Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Nada ancaman


__ADS_3

Kini Anisa sudah berada di dalam mobil Alphard yang dibawa oleh mang Pei. Pandangannya menatap ke arah mobil Pramana yang mulai merayap lebih dulu meninggalkan tempat tersebut menuju kantor.


Di sepanjang perjalanan, Anisa tidak banyak bicara! melainkan lebih banyak melamun tidak ikut mengobrol sama yang lainnya, padahal Renita dan Aisyah juga Ibu serta mertua! sangat asyik mengobrol kesana kemari.


"Nisa kenapa, kok banyak melamun? apa ada yang dipikirkan!" tanya sang kakak sembari menyentuh tangannya Anisa.


Anisa langsung menoleh dan menggelengkan kepalanya. "Tidak Kak, aku tidak memikirkan apa-apa! hanya ... kepikiran nanti saja ketika resepsi."


"Beneran gak ada yang dipikirkan? kalau ada juga ngomong aja sama kita, kali aja dapat solusi atau setidaknya tidak terlalu dipendam sendiri. Iya kan Kak Aisyah?" Renita menoleh pada Aisyah dan Anisa bergantian.


"Kak Renita benar, kalau ada yang dipikirkan ngomong aja sama kita. Jangan sungkan-sungkan walaupun tidak dapat solusinya, setidaknya ... dada Anisa merasa lega!" timpal Aisyah sembari mengangguk.


Anisa menunjukkan senyumnya ke arah mereka berdua, saya berkata. "Tidak ada kok ... tidak ada yang di pikirkan, aku hanya capek aja!" Anisa terus mengelak. Sebenarnya dia ingin cerita apa yang telah dia lihat tadi, kepada Aisyah dan Renita! tapi nggak enak sama sang ibunda dan juga ibu mertua.


Hingga akhirnya Anisa hanya terdiam dan bungkam. Menyembunyikan yang dia rasakan.


Sebelum sampai rumah, Ibu Farida dan Aisyah memutuskan untuk pulang dan dia turun di perempatan jalan saja dan mereka naik taksi untuk pulang ke kediamannya.


"Kenapa gak ke sana dulu balik lagi ke rumah ibu?" Anisa menatap pada kedua wanita yang sangat disayangi itu ibunda dan Aisyah.


"Nggak lah ... sebaiknya kita pulang saja, dari sana juga pasti naik taksi mendingan naik di sini aja, sebelum nyampe ke sana jauh lagi." Balasnya sang Bunda sembari memeluk Anisa.


"Iya Nisa ... mendingan kita terpisah di sini saja mumpung tuh banyak taksi, kalau ke rumah dulu harus pesan lagi!" tambahnya Aisyah.


"Iya ... Padahal kita balik aja ke rumah sama-sama, tadi juga kita pergi sama-sama dari rumah!" begitu kata ibu Bella yang ditujukan kepada Bu Farida dan Aisyah.


"Tidak apa-apa, Tante ... kita berpisah di sini aja mumpung ada taksi dan nggak sulit lagi untuk pesan!" Aisyah menunjuk pada taksi yang ada beberapa tampak terparkir.


"Ya ... sudah kalau begitu, hati-hati ya. Sampai ketemu lagi nanti!" tutur Bu Bella.


"Oke sampai jumpa lagi Tante dan Kak Aisyah!" ucap Renita sambil merentangkan tangannya untuk memeluk Aisah dan Bu Farida.

__ADS_1


"Sampai jumpa lagi Kak Renita ... kita akan berkumpul nanti di acara nya Anisa!" balasnya Aisyah sambil berpelukan sebentar.


"Sampai ketemu nanti ya Dek!" kata Aisyah kepada Anisa.


"Iya Kak berapa hari lagi aku akan ke sana!" Anisa mengangguk pelan dengan bibir tersenyum tipis.


Lalu kemudian ... bu Farida dan Aisyah menaiki taksi, dia mau pulang setelah fitting dan makan siang bersama.


Setelah taksi yang membawa Ibu Farida dan Aisyah menghilang dari pandangan, mobil yang di supir kan mang Pei pun langsung melaju dengan kecepatan sedang, menuju rumahnya Pak Lukman yang kebetulan sudah tidak terlalu jauh lagi dari perempatan tersebut.


Dan setibanya di rumah, Anisa langsung naik ke kamarnya untuk beristirahat sebentar. Sebelum nanti sore siap-siap katanya mau diajak makan malam oleh Pramana di luar.


Begitupun dengan Renita dia tampak sangat capek dan dia masuk ke dalam kamarnya juga.


...----------------...


Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan sedang yang dikendarai oleh Pramana yang pulang dari kantornya. Melaju di jalan raya yang tampak ramai dengan pengendara lainnya.


Sebisa mungkin Pramana menolaknya. Lagian tidak ada lagi yang harus dibicarakan.


Tapi di ujung telepon ada kata-kata yang sedikit mengancam dan membuat Pramana kepikiran. Yaitu kalau Adisty akan datang ke rumah Anisa dan akan meminta Anisa untuk melepaskan Pram apa yang bisa kembali kepadanya.


Sungguh kata-kata itu mengganggu hati Pramana, sehingga dia menjanjikan. Oke akan bertemu lagi tapi tidak hari ini, sebab ia sedang punya acara penting.


"Bisa gawat kalau dia datang ke rumah dan bicara kepada Anisa seperti itu, gimana perasaan Anisa? Baru saja kami mau membuka lembaran baru! ada aja godaannya!" gumamnya Pramana sembari memutar kemudi dengan pandangan yang fokus ke depan.


"Apa aku harus bicara aja kali ya? sama Anisa, tentang kepulangan Adisty dan mengajak ku untuk kembali, tapi aku sendiri tidak sama sekali. Berniat untuk kembali sama Adisty! apalagi bila harus meninggalkan Anisa, rasanya itu tidak mungkin." Pramana bermonolog sendiri, dia menjadi bingung antara jujur dan berusaha menutupi.


"Tapi kalau di tutupi ... aku akan selalu diteror dan pada akhirnya lagi Dan lagi aku sembunyi-sembunyi menemui Adisty. Ini harus jujur atau gimana, apa Anisa bisa mendengar penjelasan dari ku?" beberapa kali kepala Pramana menggeleng pelan. Kebingungan sendiri antara jujur dan terus menutupi.


"Kalau kamu bohong tidak menemui aku besok atau lusa. Lihat saja, kalau aku bisa nekat melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan. Aku cinta sama kamu Pram ... aku sayang sama kamu, sampai saat ini juga. Aku pulang untuk kamu Pram!"

__ADS_1


Itu chat dari Adisty yang baru saja masuk, sejenak Pramana terdiam dan terbengong-bengong membaca chat tersebut lalu dia buru-buru menghapusnya.


Sementara waktu ... Pramana menghentikan mobilnya di pinggiran jalan, dia memeluk setir dan melamun. Memikirkan perkataan dari Adisty barusan yang penuh dengan ancaman.


"Huuh .." Pramana menggelembungkan pipinya lalu membuang nafas dari mulutnya tersebut.


"Tidak, aku tidak boleh terkecoh dengan omongannya Adisty. Tidak boleh terpengaruh, setelah dia meninggalkan ku. Emangnya dia peduli pada ku, dulu aku terluka. Kecewa karena kehilangan dirinya." Kemudian Pramana pun memutar kembali kemudi nya, lalu melajukan si roda empat kesayangannya itu terus menuju pulang.


Dan setibanya di rumah ... Pramana langsung masuk, melalui pintu utama. Bertemu dengan sang Bunda yang sedang menata bunga di atas meja.


"Sudah pulang Pram ..." sapa sang Bunda ketika melihat petanya memasuki ruangan tersebut.


"Assalamu'alaikum ... Iya, Bu ... Anisa di mana?" sahutnya Pramana langsung menanyakan sang istri yang tidak nampak di ruangan itu.


"Wa'alaikum salam ... Anisa ada di kamarnya, barusan sih dari dapur, membantu bibi memasak!" jawabnya sang Bunda sembari menunjuk ke arah anak tangga dengan dagunya.


"Ya sudah ... aku naik dulu ya, Bu ... pengen bersih-bersih badan ku terlalu gerah!" pamitnya Pramana untuk naik ke lantai atas.


"Hooh, mandi sana!" sang ibu pun mengangguk pelan.


Pramana membawa langkahnya yang lebar menuju lantai atas dan berhenti di depan pintu kamarnya, dengan perlahan dia memegang handle pintu lantas mendorongnya ke dalam.


Tampak Anisa tengah berdiri di dekat jendela dan yang dilakukan ialah menutup gorden, menoleh ke arah Pramana dan menyambutnya dengan senyuman.


"Assalamu'alaikum. Sayang sudah tampak cantik nih istri aku!" Pram menyimpan tas nya di atas meja lalu menghampiri sang istri yang berada di dekat jendela.


"Wa'alaikum salam ... aku nggak denger suara mobil mu," Anisa meraih tangan Pramana lalu di ciumnya penuh hormat.


Lalu kemudian Pramana memeluk Anisa yang sangat erat, mencium kening dan pipinya bergantian dan tampak sangat gemas sekali ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Kalau ada typo tolong segera kasih tau ya, Sebenarnya aku malu, kok aku typo terus sih membuat reader ku kebingungan🙏


__ADS_2