
Dengan cepat, kepalan tangan Hendar menonjok perut Pramana, sehingga tubuh Pramana langsung membungkuk menahan sakit, seiring dengan suara Anisa yang menjerit kaget.
"Awhhhh!" jerit Anisa ketika melihat Pramana yang membeku kesakitan.
Orang-orang yang di sekitar sana pun merasa mendadak panik mendengar suara dari Anisa, melihat seperti itu Hendar malah bersiap untuk menunjuk pelipis sebelah kiri Pramana! namun dengan lebih cepat Pramana menghindar dan menangkap tangan Hendar lalu Pramana pelintir ke belakang.
"Eeh, dengar bajingan, set-an! saya menyerang kamu karena kamu harus merasakan apa yang dirasakan Anisa. Kamu laki-laki yang bejat, yang tidak bertanggung jawab! maunya enak sendiri, sedangkan tidak mau tahu dengan akibat yang harus Anisa tanggung! matamu yang buta? apa kamu tidak melihat kalau Anisa sedang hamil!" suara Pramana dari arah belakang Hendar karena sedang memegangi tangan pria itu di balik punggungnya.
Wajah Hendar nyengir menahan sakit, karena tangannya dipelintir ke belakang dan dia berusaha untuk memberontak. Namun tangannya satu lagi ditangkap juga oleh Pramana satunya, sehingga keduanya berada di belakang.
Namun Hendar tidak kehabisan akal, dia berniat menggunakan kakinya untuk menendang kaki Pramana. Namun niatnya Hendar sudah kebaca oleh Pramana! sehingga kedua tengkuk kaki Hendar dibentur lututnya Pramana menjadikan pria itu berlutut gitu saja.
"Apa yang kau rasakan tidak sebanding dengan apa yang dihadapi Anisa, yang harus menanggung malu karena ulah mu itu!" lagi-lagi Pramana mengeluarkan unek-uneknya terhadap Hendar.
"Lepas set-an! kurang ajar. Kalau kau berani lepaskan aku? kita tanding," teriaknya Hendar.
"Kau enak, laki-laki nggak mau perut, yang rugi siapa! perempuan, apa kamu tidak punya ibu? nggak punya adik perempuan! kakak perempuan?" bentak Pramana di dekat telinganya Hendar.
Pramana sudah bersiap lagi untuk memukul punggungnya Hendra, tapi Anisa buru-buru memegangi tangan Pramana.
"Jangan, lepaskan dia ... nanti kamu kena masalah." Pintanya Anisa dengan suara yang bergetar, ketakutan. Dia nggak mau kalau Pramana justru akan menemukan masalah nantinya.
"Kenapa? kau tidak boleh aku menghajarnya, apa kau cinta sama dia? kamu sayang sama dia!" Pramana menoleh pada Anisa dengan tatapan yang tidak suka.
"Bu-bukan begitu ... aku cuma nggak mau kamu mendapatkan masalah, gara-gara ini. Sudah biarkan dia, lepaskan dia?" pinta Anisa kembali dengan sedikit memohon.
Di Saat Pramana berbicara dengan Anisa, tentunya pria itu lengah dan Hendar menonjok pinggangnya Pramana hingga terdengar suara.
Dugh.
Dan Pramana hampir saja terjatuh, untungnya Pramana masih bisa menahan keseimbangan tubuhnya.
Pada akhirnya Hendar dan Pramana berkelahi, saling pukul. Saling Jambak dan berguling di lantai. Orang-orang di sana bukannya melerai, malah menonton. Bak bioskop yang memutar perkelahian.
Andre yang terlambat datang ke lokasi karena Andre kehilangan jejak Pramana dan Anisa yang menggunakan jalan lain, dia langsung melerai bersama berapa security.
__ADS_1
"Pram-Pram, Pram ... hentikan Pram! apa-apaan ini? kayak anak kecil saja, sudah-sudah hentikan?." Pintanya Andre sembari memegangi dan menarik pinggang Pramana menjauhkan nya dari Hendar.
Tubuh Pramana menjauh, justru Hendar yang kini menggebu-gebu. Dia terus menyerang ke arah tubuh Pramana sehingga dua security pun hampir kewalahan memegangi Hendar.
"Woy ... di pegangin tuh orang ... bukannya ditonton! kalian pikir ini layar tancap apa?" Andre berteriak pada orang-orang yang ada di sana, berharap memegangi Andre yang bagai orang kesurupan.
Jelas Pramana pun berusaha melawan. Dan dia tidak ingin kalah dari Hendar.
Apalagi beberapa gelintir orang yang mungkin temannya Hendar, yang malah bersorak dan memberi dukungan agar Hendar terus menghajar lawan nya.
"Ayo Ndar ... hajar dia. Hajar! jangan mau kalah ... tunjukkan dong ... kalau kamu kesatria, laki-laki yang hebat ..."
Hendar menyerang dengan lebih brutal, begitupun dengan Pramana yang terus melawan. Akhirnya tarik-tarikan pada tubuh dengan tubuh Hendar dan Pramana yang sama-sama dipegangi banyak orang.
Pada akhirnya Pramana semakin menjauh dari Hendar. Dan Hendar di amankan oleh lebih banyak orang sehingga dia pun tak bisa bergaya brutal lagi.
"Ngapain sih, berkelahi segala? kaya anak kecil saja. Gak punya malu!" ucap Andre menatap sang adik.
Pramana tidak menjawab. Dia merasakan beberapa luka di tubuhnya, sakit dan perih.
"Aawwh ..." desisnya Pramana.
"Seharusnya kompres pake es batu dulu." Ucap Anisa sambil menatap ke beberapa luka memar di wajah dan tangan Pramana.
"Ya sudah, sebaiknya kita segera pulang aja lah. Kita obati luka nya di rumah!" ajaknya Andre.
Kemudian mereka pun menuju mobil nya. Pramana berjalan agak membungkuk mungkin dia menahan sakit, sehingga Anisa memegangi tangannya.
Pramana kembali duduk di kursi belakang bersama Anisa dan Andre yang menyetir setelah istrinya berada di depan.
"Ibu pasti cemas deh, bila melihat kamu kayak gini. Ibu kan orangnya nggak tega'an, gampang khawatir! mudah-mudahan kita pulang Ibu dan Ayah sudah tidur dan kita harus segera ke lantai atas!" suara Andre dari belakang kemudi.
Renita melihat ke arah suaminya dan ke arah belakang bergantian. "Iyalah, namanya juga orang tua ... siapapun pasti cemas melihat anaknya luka sedikitpun."
Anisa terdiam hanya menggerak-gerakan matanya melihat ke depan dan ke samping yaitu Pramana yang duduk bersandar ke jok belakang.
__ADS_1
"Emangnya siapa sih laki-laki itu? kok bisa-bisanya berkelahi!" akhirnya Andre merasa penasaran. Siapa laki-laki yang sudah berkelahi dengan sang adik.
Sejenak tak satupun yang menjawab, Pramana maupun Anisa mulutnya bungkam.
Apalagi Anisa, dia tidak tahu harus berkata apa. Masa dia harus bilang dia lah pria yang menghamili nya, kan nggak mungkin.
"Tidak ada yang menjawab, Yang." kata istri Andre sembari melirik ke arah belakang.
"Dia ..." melirik ke arah Anisa yang melihat keluar jendela. "Dia yang sudah membuat Anis hamil!" jawabnya Permana pelan.
"Ha!" suara Andre tampak kaget dan hampir saja dia pun ngerem mendadak.
Renita menoleh ke belakang dengan mulut yang menganga, kaget. Shock mendengar kalau ternyata pria itu yang sudah menghamili Anisa. "Apa Nisa, beneran dia yang menghamili kamu?"
Anisa hanya mengangguk pelan yang di arahkan kepada Renita.
"Oh my God ... serius?" selidik kembali Renita, seolah dia belum puas dengan penglihatannya kalau Anisa mengangguk.
Lagi-lagi kepala Anisa mengangguk membenarkan.
"Haduh ... kalau tahu emang dia, ingin ku getok tuh pakai sendal kepalanya, buset ternyata dia ... tapi ganteng juga sih!" suara Renita yang mulanya emosi eh ujung-ujungnya malah mengakui kegantengannya Hendar.
"Bisa-bisanya kamu bilang ganteng sama dia itu, emang ganteng tapi kelakuannya audzubillah. Sangat-sangat tidak bertanggung jawab, mana ada laki-laki macam gitu? wanitanya hamil jangankan dinikahi mau mengakui juga enggak! kurang ajar banget tu dia!" ujar Anda sembari terus menyetir.
"Lah makanya aku hajar dia!" timpalnya Pramana dari belakang.
"Lagian Nisa ... kenapa kamu gak melaporkan saja laki-laki macam gitu, enak bener dia berkeliaran bebas! sementara kita wanita harus hamil. Terus nanti melahirkan anaknya, dia sama sekali tidak mau mengakui apalagi bertanggung jawab!" ungkap Renita kepada Anisa yang tampak geram.
Anisa tidak menjawab, malah hatinya dibuat menjadi mencelos, seolah-olah lukanya yang mulai kering atau sembuh kembali menganga, bagai disiram air cuka yang mengakibatkan bertambah perih.
"Anisa tidak punya bukti sama sekali. Yang sekiranya bisa dijadikan bukti ke pihak yang berwajib! karena nggak mungkin cuma bukti kehamilannya doang!" jawabnya Pramana dengan nada dingin.
"Ya ampun ..." Renita menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar kurang ajar, dia benar-benar laki-laki laknat yang tidak bertanggung jawab, biar saja Anisa. Biar saja Allah yang memberinya azab sama dia tuh, geram saya jadinya dan muak bila harus bertemu dia!"
Hening ....
__ADS_1
...🌼---🌼...