Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Makan bakso


__ADS_3

"Jangan dengarkan mereka, Dek ... mereka kan nggak tahu kebenarannya seperti apa! jangan diambil hati ya?" ucapannya Aisyah dengan lirih sambil mengelus bahunya Anisa.


Anisa mengangguk seraya memasukkan bakso ke dalam mulutnya yang terasa hambar tak ada rasa.


"Iya beneran, Nisa ... jangan diambil hati ya! biasa ibu-ibu julid karena mereka tidak merasa diundang saat pernikahan mu, jangankan mereka aku aja nggak diundang kan?" tambahnya Dea sembari menepuk punggung Anisa.


"Iih beneran! saya heran antara mungkin dan nggak mungkin, masa sih secepat itu hamilnya perasaan baru kemarin dia menghilang dan mendengar menikah, mana mendadak lagi menikahnya."


"Hooh. Paling adalah sebulan ya dia tidak kelihatan di sini, tapi kehamilannya seperti 2-3 bulan gitu." Timpal tetangga yang lain sembari menikmati bakso di pinggiran jalan, tepatnya di depan rumah Anisa.


Lagi-lagi Anisa menghela nafas panjang. Makan bakso yang di bayang-bayang sangat enak, rasanya berbalik menjadi sangat hambar, rasa kuah yang seharusnya pedas menjadi tawar.


Aisyah dan Dea yang juga sedang menikmati baksonya hanya bisa saling pandang. Melihat Anisa yang turun mood nya.


"Dek. Jangan dipikirkan ya, biarkan saja orang mau bilang apa!" kata sang kakak, Aisyah.


"Tenang saja, Kak ... aku tidak apa-apa! aku baik-baik saja kok." Jawabnya Anisa sembari menelan ludah yang terasa sakit di tenggorokan.


Di saat seperti itu, datanglah motor Deni yang membonceng Pramana yang tadi katanya mau jalan dan nongkrong.


"Wah ... tukang bakso! kebetulan lapar juga nih mata, eh perut," suara Deni sambil memarkirkan motornya.


"Haduh ... siapa mereka? tampan sekali, ganteng aduh ... mau deh saya menjadi mertuanya!"


"Apalagi yang berkaos putih itu ... tampak sekali dia brewokan tapi halus bikin adem bila memandangnya. Rasanya tak ada uang pun nggak terlalu anu kalau bisa memandang wajah tampan seperti dia!"


"Aduh-duh, duh ... itu bulu harus di rahangnya pasti bikin geli deh asyik kalau kena pipi kita ya? ampun deh, di komplek kita kan nggak ada pria setampan dia! bikin hati meleleh ya Allah ... dan tak dapat berkata-kata."


"Kalau saja putriku melihat! pasti deh dia kegirangan dan langsung jatuh!"


"Jatuh cinta!" tanya seorang wanita di sampingnya.


"Bukan, jatuh ke lantai gara-gara terpeleset makan bakso hahaha ...."


"Andai saja suamiku setampan itupun biarpun nggak kaya! hati rasanya ade ... m, dem-dem buanget melihat ketampanannya, tubuh yang kekar, aduh bener-bener deh bikin meleleh nih ati ..." begitu suara ibu-ibu yang saling bersahutan mengagumi ketampanan dua pria tersebut, terutama ketampanannya Pramana.


Pramana menghampiri Anisa dengan membawa satu mangkok bakso lantas dia duduk di samping wanita itu yang tampak sendu itu.


Disusul oleh Deni yang juga membawa semangkuk bakso yang masih mengepul.

__ADS_1


"Lho, kok kamu sudah pulang sih? katanya mau nongkrong, ketemu teman, eeh malah beli baksonya di sini." Tegurnya Dea yang ditujukan kepada Deni, sang kakak.


"Nggak ada temennya! yang lain pada punya acara, soalnya kita mendadak ngajak nongkrongnya." Jawabnya Deni sembari meniup kuah bakso panas yang berada di dalam sendok.


"Mungkin harus dihubungi dari awal ... kalau mau nongkrong, biar mereka bisa menyempatkan waktu!" kata Aisyah sambil melirik ke arah Deni.


"Begitulah kira-kira saja. Huahhh hanas. Hanas gila, huanas bakso. Huanas ajir." Suara Deni tak karuan, yang merasa kepanasan karena memasukkan bakso ke mulutnya yang masih ngebul.


Membuat Dea, Aisyah dan Anisa juga Pramana menertawakan ulah Deni.


"Ha ha ha ... santai bro! makanya santai jangan terburu-buru udah tahu itu masih panas, masih ngebul juga. Dimasukin ke mulut, sekalian aja tuh kuahnya yang masih mendidih." Kata Pramana sambil ketawa.


"Kak Deni sih ....macam-macam nanti melepuh lho mulutmu, tungguin napa?" Dea menggelengkan kepalanya sembari memberikan minum kepada sang kakak.


"Hati-hati Den ... masih panas tuh ..." Aisyah mengulum senyumnya.


"Kak Deni ada-ada aja deh, tau masih panas juga main masukin aja." Anisa menggeleng sembari tersenyum.


"Tapi kan, katanya kalau lagi panas-panas yang paling enak dimasukin nya. Karena kalau dingin kan nggak, gak anu! kurang nikmat rasanya--"


"Ach kamu ngelantur lah Den!" kata Aisyah yang mulai beranjak mau memesan bakso untuk suaminya.


"Bener nggak Pram? kalau terlalu dingin nggak ... yang nikmat dimasukin nya! mendingan ya ... lebih berasa dan lebih nikmat ketika lagi hangat-hangatnya!" Deni menatap ke arah Pramana sambil nyengir.


"Bakso! kalau terlalu dingin nggak enak gitu masukin ke mulutnya mendingan yang hangat kayak gini, aam ... nyami-nyami-nyami ..." lalu Deni pun menikmati makan baksonya. "Jangan ngeres deh!"


Pramana melirik ke arah Anisa yang hampir habis makan baksonya, namun yang menjadi fokus penglihatan dari Pramana yaitu wajah sendunya Anisa.


"Kenapa murung begitu?" selidiknya Pramana dengan suara yang agak pelan.


Anisa menoleh ke arahnya lalu berkata. "Tidak kenapa-napa dan gak murung juga. Siapa juga yang murung? aku lagi menikmati makan bakso."


"Memang benar kamu sedang menikmati makan bakso tapi wajah mu aneh, murung ditekuk dan jelek bila seperti itu." tambahnya Pramana.


Tetapi Anisa tidak menjawab lagi melainkan dia menyendokkan kuah bakso yang perlahan dia masukkan ke mulutnya.


Pramana berpikir keras, apakah gerangan yang membuat Anisa murung. Lantas dia mengedarkan pandangannya ke arah pembeli bakso yang sudah mulai beranjak pergi dan mungkin tadi lebih banyak lagi pembelinya.


Lantas kemudian Pramana berpikir mungkinkah Anisa itu tersenggol oleh omongan-omongan orang di luar tentang kondisinya yang tengah hamil.

__ADS_1


"Mau nggak cobain bakso ku ini?" Pramana menyendookan baksonya dan hendak menyuapi Anisa, Anisa langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Pramana.


"Kok bengong! buka mulutnya cobain deh bakso aku." Pintanya Pramana kepada Anisa.


"Nggak mau, rasanya pasti sama kok!" kepala Anisa menggeleng.


"Cobain dulu, aku bilang cobain dulu! buka mulutnya?" mintanya Pramana dengan kekeh membuat Anisa akhirnya membuka mulut juga


Lalu Pramana menyuapkan baksonya ke mulut Anisa yang tampak ragu-ragu itu.


"Gimana rasanya, enak kan?" Pramana menatap lekat ke arah Anisa yang sedang mengunyah bakso suapan darinya.


"Enak!" kepala Nisa mengangguk dan wajahnya tampak merah berasa malu dan serba salah dipandangi seperti itu oleh Pramana.


"Du-du-duh ... kita bersa ngontrak deh, orang Dunia milik mereka berdua! sepertinya kita harus menyingkir." Deni menggelengkan kepalanya dan Dea pun tersenyum simpul yang mengerti dengan maksud sang kakak.


Anisa menoleh pada keduanya yang semakin membuat dia sangat malu, lalu menundukkan wajahnya dari semua orang yang melihat ke arah dirinya.


Sementara Pramana dia tampak santai saja, lalu kembali berkata. "Bakso mu sudah di bayar belum?"


Anisa melorik sekilas. "Aku belum di bayar."


"Oke nanti aku bayarin sekalian sama yang lain juga," Pramana mengalihkan pandangan ke arah si mamang tukang bakso. "Mang, berapa semuanya? hitung aja semuanya ya maksud saya dengan yang keluarga di sini yang sudah mengambil baksonya, berapa? nanti saya bayar!" kata Pramana pada si Abang bakso.


"Oh siap, Tuan. Siap nanti saya hitungkan." Jawabnya di abang.


"Asik ... di traktir, boleh nambah lagi dong? masih belum kenyang nih," pinta Deni kepada Pramana.


"Tidak masalah! asal jangan sama tukang baksonya aja, gue nggak sanggup ngasih makannya ha ha ha ..." Pramana terkekeh sendiri membuat Anisa pun menarik sudut bibirnya tersenyum tipis.


"Kalau sudah makan baksonya, siap-siap untuk pulang!" ucapnya Pramana sembari melirik dengan ujung matanya pada Anisa.


"Kau mengajak ku pulang?" jawabnya Anisa dengan ada bertanya.


"Ya iyalah, Emangnya aku harus mengajak siapa untuk pulang!" Pramana dengan nada bicara sedikit dingin.


"Kali saja nggak mau ngajak aku lagi." Suara Anisa sangat pelan dan nyaris tidak terdengar.


"Kalau kamu mau pulang, aku juga mau pulang. Nisa," kata Dea sembari membereskan mangkok bekas makan baksonya ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa like dan komen serta dukungan lainnya ya makasih.


__ADS_2