Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Pendamping


__ADS_3

"Alhamdulillah pernikahan nya lancar! meskipun mempelai wanita harus digantikan!" gumamnya bu haji Bella kepada sang suami.


"Iya, Bu ... puji syukur kepada Allah Yang maha kuasa walaupun pengantin wanitanya harus di gantikan, tapi pernikahannya tetap jadi. Kini Pramana memiliki pendamping hidup yang insya Allah akan menjadi istri yang sholehah!" balasnya Pak Lukman sembari mengedarkan pandangan keh arah besannya yaitu pak Joni dan keluarga.


"Mungkin ini jodohnya Pramana, yang diberikan Allah sebelumnya kurang cocok sehingga di gantikan!" tambahnya Andre yang sepertinya lebih sreg dengan pernikahan Pramana bersama Anisa.


"Emangnya si Adisti ke mana sih? kok ninggalin tunangannya, soalnya nggak mau nikah yang ngomong lah ... jangan sampai meninggalkan di saat pernikahan." kata istrinya Andre.


"Entahlah sayang ... mungkin dia berubah pikiran saat-saat pernikahan menjelang. yang penting adikku sekarang sudah menikah dan tidak membuat gempa karena pernikahannya gagal menyesal juga pasti si Adisty." Jawabnya Andre.


"Cuma menurut aku ... wanita seperti itu bodoh ninggalin orang yang sudah siap sedia menikahi malah ditinggal! tapi memang kembali lagi pada kata bukan jodoh!" sambung istrinya Andre kembali.


"Sesungguhnya manusia itu hanya bisa berencana dan Allah juga yang menentukan rencana Pramana adalah menikahi Adisty. Namun karena Allah yang berkehendak dan pada akhirnya Pramana menikahi Anisa." Aisyah turut bicara di antara obrolan Andre dan istrinya juga kedua orang tuanya.


"Betul sekali Aisyah, Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk umatnya." Timpal Bu haji Bela.


"Tapi maaf beribu maaf ... atas nama keluarga Aisyah memohon maafkan saya karena Anisa. seorang wanita yang tidak sempurna bahkan ya sudah gagal menjaga mahkotanya dan Aisyah mohon kepada keluarga Paman Lukman untuk mempercayai kalau kejadian itu adalah memang kecelakaan bukanlah disengaja ataupun Anisa sebagai wanita murahan!" Aisyah mengalihkan pandangannya khususnya pada keluarga Pak Lukman.


"Aisyah, kami mengenal kalian yang sangat baik. Kami percaya kalau Anisa adalah gadis baik-baik seperti Aisyah. Dan kami juga akan menyayangi sepenuh hati Anisa seperti kami menyayangi anak-anak kami," Tambahnya pak Lukman sambil melihat ke arah Aisyah.


"Alhamdulillah ... dan kami pun percaya kalau kalian akan menerima dan menyayangi Anisa seperti keluarga paman sendiri." Tambahnya Aisyah.


"Ehem ... kalau seandainya nanti Anisa sudah lahiran dan keluarganya tidak mau menerima bayinya termasuk Anisa sendiri, seandainya. biar kami yang akan merawatnya!" ungkap Azis mengenai perihal anak yang dikandung oleh Anisa.

__ADS_1


"Astagfirullah ... seandainya kami bisa menerima dan menyayangi Anisa, tentunya akan menerima dengan baik bayi nya. Masya Allah ... kami tidak akan seperti itu! kami akan menyayangi bayinya juga seperti cucu sendiri!" balasnya Bu haji Bela.


"Yang kami katakan barusan adalah masih berandai-andai karena di saat ini pikiran Anisa masih galau, dia masih belum bisa berpikiran jenuh karena masalah ini--" ucapan pak Joni terpotong sang istri.


"Itu benar! bagaimana tidak, laki-laki yang sudah merenggut mahkotanya sama sekali tidak mau mengakuinya apalagi tanggung jawab! sementara Anisa kukuh dengan pengakuannya." tambah Bu Farida memotong perkataan dari suaminya.


"Masya Allah, kasihan juga ya Anisa! semoga dia menjadi wanita yang kuat yang tegar dan menjadi wanita yang sholehah untuk Pramana." Seru nya Bu haji Bela.


"Aamiin ..." jawab semua orang yang berada di ruangan tersebut yang berhadapan dengan pelaminan dan di ruangan tersebut hanya terdapat dua keluarga saja.


Sebab yang lain sedang menikmati makan-makannya di area pernikahan.


"Aisyah sangat mengucapkan banyak terima kasih. Tante atas kelapangan dada menerima Anisa sebagai menantu di rumah ini, semoga Allah membalas segala kebaikan dari keluarga ini." Ungkap Aisyah kembali.


"Kalau untuk soal itu tidak usah dipikirkan! karena ini memang sudah kewajiban dari pihak laki-laki, jadi tidak perlulah kalian mengeluarkan biaya untuk itu, yang penting kita sama-sama mendoakan agar selamanya pernikahan ini ke depannya hidup bahagia ya ... memang ibaratnya mereka sekarang ini bagaikan orang asing!" ujarnya Pak Lukman sembari mengarahkan pandangan ke arah pelaminan dimana Pramana dan Anisa masih menerima ucapan terima kasih dari para tamu.


"Itu benar sekali, mereka pasti merasa asing satu sama lain tapi insya Allah waktu dengan banyak bersama mereka akan saling mengenal bahkan saling menyayangi satu sama lain!" harap Pak Joni.


"Sungguh saya tidak menyangka kalau hubungan kita semakin dekat dengan berjodohnya putra dan putri kita." Gumamnya pak Lukman yang ditunjukkan kepada pak Joni.


"Memang benar! sungguh sesuatu yang tidak pernah terduga sebelumnya! jodoh memang tidak kemana," timpalnya Pak Joni sembari mengulas senyumnya yang penuh rasa senang.


"Kak Bella hati-hati, tolong bimbing dia agar menjadi wanita itu lebih baik dan maafkan atas segala kekurangannya! jika ada perilaku dan kelancangan dia di sini ya?" ungkap bu Farida yang dikhususkan kepada ibu Haji Bella.

__ADS_1


"Tentu, insya Allah kami akan membimbing nya. Saya percaya bahwa Anisa bisa membawa diri dan menjaga pribadinya." Balasnya Bu haji Bella kepada Ibu Farida.


"Sekali lagi Aisyah mengucapkan sangat-sangat banyak terima kasih paman dan tante. Dan Aisyah sangat merasa bahagia pada akhirnya Anisa dapat menikah dengan pria yang insya Allah dapat membimbing nya menjadi istri yang solehah!" Aisyah tidak henti-hentinya menunjukkan rasa bahagianya, melihat adiknya menikah juga dan percaya kalau Pramana dapat menjadi suami dan imam yang baik buat Anisa.


"Bunda, Fika mau ke toilet!" suara anak itu terdengar di tengah obrolan dua keluarga.


Membuat Aisyah menoleh dan langsung beranjak dari duduknya menghampiri putrinya tersebut.


"Ferly sini Nak? duduk sama Om ganteng!" Andre melambaikan tangan ke arah Ferly agar anak itu duduk bersamanya.


"Anaknya Aisyah ganteng ya? semoga anak yang aku kandung ini seganteng anak itu!" gumam istrinya Andre sambil mengusap perutnya yang sedang masa ngidam.


Di pelaminan tidak henti-hentinya Pramana dan Anisa menerima ucapan selamat berbahagia dari para tamu undangan termasuk teman-teman dari Pramana, apagi temannya terus saja menggoda pengantin.


"Wah ... sebentar lagi belah duren tuh. Akhirnya seorang Pramana belah duren juga! jangan lupa hati-hati ya jangan ditembak sekaligus kasihan, pelan-pelan saja pelan-pelan ... kudanya sabar ..." ucap laki-laki sahabatnya Pramana.


Yang lalu kemudian menjadi candaan dan ketawa-ketawa lepas dari kawan lainnya.


Pramana hanya tersenyum tipis mendengar candaan itu dari kawan-kawannya, dalam hati berkata. "Belah duren apanya? sudah jebol duluan kok!"


Lain lagi dengan yang dirasakan oleh Anisa saat ini, dia merasa sedih dan merasa bersalah, dia sudah tidak virgin lagi bahkan di dalam perutnya sedang tumbuh benih yang Hendar tanam begitu saja ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Mohon dukungannya ya .... makasih.


__ADS_2