Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Tega ya


__ADS_3

Bibir Caroline semakin menyungging lebar setelah melihat Anisa pergi begitu saja dari tempat tersebut meninggalkan Pramana yang masih dalam pelukan Adisty dan kini Adisty pura-pura terisak, menangis.


Pramana yang sedikit kikuk dan kebingungan, melihat Anisa yang pergi begitu saja dari sisinya! langsung mendorong Adisty dan menyusul Anisa yang setengah berlari.


"Sayang tunggu?" panggil Pramana yang keluar dari restoran itu.


"Pram? mau kemana, tunggu aku? kita belum selesai bicara dan biarkan saja istri mu itu pergi, Pram?" Adisty langsung mengulas senyumnya melihat Pramana mengajar istrinya tersebut.


"Panggilannya saja sudah sayang, berarti mereka memang sudah punya perasaan, itu menandakan mereka benar-benar ingin bersama dan tidak ingin berpisah!" gumamnya Carolin yang ditujukan kepada Adisty yang masih berdiri menatap kepergian Pramana.


"Aku tidak peduli. Mereka sudah punya perasaan kek enggak kek, yang jelas ... aku harus bisa membuat Pramana kembali dan menikahi ku seperti yang kita impikan dulu, dan aku yakin sebenarnya Pramana masih sayang kok sama aku! tidak mungkin semudah itu dia melupakan ku!" Anisa begitu sangat percaya diri kalau dia bisa menurut keamanan dari Anisa.


"Oh ya, kamu bisa? baiklah kalau kamu bisa merebutnya kembali dulu itu dia milik mu dan akan menjadi milikmu juga kan!" Carolin menaikkan kedua bahunya dan seolah mendukung untuk Adisty mengambil kembali Pramana, dari sosok Anisa.


Pramana celingukan mencari dan mengejar Anisa. "Sayang? Nisa tunggu?" panggil Pramana kepada Anisa yang semakin dikejar dia semakin jauh keluar dari area restoran berlari di pinggiran jalan.


Geph.


"Sayang tunggu? mau ke mana sih ... kita pulang sama-sama!" Pramana menangkap tangan Anisa.


Anisa hentikan langkahnya lalu dia mengangkat wajahnya menatap wajah Pramana dengan nanar. "Kamu tega ya? kamu sudah bohongin aku, kalian ketemuan diam-diam tanpa setahu aku!"


"Sayang dengarkan aku, aku pun berniat kok untuk mengatakan semuanya pada mu. Tapi aku butuh masa! karena aku pun tidak ingin membuat hatimu terluka atau kecewa! karena aku tahu kamu itu sudah punya rasa padaku!" kata Pram dengan tatapan lembut dan suara yang lirih.


"Hem. Apa yang kamu mau jelaskan padaku? bahwa kamu kembali sama dia dan ingin menikah dengannya iya? buat apa kamu meresmikan pernikahan kita? kalau kamu juga akan menghancurkan nya?" ucap Anisa dengan suara yang bergetar dan menggebu, menahan tangis yang sudah berada di tenggorokan.

__ADS_1


"Sayang dengerin aku dulu. Aku tadi sudah bilang apa adanya, kita ketemuan tidak membahas itu ... justru aku mengatakan kalau aku sudah menikah dengan mu dan tidak ada harapan untuk kami berdua kembali lagi, tidak! dan sesungguhnya aku belum ingin menemuinya, tapi dia datang ke rumah! itu yang membuat aku memutuskan segera menemuinya untuk menjelaskan kalau kita sudah menikah." Kini Pramana menggenggam kedua tangan Anisa dan berdiri dengan posisi berhadapan.


"Apa! dia datang ke rumah? berarti Ibu dan Ayah tahu kalau dia sudah kembali dan datang ke rumah!" selidiknya Anisa sembari mengerutkan keningnya.


"Iya sayang, mereka tahu dan mereka mendukung ku untuk lebih cepat menjelaskan pada Adisty bahwa kita berdua sudah menikah!" Pramana menganggukkan kepalanya.


"Berarti kalian semua bohongi aku? ibu, ayah dan kamu memang sengaja menutupi itu semua dari kan?"


"Tidak, kami tidak berniat untuk membohongi mu. Hanya kami butuh waktu aja untuk bicara dengan mu, lagian untuk apa! semuanya sudah menjadi masa lalu dan Adisty bukan apa-apa aku lagi, sekarang kamu adalah istri ku satu-satunya." Jelas Pram kembali sambil teru menatap wajah sang istri yang tampak marah.


"Kenapa sih, kamu nggak jujur saja sama aku ha? kalau sebenarnya Adisty sudah kembali dan kamu juga menemuinya! dan jika ingin menikahinya tidak perlu kita melanjutkan niat kita untuk mengesahkan pernikahan kita. Lepaskan aja aku, beres. Semuanya selesai dan kamu bisa menikah dengan dia, hidup bahagia dengannya! apa yang dikatakan Aditya benar, kalau kehadiran ku itu di kehidupan mu hanya sebagai pengganti saja, setelah dia kembali! tentunya aku tak ada artinya lagi!" Anisa menghempaskan kedua tangan Pramana dengan kuat.


Lalu dia berjalan kembali sembari memeluk dadanya, membawa langkah nya yang sedikit lebar berjalan di pinggiran jalan dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


Baru kali ini dia menangisi seorang pria yang mulai dia cinta itu, ia sesali kenapa harus mengesahkan lagi pernikahan? kalau saja dia tahu Adisty kembali ... pastinya akan dia tolak. Lagian apa sih yang jadi penghalang kedua tuk berpisah? toh sekarang Anisa sudah tidak hamil lagi dan tidak memerlukan lagi sosok bapak untuk bayinya.


Sesaat Pramana terdiam memandangi punggungnya Anisa yang berjalan cepat meninggalkan nya itu. Lalu ia menoleh ke arah parkiran dimana mobilnya terparkir, Pram berlari menghampiri mobilnya dan mengambil mobil tersebut untuk menyusul Anisa.


Ckitttt ....


Pramana memutar kemudi dan mengeluarkan mobil tersebut dari area parkiran, menyusul Anisa yang terus berjalan di pinggiran yang kebetulan tidak terlalu ramai.


"Sayang, masuk lah?" pintanya Pramana kepada Anisa setelah dekat dengan mobilnya itu.


"Aku akan pulang sendiri, aku malas pulang dengan mu dan aku akan pulang ke rumah bunda!" suara Anisa dengan parau.

__ADS_1


"Sayang ... ke rumah Bunda kan jauh, pulang aja ke rumah kita ya? tolong dong ngertiin! dan dengar penjelasan ku kalau aku tidak akan pernah kembali sama dia dan kita akan hidup bahagia, menjalani rumah tangga kita ini. jadi sudahlah ... tidak usah marah!" suaranya Pram dari dalam mobil yang terus merayap di samping Anisa yang berjalan kaki.


Namun perkataan Pramana tidak dapat meredakan rasa marahnya Anisa, rasa kesal. Rasa sesak di dada sehingga air mata pun semakin berjatuhan seiring air hujan yang mulai jatuh membasahi bumi walaupun hanya gerimis saja.


Toott ....


Toott ....


Suara klakson mobil Pramana yang dinyalakan. "Sayang, Masuk lah ... ini sudah malam! dan gerimis pula ayo masuk nanti kamu sakit!"


Anisa menolehkan kepalanya kepada perang yang berada di belakang kemudi mobilnya. "Sudah ku bilang, aku tidak mau pulang ke sana lagi. Aku mau pulang ke rumah Bunda saja dan aku akan taksi! Oh ya resepsi pernikahan pun kita batalkan saja."


"Nisa, tidak bisa seperti itu dong ... kamu tidak boleh memutuskan satu pihak saja!" Pram terus melajukan mobilnya seiring langkah kaki nya Anisa.


"Aku tidak peduli dan aku tidak mau melanjutkan pernikahan kita. Aku sudah tidak hamil lagi, aku tidak butuh lagi orang supaya menjadi sosok suami!" jelas Anisa dengan suara yang bergetar tubuhnya mulai basah karena air hujan yang semakin ke sini semakin deras.


Kebetulan manik mata Anisa melihat ada taksi yang sedang terparkir di sebuah sana sekitar lima meter dari situ, sehingga Anisa buru-buru menghampirinya.


Anisa memutuskan kalau dia ingin pulang langsung ke tempat bundanya. Dan dia ingin memenangkan diri terlebih dahulu. Walaupun dia tidak akan serta-merta ingin membatalkan resepsi pernikahannya itu, setidaknya dia bisa menenangkan diri dulu.


Melihat Anisa yang setengah berlari menghampiri sebuah taksi, membuat Pramana pun menghentikan mobilnya. Lalu turun dan mengejar Anisa, sebab kalau dengan mobil tidak mungkin bisa menjangkau Anisa yang mengambil jalan yang melipir dan tidak bisa menggunakan kendaraan roda empat ....


...🌼---🌼...


Masih bersambung ya.

__ADS_1


__ADS_2