
Anisa kini sedang menyetrika di lantai atas, dan sesekali hilir mudik ke kamar untuk menyimpan pakaian yang sudah rapi, selepas itu dia menyiapkan untuk makan malam.
"Ibu, untuk makan malam ini biar Anisa yang masak dan juga bibi. Ibu nggak usah capek-capek turun, nanti aja kalau udah siap Ibu cicipi enak atau enggaknya masakan Anisa." Kata Anisa kepada sang ibu mertua yang sedang memotong bermacam sayuran sebab mau bikin sayur lodeh.
"Masakan Anisa itu tidak usah dicicipi lagi, sudah pasti enak kok. Naiklah kalau begitu Ibu akan bersantai saja di depan. Sambil menyiram bunga!" ucap sang ibu mertua dengan lirih lalu dia ngeloyor ke luar melalui jalan belakang.
Anisa melihatnya dengan senyuman di bibir. Kemudian dia memotong sayuran yang tadi ibu mertua mau potong-potong.
Anisa ditemani oleh bibi yang lagi sibuk juga, sedang membuat tempe mendoan kesukaan Pak Lukman dan ibu.
Saking asiknya berkutat dengan masakannya, sehingga Anisa tidak mendengar suara mobil Pram yang sudah kembali pulang.
Lewat pintu depan, Pramana berjalan dengan gontai sambil menenteng tas kerjanya. Tangan kanan menarik dan melonggarkan dasi yang masih terpasang di lehernya.
Bibir Pramana langsung tersenyum, melihat Anisa yang sedang berkutat di dapur dan bergelut dengan wajan dan sodet serta bumbu dapur. Lalu menoleh pada bibi yang sedang tersenyum padanya dan Pramana langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir, agar bibi tidak berisik dan juga menunjuk ke arah Anisa yang tampak anteng memasak.
Pram berjalan mengendap-endap. "Jangan berisik, nanti Nisa melihat!" Gumaman Pram yang tidak terdengar yang di tujukan pada bibi yang mengangguk pelan.
Pramana dengan sangat pelan dan hati-hati menyimpan tas dan juga membuka jas yang dia simpan di kursi dekat meja maka,n dengan pandangan mata yang mengarah pada Anisa yang sedang memunggungi.
Langkah Pramana semakin mengendap, lalu dia berdiri di belakang Anisa lantas memeluknya dari belakang.
"Ach!!" Anisa memekik kaget dan langsung menoleh ke arah belakang seiring dengan suara. Pria yang memeluknya itu.
"Sayang ini aku!" Pramana semakin mengeratkan pelukannya.
"Astagfirullah ... bisa-bisanya buat aku jantungan, kenapa sih bikin kaget orang aja? ucap salam kek, bicara apa kek Bikin orang spot jantung aja," Anisa mengelus dadanya yang merasa Shock. Takut orang jahat.
"Bibi juga bukannya ngomong deh ... kalau ada Pram, kok nggak bilang-bilang sih?" Anisa menoleh bibi yang cengar-cengir tidak berdosa.
"He he he ... aden yang minta agar bibi jangan bilang-bilang, Neng!" timpalnya bibi.
"Kamu ich! emangnya mau kalau aku jantungan ha?" Anisa menepuk tangan Pram yang melingkar erat di perutnya.
"Nggak," cuph Pram mencium pucuk kepala Anisa.
"Lepasin, malu!" pinta Anisa sambil melirik ke arah bibi yang kini sedang memasak tumis oncom.
"Emangnya kenapa?" Tidak serta merta melepaskan pelukannya pada sang istri.
"Aku sedang masak. Nggak lihat apa?" Anisa mencoba memudarkan tangan Pram yang terlalu kuat.
"Baiklah ... akan aku lepaskan, tapi minta ini dulu!" Pram menunjuk pipi-nya, dengan artian meminta ciuman dari sang istri.
"Iih ... apaan sih? nggak malu apa sama Bibi!" Anisa mendelik kan matanya ke samping.
__ADS_1
"Biarin aja, Bibi juga ngerti kok ya kan Bi?" Pramana melirik ke arah Bibi sambil tersenyum.
Dan Bibi hanya mengangguk serta menunjukkan giginya yang putih.
"Tuh, kan ... Bibi aja ngerti, ayo cepetan kalau mau aku lepaskan! kalau nggak mau ... ya udah, gak bakalan melepaskan nih!" Pramana semakin mengeratkan rangkulannya.
Dengan malu-malu, Anisa pun mencium pipi kiri Pramana yang sudah disodorkan oleh sang empu, kemudian minta di cium yang satunya lagi. Lalu Anisa pun menurutinya sehingga Pramana melepaskan rangkulan nya di tubuh Anisa.
"Sana ach mandi," ucap Anisa sambil menepuk bahu Pram dan mengulum senyumnya malu-malu.
"Mau di mandiin ..." Pram dengan gaya manjanya.
Anisa mendelik. "Apaan sih ...."
"Kalau mau mandiin, Aden juga nggak apa-apa Neng. Biar aja Bibi yang handle!" ucap bibi sambil tersenyum.
Mendengar perkataan itu dari bibi membuat, kedua manik Anisa semakin mendelik melotot dengan sangat sempurna pada Pramana.
Sedangkan Pramana hanya terkekeh sambil berjalan menenteng tas dan jas nya menaiki anak tangga.
Anisa pun melanjutkan kembali aktifitasnya yang tertunda barusan.
Kini Anisa menonton televisi bersama ibu mertua dan bibi juga, di kamar pun ada televisi. Tapi di sana cuma nonton sendirian! tidak ada teman karena Pram setelah makan malam dia tampak sibuk dengan laptop nya.
"Apa Nisa sudah buatkan susu hangat buat Pram?" tanya ibu Bella.
"Mungkin sekarang sudah mengurangi minuman hangat Bu, secara kan sekarang sudah ada yang asli, pabrikan itu ha ha ha ..." ucapnya pak Lukman yang sedang duduk di pojokan membaca buku.
"Ayah bisa aja, itu mah buat ... buat nanti sebelum tidur. Kalau sedang sibuk tuh ... minum hangat bikinan dulu, jangan dulu yang pabrikan yang ada mengganggu pekerjaan hi hi hi ..." Timpalnya sang istri sembari menoleh.
Anisa melongo, dia tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh kedua mertuanya. Namun lama-lama setelah dicerna dia mengerti apa yang dimaksud oleh mertuanya tersebut membuat wajahnya merah merona.
Bibi yang mengerti dengan obrolan kedua majikan yaitu. Hanya cengengesan.
Kemudian Anisa beranjak mau membuatkan susu jahe untuk sang suami,
Tidak lama kemudian. Anisa menaiki anak tangga dengan membawa nampan kecil berisi satu gelas susu jahe yang masih mengepul berasap. Kepala Anisa celingukan mencari keberadaan Pramana yang kalau tidak salah tadi dia duduk di ruang tengah, lantai atas tapi sekarang tidak ada.
"Kemana dia? tadi duduk di sini, apa dia sudah tidur?" gumamnya Anisa.
Kemudian Anisa membawa langkahnya ke kamar. Blak ... Rupanya Pramana sudah berada di kamar, sedang duduk di atas sofa dan masih tampak sibuk.
Langkah Anisa yang teratur mendekati Pramana, berjongkok menyimpan gelas di meja, di hadapan Pram. "Ini susunya, maaf aku lupa! keasikan nonton sama ibu!"
Pram melirik dengan dingin, membuat Anisa merasa tidak enak hati apakah Pramana marah kepadanya sehingga dia terasa dingin.
__ADS_1
"Kan di kamar ada TV, kenapa harus nonton di bawah? lagian suami juga ada di sini!" Kata Pramana sambil kembali mengarahkan pandangannya ke arah layar laptop.
"Kan di kamar nggak ada temen ..." Kata Anisa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. "Kamu juga tadi duduknya di ruang tengah, bukan di kamar!"
"Kan bisa bilang sama aku, Yank ... duduknya di kamar yo? sama aku mau nonton, kan bisa bicara begitu." Tambah Pramana tanpa menoleh.
Anisa menunduk dalang dengan posisinya yang masih berjongkok di lantai. "Tadi ... aku takut mengganggu, gak berani mengajak kamu ke kamar nemenin aku nonton. Sebab aku tahu kamu sedang sibuk."
Pramana menoleh ke arah Anisa yang masih berjongkok di lantai dengan ekspresi wajah yang sendu. "Kenapa berjongkok di sana? berasa raja dengan dayangnya saja, bangun dan naik?" Pramana bawa Anisa dan diangkatnya agar dia duduk sama dia di sofa.
"Kamu marah ya?" setelah duduk Anisa mirip sekilas dan bertanya.
Pramana menatap wajah Anisa dengan lekat dan tangannya menggenggam tangan Anisa dengan erat. "Iya aku marah sama kamu, habis dari tadi aku dibiarkan sendirian. Seharusnya kamu temani aku sejak tadi selesai makan."
"Lho, kamu kan nggak bilang. Lagian aku takut nanti kamu bilang mengganggu lagi seperti kemarin-kemarin!" lirihnya Anisa.
"Itu kan lain sayang ... sekarang kamu udah benar-benar istri ku yang dimana ada aku harus ada kamu--"
"Cie ... So sweet ... nya!" Nisa menautkan kedua tangannya di depan dada.
"Sayang, aku tidak bercanda!" Pramana menyentuh pipi Anisa dengan lembut.
Kemudian Pramana menutup laptop nya, kebetulan hari sudah malam. Kini kesibukannya beralih pada Anisa. Mengajaknya untuk tidur setelah meneguk minuman susu jahe nya.
Dia kini sibuk memeluk sang istri dan mencumbu nya dengan mesra, barusan meneguk susu jahe dan sekarang waktunya meninjau pabriknya langsung pengantar tidur, melewati malam menjemput pagi.
...---------...
Di suatu hari di sebuah taman yang indah, terdapat danau kecil dan di sampingnya tumbuhan bermacam bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Tampak indah dan sedap dipandang mata, di sana ada seorang wanita cantik berambut panjang dibiarkannya tergerai, yang sedang duduk termenung sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
Kepalanya celingukan, dia tampak gelisah menunggu seseorang yang katanya akan datang. Sesekali dia melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya. "Ke mana sih ... kok belum datang juga?"
Adakalanya kakinya pun bergoyang-goyang untuk mengusir kepenatan, kejenuhan dalam sebuah penantian.
"Adis?" suara bariton itu terdengar dari belakang si gadis cantik tersebut.
Adisty pun menoleh ke arah belakang, dia tampak shock dan bahagia. Melihat orang yang dia nantikan berada nyata di depan mata.
"Pram?" Setelah puas memandangi pria tersebut beberapa saat, Adisty gegas memeluk pram penuh rasa haru biru.
Sejak sekian lama tidak bertemu. Akhirnya mereka bertemu kembali dan melepas rindu ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak sebagai duku ngan dan memberi semangat, terima kasih reader ku.