguk sembari memasuki mobil Carolin, dengan tidak membuang waktu Carolin pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Keduanya tak ada yang membuka pembicaraan, mereka memilih sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


Caroline mengembuskan nafasnya dari hidung secara kasar. Pandangannya fokus ke depan! dalam hati dia merasa kalau Pramana ada di rumahnya, bukannya keluar kota.


Adisty tahu kalau Pramana nggak akan ada di rumah, namun setidaknya dia bisa ketemu dengan kedua orang tuanya Pramana dan untuk meminta maaf kepada mereka berdua. Atas segala kesalahannya terutama dia telah meninggalkan hari pernikahan.


Hari semakin sore! namun setelah jarak tempuh sekitar 1 jam kurang lebih. Akhirnya mobil Carolin tiba juga di depan kediamannya Pramana dan di sana tampak bibi yang sedang menyiram bunga di samping rumah.


"Itu Bibi sedang menyiram bunga," Adisty menunjuk Bibi yang berada di samping rumah.


"Bibi Siapa?" tanya Carolin.


"Itu asistennya, nah itu keluar dari rumah!" kata Adisti Kembali menunjuk ke ibu Bella yang keluar dari pintu utama dan hendak menghampiri Bibi di samping rumah tersebut.


Caroline dan Adisty segera turun dari mobilnya, menghampiri teras rumah Pramana yang tampak sepi tersebut, mendatangi Ibu Hajah Bella ....

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2