Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Aku berbeda


__ADS_3

"Em ... aku duluan ya! tunggu di mobil," Anisa buru-buru beranjak dari duduknya dan meraih beberapa paper bag yang berada di samping dia, tanpa menunggu persetujuan dari Pramana. Anisa berjalan cepat meninggalkan di mana Pramana masih duduk termenung.


Pramana hanya terdiam dan menatap punggung Anisa yang berjalan setengah terburu-buru, begitupun dengan Hendar dia pun diam seribu bahasa melihat ke arah Anisa dan kehamilannya pun tampak terlihat dengan jelas.


Kemudian Hendar mengalihkan pandangannya kepada Pramana seraya bertanya. "Apa benar. Dia istrimu?"


"Oya, aku pulang dulu! permisi!" Pramana bukannya menjawab pertanyaan dari Hendar, melainkan dia langsung pergi setelah membayar bekas makannya dan tidak lupa berpamitan.


Pramana langsung membawa langkah nya yang lebar untuk menyusul Anisa, dalam hatinya merasa penasaran. Ada apa sebenarnya? ini ada hubungan apa, apa benar Hendar yang menghancurkan hidupnya Anisa? atau kekasihnya.


Kebetulan Anisa masih berdiri di dekat mobil, karena mobil Pramana pun masih terkunci dan dia tidak bisa masuk.


"Ada apa kamu dengan Hendra?" tanya Pramana sembari membuka kunci mobil.


Anisa segera menoleh serta menjawab. "Tidak ada apa-apa."


"Bohong! dia kekasih mu atau siapa?" tanya Pramana sembari menutupkan pintu setelah Anisa duduk dengan baik.


Kemudian Pramana mengitari mobilnya untuk menjangkau kursi belakang kemudi, namun sebelum dia menyalakan mobilnya. Pramana menoleh pada Anisa dan sedikit menghadap wajahnya pada gadis itu.


"Kekasih mu atau siapa?" tanya Pramana dengan tatapan yang tajam, dalam hati yang paling dalam Pramana merasa cemburu. Karena melihat tatapan Hendar yang begitu dalam seolah-olah mengandung arti.


"Kan sudah aku bilang barusan, gak ada hubungan apa-apa!" jawabnya Anisa sembari menatap kedua netra mata Pramana yang bikin hati ya bergetar.


"Bohong. Aku tidak percaya, kalau nggak ada apa-apa ... kenapa sikap kalian begitu aneh! dan kamu begitu dingin sama dia! kalau sekedar kenal, nggak gitu juga!" Pramana tidak percaya begitu saja dengan jawaban dari Anisa, melihat ekspresi yang ada rasanya tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa.


"Terus aku harus bilang apa? kan memang gak ada apa-apa!" sambungnya Anisa sedikit kesal lula menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak percaya--"


"Ya terserah! kamu mau percaya atau tidak!" Anisa langsung memotong kalimat ucapan Pramana.


"Kalau tidak ada apa-apa kenapa kamu seolah tidak ingin ketemu dia dan pergi begitu saja, begitupun dengan laki-laki itu. Tatapannya begitu lekat/dalam sama kamu seakan-akan menyimpan sesuatu bagai ada ketertarikan yang begitu mendalam, kan nggak mungkin kalau tidak ada apa-apa! Pramana kekeh dengan kecurigaannya.


Anisa malas untuk berbicara lagi, dia menyandarkan punggungnya ke belakang Lalu melepas pandangannya ke arah luar! hatinya yang terasa sedih dan rasanya ingin menangis saja di situasi seperti ini.


Anisa beberapa kali menelan Saliva nya, dia nggak tahu harus berkata apalagi. Karena untuk bicara jujur ... bibirnya terasa kelu dan rasanya berat sekali.

__ADS_1


Pramana menggerakkan tangannya lalu menyentuh dagu Anisa! diarahkan wajahnya Anisa agar berhadapan dengan dirinya.


"Kenapa tidak menjawab! ada hubungan apa kamu sama dia? dan cincin pernikahan kita mana, kenapa nggak kamu pakai ketika kamu pergi?" suara Pramana sedikit bergetar dan tatapannya begitu lekat kepada Anisa.


"Cincin itu ... cincin itu aku simpan di laci kamar kok, ada dan gak kemana-mana. Lagian kamu juga nggak pernah memakainya, kamu juga seolah-olah tidak pernah mengakui ku, jadi untuk apa mempertanyakan cincin itu!" akunya Anisa sembari menepis tangan Pramana dari dagunya.


"Nisa, aku ini laki-laki, memakai atau tidak cincin perkawinan, itu hanya sebuah lambang! kamu tetap berada dalam tanggung jawab ku!" akunya Pramana sembari mendekatkan dirinya kepada Anisa.


"Terus apa bedanya denganku! Ada dan nggak ada cincin itu?" lanjut Anisa sambil kembali mengedarkan pandangannya ke luar jendela, apalagi Pramana terus menatap dirinya yang membuat salting. Serta perasaan yang tidak karuan.


"Oke, soal cincin itu selesai dan kau harus jawab! ada apa kamu dengan Hendar? apakah dia laki-laki yang sudah mengambil kesucian mu? hingga menanam benih di rahim mu itu?" suara Pramana agak sedikit naik.


Sontak Anisa menolehkan kepala dan memandangi wajah Pramana yang bisa menduga seperti itu terhadap Hendar, sesuai dengan kenyataannya. "Ka-kamu tahu dari mana?"


"Aku hanya menduga, kan aku nggak percaya kalau kalian tidak ada apa-apa! sementara bukan kekasih," tambahnya Pramana dengan posisi yang tetap sama.


Anisa menghela nafas dalam-dalam, lalu ia menunduk kan kepalanya dalam-dalam.


Lagi-lagi tangan Pramana bergerak mengarah ke dagu Anisa, diangkatnya wajah itu dengan tatapan yang semakin dalam. Membuat jantung Anisa semakin berdegup sangat kencang, dag-dig-dug bak bedug yang di tabuh. Perasaan yang sangat tidak menentu.


Dan kali ini jepitan jarinya Pramana di dagu Anisa lebih kuat, sehingga Anisa sulit untuk menepisnya. Anisa merasa was-was dan rasa cemas yang entah apa itu.


Pandangan mereka kembali bertemu, saling mengunci satu sama lain. Kemudian Anisa mengangguk pelan


"Dia yang sudah mengambil semuanya dari mu, kan? dan aku akan menghapusnya secara perlahan, menghapuskan dari ingatan mu." Suara itu semakin aneh dan nafasnya tampak memburu.


Membuat Anisa semakin tidak karuan, salah tingkah iya. Dada terus berdebar iya, bahkan tubuh Anisa pun bergetar dan panas dingin. Keringat pun mendadak bercucuran.


Apalagi ketika wajah Pramana semakin mendekat, dan tetapan pria itu mengarah pada satu salah satu anggota tubuh Anisa. Sepertinya dia punya nafsu tersendiri bagai orang lapar dan ingin melahap benda tipis miliknya Anisa.


"Ja-jangan, jangan perlakukan aku kayak gini?" tangan Anisa menutup mulutnya agar tidak dapat disentuh oleh Pramana.


Namun dengan cepat tangan Pramana menyingkirkan penghalang tersebut, hingga akhirnya entah sadar atau tidak, Pramana mengecup bibir Anisa dan bukan cuma di kecup saja. Tapi dinikmati dengan lembut ... bibir itu menelusuri setiap incinya.


Bibir Pramana me-lu-mat dan meng-hi*ap bibir wanitanya yang tampak tidak berdaya. Hanya nafasnya saja yang terdengar memburu dari hidung mancungnya itu. Dengan manik mata yang melotot karena tidak nyangka juga kalau Pramana bisa melakukannya.


"Em, mmmm ..." suara lembut Pramana seolah sangat menikmati sarapannya serta kelopak mata yang tertutup.

__ADS_1


Tangan Pramana yang satunya mengunci tengkuk Anisa sehingga sang empu tidak mampu menggerakan kepalanya.


Anisa pun ikut larut dalam suasana, menjadikan kedai manik matanya yang indah pun terpejam.


Namun lama-kelamaan Anisa tersadar, itu tidak seharusnya Pramana lakukan pada dirinya. Lalu tangan Anisa pun mendorong dada Pramana sampai pria itu menjauh.


Tatapan mata Pramana yang memerah seperti menyimpan sesuatu. Dan sebagai pria normal dia memang inginkan itu, bahkan mungkin lebih dari sekedar tersebut.


"Kamu sadar nggak? apa yang kamu lakukan padaku. Apa bedanya kamu dengan laki-laki itu?" ucap Anisa, kedua menik matanya pun berkaca-kaca sembari mengusap bibirnya yang basah.


Pramana terdiam mencerna maksud perkataan dari Anisa.


Pramana sendiri merasa kalau dia memang beda dari Hendar. Hendar yang bukan apa-apa dan dia sudah berani mengambil semuanya dari Anisa. Sementara dirinya sudah mengucapkan ijab Kabul, meskipun dalam secara agama dia belum sah dikarenakan wanita yang nikahi adalah wanita yang tengah hamil.


Dan sebagai status suami, Pramana sangat bertanggung jawab terhadap istrinya Anisa. Tentunya beda jauh dengan orang yang bernama Hendar.


Anisa menangkup wajahnya dengan Kedua telapak tangan, dia menangis entah apa yang di tangisi, menyesal sudah disentuh oleh Pramana atau ada hal lain yang membuat dia menangis.


"Jangan pernah samakan aku dengan Hendar, karena dari segi manapun aku berbeda dari dirinya. Aku yang pernah mengucap janji suci dan menjadikan mu istri biarpun terhalang karena kehamilan mu itu, dan di sisi lain aku suami ... yang aku rasa sangat tanggung jawab pada mu. Setiap sentuhan yang aku berikan barusan atau entah kapan! akan menghapus ingatanmu terhadap apa yang pernah dia lakukan padamu."


Dengan tetapan yang berkaca-kaca Anisa menatap pada Pramana. "Apa kau tahu? aku tidak pernah merasakan itu dan aku tidak pernah mengerti itu! karena aku tidak sadar, aku tidak tahu apa yang telah dia lakukan padaku. Aku tahunya semuanya sudah selesai dan kami sama-sama tidur di tempat yang sama dengan tubuh kita yang hanya tertutup dengan selimut--"


"Ssstttth, jangan katakan apapun lagi, atau menjelaskan semuanya! aku tidak ingin mendengarnya!" jari Pramana di tempelkan di bibir Anisa seraya bergerak mengusap lembut.


Wajah Pramana kembali mendekat ingin menyentuh lagi dan menikmati lembutnya bibir Anisa, dan ciuman barusan adalah kali pertama untuk Pramana menyentuh lawan jenis.


Biarpun lama pacaran dengan Adisty tapi Pramana tidak pernah melakukan yang lebih, kecuali pegang tangan memeluk dan mencium pipi atau kening.


Ternyata rasanya tidak dapat ungkapan dengan kata-kata ataupun dengan menggambarkan dengan kanvas menunjukkan keindahannya.


Begitupun dengan Anisa, baru kali ini juga dia merasakan hangatnya bibir seorang laki-laki, karena dia tidak pernah melakukan itu sebelumnya dengan sadar seperti ini, dan jujur dia takut, dia merasa takut kejadian itu akan lebih dari sekedar Ciu-man. Bagaimanapun Anisa harus ingat kalau Pramana belum sah menjadi suaminya di mata agama karena kehamilan nya tersebut.


Sebelum bibir Pramana kembali mendarat di tempat tujuannya. Anisa bersuara dengan nada agak tinggi. "Aku ingin pulang!"


Membuat wajah Pramana mundur beberapa jengkel menatap kecewa kepada Anisa yang langsung mengalihkan muka nya ke arah jendela ....


...🌼--🌼...

__ADS_1


Jangan lupa like comment dan dukungan lainnya Dan jangan lupa juga Biar ada typo tolong di kasih tahu ya makasih


__ADS_2