Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Tidak lebih


__ADS_3

Menjelang subuh, Anisa pun terbangun dan dia melihat kanan dan kiri, di belakangnya masih juga ada Pramana dengan pelukan yang tidak pernah pudar sampai sekarang masih mengunci.


Anisa bangun dan berusaha menyingkirkan tangan Pramana, namun berat dan sulit untuk di angkat. "Pram ... aku pengen bangun," suara serak-serak basah Anisa sembari menoleh pada Pramana.


Pramana pun bergerak menarik tangannya dari pinggang Anisa. "Hem ... kenapa sih ... Berisik banget? masih ngantuk juga," gumamnya Pram yang malah kembali meraih dan memeluk tubuh Anisa yang sudah duduk menjadi berbaring kembali.


"Eeh, aku aku mau bangun!" Anisa kesal.


Pramana membuka kedua netra nya yang tidak melepaskan rangkulannya kepada Anisa sedikitpun. Di tatapnya sangat lekat. Dengan tatapan mata yang masih mengantuk.


Dada Anisa kembali dibuat dag-dig-dug pagai bedug yang ditabuh, suaranya tidak karuan ketika melihat wajah Pram mendekat dan Anisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Dengan cepat, tangan itu segera disingkirkan oleh Pramana. Sehingga wajah Anisa kembali terbuka. Kemudian wajah Pramana mendekat dan mendaratkan bibirnya di bibir Anisa.


Nyess ....


Pram mengecup bibir bawahnya Anisa dengan sangat lembut dan menikmati setiap sentuhannya. mulanya menggelikan kenyal-kenyal gimana! dingin. Sejuk, namun menghangatkan. lama-lama mengasyikan, kedua mata Anisa terpejam dan Pram merasa menang.


Kecupan itu berdurasi lama dan membuat detak jantung kedainya semakin melompat-lompat dari tempatnya.


"Mmmm ..." Suara Anisa pelan dengam kedua tangan mejepuk kedua tangan bagian atasnya Pramana.


Cuph. Cuph .... Pram malah asik menyesap benda tipis itu tanpa mengindahkan permintaan Anisa yang ingin bangun.


Darah Pram bergolak panas menjalar ke seluruh tubuh, menimbulkan hasrat yang lebih dan hampir saja sulit Pramana kendalikan, dengan kecupan yang semakin memanas. Tangan Pramana hampir saja traveling ke tempat yang belum pernah dia jamah sebelumnya.


Anisa menangkap tangan Pramana seraya berkata. "Pram jangan? jangan!"


Anisa langsung bangun dan menjauhkan tubuhnya dari Pram. Pram pun bangun menatap kecewa. Namun dia sadar ia tidak boleh melakukan yang lebih dari sebelumnya. Pram duduk menyandarkan dirinya di bahu ranjang beserta nafas yang sangat memburu.


Hampir saja dia lancang, traveling di tempat berharga milik Anisa yang tampak bergerak naik turun.


"Maaf aku nggak sengaja!" Pramana mengusap wajahnya dengan sangat kasar.


Anisa hanya diam tanpa suara melihat ke arah lain. Suasana menjadi hening ... yang terdengar suara dari spiker yang berada di sebelah rumah.


"Oke, aku mandi dulu ya!" Pram turun dari tempat tidur mengibaskan selimutnya.


"Iya, aku mau bikinkan minuman hangat dulu!" Anisa pun turun mau bikin susu jahe, namun sebelumnya dia menyiapkan dulu baju formal Pram yang ada dan sarung buat ke mesjid.


Pram sudah berada di dalam kamar mandi, berdiri di bawah kucuran air hangat. Bugh! Menepuk dinding! entah apa yang dia kesal kan. Dia mendongak ke langit-langit dengan rahang yang mengeras, kedua tangan menempel ke dinding lalu menunduk dengan mata terpejam.

__ADS_1


Anisa kini sedang membuatkan susu jahe, buat Pram sambil melamun sehingga di sapa bundanya dia tidak menyahut.


"Nisa ... Melamun Nak!" sang bunda kembali menyapa.


"Oh, Bunda." Anisa nyengir pada bundanya lalu pergi ngeloyor membawa segelas susu.


Sang bunda hanya tersenyum melihat ke arah Anisa yang menaiki anak tangga.


Anisa masuk ke dalam. Bilik nya di mana Pramana masih mengenakan sarung, melihat ke arah dirinya yang berjalan menyimpan gelas susu di atas nakas. "Minuman hangatnya."


"Makasih sayang," gumamnya Pram sambil mesem dan menunduk.


Anisa menolehkan kepalanya pada Pram yang barusan memanggil sayang, bikin hati Anisa menghangat dan berbunga-bunga lalu wajahnya tersipu malu.


Setelah Pram pergi ke masjid, Anisa gegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri nya namun sebelumnya membereskan semua bekas tidur mereka.


Setelah itu Anisa menyiapkan sarapan lebih pagi, karena buat Pram yang lebih pagi berangkat ke kantornya. Maklum ... Jarak tempuh yang lebih jauh.


Agak siangan Anisa kedatangan sang kakak yaitu Aisyah, kedatangannya di sambut hangat.


"Assalamu'alaikum ... Hai, Nisa Kaka kangen deh ..." Aisyah yang berdiri di teras menatap ke arah sang adik dengan meneliti.


"Wa'alaikum salam ... Kak Aisyah aku juga kangen!" kemudian mereka saling berpelukan untuk melepas rindu.


"Bunda ada di dalam mungkin lagi duha dia, anak-anak mana Kak? Kak Aisyah cuma sendirian datang ke sini?" kini Anisa balik bertanya kepada sang kakak.


"Sendirian aja, habis kangen sama kalian, anak-anak sekolah kan. Makanya siang juga Kakak akan pulang kok ... kasihan anak-anak!" Jawabnya Aisyah sembari berjalan masuk ke dalam rumah.


"Yah ... Bentar dong, di sini nya? Kenapa gak di ajak aja sih mereka dan datangnya sore biar menginap gitu." Anisa mengikuti langkah Aisyah yang langsung datangi kamar sang bunda yang katanya Anisa sedang berada di kamarnya sedang duha.


Benar saja kalau sang bunda berada di kamar nya dan masih menggunakan mukena nya.


"Assalamu'alaikum ... Bunda apa kabar?" Aisyah langsung memeluk bundanya cium pipi kiri dan kanan setelah sebelumnya mencium punggung tangan sang bunda.


"Ya Allah ... mana anak-anak?" Tanya sang Bunda sambil celingukan mencari cucu-cucunya.


"Mereka sekolah, Bunda ... Jadi mereka gak ikut, aku ke sani sendiri aja. Mas Azis pun kerja, aku ke sini cuman kangen aja sama kalian semua. Ayah kerja ya?" Aisyah kembali memeluk sang bunda dengan sangat erat.


"Em ... Sayang sekali mereka nggak ikut ya! bunda juga kangen sama mereka!" Lirihnya bunda Farida.


"Iya benar, mana beberapa hari lagi aku akan kembali ke tempatnya Bu Bella. Kasihan Pram tiap hari pergi kerja dari sini, jauh kan, jarak tempuhnya lumayan jauh." Tambahnya Anisa.

__ADS_1


"Cieleh ... Sayang suami, nggak tega jalan jauh ..." Godanya Aisyah pada sang adik.


"Iya dong Kak ... Kak Aisyah juga gitu gak bakal tega suami pulang pergi kerja dengan jarak tempuh yang jauh. Iya kan Bun?" Anisa menoleh pada sang bunda.


Sang Bunda hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan dari Anisa, bagaimanapun istri gak akan tegas bila suami pulang pergi kerja yang jarak tempuh lumayan jauh, sementara hanya demi untuk berkumpul dengan istrinya.


Mereka bertiga pun berjalan menuruni anak tangga dan biar mengobrol di ruang tengah saja biar lebih santai.


Kini mereka sudah duduk di ruang tengah saling berhadapan, setelah sang Ibu menyediakan minuman dan cemilan.


"Jadi Pram beberapa hari ini menginap di sini?" Selidiknya Aisyah menatap pada sang adik.


"Iya, dia sudah dua entah tiga malam ini, dua katanya!" jawabnya sang adik mengingat-ingat.


"Oh ... gitu, dia tidur di mana?" sang kakak semakin menyelidik. "Apa tidur di kamarku?"


"Tidak, Pram tidur di kamarnya Anisa!" Jawabnya sang Bunda.


"Pram tidurnya di kamar Anisa?" Sang kakak tampak kaget dan menatap curiga ke arah Anisa.


"Em ... Dia tidur di lantai kok, nggak satu tempat dengan ku!" jelasnya Anisa dengan cepat.


Kemudian Aisyah menatap ke arah sang Bunda dengan tatapan datar. "Kenapa Bunda dan ayah membiarkan mereka tidur satu kamar? kan mereka belum sah, bagaimana kalau mereka kena godaan setan?"


"Ayah membiarkan mereka satu kamar ... karena karena ayah yakin kalau mereka pasti punya batasan sendiri kok, Aisyah ... Ayah percaya itu!" Jelasnya sang Bunda kepada Aisyah dengan lirih.


"Tapi kan nggak bisa menjamin kalau mereka nggak ngapa-ngapain. Apa yakin Anisa tidak melakukan sesuatu yang aneh-aneh dengan Pramana?" Aisyah menoleh ke arah sang bunda dan adiknya bergantian.


Aisyah merasa curiga dan dia kurang percaya bagaimanapun pria dan wanita berada dalam satu kamar dengan keadaannya pun normal.


Anisa langsung menggeleng seraya berkata. "Tidak kok, Kak ... kami tidak melakukan apapun. Nggak ada melakukan yang aneh-aneh kok!" elaknya Anisa. Karena memang tidak pernah melakukan lebih.


Kecuali yang gitu-gitu aja, yang mereka pikir ya termasuk normal dan wajar saja seperti orang yang pacaran! orang pacaran saja kadang terbiasa melakukan itu, apalagi Anisa dan Pramana yang sudah notabenenya menikah.


"Yakin, Anisa dan Pram tidak pernah melakukan apa-apa?" sang kakak menatap semakin curiga.


"Ya ampun, Kak ... aku ini baru saja keguguran! gak mungkin Pram melakukan yang macam-macam pada ku, dia tahu larangan-larangannya. Dia cukup paham apa yang boleh dan yang enggak." Kata Anisa meyakinkan sang kakak.


Walaupun dalam hati mengakui, apalagi semalam dia sudah satu tempat tidur yang sama. Mereka berdua tidur bersama! tapi mereka cuman begitu doang dan tidak lebih ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Aku mohon jangan lupa like dan komennya ya, serta dukungan lain juga. Karena itu penyemangat aku untuk tetap berkarya di sini, terima kasih kepada reader ku yang masih setia dengan karya aku, makasih banyak 🙏


__ADS_2