Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Omong kosong


__ADS_3

Sekitar 5 menit, Anisa menghabiskan waktu di toilet. Buang air dan membasuh muka lalu mengaplikasikan bedak padat di pipinya dengan tipis.


"Udah belum Sayang? jangan lama-lama dong!" suara Pramana sembari menggedor pintunya.


"Apa sih ... gedor-gedor segala, orang sebentar kok!" yang detik kemudian Anisa muncul dari balik pintu toilet.


"Lama sekali sayang--"


"Lama apanya cuma 5 menit doang!" Anisa langsung menimpali perkataan dari suaminya tersebut.


"Iya-iya ... ayo kita ke meja makan lagi?" tangan Pram meraih tangan Anisa menggenggamnya erat.


Pram dan Anisa berjalan menuju tempat yang tadi mereka berdua duduk. Dalam hati Anisa tetap di gelayuti perasaan yang tidak menentu, cemas dan gusar, bagaimana pun di situ ada Adisty! yang menjadi pertanyaannya adalah ... Pram tau gak sih kalau Adisty berada di tempat yang sama.


Anisa melirik ke arah meja dimana ada Adisty yang sedang menikmati makannya. “Ya Allah ... semoga saja mereka tidak saling melihat.” Batinnya Anisa sambil buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain, bagaimana pun Anisa merasa cemburu bila mereka bertemu.


Yang lebih dulu melihat keberadaan Pram di sana adalah Carolin, dia langsung menganga mulutnya melihat Pram berada di sana. “Pram ...”


Sontak Adisty menoleh pada Carolin yang melihat ke seberangan mereka duduk, tentunya Adisty pun melihat kalau ada sosok Pram seberang sana. “Pram?” gumamnya Adisty lantas langsung beranjak dari duduknya untuk menghampiri Pram.


Pram menarik kursi bekasnya tadi untuk Anisa duduk, belum juga Anisa menempelkan bokongnya di kursi yang di sediakan oleh Pram, dengan tiba-tiba ada yang memanggil. Tentunya Hati Anisa semakin berdebar dan sudah menduga kalau suara itu adalah Adisty atau Carolin.


Keduanya menoleh ke arah sumber suara dan apalagi Pram yang jelas hapal dengan suara itu yang tiada lain adalah Adisty.


“Adis?” Pram bergumam seiring dengan menoleh ke sumber suara.


Adisty yang menghampiri Pram dan langsung memeluk pria yang tampak kaget tersebut. “Sayang, kebetulan sekali kita bertemu lagi di sini. Aku kangen sama kamu dan kenapa telepon ku jarang kamu angkat sih?’


Pram tidak menyangka sama sekali kalau akan bertemu dangan Adisty di tempat itu dan tidak menduganya. Karena masih shock sehingga Pram membiarkan Adis memeluknya, namun ketika sadar apalagi di sana ada Anisa. Pram melepaskan rangkulan Adisty dari tubuhnya.

__ADS_1


Anisa yang merasa gelisah dan serba salah, tak ayal rasa panas yang membakar dada di saat melihat suaminya di peluk orang yang sesungguhnya adalah kekasih nya atau mantan kekasihnya, entahlah.


Carolin tersenyum sinis pada Anisa yang akhirnya mendudukan dirinya di kursi dan berusaha tampak tenang, menyembunyikan sepintar mungkin perasaan yang kini tengah menyiksa hati. Dimana rasa cemburu bergelayut mesra di relung jiwa.


Anisa menundukkan wajahnya ke lantai, dia tidak kuasa melihat suaminya di peluk wanita lain. Dia pun tidak ingin melihat ke arah Carolin yang mungkin menunjukan senyuman yang penuh ejekan padanya.


“Lepaskan! tidak enak di lihat orang. Kenapa kau berada di sini?” Pram mendorong kedua bahu nya Adisty agar tidak memeluk dirinya.


“Kenapa sayang. Tuhan suda menemukan kita lagi di sini, berarti kita satu hati dan menjodohkan kita. Sehingga kita bertemu di tempat ini tempat makan favorit kita.” Adisty memegang tangan Pram yang langsung di tepisnya tidak suka.


“Em ... aku di sini sedang bersama istri ku,” ucapnya Pram sambil menoleh pada Anisa yang menunduk dalam.


“Apa? kau bersama istri mu?” Adisty terlihat shock setelah mendengar kalau Pram di sana bersama istrinya, lalu melihat ke arah Anisa yang langsung menerbitkan senyuman tipisnya.


Adisty terdiam sesaat ternyata istri Pram juga cantik dan penampilannya bersahaja. Tapi Adis semakin tertantang untuk bisa kembali ke Pram dan merebut hatinya lagi, apalagi kalau seandainya Pram tidak mencintainya dan itu akan lebih mudah untuk merebutnya lagi.


“Oh, ini istri kamu sayang, cantik juga dan tidak malu lah bersanding dengan mu yang tampan dan tidak terlalu jauh dari ku.”


Adisty menyambut uluran tangannya Anisa. “Adisty, aku ucapkan makasih banyak ya. Kamu sudah hadir di saat itu dan ... menggantikan aku sebagai penggantinya Pram, dan juga makasih banyak karena kamu sudah berperan menjadi istri. Tapi ... jangan khawatir. Masa itu akan segera berakhir.”


“Apa maksud mu Adis?” Pram mengerutkan keningnya tidak paham dengan ucapan dari Adisty.


Kini mereka duduk berhadapan setelah Anisa menyilakan Adisty dan Carolin untuk duduk bergabung di sana.


“Iya, masa itu akan segera berakhir dimana aku dan kamu akan kembali bersama dan kita akan menikah sesuai rencana kita dulu, kan begitu obrolan kita beberapa hari yang lalu—“


Degh.


Dada Anisa berdebar kencan. Berarti beberapa hari lalu mereka ketemuan. Rasanya Dada Anisa begitu sesak dan nyeri. Rupanya mereka sudah ketemuan, jadi yang waktu itu dia lihat adalah benar. Adisty.

__ADS_1


“Omong kosong apa ini Adis? Kita tidak pernah bicara soal itu, kan sudah aku bilang kalau aku sudah punya istri dan jangan lagi berharap pada ku.” Protesnya Pram yang tidak terima kalau waktu itu membicarakan soal kembali atau menikah.


“Sayang, kan kemarin itu kita bahas soal kita yang akan menikah. Kamu lupa ya?” Adisty menatap ke arah Pram dengan senyuman manis lalu melihat ke arah Anisa yang tampak bengong.


Anisa terdiam sambil menatap ke arah Pram yang tampak kebingungan. “Kamu tega Pram. Kamu tidak jujur pada ku.” Batinnya Anisa.


“Aku sadar benar kalau kita tidak bahas itu, yang ada aku memberi tahu kalau kita tidak bisa meneruskan hubungan kita! karena aku sudah punya istri.” Jelas Pram seraya menatap datar pada Adisty.


“Kok kamu tidak mengakui atau menutupi sih sayang ... apa kamu belum bicara sama istri kamu ini ya? oh iya ... tidak perlu juga dia tau, kan dia itu cuma pengantin pengganti saja,” tambah nya Adisty sembari melirik pada Anisa.


“Dia memang pengantin pengganti. Tapi kami akan melanjutkan rumah tangga kami. Bukan sekedar pengganti lagi jadi tolong mengerti itu.” Pram menatap Adisty dan Carolin.


Anisa menatap ke arah Pram. Mendengar perkataannya yang seperti itu, bahwa dia akan melanjutkan rumah tangga dengannya.


“Kemarin kamu tidak bilang begitu, kamu tidak boleh menutupi dari wanita ini tentang kita sayang ... jujur saja, kita itu saling mencintai dan sampai kapan pun akan tetap saling mencintai, jadi aku minta sama kamu dengan sangat, lepaskan Pram karena kami saling mencintai.” Adisty menatap Anisa dan Pram bergantian.


Tatapan Anisa yang dingin mengarah ke arah Adisty dan Pram. Dengan tatapan nanar dia merasa sedih juga mendengar semua ucapan dari Adisty yang meminta ia untuk melepaskan Pram. Lalu Anisa menunduk dalam, dia berusaha menyembunyikan perasaannya yang campur aduk dan rasanya ingin segera pergi dari tempat itu. Dan dia berusaha menahan agar tidak meneteskan air mata.


“Apa maksud mu bicara seperti itu Adis? jangan mengarang cerita ya. Dulu iya aku sangat mencintai mu, tapi sekarang tidak. Dengan seiringnya waktu semuanya berubah dan itu semua karena kamu juga yang merubah segalanya. Aku tidak akan kembali pada mu dan jangan berharap lagi padaku, semuanya sudah berlalu.” Jelas nya Pram sambil menyimpan uang bil di bawah piring dan lalu dia berdiri meraih tangan Anisa untuk meninggalkan tempat tersebut.


Namun Adisty langsung merangkul Pram dengan sangat erat. “Pram, aku sangat mencintai mu. Kamu juga tidak bisa berbohong kalau kamu sudah tidak cinta sama aku, jujur saja kalau kamu masih cinta sama aku! aku ingin menikah dengan mu dan kita akan membuka lembaran baru lagi.”


Dengan refleks Pram melepas tangan Anisa. Dan Anisa menatap kesal pada Pram yang diam saja di peluk Adisty yang kedua kalinya di hadapan Anisa di tempat yang sama.


Anisa memutuskan pergi dari sana sendiri tanpa menunggu Pram. Dengan perasaan yang sesak. Air mata pun sesungguh nya ingin sedari tadi keluar dari bendungannya. Namun sebisa mungkin ia tahan dan memperlihatkan kalau dirinya tidak ada masalah apapun.


Carolin yang sedari tadi terdiam dan hanya menyimak obrolan mereka. Tersenyum melihat persilisihan ini dan ia pikir perang sudah di mulai, siapa kah yang akan menang nantinya? Adisty atau Anisa. Atau mungkin dirinya yang mempunyai kesempatan untuk mendapatkan Pram ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Ayo mana nih kasih semangatnya biar aku makin semangat. Bulan ini otak ku agak bleng nih ... makanya up nya sering telat 🙏


__ADS_2