
"Oh, kamu kenapa berdiri di sini?" tanya Anisa sembari menundukkan wajahnya ke lantai, dia pun masih belum move on dari kejadian tadi itu. Dan kalau ingat! dia selalu ingin bergidik.
"Emangnya kenapa kalau aku berdiri di sini? orang ... kamu aja bisa masuk ke kamar ku, masa aku berdiri di sini aja nggak boleh!" nada suara Pramana agak ketus.
"Ka-kalau kamu mau masuk! masuk aja. Ini rumah mu kok, kamu punya hak atas rumah ini!setiap ruangan di rumah ini," ucap Anisa sambil berjalan mundur berapa langkah.
Tetapi Pramana masih mematung di tempat dan tatapan matanya mengarah pada Anisa yang masih menggunakan mukena aura kecantikannya Begitu terpancar.
Tanpa bicara apapun Pramana memutar tubuhnya, meninggalkan Anisa berjalan menuju ujung tangga. Dan sebelum menurunkan langkahnya, Pramana menoleh ke arah Anisa.
"Kau mau makan sekarang apa tidak? atau mau mematung di sana?" suara pria itu terdengar mengarah pada Anisa.
Gadis itu mengulas senyumnya, lalu mengangguk. "Duluan saja! aku mau buka mukena dulu."
"Kenapa dibuka? kan bentar lagi isya, bisa sekalian saja!" suara bariton itu terdengar lagi dengan masih berdiri di tempat yang sama, seolah menunggu kedatangan Anisa untuk menyusulnya.
Sejenak Anisa terdiam, lalu tanpa membuka mukenanya. Dia berjalan keluar kamar tidak lupa untuk menutup dulu pintu, Anisa membawa langkahnya tersebut ke arah Pramana berdiri.
"Jangan ge'er ya! kalau aku bersikap baik padamu itu ... sebatas karena kita satu atap dan aku seorang laki-laki yang harus bertanggung jawab! sekalipun bukan aku yang menanam benih di rahim mu itu ha ha ha ..." ucap Pramana sembari berjalan di samping Anisa, agak menyakitkan memang tapi di ujungnya perkataannya membuat ingin tersenyum.
"Ngomong-ngomong ... kenalin dong sama pria yang nanam kecebong di perut mu itu? biar ku hajar dan merasakan gimana rasanya menjadi orang yang hamil tanpa ada yang memperhatikan, tanpa ada yang bertanggung jawab!" tambahnya Pramana sembari menoleh ke arah Anisa yang berjalan di sampingnya.
"Em ... Bisa nggak? gak usah nanya soal itu! aku malas untuk jawabnya," suara Anisa pelan sembari menggeleng.
"Emangnya kenapa, benci gitu sama dia? setelah merasakan enaknya gimana--" Pramana menggantungkan perkataannya sebab melihat Anisa menghentikan langkahnya dan menetap ke arah dirinya dengan menik mata yang terbelalak sempurna.
"Sorry-sorry-sorry ... kalau nggak mau menyinggung itu lagi!" tambahnya Pramana Lagi-lagi menyatukan kedua tangannya.
sejenak Anisa terdiam dan mematung di tempat. Dadanya terasa sesak dan sedikit sakit, Pramana selalu saja mengungkit itu dan itu, kemudian Anisa menghela nafasnya dalam-dalam. "Huuh ... Rrgghhh ... ini cowok mulutnya kaya ingin di plater aja!" batinnya Anisa.
Anisa menoleh ke arah Pramana yang menyatukan tangannya di dada, lalu Pramana seolah menyuruh wanita untuk berjalan menuruni anak tangga yang tinggal beberapa lagi. Lantas keduanya kembali hingga melangkah menapakkan telapak kakinya di lantai dasar.
__ADS_1
Di meja makan, sudah ada Bibi yang tengah menyiapkan piring. "Makan malamnya sudah siap, Den. Neng!" ucap Bibi dengan ramahnya.
Anisa dan Pramana membalas dengan senyuman.
"Bibi, makan bareng yuk? masa kita cuma makan berdua saja, ajak juga mang Pei." Serunya Anisa.
"Bener, Bi. Kita makan bareng-bareng biar ramai." tambahnya Pramana.
"Tidak apa-apa, Den. Neng kita makan bareng?" wanita setengah baya itu malah bertanya sambil menatap lekat ke arah Anisa dan Pramana bergantian.
"Ya ampun ... Bi, emangnya kenapa?" Anisa malah balik bertanya.
"Nggak kenapa-napa sih." Kata bibi sembari menggelengkan kepalanya dan bibirnya mengulas sebuah senyuman, karena memang bukan kali pertama makan bersama dengan majikan.
Namun setelah adanya Anisa di sana baru kali ini. Makan bareng. Biasanya kalau sama pak Lukman dan istri sering makan bareng biar kadang beda meja.
Kemudian, bibi memanggil mang Pei untuk makan bersama.
Anisa memberikan piring dengan isinya kepada Pram yang langsung menyambutnya.
Selanjutnya mereka berdua di tambah bibi dan mang Pei makan bersama.
"Gimana Den, enak kan? masakan Neng Anisa, sampai Aden makannya sangat lahap sekali." Celetuk bibi ketika melihat Pram yang makannya sangat lahap dan beberapa kali nambah.
Pramana terdiam, dia pikir itu masakan bibi, karena biasanya juga bibi. Tapi kayanya masakan yang dia makan ternyata masakan Anisa. Rasanya enak banget.
"Oh, ini kamu yang masak? pantas rasanya aneh sekali." Ejek Pram sambil mesem-mesem.
"Aneh gimana? gak enak? tapi kok makannya lahap banget! kalau gak enak kan gak mungkin makannya banyak begitu!" Anisa menatap datar ke arah Pramana yang malah asyik dan menghabiskan makanan yang masih berada di piringnya.
"Mungkin Aden itu malu, untuk mengakuinya. Neng ... sebenarnya itu suka! tapi malu untuk bilangnya," ucap mang Pei yang di tujukan pada Anisa.
__ADS_1
"Mang Pei itu sok tahu. Emang rasanya aneh kok! tapi daripada saya kelaparan, ya ... dimakan lah. Apa harus saya membeli dari luar? sementara di meja banyak makanan, kan nggak etis yang di meja gak di makan. Mubazir dong ... jadi mendingan saya makan," akunya Pramana.
"Nggak Den. Sayang sekali kalau harus bikin mubazir makanan! yang ada sebelum mencari di luar ... nikmati dulu yang ada, Den ... yang di luar mah kadang cuman dari tampilannya doang bagus, cantik ... tapi dalamnya sama aja he he he!" timpalnya Mang Pei sembari menyudahi makannya.
"Begitupun dengan wanita yang mau di luaran sana, cantik. Manis, seksi. Menarik! tapi sebenarnya yang di rumah itu lebih dari itu halal pula, itu namanya godaan setan ya mang?" tambahnya bibi sembari mesem yang ditunjukkan kepada mang Pei.
"Betul itu, Bi ... itu hanya godaan setan aja biar rumah tangga kita hancur! buat apa nyari di luar, Bi ... jika di rumah aja sebenarnya sangat cantik dan juga nggak akan habis-habis!" jawabnya mang Pei sambil mengulum senyumnya.
Pramana terdiam dan tampak aneh, Dia teringat kembali pada Adisti kekasihnya yang sudah sebulan ini tidak ada kabar dan beritanya.
Begitupun dengan Anisa, dia tidak mengeluarkan suaranya selain senyum dan juga menikmati makannya. Dia tahu apa dan tujuan obrolan dari mang Pei dan Bibi.
Selesai makan, mereka pun memasuki kamarnya masing-masing. Setelah Anisa dan bibi membereskan bekas makan nya sampai bersih.
Kemudian Anisa pun langsung naik ke lantai atas, dengan masih menggunakan mukena! Anisa melangkah menaiki anak tangga. ketika menampakan kakinya di lantai atas kedua menik matanya melihat ke suatu tempat di mana Pramana tengah duduk bersantai di rooftop menghadapi laptopnya.
Untuk sesaat Anisa berdiri di tempat, memandangi pria itu yang tampak serius dengan laptop yang ada di hadapannya! detik kemudian Anisa melanjutkan langkahnya untuk ke kamar dan mengajarkan terlebih dahulu isya.
Selepas itu Anisa kembali turun, untuk membuatkan susu jahe yang biasa dia hidangkan untuk Pramana.
Tidak lama kemudian Anisa pun sudah kembali naik, ke lantai atas dengan membawa nampan yang berisi sebuah gelas susu jahe yang hangat dan wangi khas jahenya. Anisa berjalan menuju rooftop dan setelah sampai di sana angin malam pun terasa menyapa kulit.
"Ini susu jahenya?" ucap Nisa seraya berlutut menyimpan gelas tersebut di meja, tepatnya di samping laptop milik Pramana.
Pria itu hanya bergumam Terima kasih tanpa melirik sebelah mata pun kepada Anisa.
"Auuuuuwhh ..." desa Annisa sembari berdiri dan memegangi pinggangnya yang tiba-tiba terasa sakit bagai ada yang menusuk-nusuk di dalamnya dan ini kali pertama dia rasakan ....
...🌼---🌼...
Mana nih like nya jangan lupa ya reader ku terkasih. Makasih
__ADS_1