
"Sudah belum? lama banget ganti bajunya!" suara Pramana sembari memunggungi tubuh Anisa.
"Sudah kok!" jawabnya Anisa singkat.
Kemudian Pramana membalikan tubuhnya melihat ke arah Anisa. "Kenapa sih kamu nggak bilang dari tadi, Nisa. Pas kamu tahu ada telepon buat aku? kalau kamu bilang secepat mungkin! aku pasti bisa bicara sama dia. Atau setidaknya kamu angkat dulu, tanya dia berada di mana!"
"Kalau aku angkat. Emang siapa ak, kalau dia nanya siapa aku gimana? Terus aku harus jawab apa? nanti yang ada kamu marah juga sama aku!" jawabnya Anisa dengan nada dingin.
"Tapi, kan setidaknya aku tidak kehilangan lagi. Coba sekarang! nomornya sudah gak aktif lagi, mana bisa aku hubungi." tambahnya Pramana dengan ekspresi wajah yang sedikit kesal.
"Terus, gunanya kamu ngomong sama aku apa?" Nisa menatap sekilas lalu dia menundukkan pandangan ke lantai.
"Aku kecewa sama kamu, sudah tahu ponselku berbunyi kenapa nggak bilang malah diam-diam bae!" ucap Pramana dengan nada ketus kemudian dia kembalikan badan meninggalkan kamar Anisa.
Tubuh Anisa bergeming menatap ke arah Pram yang meninggalkan dirinya. "Emangnya siapa aku?"
Tidak lama kemudian terdengar suara mobil Pramana yang keluar, membuat Anisa mengintip dari balik jendela. Melihat mobil Pram yang keluar dari rumah itu.
"Ya Allah ... kenapa hati ku sakit sih! mengingat dia sama wanita itu? dia kekasih hatinya dan aku hanya istri di atas kertas saja. Apa yang kau buat sakit hati, Nisa ..." gumamnya Anisa dalam hati.
Sejenak Anisa memejamkan matanya sembari menghela nafas dalam-dalam, kemudian dia merapikan gorden Lantas menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
Setelah melaksanakan isya, Pramana memutuskan untuk menemui seseorang yang akan dia ajak bicara tentang Adisty.
Mobil Pramana begitu kencang melaju menuju suatu tempat dan itu adalah cafe.
Brugh ....
Pramana lantas turun dari mobilnya memasuki Cafe tersebut, dan di sana ada temannya yang menunggu kedatangan Pramana.
"Ada apa sih mendadak begini? gimana kalau gue lagi ngelonin istri, masa harus di tinggalin juga?" kata orang tersebut sembari menatap ke arah Pramana.
"Sorry-sorry lah gue ganggu. Tadi nomor Adisty ada nelpon, tapi gue nggak sempat angkat soalnya lagi nggak bawa handphone, tapi pas gue telepon balik nomornya nggak aktif lagi. Sampai barusan juga!" balasnya Pramana sembari mendudukkan dirinya di hadapan temannya itu.
__ADS_1
"Terus kenapa nggak lu angkat? coba pas nelpon Lo angkat dan tanya dia di mana? biar--"
"Gimana aku bisa tanya? orang gak ke angkat kan! udah aku bilang aku gak bawa handphone! yang tahu istri gue!" Pramana memotong kalimat temannya tersebut. "Dia tahu kalau nomor Adisty nelpon, tapi dia nggak bilang sama aku secepatnya! sudah lama baru ngomong."
"Mungkin istri mu cemburu! makanya dia nggak bilang-bilang sama kamu." Rizki mengerutkan keningnya sembari menatap ke arah Pramana yang kini sedang memesan minuman.
"Ha! Cemburu? ngapain orang kita nggak ada rasa--"
"Kau bisa aja sekarang bilang nggak ada rasa! siapa tahu dia ada rasa sama kamu, secara ketemu tiap hari ... mungkin saja kan sudah mulai jatuh cinta sama kamu. Lagian jangan munafik deh ... masa sih kamu nggak tergoda sama sekali sama istrimu itu? apa sih yang kurang? cantik iya, baik oke. Imbang deh sama Adisty. dan gue rasa untuk apa Adisty telepon kamu! setelah dia meninggalkan kamu di hari pernikahan." Tambah Rizki.
"Ck, sudahlah jangan mengingat-ingat itu lagi yang jelas sekarang ini. Aku ingin tahu dimana dia sekarang! itu aja." Pramana menggelengkan kepalanya, kemudian dia meneguk minuman jeruk yang sudah tersedia di hadapannya.
"Buat apa sih ... kamu mengejar Adisty lagi? sekarang kamu sudah punya istri yang cantik yang baik. Jangan lah cari masalah." Seru sang kawan.
"Kau itu tidak tau apa-apa! jadi jangan terlalu banyak komen, kamu nggak tahu ********** gimana!" ucap Pramana sembari menggaruk tengkuknya.
"Memang sih ... gue nggak tahu dalamnya gimana! tapi setidaknya manusia itu punya masa lalu, kan ... dan kalian sudah terikat dengan pernikahan jadi buat apa lagi sih, nyari yang gimana lagi nih! lubang itu tetap sama, gunung juga tetap sama kembar 2. Nggak mungkin ada yang tiga ha ha ha." Jawabnya Rizky diakhiri dengan ketawa.
"Bukan soal mabuknya ... tapi kan bener apa yang dimiliki sama wanita itu sama aja, tergantung kita menikmatinya aja!" tambahnya Rizki sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya
"Sudahlah kamu melantur aja!" Pramana menyesap minumannya.
Saking keasyikan ngobrol sehingga tau-tau waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam dan Pramana pun sudah menghabiskan berapa gelas air jeruk dan makanan ringan.
"Oke udah malam, kita pulang lah. Sorry udah ganggu," Pramana menoleh jam yang melingkar di tangannya, kemudian beranjak dan membayar bekas makan dan minum berdua dengan temannya tersebut.
"Oke! sampai jumpa di kantor!" Rizky pun berdiri lalu mengambil ponselnya berjalan menyusul Pramana.
Keduanya berpisah Di parkiran temannya menggunakan motor dan Pramana menggunakan mobil. Pramana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera nyampe di rumah!biasanya jam segini sudah tidur dan kali ini masih di jalan.
Selang berapa puluh menit. Akhirnya mobil Pramana memasuki halaman rumah.
Setibanya di halaman rumah, Pramana langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Lalu dia berjalan menuju pintu utama yang dibukakan sama Bibi.
__ADS_1
"Baru pulang, Den? sapa Bibi sembari membukakan pintu.
"Iya, Bi ... padahal gak usah dikunci, Bi. Sebab aku juga pasti pulang kok! dan gak mungkin pulang terlalu malam juga," jawabnya Permana sembari melintasi bibi.
Dia mengayunkan langkahnya ke dalam! namun langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita cantik! tidur di sofa membuat Pramana menoleh pada bibi yang sedang mengunci pintu. "Kenapa dia tidur di sini?"
"Ooh, Neng Nisa Katanya mau nungguin Aden! makanya dia sampai ketiduran di sofa!" jawabnya Bibi sambil berjalan menuju ke belakang.
Sementara Pramana masih berdiri di tempat, memandangi gadis itu dan perlahan menghampirinya. "Hi ... bangun?" suara Pramana pelan.
Pramana mendudukan dirinya di meja, tepat di depan Anisa yang tampak terlelap tidur. Rasanya tidak tega juga. Mau bangunin kasihan, ditinggalin. Takut jatuh! soalnya ketika di kamar pun Anisa jatuh sampai tidak merasakannya.
"Ck. Dasar tidurnya kayak kebo! jangankan dibangunin, dia jatuh ke lantai aja sampai-sampai dia nggak berasa! aneh juga ni perempuan," Pramana berdecak kesal.
Pramana menatap ke arah Anisa dari mulai ujung kepala sampai ujung kaki tak ayal menjadi sasaran tatapan nya.
Hingga akhirnya ... Pramana mempunyai inisiatif sendiri, dia menyingsingkan lengan bajunya. Kemudian mengarahkan kedua tangannya itu untuk memangku tubuh Anisa yang akan dia pindahkan ke dalam kamar.
"Cek, bikin repot saja ach." Gumamnya Pramana sembari memangku tubuh Anisa, berjalan mendekati anak tangga.
Pramana membawa langkah lebarnya menaiki satu persatu tangga yang tidak terhitung ada berapa tangga. Dengan netra yang terus memandangi wajah Anisa yang tampak sangat cantik bila tidur begini.
Dengan susah payah Pramana membawa Anisa melintasi pintu yang harus dia buka terlebih dahulu dengan sendiri. Sesampainya di dekat tempat tidur, Pram tidurkan Anisa di atas tempat tidurnya.
"Kan, dia itu sampai tidak nyadar kalau tubuhnya melayang di bawa orang! tidak dalam pengaruh obat saja tidurnya kaya gini, apalagi dalam pengaruh obat. Pantas dia sampai kecolongan juga." Monolog Pram dalam hati sambil terus memandangi wajah Anisa.
Kedua netra mata Pram kini tertuju pada bibir Anisa yang merah natural, sepertinya akan terasa manis bila di sentuh. Dengan tidak sadar dan kurang mengontrol diri.
Wajah Pram mendekati benda tipis tersebut ....
...🌼---🌼...
Ayolah mana dukungannya, like komen dan bintangnya juga bila suka.
__ADS_1