
Anisa tampak malu-malu setelah tahu diperhatikan oleh Pramana sementara dia sedang memilih-milih pakaian dalam.
"Kenapa malu-malu begitu? biasa aja kali!" ucapnya Pramana sembari berjalan maju menghampiri Anisa yang tampak malu-malu.
"Iih ... ngapain sih mendekat segala? malu tahu ... udah sana jauh-jauh!" kata Anisa sambil menggerak-gerakan tangannya agar Pramana menjauh dari dirinya.
"Ha ha ha ... emang kenapa! apa yang salah?" ucap kembali Pramana sembari tangannya mengambil salah satu CD wanita yang ditambahkan ke tangannya Anisa. Sebuah CD wanita yang berenda merak dan tampak cantik.
Tentunya Anisa merasa bertambah malu di buatnya. Wajahnya merah merona apalagi melihat pelayan tokonya senyum-senyum.
Setelah beberapa saat kemudian, Anisa menjinjing sebuah paper bag yang berisi pakaian dalam wanita.
"Itu saja yang kamu beli, nggak pakaiannya gitu?" kata Pramana sembari mengambil beberapa potong pakaian wanita bersama celana panjangnya kulot yang dia rasa cocok dan pas buat Anisa.
"Tidak ach. Lain kali saja!" jawabnya Anisa sembari menatap Pramana yang justru membeli beberapa setel pakaian wanita yang entah buat siapa?
"Nggak usah dicoba ya! soalnya aku udah tahu ukuran tubuhmu!" Pramana menatap Anisa yang kebingungan.
Dan akhirnya Anisa ngerti kalau Pramana membelikan pakaian itu untuknya.
"Ta-tapi aku nggak minta lho!" Anisa menatap baju-baju itu.
"Emangnya aku memberi harus di minta dulu dan aku rasa kamu juga membutuhkannya. Sudahlah jangan banyak bicara! Mbak tolong semuanya di bungkus ya? dan total kan semuanya berapa?" Pramana mengalihkan pandangannya ke arah pelayan toko.
Kini mereka sudah keluar dari toko tersebut, sebelum masuk mobil. Mereka pun membeli jajanan terlebih dahulu. Yaitu membeli martabak telor yang hangat dan juga minuman bandrek nya.
Tiba-tiba ponsel Pramana bergetar sehingga dia merogoh sakunya yang kemudian dia sedikit menjauh dari Anisa yang berdiri di dekat pedagang martabak telur.
Anisa menatap heran ke arah Pramana yang sepertinya dia sedang menerima chat dari seseorang. Dan dia tampak gelisah, Anisa buru-buru memalingkan mukanya dan berpura-pura tidak memperhatikan Pramana yang segera mendatangi dirinya kembali.
"Chat dari siapa ya?" hati Anisa bertanya-tanya lalu membayar jajanan yang dia beli.
__ADS_1
"Sudah itu aja?" tanya Pramana pada Anisa yang sudah membalikan badannya berjalan menuju mobil.
"Sudah, Emang kamu mau beli apa lagi?" Anisa balik bertanya.
"Ah nggak, ya sudah ... kita balik ke mobil." Pramana mengambil alih beberapa paper bag dari tangan Anisa yang lalu dia simpan di jok belakang.
Kemudian Pramana membukakan pintu Buat Anisa. Dan setelah itu barulah dirinya bergegas mengitari mobil untuk menjangkau belakang kemudi.
Namun Pramana tidak serta merta segera melajukan mobilnya, melainkan mereka menikmati dulu martabak telur dan lainnya.
"Sebentar!" ucap Pramana saat melihat ada sisa makanan di ujung bibirnya Anisa lalu dia membersihkannya.
Anisa hanya terdiam. Dan melihat ke arah tangan Pramana yang membersihkan bibirnya dari sisa makanan. Lalu detik kemudian pandangan mata mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain dengan perasaan yang tidak menentu.
Lalu dengan perlahan wajah Pramana mendekat. Dan Anisa pun tidak bergerak sedikit pun atau menghindar, namun bibirnya sedikit berdetak.
Tangan Pramana yang lebih dulu sampai di leher belakang Anisa dan menguncinya. Setelah itu barunya mendatangi bibirnya Anisa yang tipis dan merah natural tanpa lipstik yang menjadi polesan, namun terasa sangat manis yang di rasakan oleh Pram sehingga dia merasa candu dengan benda itu.
"Mmmm ..." desis Anisa.
Sejenak Pramana melepaskan sentuhan itu menjadikan kedua pasang mata mereka terbuka dan saling bersitatap dengan lekat dan dalam. Kemudian Pramana kembali memberikan ciuman hangat di bibir Anisa dengan halus, lebih mendalam dan intens! hingga menimbulkan rasa bahagia dan tenang pada wanitanya.
Mungkin ini sebagai ungkapan perasaan Pramana pada Anisa yang sampai detik ini belum pernah terucap kata cinta dan sayang. Dia mungkin lebih mengungkapkan nya dengan perlakuan.
Begitupun dengan Anisa dia menerima setiap sentuhan Pramana karena dia pun mulai menyukainya. Tanpa adanya paksaan, walau terkadang hati merasa was-was takut kalau suatu saat nanti Pamana akan meninggalkan dirinya.
Setelah beberapa saat melakukan sentuhan intens itu terjadi, Pram memundurkan wajahnya dan memberi tatapan yang begitu lembut dan teduh. Dia tahu kalau ini salah juga belum saatnya, namun Pramana benar-benar tidak bisa mengenalkan diri kalau untuk soal itu.
Kalau soal yang lain Pramana mampu berusaha mengendalikan agar tidak melakukan yang lebih dari itu, tapi untuk tidak sekedar mempertemukan benda tipis itu. Pramana tidak bisa menahannya lagi. Terlalu candu untuknya.
Anisa merangkul pundaknya Pramana, sehingga Pramana merasakan detak jantung Anisa yang begitu kencang dan menebarkan. Pramana pun langsung membalas pelukan tersebut dengan sangat erat.
__ADS_1
Sejenak tidak ada katabyang terucap dari bibir keduanya. Selain rasa debaran di dada, dan suara nafas yang sedikit memburu.
Ingin rasanya Pramana mengatakan sesuatu pada Anisa, kalau dia sayang kepada wanita yang sudah dia nikahi tersebut. Tetapi bibirnya terasa kelu dan berat.
Dalam waktu yang agak panjang, Anisa menikmati begitu tenang dan nyamannya dalam pelukan Pramana, rasanya tidak ingin terlepas barang sebentar pun.
"Maafkan aku yang sudah sering menyentuh mu seperti ini! padahal seharusnya itu tidak terjadi, tapi aku nggak bisa mengontrol diriku. Dan aku akan segera menikahi mu kembali dalam waktu dekat ini!" setengah berbisik namun sangat jelas masuk ke dalam kedua telinga nya Anisa yang tertutup kain tipis yang membalut kepalnya tersebut.
Membuat Anisa melepaskan pelukannya dan menunduk malu, bagaimanapun dia juga tahu apa yang dilakukannya salah. Mereka harus menikah yang kedua kalinya.
Kedua tangan Pramana membingkai wajah Anisa seraya mengelus dengan sangat lembut dengan ibu jarinya. "Kamu tidak perlu merasa malu padaku, karena aku yang lancang selalu menyentuh mu tanpa permisi!"
Tatapan Pramana begitu mendalam dan Anisa kini tak berani lagi membalas tatapan pria itu.
"Yang anehnya ... kau pun tidak menolaknya! kau selalu saja membiarkan pencuri datang padamu!" ucap kembali Pramana sembari mengulum senyumnya.
Membuat Anisa gegas mengangkat wajahnya dan sedikit melotot. "Apa maksudnya?"
"Maksud aku ... aku kan sering datang tanpa permisi, berarti sama dengan pencuri dan kamu tidak pernah menolaknya. Apa kau juga menyukainya?" ucapnya Pramana sambil menaik turunkan alisnya.
Membuat Anisa yang tadinya merasa tegang! mencair dan tersenyum. Mulanya dia pikir mungkin Pramana menyindirnya ketika ia bersama Hendar.
Anisa menjadi tersipu malu dan dia tidak berani menjawab apa-apa, dia menyukainya atau tidak. " Em ... sudah malam sebaiknya kita pulang." Anisa berusaha mengalihkan obrolan.
Pramana pun mengalihkan pandangannya ke arah luar, langit semakin gelap tanpa adanya bulan ataupun bintang. Dan ... turun lah hujan yang gerimis.
"Alhamdulillah turun hujan!" gumamnya sembari mengeluarkan tangannya seolah menadah air hujan.
Tangan Anisa pun dikeluarkan mengikuti Pramana yang menadah air hujan dengan bibir yang tersenyum mengembang ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Terima kasih reader ku ... yang masih setia membaca karya ku yang recehan ini.