
Antara Pramana maupun Anisa hanya duduk terdiam namun tangan Anisa menuangkan nasi dan sayur untuk Pramana.
"Anisa sayang ... jangan sungkan-sungkan ya di sini. Anggap saja rumah sendiri, sekarang rumah ini rumah kamu juga!" ucap Bu Hajah Bella.
Anisa menolehkan kepalanya lalu mengangguk pelan kepada sang ibu mertua.
"Tante, kita ke sini kan buat kondangan. Kok Tante yang menikah sih sama Om ganteng itu?" celetuk Ferly sambil menyuapkan makannya ke mulut.
"Hooh. Kan kita cuman kondangan doang ke sini. Tapi kok yang menikahnya malah Tante sama om tampan itu, ya Kak! menginap lagi di sini? kan tadinya kita mau pulang," tambahnya sang adik, Fika.
Aisyah tersenyum kepada kedua Putra dan putrinya. "Sayang ... Ferly juga Fika, memang benar tadinya ke sini untuk menyaksikan Om ganteng ini menikah dengan calonnya! tapi ternyata jodoh Om ganteng ini, Tante Anisa jadinya tante Anisa yang menikah sama Om gantengnya!"
"Och gitu ya Bunda. Kalau gitu Tante mau tinggal di sini apa mau pulang sama kita?" tanya Fika sambil menikmati makannya.
"He'em. Tante akan tinggal bersama suaminya karena tempatnya istri adalah bersama suami!" Jawabnya Aisyah kembali.
"Terserah deh mau di sini bodo amat, mau pulang juga terserah lagian kita menikah cuma terpaksa karena suatu keadaan!" batinnya Pramana sambil makan.
Di luar kembali hujan terdengar mengguyur bumi dan semakin deras, dihiasi dengan suara petir yang seakan ingin menyambar yang mendengarnya dan membuat ngeri yang melihat dengan kilatan-kilatan cahaya yang saling menyusul.
Semua orang di rumah itu sudah memasuki biliknya masing-masing apalagi dengan rasa lelah, capek. Dari kegiatan seharian sehingga semuanya memilih untuk segera masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat.
Begitupun dengan Pramana dan Anisa yang sudah berada di dalam kamarnya. Keduanya terlihat sangat kaku dan tegang tidak tahu harus bicara apa dan suasana terasa begitu hening hanya suara hujan dari luar yang begitu deras dan kilatan-kilatan petirnya yang sekali tampak dari jendela yang menerawang.
__ADS_1
Saat ini Anisa sedang duduk di tepi tempat tidur, sementara Pramana duduk di sofa sesekali terlihat menyesap rokoknya yang berada diantara kedua jari. Tampak menikmati dan membuang asapnya ke langit-langit.
Anisa yang tampak kebingungan menautkan kedua Jari tangannya yang berkeringat dingin. Dia tidak tahu harus berbuat apa di kamar yang masih terasa asing baginya, tempat tidur yang berhiaskan kelopak bunga yang indah wangi semerbak.
Apalagi di saat Pramana beranjak dari duduknya dan mendekati ke arah Anisa. Membuat jantung Anisa berdegup semakin kencang. Walaupun dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Pramana.
"Tidurlah di tempat tidur ini! biar aku tidur di sofa," suara bariton itu terdengar menggelegar di telinga Anisa. Tangan Pramana mengambil satu bantal dari tempat tidur tersebut.
"Ta-tapi!" Anisa menoleh pada pria yang sudah menjadi suaminya tersebut tanpa melihat jelas wajahnya.
"Jangan harap saya mau tidur bersama dengan mu, apalagi menyentuh mu. Karena pernikahan kita hanya karena hal tertentu. Aku tidak ingin menanggung malu karena pernikahanku batal dan kamu untuk menutupi kehamilan mu! cukup itu saja," suara Pramana begitu terdengar dingin, lalu dia membawa langkahnya kembali ke tempat semula.
Namun bagi Anisa perkataan dari Pramana tersebut sungguh membuat hatinya tersayat, sakit banget bagai tertusuk sembilu. Merasa kalau dirinya begitu sangat kotor di hadapan Pramana.
Pramana memasang bantalnya di atas sofa, lalu tangannya yang menjepit sebatang rokok ia sesap kembali asapnya hingga menghiasi ruangan tersebut. Kemudian dia matikan! berbaring dengan kedua tangan melipat di dada.
Sempat Pramana melihat ke arah Anisa yang masih duduk tidak bergeming di tempatnya dan wajahnya tertunduk dalam.
Anisa memang masih terdiam mematung di tempat, sementara matanya terus mengeluarkan air bening sehingga berjatuhan ke atas pangkuan kedua bahunya sedikit bergoyang namun keadaan itu segera Anisa akhiri, gegas dia mengusap wajahnya yang basah lalu dia naik ke tempat tidur dan membaringkan dirinya memunggungi Pramana.
Ternyata malam pertama yang banyak di dambakan orang itu bertolak belakang dengan yang dirasakan oleh Anisa dan Pramana. Boro-boro ada sentuhan atau cuman mesra sedikit, candaan pun tidak ada.
Terdengar suara petir yang menggelegar dan ngeri setiap yang mendengar. Begitupun Anisa yang bergidik dan rasa ngeri sehingga dia buru-buru menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Malam semakin beranjak dan hujan pun belum reda, masih juga terdengar deras hanya saja petirnya mulai menghilang. Anisa masih belum juga bisa tertidur, kemudian dia menoleh ke arah belakang dimana Pramana tapi tertidur di sofa.
Pria itu tampak bertelanjang dada dan mengenakan sarung yang melilit rapi di pinggangnya, tanpa menggunakan selimut.
"Apakah dia tidak merasa kedinginan? sehingga tidak memakai selimut bahkan baju pun tidak," gumamnya Anisa yang sangat pelan.
Anisa menghela nafas dalam-dalam lantas mengedarkan pandangannya ke arah lemari kali saja di sana ada selimut lain, sehingga dia pun bangun dan menurunkan kakinya berjalan di lantai menuju lemari.
Anisa mencari keberadaan selimut di tempat pakaian wanita, dan kebetulan ada selimut di rak bawah, sehingga dia buru-buru mengambil dengan niatan akan menyelimuti tubuhnya Pramana kasihan juga, pria itu tanpa selimut mana tidurnya di atas sofa lagi.
Langkah Anisa terhenti Di dekat sofa di mana Pramana berbaring, pria itu tampak sangat pulas. Lalu Anisa membuka sebagian selimutnya yang dia pasangkan di tubuh Pramana. Dengan sangat hati-hati supaya tidak mengganggu sang empu yang sedang tidur nyenyak.
"Kasihan juga anak orang tidurnya di sofa! sementara aku di tempat tidur yang bagus dan empuk. Tapi itu maunya sendiri, Lagian tempat tidur cukup luas kok, jadi cukup membuat pembatas dengan dua guling pun masih leluasa." Gumamnya Anisa seraya menatap tempat tidur yang dengan ukuran king size.
Detik kemudian Anisa pun Kembali ke tempat tidurnya, membaringkan dirinya di sana dan tidak lupa menutupi tubuhnya dengan selimut sampai menutupi dada.
Sebenarnya Pramana pun masih terjaga! dia belum tertidur sepenuhnya sehingga dia tahu apa yang dilakukan oleh Anisa yang menyelimuti tubuhnya.
"Berbuat baiklah kepada ku tapi belum tentu aku menyukaimu. Sekalipun kau menjadi istri yang solehah di mata setiap orang tapi belum tentu di mataku!" gumamnya Pramana dalam hati tanpa membuka mata, dan tanpa menggerakkan tubuhnya ....
...🌼--🌼...
Mohon dukungannya ya like jangan lupa juga komen subscribe, bintang 5 nya. Terima kasih
__ADS_1