
Perlahan Anisa membuka kedua manik matanya melihat suasana kamar dan kondisi kamar dengan lampu yang masih temaram! lalu dia menajamkan pandangannya ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 04.30.
Anisa menggosok kedua manik matanya yang masih terasa sepet dan ngantuk. "Huam ..."
Melirik sebelah kiri, dimana Pramana tampak masih terlelap dengan bertelanjang dada, tangan sebelah melipat ke belakang menambah bantal di belakang kepalanya. Mengekspos bulu ketiak yang sedikit panjang.
Anisa tersenyum lalu mendekati seraya berkata dengan pelan. "Hei bangun? mantan kekasih mu sudah menunggu bangun bangun?"
Suara Anisa didekatkan ke dekat telinganya Pramana dan dengan nakalnya jemari Anisa menjepit hidung Pram yang mancung.
Beberapa saat Pramana tetap bergeming, membuat bibir Anisa semakin tersenyum lebar karena mendapat ide untuk mengganggunya pria yang berada di sampingnya.
Jari Anisa bergerak ke ketiaknya Pram dan dia mencari satu lembar bulu ketiak pria tersebut, dengan tanpa ragu ia mencabutnya.
"Auwh!" teriak nyebrang sembari menggerakkan tangannya dan mengusap ketiak yang terasa panas dan sakit.
Membuka matanya lebar-lebar melihat ke arah Anisa yang tersenyum mengembang. "Sayang kok buat apa sih aku ini tega-teganya ganggu orang yang masih ngantuk!" suara perang begitu parah dan lemas.
"Masih ngantuk apaan? subuh nih ... bangun?" Anisa merindukan dirinya sembari dengan cepat menutupi dadanya dengan piyama yang mulanya terbuka!
Anisa terdiam dan bengong, mengingat-ingat memutar memorinya kejadian apa saja semalam?
Pramana hanya menyeringai melihat ekspresi wajah Anisa, yang seakan-akan sedang berpikir dengan kedua tangan berada menutupi dada serta tampak sedikit kebingungan.
"Kenapa kayak orang bingung begitu?" tanya Pram sambil dia juga mendudukan dirinya dan bersandar di bahunya tempat tidur, dibarengi dengan bibir yang terus menyungging terlihat bahagia sekali.
"Kamu kenapa senyum-senyum? kayak orang dapat lotre saja." Anisa menatap curiga sembari mengancingkan piyamanya dengan rapi.
"Nggak, cuman senang aja dan bahagia karena sudah dapetin kamu--"
"Maksudnya?" Anisa merasa heran kalau dia mengajak sesuatu yang ada dalam dirinya, nggak ada yang beda.
"Maksud aku ... bahagia saja karena sebentar lagi kita akan mengadakan resepsi dan terima kasih kamu sudah percaya padaku!" Pram menggenggam tangan Anisa.
"Siapa bilang? aku masih marah kok sama kamu, aku kecewa kamu sudah gak jujur sama aku begitupun ayah sama ibu! nggak pernah bilang Adisty datang ke sini tempo hari." Anisa melipat kedua tangannya di dada.
Pram menatap lembut pada sang istri. "Kok gitu sayang, sudah dong ... jangan marah lagi, kan aku juga sudah berniat untuk mengatakan yang sebenarnya! hanya butuh waktu saja dan mungkin ayah sama ibu tidak ingin kamu merasa gimana-gimana!"
"Cepat mandi sana, ke masjid!" Anisa langsung turun dari tempat tidurnya mendekati gorden lalu membukanya.
__ADS_1
Pram pun segera menapakkan kedua kakinya di lantai. Kemudian Pramana mendekati Anisa yang sedang berdiri dekat jendela memandangi ke arah luar di mana malam bergantian pagi yang sejuk, dingin menusuk hingga ke tulang.
Tanpa aba-aba, Pramana langsung menggendong tubuh Anisa, ala bridal style sehingga tubuh Anisa melayang di udara di bawanya ke dalam kamar mandi.
Anisa yang merasa terkesiap dan hampir spot jantung dibuatnya, berusaha berontak menggerakkan kaki dan juga tangannya meminta diturunkan.
Tetapi Pramana tidak mengindahkan permintaan dari Anisa, dia terus saja berjalan dan mendorong pintu kamar mandi dengan kakinya.
Pram menurunkan tubuh Anisa di dalam bathub dan langsung mengisi tempat itu dengan air. juga mempercepat aliran airnya agar lebih mudah untuk penuhnya.
Anisa bergegas bangun dan berdiri. "Aku mau keluar dari sini aku belum mandi kamu aja duluan mandinya mau ke masjid!"
Namun di tahan kedua tangan Pram. Sehingga Anisa terduduk kembali di tempat, Pram pun dengan cepat masuk ke sana.
"Kita akan mandi bareng! apa salahnya sih kita mandi bareng? orang sudah suami istri kok! di ranjang aja sudah saling melihat apa yang kita punya!" ucapnya Pram sembari memegangi tangan Anisa agar tidak beranjak dari tempat itu.
"Siapa bilang? aku pernah melihat dirimu, nggak pernah!" Anisa mengalihkan pandangannya ke samping bathub.
"Oh ya! belum pernah ya? ya sudah aku perlihatkan sekarang ya, ha ha ha ..." Prama siap menurunkan sesuatu.
Langsung dicegah oleh Anisa. "Jangan-jangan, nggak perlu! aku nggak mau lihat! iiyyy ..." Anisa bergidik geli.
Ini kali pertamanya Pram dan Anisa berada di dalam satu kamar mandi. Serta menjadi saksi keduanya saling siram air satu sama lain, kadang sesekali Pram melepas h*sra*nya untuk sekedar bermesraan.
Pada akhirnya saat itu Pramana tidak pergi untuk berjamaah bersama yang lain, melainkan mandi berjamaah bersama istri untuk pertama kalinya.
Kini keduanya sudah tampak rapi dengan pakaiannya masing-masing, mengeringkan rambutnya bergantian dengan menggunakan hair dryer biar lebih cepat kering.
Setelah itu Anisa langsung turun untuk membuatkan Pramana susu jahe sebelum membuat kan sarapan.
"Aku mencium bau-bau yang lebih romantis nih, dari semalam hujan-hujanan ... terus di kamar mandi basah-basahan kali ya! dan sekarang tampak segar sekali, wangi sabun, shampo ... minyak wangi. Bercampur menjadi satu masuk ke dalam rongga hidung aku ini!" godanya Renita sembari mendengus mencium aroma tubuh Anisa.
Anisa mengulas senyumnya yang ia perlihatkan kepada Renita wanita yang tengah hamil besar itu terus saja menggodanya. "Kak Reni ini apa-apaan sih ...."
"He he he ... Mbak mau belah duren nih apa Sudah nih?" goda Renita dengan suara yang lebih pelan.
"Apaan sih Kak? ya belum lah ... gimana sih?" kepala Anisa sedikit menggeleng, lalu tangannya geprek jahe yang sebelumnya ia bakar terlebih dahulu, biar aromanya lebih enak.
"Ngomong-ngomong dia memaksa gak?" lagi-lagi Renita menggoda Anisa.
__ADS_1
Namun kali ini Anisa tidak meresponnya lagi, selain menggelengkan kepalanya kalau fokus dengan menyeduh susu jahe.
Begitupun dengan Renita yang kini dia menyiapkan kopi untuk sang suami.
Anisa langsung membawa susu jahe nya ke atas, dia suguhkan pada Pramana yang ternyata sedang berolahraga dengan alatnya.
"Ini susunya, mumpung masih hangat." Anisa simpan tidak jauh dari keberadaan Pramana.
"Mau ke mana? nggak mau nemenin suaminya dulu?" tanya Pramana ketika melihat Anisa yang langsung ngeloyor kembali meninggalkan dirinya lagi.
Kepala Anisa menoleh seraya berkata. "Aku mau masak dan aku juga, sekalian mau ke tukang sayur! apa kamu mau ikut?"
"Nggak sih, baiklah ... masuk yang enak ya!" Pram mengangkat tangannya di udara, Anisa hanya tersenyum lalu melanjutkan kembali langkahnya keluar dari ruangan tersebut.
Setibanya di dapur, Anisa langsung mengeksekusi apa yang akan dia buat sarapan untuk suaminya Pramana.
Anisa pun menyuruh Bibi untuk memesankan bahan-bahan untuk masak makan siang nanti.
"Oh ya Bi, apa Bibi tahu sesuatu?" akhirnya Anisa bertanya kepada bibi, sebab siapa tahu bibi tahu suatu tentang datangnya Adisty ke rumah tersebut.
"Sesuatu apa Neng?" Bibi melarutkan keningnya sembari memegang uang dari Anisa untuk belanja.
"Em ... apa Bibi tahu kalau tempo hari ... Adisty datang ke rumah ini?" Anisa sedikit ragu-ragu sambil mencuci suatu wastafel.
Degh.
"Eeh ... Neng tahu dari mana? kalau mantannya aden datang ke sini? Bibi malah balik bertanya.
"Bibi jawab saja, tahu kan?" tanya kembali Anisa yang langsung Bibi merespon dengan anggukan.
Anisa menghela nafas dalam-dalam, rasanya dada kembali terasa sakit dan sesak bagai tak ada ruang untuk dia bernafas. "Kenapa Bibi gak bilang sama aku?" Anisa menatap pedih.
"Eh ... Bibi Rasanya tak ada hak untuk mengatakannya Non Eh Neng, Bibi pikir nanti juga eneng akan tahu dari Aden! lagian itu cuma masa lalu, sekarang Aden kan sudah jadi suami Neng. Bahkan pernikahan kemarin yang hanya di atas kertas karena neng sedang hamil, sekarang sudah lebih sah! Neng percaya saja sama Aden! karena Aden akan menyayangi istrinya lebih dari kekasihnya, Neng!" ungkapnya Bibi dengan sangat panjang.
Anisa menatap ke arah Bibi sambil menelan Saliva nya yang terasa kering di tenggorokan ....
...🌼---🌼...
Makasih ya atas dukungannya dari kalian semua.
__ADS_1