
Tidak terasa waktu pun sudah semakin malam dan pada akhirnya mereka memasuki biliknya masing-masing, untuk beristirahat dan besok pagi akan bersiap-siap untuk memenuhi undangan Pak Lukman dalam rangka pernikahan putranya yang bernama Pramana.
...--------------...
Sementara di sebuah rumah mewah kediaman Pak Lukman. Tampak berhiaskan bunga-bunga yang di dekor, pelaminan yang indah dengan konsep modern. tenda yang luas dan kursi tamu yang rapi. Selayaknya tempatnya pesta pernikahan yaitu akan digelar hari esok pukul sebelas.
Tidak sedikit orang-orang yang berlalu lalang di sana sebagai pekerja dari pihak WO dan juga keluarga dekat.
Di ujung tenda tersebut ada seorang pemuda tampan dan berbulu halus di rahangnya, tengah berdiri menatap ke arah pelaminan.
Dengan bibir yang tersenyum bahagia serta membayangkan jika di sana dia dengan pasangan, berdiri menyambut para tamu yang mengucapkan selamat serta doa suci serta turut bahagia untuk mereka berdua.
Senyuman di bibirnya langsung memudar, di saat terdengar suara sang Bunda memanggil namanya.
"Pram, kau di sana Ibu mencari mu dari tadi!" suara sang Bunda yang bernama Ibu haji Bella sembari menghampiri putranya yang tengah melamun sendirian.
Pramana menolehkan kepalanya ke arah sang Bunda. "Iya Bu ... ada apa? aku memang dari tadi berada di tempat ini."
"Itu Ayah, katanya pengen bicara!" sambungnya sang Bunda sembari mengusap punggung puteranya yang berwajah tampan dan sekilas tampak dingin.
"Aku hanya mendinginkan pikiran ku saja, Bu ... dan memikirkan ternyata sebentar lagi aku akan melepas masa-masa lajang ku. dengan orang yang sangat aku cintai akhirnya, kesampaian juga untuk hidup bersamanya!" lirihnya Pramana sembari mengulas senyumnya.
"Alhamdulillah ... Ibu pun ikut bahagia dengan kebahagiaanmu ya sudah, kita masuk yuk tidak baik di sini melamun sendirian." sang Bunda menggandeng tangan Pramana dan diajaknya untuk masuk ke dalam rumah mewah disebut.
Langkah Pramana terhenti setelah melintasi pintu utama dan dia mengedarkan pandangannya ke arah lantai atas. Dari mulai anak tangga sampai ujung tangga paling atas.
"Ayo nak ..." sang bunda menarik tangan putranya kembali.
"Oh, iya Bu." Pramana mengangguk pelan lalu kembali mengayunkan langkahnya mengikuti langkah sang bunda.
Kini mereka sudah sampai di sebuah ruangan, dimana sang ayah dan keluarga lain sedang berkumpul. Pramana duduk di samping sang ayah diikuti oleh sang Bunda.
__ADS_1
"Dari mana kamu Pram? sedari tadi tidak kelihatan." Sapa sang ayah yaitu pak Lukman.
"Aku ada di area pelaminan, sedari tadi juga nggak kemana-mana!" jawabnya Pramana sembari tersenyum.
"Gimana, calon mempelai wanita mau jam berapa dari sana datangnya?" selidik sang ayah kepada Pramana.
"Rencananya jam 06.00 berangkat dari sana satu jam kemudian nyampe ke sini dan di sini siap-siap, lebih leluasa kalau berangkat jam 06.00. Biar gak kena macet, nggak akan menyita waktu lah!" jawabnya Pramana sembari mengambil sebatang rokok yang ada di meja.
"Lah adek aku mau jadi pengantin juga. Setelah sekian lama sekian tahun sekian apa ya menunggu! ha ha ha ..." kata Andre, sang kakak yang baru saja mengeluarkan suaranya.
"Namanya juga jodohnya baru sekarang. Lagian buat apa terburu-buru! kalau itu bukan yang terbaik karena menikah itu menyatukan semua yang berbeda antara dua orang." Jawabnya Pramana.
"Saya juga nyesel deh baru kepikiran sekarang kalau menikah itu bikin saya menyesal--"
"Apanya menyesal? kamu menikah denganku menyesal? potong sang istri kepada Andre.
"Iya, saya menyesal, menyesal kenapa nggak dari dulu gitu. Menikahnya, bukan apa-apa. Sudah ditekuk saja itu wajah." Jawabnya Andre sambil tersenyum.
"Adisty itu ... setahu ku ada tawaran kerja di keluar kota. Dan itu kesempatan yang sangat baik bagi dia sebagai pemula! apakah kau akan mengijinkannya?" celetuk Andre kepada Pramana.
Pramana mengurutkan keningnya dia sama sekali tidak tahu soal itu. "Aku nggak tahu soal itu, mungkin dia belum cerita!"
"Oh, mungkin nanti kali ... kalau sudah menikah dia cerita itu." tambahnya lagi Andre.
"Mungkin, setahu aku sih memang banyak tawaran untuk menjadikan dia sekretaris--"
"Itu sih pasti, soalnya dia kan cantik Smart, body nya juga memadai. Jangankan perusahaan menjadikan sekretaris, untuk menjadikannya artis pun kemungkinan besar bisa aja!" timpalnya Andre.
"Ayah harap ... setelah menikah, tinggal saja di sini, toh di sini rumah juga luas. Nanti kalau ditinggalkan nggak ada penghuninya! kami juga sudah tua dan putra kami cuman kalian berdua!" ucap sang ayah menatap ke arah keduanya.
"Hooh. Andre sudah punya rumah, yang otomatis tidak tinggal di sini dan harapan ibu juga ayah satu-satunya adalah kamu Pram yang bisa tinggal di sini bersama istrimu," tambah sang Ibunda.
__ADS_1
"Bila perlu istri mu seandainya mau bekerja, di dekat sini saja jangan jauh-jauh jadi bisa tinggal di sini juga." Timpalnya Pak Lukman.
"Maunya seperti itu ya, Bu ... tapi kalau maunya habis menikah tinggal di sana, ya ... otomatis aku pun tinggal di sana atau setidaknya bolak-balik berapa hari di sana dan berapa hari di sini!" jawabnya Pramana sembari menyesap rokoknya.
"Tapi kalau menurut ku sih ... Adisty nggak bakalan mau tinggal di sini, soalnya jauh dari tempat kerja." Kata Andre sambil membuang puntung rokok ke dalam tempatnya.
"Kok ... kamu lebih tahu Adisty sih? ketimbang calon suaminya!" protesnya Renita istri dari Andre.
"Bukan begitu sayang ... karena bagaimanapun kita sering ketemu dalam pekerjaan, wajarlah tahu!" jawabnya Andre sambil melirik ke arah sang istri.
"Tapi maunya Ayah dan ibu itu ... istri kamu bisa tinggal di sini, itu saja!" tambah sang ayah.
"He'em, aku mau istirahat dulu. Lagian sudah malam." Pramana beranjak dari duduknya namun sebelumnya dia mematikan dulu rokok yang masih setengahnya itu.
Semua yang berada di tempat itu pun memasuki kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Biar besok pagi bisa bangun dengan segar dan mempersiapkan diri untuk acara pernikahan.
Pramana membawa langkahnya yang lebar menaiki anak tangga, yang kanan kirinya dihiasi dengan bunga-bunga yang berwarna putih yang dengan kombinasi warna hijau dan biru.
Bibir Pramana terus mengulas senyuman seiring dengan perasaannya yang teramat bahagia, yang tinggal menghitung waktu akan pernikahannya dengan sang kekasih yang bernama Adisty.
Langkahnya Pramana terhenti setelah berada di dalam kamarnya yang cukup luas, dan juga sudah didekorasi menjadi sebuah kamar pengantin yang sangatlah cantik.
Kemudian dia duduk di atas sofa seraya mengeluarkan ponsel, dengan niat mau menelepon sang kekasih untuk memperlihatkan gimana indahnya kamar mereka berdua.
Ditelepon, tersambung tapi tidak diangkat lalu Pramana chat dan mengirimkan gambar suasana kamarnya, setelah mengambil gambar kamar tersebut. Dengan hiasi dengan kata-kata yang penuh rayuan ....
...🌼---🌼 ...
Mana nih like komen dan dukungan lainnya. Makasih
__ADS_1