Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Bertemu


__ADS_3

"Lho kok, terburu-buru sekali. Gimana kalau kita nonton dulu yuk? temani aku nonton, please ..." Caroline penuh permohonan kepada Pramana.


"Kamu ajak saja tuh Dodo atau Rizki, aku harus pulang!" jawabnya Pramana sembari memegang tasnya.


"Nggak lama kok, paling 1 jam. Aku pengen ditemenin sama kamu!" suara Caroline memelas. karena dia memang ingin ditemani oleh Pramana bukan yang lain.


"Sekarang sudah pukul 10 dan kalau satu jam kemudian nanti jam 11.00 dong, aku harus pulang sekarang. Lagian besok mau masuk kerja!" lagi-lagi Pramana menunjuk jarum jamnya yang memang sudah menunjukkan pukul 10.00 itu.


Caroline menatap lekat ke arah Pramana. Dan tiba-tiba Dia memegang kepalanya. "Aduh, duh ... aduh sakit, pusing pram! bolehkah entar aku pulang! aku mau pulang saja deh nggak jadi nonton!" ucapnya Caroline dengan tangan satu lagi memegangi tangan Permana.


Dodo dan Rizki hanya memandangi saja, mereka berdua yang tidak tahu harus berbuat.


Melihat seperti itu, dengan terpaksa Pramana pun mengiyakan dan bersedia mengamankan Caroline pulang.


"Makasih ya Pram. Makasih? kepalaku pusing banget!" ini tangan Caroline pun bergelayut mesra di tangannya Pramana sambil berjalan seolah-olah dia tak mampu berjalan sendiri.


Pramana menoleh ke arah teman-teman seraya berkata. "Aku pulang dulu ya, sampai ketemu di kantor."


"Yoi, hati-hati jangan sampai terjebak kunti cantik, eh salah!jangan sampai terjebak macet." pekiknya Dodo.


Pramana terus berjalan menghampiri mobilnya bersama Caroline yang terus memegangi tangan dan kepalanya pun bersandar di bahu Pramana.


Sesungguhnya Pramana merasa risih, namun juga dia merasa tidak enak dengan alasan karena Caroline sedang tidak enak badan ataupun sedang sakit kepala.


Lalu Pramana membukakan pintu untuk Carolin, di suruhnya masuk dan duduk di depan! setelah menutup pintu tersebut Pramana mengitari mobilnya dengan sangat gegas. Duduk di belakang kemudi dan dengan cepat pula dia menyalakan mobil tersebut memutar merayap dan belok, jiuus ... akhirnya mobil pun melaju dengan sangat cepat.


Caroline duduk bersandar ke belakang sambil memegangi kepalanya yang katanya sakit dan pusing, sesekali Pramana melihat ke arah Carolin sambil melajukan mobilnya tersebut menuju kediaman gadis itu.


Tangan Caroline bergerak memegangi pergelangan tangan bagian atas Pramana dan menempelkan pipi nya di bahu pria tampan tersebut.


"Makasih ya! kamu sudah mau untuk mengantar ku pulang, aku pusing banget nih!" ucapnya Caroline sembari menyandarkan kepala di bahunya Pramana.


"Iya sama-sama apa perlu ku antar ke klinik saja biar berobat." Tawarnya Pramana sembari melirik sekilas lalu memfokuskan pandangannya kembali ke depan.

__ADS_1


"Oh, tidak-tidak usah aku ingin istirahat di rumah saja dibawa istirahat juga ... pasti sembuh kok!" tolaknya Caroline yang tidak mau diajak Pramana untuk berobat.


"Yakin kamu tidak akan kenapa-napa? Aku khawatir kamu kenapa-napa, terus aku merasa bersalah karena aku nggak mengajak mu untuk berobat," ucap kembali Pramana tanpa melirik lagi.


Kepala Caroline menggeleng, kemudian berkata. "Aku yakin aku nggak akan kenapa-napa kok! dibawa istirahat aja aku pasti sembuh. Kamu jangan kuatir."


"Och Pram, kau sangat perhatian Pram. Sangat beruntung wanita yang memiliki mu, kapan aku bisa memiliki mu?" ucapnya Caroline dalam hati.


"Tolong, jangan begini dong ... aku merasa risih!" serunya Pramana.


Ketika Caroline menyandarkan kepalanya di bahu, dengan tangan yang terus menggenggam lengan bagian atas Pramana.


"Oh iya sorry?" Caroline menegakkan duduknya namun tangannya malah turun nempel di atas paha Pramana yang mengenakan celana hitam bahan mengkilat.


Membuat kedua netra mata Pramana memandangi tangan tersebut. Dan memindahkan tangan Caroline dari pahanya yang pura-pura tidak menyadari dengan apa yang dia lakukan.


Dan selang beberapa saat akhirnya mobil Pramana tiba juga di depan kediaman Caroline. Pramana langsung turun dan menghampiri pintu untuk jalan keluarnya Caroline yang seolah-olah menunggu untuk dibukakan pintunya.


"Bisa jalan nggak? biar aku Papah saja!" Pramana sambil memapah Caroline berjalan mendekati teras.


Setelah keduanya di depan pintu, langsung dibukakan oleh orang rumah dan membuat Pramana merasa tenang. "Kamu masuk sama tante saja! biar aku sampai sini saja dan aku sudah malam, mau pulang."


"Tante, katanya Caroline sakit kepala dan aku mengantarnya ke sini saja, permisi?"


"Oh ya, Nak. Makasih ya sudah mengantar Caroline! kamu sakit apa Cer!" tanya sang Bunda yang kini beralih mengalihkan pandangan ke Caroline.


Caroline merasa kesel karena niatnya nggak kesampaian. Niatnya ingin di antar Pramana sampai kamar! tapi Gatot alias gagal total.


Pramana menyingsingkan kedua lengan bajunya sambil berjalan, gegas masuki mobilnya. Mana langit pun sudah hitam pekat kayak mau hujan, dan gerimis pun sudah mulai turun.


Pramana kembali menyalakan mobilnya dan melaju dengan sangat cepat, agar segera sampai rumah sebelum hujan semakin deras.


Selang berapa puluh menit, tibalah mobil tersebut di kediaman nya, yang langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi.

__ADS_1


Sebelum Pramana mendorong handle pintu! pintu tersebut sudah terbuka dan yang membukanya adalah Anisa.


Pramana menaikkan pergelangannya Melihat jarum jam. "Kamu belum tidur?" Papa mana sambil melintasi Anisa yang berdiri depan pintu.


"Belum. Sebab kalau aku sudah tidur! nggak mungkin membukakan pintu untuk mu!" jawabnya Anisa sambil mesem.


Pramana yang sedang berjalan menolehkan kepalanya ke arah Anisa. "Sudah aku bilang! nggak usah repot-repot, aku bisa melakukannya sendiri. Lagian ada bibi ataupun yang lain.


"Bibi nggak ada, barusan dijemput sama anaknya. Terus mang Pei juga sedang ada keperluan, jadi malam ini di rumah Ini nggak ada yang lain lagi!" ungkapnya Anisa sembari mengunci pintu.


"Benarkah? ayah, Ibu ke mana emang?" selidiknya Pramana sembari mengedarkan pandangan ke ruangan sekitar.


"Ayah dan ibu sudah tidur!" jawabnya Anisa sambil berjalan melipir ke dekat Pramana.


Namun entah kenapa piyamanya nyangkut, sehingga Anisa berbalik dan hampir jatuh menubruk tubuh Pramana bagian depan.


Serta dengan gesit, tangan Pramana yang sebelah yang tidak memegang tas. Menangkap pinggangnya Anisa, sehingga terkesan mereka saling berpelukan.


Namun kedua tangan Anisa berada di depan dada sehingga tidak menempelkan bagian dadanya ke bagian tubuh Pramana. Sejenak keempat manik mata mereka bertemu, saling tatap yang entah karena apa? yang jelas jantung keduanya sama-sama berdegup sangat kencang.


"Em, mmmm ... sorry!" gumamnya Anisa.


Sejenak mereka berdua berada di posisi tersebut, hingga akhirnya keduanya menyadari lalu tangan Pramana yang satunya menyimpan tas tangan di meja dan menggerakkannya untuk melepaskan ujung piyama Anisa yang nyangkut di ujung nakas.


Dan tak ayal wajah Pramana pun maju berapa senti semakin mendekati wajah Anisa, ketika tangannya menarik ujung piyama yang nyangkut. Ternyata nyangkutnya kena paku sehingga brwekkkk ... ujung piyama Anisa sobek dan akhirnya terlepas juga.


Anisa yang mematung dan wajahnya pun memerah dia merasa malu kepada Pramana yang kemarin bersikap dingin, setelah melepaskan pinggangnya.


Pramana kembali meraih tas di meja, kemudian mengayunkan langkah lebarnya meninggalkan Anisa yang masih tak bergeming di tempat.


"Terima kasih ya!" hanya kata-kata itu yang terucap dari bibir Anisa sembari memandangi punggung Pramana yang lebih dulu meniti anak tangga.


Sejenak langkah Pramana terhenti, namun tak ada kata yang terucap dan tidak pun menoleh ke belakang lagi, lantas melanjutkan langkahnya menapakkan kakinya satu persatu di anak tangga hingga sampai di lantai atas ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Mohon dukungannya ya ... makasih


__ADS_2