Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Bermimpi


__ADS_3

"Iya siapa? dan ada perlu apa!" pekik Anisa dari dalam kamar setelah berapa kali pintu kamarnya diketuk dari luar, kemudian dari luar terdengar suara laki-laki.


"Pram. Apa Permana di sana? itu mau ke masjid nih Berjamaah." Suaranya Deni.


Kedua magnet Annisa melirik ke arah pintu kamar mandi seraya berkata. "Dia masih berada di dalam kamar mandi. Mungkin sebentar lagi menyusul."


"Oke, kalau begitu kami tunggu di bawah ya!" ucapnya Deni kembali lalu terdengar langkahnya menjauhi tempat tersebut.


Pramana keluar dari kamar mandi dan langsung mendekati kemejanya yang tergantung di dinding, melirik ke arah Anisa yang sudah mengenakan mukena dan berdiri di atas sajadah.


Anisa pun menoleh ke arah Pramana lalu berkata. "Ditungguin di bawah untuk ke masjid sama-sama!"


"Hem!" gumamnya Pramana begitu singkat, lalu dia membawa langkahnya mendekati pintu! lanjut meninggalkan tempat tersebut dengan niat mendatangi masjid untuk salat berjamaah.


Saat ini Anisa sedang berada di dapur membantu, ibundanya juga Aisyah untuk menyiapkan sarapan dan sarapannya kali ini membuat nasi goreng spesial.


Anisa yang bagian memotong sayurannya. "Dea bangun belum ya?" suara Anisa yang diajukan kepada sang Bunda.


"Bunda nggak tahu, dia sudah bangun atau belum yang jelas belum keluar." Jawab nya sang bunda sembari memotong perbawangan.


"Em, Dek ... semalam, Pram bobo di mana?" Aisyah melirik pada sang adik.


“I-iya, Kak. Ta-tapi dia tidurnya di bawah, maksud ku dia tidurnya di lantai dan aku di atas.” Jawabnya Anisa sedikit gugup di tanya begitu oleh sang kakak.


“Kakak percaya kok sama kalian berdua,” sambungnya Aisyah lagi sambil mesem.


“Em ... emangnya kenapa gitu?” tanya Anisa dengan mencoba menutupi perasaan nya yang dag-dig-dug mengingat tadi.


“Nggak ... nanya doang kok,” Aisyah menggeleng.


Karena yang berjamaah sudah pulang, Anisa langsung membuatkan susu jahe buat Pramana.


“Susus jahe buat siapa tuh? Wangi banget.” Deni menatap Anisa yang membawa segelas susu jahe ke teras.

__ADS_1


“Em ... buat dia.” Anisa menunjuk pada Pram yang tengah duduk di teras bersama Deni dan Mas Azis juga.


“Hem ... aku bikin kan dong ... masa suamainya doang di bikinkan.” Pintanya Deni pada Anisa.


“Kalau mau, boleh ... sebentar aku bikinkan tunggu saja sebentar.” Anisa menyimpan gelas di hadapnnya Pram yang menatap dirinya.


Terbayang lagi tentang semalam. Kalau Anisa terus memeluk dirinya sampai-sampai dia tidak bisa tidur hingga saat ini.


Anisa berlalu untuk membuatkan susu jahe permintaan Deni dan mas Azis pun minta di bikinkan. Dan tidak lama kemudain, Anisa kembali sambil membawa pesanan dari Deni dan mas Azis.


“Aku ngantuk banget nih. Boleh kan aku numpang tidur? Di kamar mu. Sebelum nanti siang aku pulang.” Suara Pramana sedikit pelan di saan Deni sedang mengobrol dengan mas Azis.


Anisa terdiam sambil melihat ke arah Azis dan Deni lalu melihat kembali ke arah Pram.


“Semalam aku tidak bisa tidur. Gara-gara kamu.” Bisiknya Pramana kembali sambil meneguk susu jahe nya.


Lalu Anisa berdiri dari berlututnya seraya berkata. “Ya ... terserah, kalau mau tidur. Tidur saja, tapi belum sarapan.” Kemudian Anisa berlalu menjauhi teras tersebut.


“Huammmss ...” Pram terus menguap sehingga mengeluarkan air mata. Saking ngantuknya, lalu dia berdiri sambil membawa gelasnya ke lantai atas dengan langkah yang sedikit terburu-buru.


“Huammmss ... gara-gara semala tidak biasa tidur nih, kepala ku berat banget, ngantuk nya ... ini mata!” gumamnya Pramana sambil menarik selimutnya yang bau parfum wanita.


Dalam waktu yang singkat Pram sudah membawa dirinya ke dalam alam mimpi yang indah. Dalam mimpinya dia berduaan dengan Anisa di sebuah kamar yang indah berhias bunga pengantin bermekaran di setiap sudut kamar. Kelopak bunga mawar merah dan putih bertaburan di atas tempat tidur.


Sepasang angsa putih nan cantik pun tak luput menjadi penghias di atas tempat tidur dan menambah indahnya kamar tersebut. Pram dan Anisa duduk berdua yang tampak malu-malu awalnya namun lama-lama malah semakin mendekat dan tangan Pram merangkul bahunya Anisa.


Wajah Anisa tampak merah merona merasa malu, maklum di malam pertama ini mereka bertemu. Lalu jemari Pram bergerak menyentuh pipi nya Anisa yang lembut dan mulus, dengan perlahan wajah Pram mendekat dan menempelkan hidunya di pipi Anisa.


“Boleh kah aku memintanya malam ini? aku tidak sanggup lagi menahan gelora di dada untuk merasakannya.” Bisiknya Pramana sambil mengembuskan deru nafasnya di dekat telinganya Anisa yang memejamkan kedua manik matanya.


Anisa dengan perlahan mengangguk dan tertunduk malu, sehingga telunjuknya Pramana menyentuh dagunya agar mendongak atau menatap ke arahnya. Lalu Pram mendekatkan bibirnya dan dia nekat ingin menikmati bibirnya anisa yang tampak ranum serta manis.


Nyes ....

__ADS_1


Terasa sejuk ketika bibir mereka bertemu, namun lama-lama menghangatkan. Kedua pasang mata mereka terpejam dan ingin menikmati setiap sentuhan itu, Pram menggerakkan bibirnya menyapu setiap inci bibir Anisa yang kini semakin terasa manisnya.


“Mm ...” Anisa bergumam halus. Terdengar merdu di telinganya Pramana.


Sehingga membuat Pram semakin menggairah untuk melanjutkan sentuhan yang dia tengah dia lapaskan. Pria itu menyesap lembut dan menambah hasratnya untuk melebarkan sayapnya serta mejelajah atau mengeksplor setiap tempat-tempat yang dia suka.


Nafas keduanya bersahutan saling memburu dan dada Anis apun tampak naik turun. “Mm ... ach!”


Mendengar suara-suara halus dari sang istri membuat Pram semakin merasakan sensasi yang aneh, dan sentuhannya kian menuntut lebih. Dari sekedar itu itu saja.


Kedua netra mata nya Pram terbuka dan menatap wajah Anisa yang masih memejamkan manik matanya, bibir Pram tersenyum lebar. Lalu Pram menggigit kecil dan lembut bibir Anisa penuh gairah, membuat sang empu membuka matanya dan terbelalak dengan sangat sempurna sebab sentuhan Pram kian menuntut.


“Sayang ... aku menginginkan mu Oh ...” Pram semakin menghujani bagian wajah wanitanya dengan kecupan kecil namun tak satu inci pun terlewat dari sentuhannya Pram yang penuh hasrat yang membara tersebut.


“Oh ... mmm ...” suara dari wanitanya yang membuat tubuh Pram kian terbakar.


Pram mendorong tubuh wanitanya lalu dia kunci tubuh mungil tersebut. Tangan nya mulai menjamah sesuatu perbukitan nan indah namun tidak menghijau, tubuhnya Nisa meliuk-liuk geli-geli nikmat.


Nafas nya Pram begitu memburu bagai orang yang sedang lari maraton, jantung keduanya berdegup begitu sangat kencang melebihi kecepatan normal.


Tangan Pram membuka pembungkus yang mentupi keindahan yang tercipta dan nyata terpampang di depan mata. Namun pandangan Pram terfokus ke perut wanitanya yang membulat, membuat Pram terheran-heran.


“Lho, kita baru saja menikah, kenapa kau sudah hamil? Siapa yang melakukannya?” tanya Pram dengan heran dan melonjak naik langsung menkan keinginannya tersebut.


“Auwssss ...” desisnya Pramana sambil mengusap kepalanya yang terjedot ke ujung nakas, setelah tubuhnya yang terguling dari atas tempat tidur.


Pramana bengong sambil mengusap kepalanya lalu celingukan, tidak ada Nisa ataupun kamar yang indah.


Kedua bibir Pramana tertarik ke samping menunjukan sebuah senyuman dan dia baru sadar kalau dia sudah bermimpi bersama Anisa, melakukan sesuatu dan anehnya dia malah merasakan basah di celananya. “Oh my good ... aku mimpi basah dan gimana nih? gak ada pakaian ganti sama sekali.”


Pram celingukan melihat ke arah jendela yang ternyata sudah siang dan lalu dia gegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Tidak lupa aku ingatkan, jangan lupa ya like comment. Yang belum subscribe! subscribe dulu biar dapat notifikasi nya. Makasih sebelumnya.


__ADS_2