Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Penasaran


__ADS_3

Dengan cepat Adisty bangkit dari duduknya. Dia berjalan begitu cepat setengah berlari menyusul Anisa.


Anisa langsung menolehkan kepalanya ke arah belakang, karena memang kepalanya pun tertarik tatkala Adisty menarik kerudung bagian belakang Anisa.


"Kamu, apa-apaan?" Anisa kaget serta buru-buru merapikan kerudungnya yang berwarna coklat muda.


"Kamu yang apa-apaan? buat apa kau datang ke sini, yang aku tunggu itu Pram bukan kamu yang tidak sama sekali ku mempunyai urusan dengan mu!" Adisty melepas tatapan nya yang tajam ke arah Anisa.


"Kamu berharap Pram yang datang bukan? dan ketika dia tidak datang kamu kecewa bukan? itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang dirasakan Pramana waktu itu! dia menyusul mu ke sana kemari mencari mu. Dan kamu sendiri nggak ada! bukankah kekecewaan Pram lebih dari itu? sementara waktu sudah mepet unjuk ijab kabul, sekarang kau meminta nya dari ku! setelah susah payah berusaha membalut luka hati yang amat dalam." Jelas Anisa.


Degh.


Adisty mengatupkan bibirnya terdiam seribu bahasa. Mengingat kembali kejadian waktu itu memang masalah ke dalam ingatannya, ketika dia pergi di hari pernikahan.


"Jadi wajar kalau aku ingin mempertahankan dia! pram sudah menjadi milik ku jadi jangan pernah bermimpi Pram akan kembali padamu. Karena dulu pun kamu tidak pernah memikirkan perasaan dia sama sekali bukan? dan sekarang kau berusaha ingin dia kembali. Dimana hati nurani mu? sebagai orang yang sangat mencintainya?" suara Anisa dengan tenang.


Adisty lagi-lagi terdiam tanpa pembelaan atas semua yang Anisa katakan. Rasanya lidahnya kelu untuk untuk kembali membela diri walau hatinya terasa sangat hancur menyesali apa yang sudah dia perbuat, kecewa dengan keadaan ini yang membuat ia harus terluka.


Anisa tidak lagi berucap kata. Melainkan mengayun langkahnya dan kebetulan ada taksi yang lewat dan kosong.


Sesungguhnya Anisa merasakan perasaan yang berkecamuk dalam dada. Bukan niatnya untuk menyakiti hati orang dengan kata-kata apalagi dengan tindakan. Tapi ini hanya sebagai bentuk dia ingin mempertahankan rumah tangga ha dengan seorang Pram.


Tidak lama di perjalanan. Anisa sudah berada di rumah nya Pram.


"Dari mana Nisa ... kenapa tidak pulang sama mang Pei. Ibu khawatir ... kamu kan gak pernah pergi sendirian," ucap nya dengan lirih Bu haji Bella saat Anisa memasuki pintu utama.


"Oh .. itu Bu ... Nisa ada keperluan sedikit." Jawabnya Anisa sembari meraih tangan ibu mertuanya.


"Ya sudah ... yang penting sekarang kamu dah pulang!" sambungnya ibu Bella.


"Hooh Bu ..." Anisa mengambil air minum untuk nya.


Setelah itu Anisa naik ke atas yang kebetulan sudah ashar.

__ADS_1


Sekitar pukul 17 sore. Pram sudah pulang dan di sambut oleh Anisa di depan pintu.


"Assalamu'alaikum!" ucap Pram sambil berjalan memasuki teras mendekati pintu yang sudah terbuka dan berdiri Anisa di sana.


"Wa'alaikumus salam ... baru pulang?" Anisa mencium punggung tangan Pram penuh hormat dan Pram pun mencium kening Anisa dengan mesra.


"Iya terjebak macet!" jawabnya Pramana sambil berjalan dan menggandeng pinggangnya Anisa.


"Pram ... kau sudah pulang, sambut sang bunda yang tengah berada di ruang tengah.


"Iya, Bu ... Ayah mana?" Pramana mencium tangan ibundanya sembari menanyakan sang Ayah yang tidak ada nampak di tempat tersebut.


"Ayah sedang keluar! katanya sedang ada urusan sebentar, tapi sudah 1 jam ini belum kembali." jawabnya sang Bunda.


"Oh mungkin saya masih ngobrol Bu!" tambahnya Pramana lalu terus berjalan menaiki anak tangga yang diikuti oleh Anisa.


"Mau mandi dulu apa mau istirahat dulu?" selidiknya Anisa setelah berada di dalam kamar.


Pramana menyimpan tasnya di atas meja dan juga melepas jam yang menikah di tangannya. "Kayaknya aku pengen olahraga dulu deh sebelum mandi."


Dan ketika mau berbalik kedua manik matanya mendapati Pramana berdiri sudah bertelanjang dada. Lantas memeluk tubuh Anisa dengan sangat erat.


"Aku kangen kamu sayang!" Pramana pun menciumi sekitar wajah Anisa.


"Eeh, aku mau menyimpan pakaian mu, gimana sih?" Anisa memegangi pakaian Pram yang baru saja dia ambil dari lemari.


Kemudian perang mengambil pakaian yang berada di tangan Anisa tersebut di tepi ujung tempat tidur.


Dan kemudian Pramana pun kembali menghampiri Anisa yang berdiri termenung, mengamati gerak-geriknya Pramana yang dalam hitungan detik sudah berada di hadapannya lagi.


Lalu tanpa permisi Pramana pun mengangkat tubuh Anisa yang sedang setengah melamun. yang membuat Anisa kaget dan tubuhnya melayang begitu saja di bawah Pramana kenapa tidur dengan ukuran king size.


"Lho, katanya kan mau olahraga? kenapa membawa ku ke sini sini?aku mau menyiapkan masakan buat makan malam!" akunya Anisa sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke belakang bertumpu dengan kedua tangan.

__ADS_1


"Kan mau olah raganya sama kamu! sudah kangen nih, tadinya mau mengajak di kantor. Tapi keburu datang Echa, sudah on sedari tadi." Bisik Pram di telinganya Anisa yang langsung meremang mendengarnya.


Anisa menatap sendu wajah Pramana, pria yang sedang direbutkan oleh dia dan Adisty. sesungguhnya hatinya takkan rela kalau Pramana kembali pada wanitanya yang dulu.


"Aku tidak akan rela bila harus kehilangan mu, aku gak mau kamu kembali pada Adisty lagi." gumamnya Anisa tanpa di ucapkan pada Pram.


Dan hanya bahasa tubuh saja yang berbicara. Kedua tangan Anisa merangkul pundaknya Pram yang sedang menatap dengan sangat lekat serta membelai rambutnya dengan lembut.


Keduanya berpelukan, bersiap mengarungi samudra cinta. Menyalurkan hasrat yang bergelora dan hampir memuncak dengan sendirinya.


Darah yang mengalir deras panasnya membakar jiwa. Jantung nya berdegup sangat kencang, dorongan demi dorongan perasaan yang lebih menuntut dari sekedar sentuhan biasa.


Kini keduanya sedang mengarungi samudra yang penuh dengan gelora, melayang ke alam nirwana yang penuh dengan cinta. Saling memberi dan menerima, Semakin lama ritual pergulatan semakin memanas sehingga peluh pun bercucuran dari keduanya saling bertukar dan mencari kepuasan.


"Sayang, aku mencintai mu seluruh jiwa dan raga ku! jangan tinggalkan aku sayang," racau Pram sambil mengeratkan pelukannya merapatkan keduanya sehingga tidak ada celah untuk sekalipun nyamuk lewat.


"Aku juga sayang kamu, jangan tinggalkan aku Yank ... miliki aku sepenuhnya dan jangan membiarkan aku sendirian, aku tidak mau tanpa kamu!" balasnya Anisa yang entah sadar atau tidak dalam mengucapkannya.


"Iya, sayang. Iya ... aku cuma milik mu saja. Ach ..." lenguhan panjang lepas dari bibirnya Pram seiring pelepasan yang tidak terhitung ke berapa kalinya! saking puasnya menikmati keindahan yang memanjakan jiwa dan raganya.


Suasana begitu hening dan hanya terdengar suara nafas saja yang bersahutan. Dada keduanya naik turun tak beraturan. Anisa berusaha mengontrol nafasnya yang terasa berat setelah melakukan aktivitas nya barusan.


Cuph. Kecupan mesra mendarat berapa kali di keningnya Anisa yang menatap sendu. "Kenapa, apa mau lagi?" namun Anisa terlihat menggeleng kecil.


Pram semakin menaikan selimutnya yang tebal dan juga mengeratkan pelukannya di tubuh Anisa yang tidak lama kemudian menepuk tangan Pramana.


"Aku mau mandi duluan ya aku mau masak buat makan malam!" memindahkan calon penamaan dari pinggangnya.


"Hem ... aku mau tidur sebentar ya capek!" cuph! Pram mencium punggung tangan Anisa sangat mesra.


Setelah itu Anisa bergegas berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. dan setelah sekitar 15 menit kemudian Anisa pun kembali dengan berpakaian lengkap, mengeringkan rambutnya dengan handuk sebelum pada akhirnya menggunakan hair dryer biar lebih cepat kering.


Karena di rumah tidak menggunakan kerudung. Jadi kalau basah rasanya malu bila dilihat orang rumah.

__ADS_1


Setelah itu Anisa buru-buru turun ke lantai dasar untuk memasak, membantu bibi menyiapkan makan malam.


Pramana baru saja mau memejamkan kedua netra matanya akibat kelelahan! namun di ingatannya terlintas kalau dia merasa pernah melihat amplop coklat di dalam laci, dan belum sempat dia sentuh sama sekali. Rasa penasarannya pun mencuat sehingga dia bangun dan lantas menggunakan celana pendek menghampiri laci tersebut ....


__ADS_2