Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Yang mana orangnya


__ADS_3

"Sayang ... kalian berdua tidak boleh terlalu ribut ya? kasihan kan tantenya sedang kurang enak badan. Kalian juga sayang kan sama tante?" Aisyah berlutut di hadapan kedua Putra dan putrinya sembari mengusap pipinya bergantian.


"Oh iya Bunda ... Ferly dan Fika nggak akan gangguin tante, kami berdua sayang sama tante!" kata Ferly dan Fika berbarengan.


"Tapi Bunda ... emangnya tante sakit apa sih? kok nggak kelihatan sakitnya!" selidiknya Fika tampak penasaran.


"Tante, sakitnya yang memang tidak terlalu kelihatan. Dan hanya dapat dirasakan sana, jadi kalian nggak usah gangguin, sekali lagi bunda minta jangan apa? jangan terlalu ri ... ribut, apalagi mengganggu Tante." Pintanya Aisyah sembari berdiri.


Suaminya ngeloyor ke kamar membawa kado sang istri buat kondangan besok.


"Tidak apa-apa, Aisyah namanya juga anak-anak mereka tidak mengerti dengan masalah yang ada!" tuturnya sang Bunda kepada Aisyah yang sudah menegur kedua cucunya agar tidak ribut.


"Tidak apa-apa Bun ... mereka sudah pada dewasa kok dan seharusnya mereka pun mengerti dengan apa yang diperbolehkan atau yang tidak!" 7cap Aisyah mendudukan dirinya di samping sang ibunda.


"Udah ya? nikmatin makan eskrim nya ya! dan jangan belepotan lho ..." Aisyah melirik ke arah Ferly dan Fika yang sedang menikmati makan eskrim.


Kedua anak itu mengangguk. "Baik, Bunda ...."


Anisa di kamarnya tengah berbaring, setelah sebelumnya membuka kerudung dan menggantungnya.


Kemudian dia beranjak dan mendekati laci mengambil sebuah jam tangan yang cocok buat pria. Dan Anisa berniat mau dia Kadokan saja pada Pramana yang entah yang mana orangnya, lupa lagi.


"Jujur deh, aku lupa orang nya yang mana sih Pramana itu?" gumamnya Anisa sambil memandangi jam tangan tersebut, yang sebenarnya dia dapatkan dari teman laki-laki sebagai hadiah untuknya.


Kemudian Anisa bungkus dengan sangat rapi menggunakan kertas kado dengan motif batik dan dia bentuk seperti kemeja pria.


"Selesai juga bungkusnya." Anisa lalu menyimpannya di laci.


Lalu Anisa kembali membaringkan dirinya di tempat tidur. Mengingat kembali nasib yang harus dia hadapi sehingga akhirnya Anisa tertidur pulas sekali.


"Ferly ... Fika, mandi sana! bentar lagi tidur siang lho." Aisah menemui Ferly dan Fika yang tampak asik bermain bersama anak tetangga di sana.


"Sebentar lagi, Bunda ... aku masih ingin bermain. Lagi asyik nih," sahutnya Ferly.


"Hooh, Bun ... aku juga lagi asyik bermain nih." Timpalnya Fika.


"Ooh, baiklah ... kalau begitu." Aisyah beranjak lalu kembali masuk hampiri sang Bunda yang sedang masak di dapur.

__ADS_1


"Anisa ke mana ya, Bun? kok nggak kelihatan. Apa mungkin dia ketiduran!" suara Aisyah setelah Berada di dapur sama sang Bunda.


"Entah, dari tadi bunda nggak lihat batang hidungnya! mungkin tidur kali ya!" jawabnya sang Bunda sembari mengaduk masakannya.


Kemudian Aisyah mengambil alih pekerjaan sang Bunda. Aisyah dengan cekatan dan lihai memasak ayam hingga wanginya sangat lah semerbak bau.


Baunya sangat menggugah selera makan yang sedang kelaparan. Setelah matang Aisyah tuang ke dalam mangkuk lalu dia simpan di atas meja.


Aisyah menoleh pada sang Bunda yang sedang mengupas timun untuk lalapan. "Biar aku yang bikin sambalnya!"


"Boleh, sudah lama Ibu nggak makan sambel Aisyah. Kangen rasanya," Bu Farida mengangguk sambil tersenyum.


Lalu Aisyah pun membuat sambal kesukaan keluarga tersebut, yaitu sambal yang memakai kecombrang hingga wangi sangat segar.


"Nah ... karena semuanya sudah selesai, Aisyah mau melihat Anisa dulu. Kali saja dia ketiduran, kurang baik orang hamil banyak tidur!" Aisyah meninggalkan dapur tersebut meninggalkan bundanya yang sedang mencuci perabotan.


Aisyah melangkah cepat menaiki anak tangga menuju ke kamarnya Anisa, karena sejak tadi Anisa tidak kelihatan.


"Mau kemana?" tanya Azis sambil menuruni anak tangga berdiri sejenak berhadapan dengan sang istri.


"Mau ke kamar Anisa, sedari tadi dia tidak kelihatan. Mungkin dia ketiduran. Dan gak baik kebanyakan tidur di saat hamil." Aisyah menunjuk ke arah lantai atas.


Aisyah berjalan meneruskan langkah sembari tersenyum sisa senyuman yang dia berikan pada sang suami. Derap langkah Aisyah terdengar dan berhenti di depan daun pintu kamar Anisa.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Anisa ... bangun? sudah sore nih?" suara Aisyah sambil mengetuk pintu kamar Anisa.


Sejenak tidak terdengar suara dari dalam dan Aisyah mencoba mendorong daun pintu tersebut yang ternyata tidak di kunci, tampak Anisa tengah tertidur miring.


Aisyah mendekati dan masuk ke kamar pribadi nya Anisa yang tampak tertidur lelap itu.


"Nisa ... bangun. Dah sore nih!" Aisyah menggoyang bahu Anisa yang langsung terbangun.

__ADS_1


Menoleh pada sang kakak yang berdiri tidak jauh dari dirinya terbaring. "Kak. Jam berapa nih?"


Anisa bangun sambil menggosok kedua matanya yang terasa ngantuk berat itu.


"Sudah sore. Bangun lah!" Aisyah mendudukan dirinya di dekat Anisa yang masih mengumpulkan jiwanya.


"Hem ... masih ngantuk kak!" Anisa baring kembali sambil menarik lantas memeluk guling.


"Iih ... malah baring lagi, bangun? udah sore nggak baik banyak tidur gitu." Aisyah kembali menggoyangkan bahu Anisa.


"Masih ngantuk. Hem ..." Anisa bergumam dengan malasnya.


Namun tak ayal Anisa bangun juga walau dengan malas-malasan.


"Mandi sana? biar segar." Aisyah menyuruh adiknya intuk mandi.


Anisa pun menurunkan kakinya ke lantai. Sambil mengikat rambutnya lalu berjalan menuju kamar mandi.


Sejenak sang kakak melihat adiknya yang memasuki kamar mandi. Kemudian Aisyah pun keluar dari kamar Anisa yang orang nya sedang membersihkan diri tersebut.


Kini mereka sudah berada di meja makan, mau makan malam bersama dengan sang ayah yang sudah datang dan berada di antara mereka.


Mereka semua menikmati makan malamnya, begitupun dengan Ferly dan Fika yang namanya anak-anak makan pun tetap riuh dan ramai.


Mereka mau memulai pembicaraan tentang Anisa, tapi karena ada Fika dan Ferly. Jadi biar nanti saja bicaranya.


Setelah selesai makan. Ferly dan Fika biar bermain di kamar. Dan mereka mau membicarakan sesuatu.


Saat ini mereka pun sudah duduk di ruang keluarga, mereka pun memulai obrolan yang bersangkutan dengan Anisa.


"Sebenarnya Ayah juga memikirkan itu, tapi gak terlihat orang. Sebab Ayah juga tidak mau salah memilih, sebab menikah itu bukan untuk sehari dua. Tetapi ingin untuk selamanya! bukan mentang-mentang ke Pepet." Ujar sang ayah.


"Kita butuh seseorang untuk menutupi aibnya Anisa! sebab kehamilannya itu lama-lama akan ketara juga Ayah ..." tambahnya Azis sambil menatap sang mertua.


"Ayah tahu itu." Pak Joni menautkan keningnya. "Kalau saja ada pria yang baik dan bertanggung jawab. Ayah pasti mau menikahkan Anisa." Tambahnya pak Joni.


Bu Farida terdiam, begitupun dengan Anisa yang menunduk dalam. Sementara Aisyah dan Azis juga sang ayah yang mengobrol dengan tampak sangat serius ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Mohon dukungan nya ya? dan semoga suka. Makasih


__ADS_2