
Kini rombongan keluarga sudah berada di dalam mobil dengan tujuan pulang, sementara Pramana dan Anisa. Mereka tetap memilih berdua saja di mobil pribadinya.
"Yank?" panggilnya Anisa sembari melirik ke arah Pramana yang sedang menyetir itu.
"Hem ... ada apa?" sekilas Pramana menoleh pada sang istri.
"Boleh nggak? jika aku kerja! rasanya aku suntuk di rumah terus gak ada kegiatan!" ucapnya Anisa sembari menyandarkan punggungnya ke jok belakang serta tatatap lepas ke depan.
"Nggak ada kegiatan? gak ada kegiatan gimana sayang ... kan di rumah banyak kegiatan! ikut bersih-bersih, memasak untuk aku. Kalau kamu kerja. Siapa yang mau masak untuk aku? menyiapkan makan siang ku? dan juga makan malam. Masa mau makan di luar terus! atau mengandalkan bibi di rumah, yang ada nanti ibu yang turun lagi masak."
"Jadi aku nggak boleh kerja?" Anisa kembali melirik ke arah suaminya.
"Nggak, nggak aku izinkan kamu bekerja! cukup kamu di rumah bersantai dan menyiapkan semua keperluanku. Kalau kamu kerja ... nggak ada yang mengurus aku lagi," Pramana menoleh penuh harap kalau istrinya tidak perlu bekerja di luar.
"Em ... tadinya aku pikir kau akan izinkan aku untuk bekerja dan di bagian apa aja di kantor mu! tapi kalau tidak boleh ya nggak apa-apa, emang iya sih kalau aku kerja paling kamu makan siang di luar. Paling dari rumah dan ibu yang nyiapin!" sambungnya Anisa sembari mengagungkan pelan kepalanya dan melihat keluar jendela.
"Kalau saja kamu ingin punya kegiatan mendingan ngelamar aja tuh jadi guru TK, jadi kerjaannya kan paling sampai jam 11.00 dan setelah itu sayang bisa masak untuk aku makan siang, di sekitar rumah sedang membutuhkan guru TK lho." Tambah Pram sembari fokus melihat ke arah depan.
"Guru TK?" Anisa menoleh pada suaminya yang memberikan anggukan sebagai tanggapan.
"Iya, yang kudengar seperti itu. Kalau sayang mau! jadi waktunya sebentar, ya hitung-hitung mengisi waktu kan?" tambahnya Pram.
"Aku itu suka sama anak-anak, tapi kalau untuk mengurus anak-anak seperti menjadi guru TK ... rasanya gimana ya. Aku takut kesabaran aku itu setipis tisu yang dibagi 10 alias tidak sabar he he he ...." Anisa merasa ragu dengan kesabarannya bila harus mengurus anak-anak apalagi bukan satu dua yang tentunya banyak.
"Ya sudah ... nggak usah lah, mendingan kamu di rumah aja mangurus keperluan aku. Lagian masa sih uang dariku nggak cukup?" Pramana melirik pada Anisa yang tengah menatap dirinya.
"Cukup, apalagi sekarang yang kamu kirim ke ih banyak. cukup-cukup aja malah lebih." sahutnya Anisa tadinya sih pengen bekerja di kantoran seperti harapannya dulu sebelum kejadian insiden tersebut.
Tapi kalau tidak di ijinkan, ya sudah. Lagian memang mencari apa juga, yang yang di tf Pram lebih dari cukup buat belanja dapur dan keperluan lainnya.
"Bukan apa-apa sih sayang! aku nggak ngizinin kamu bekerja itu ... satu! kasihan capek, dua ... aku nggak ada yang ngurus lagi! aku sudah terlalu nyaman semuanya kamu yang urusin, kalau kamu bekerja. Terus siapa yang akan mengurus aku lagi. Oke paling kerja sampai sore dan malamnya kamu ada di rumah! tapi aku juga gak tega kalau kamu siangnya capek dan malamnya harus capek ngelayanin aku juga!" Pram menyentuh tangan Anisa dengan lembut yang berada di atas pangkuannya.
"Ya sudah ... aku dak akan kerja kok biar aku cukup di rumah saja kan, biar aku lebih fokus mengurus bayi besar ku ini." Anisa memeluk tangan Pramana bagian atas dan menempelkan pipinya di sana.
__ADS_1
"Jangan dekat-dekat sayang, nanti kalau aku minta di mobil Gimana. Emangnya mau--"
"Hah?" Anisa setengah kaget dan langsung menjauhkan dirinya dari Pramana. "Apaan sih ... nggak jelas banget!" Anisa menggeleng sembari mesem.
"Bukan nggak jelas sayang, kalau tiba-tiba kepengen gimana? aku kan normal, tapi nggak apa-apa sih di mobil juga ... siapa tahu lebih asik ha ha ha ... Orang aja bisa melakukannya di dalam mobil--"
"Aish ... nggak-nggak, apaan sih?nggak punya malu banget." lagi-lagi kepala Anisa menggeleng. Dia tidak setuju dengan omongan Pramana.
"Kenapa. Apa salahnya? tertutup kok di dalam mobil ini kan dari luar nggak kelihatan--"
"Iya memang nggak kelihatan ... mungkin dari luar! tapi aku nya yang malu, berasa kelihatan gitu! udah ah ngomong ngelantur aja, dasar mesum!" Anisa memotong perkataan dari Pramana sambil menepuk paha pria yang sedang menyetir tersebut.
"Tapi suka kan?" Pram mencolek dagu Anisa dengan gemes.
"Iih ... colek-colek, emangnya aku sabun colek apa? jangan gitu ah risih tau." Anisa mencibirkan bibirnya.
"Bukan sih ... istriku bukan sabun colek! tapi sesuatu yang bikin aku melek he he he ..." Pram sembari memutar kemudi nya dan memarkirkan di depan kediaman pak Joni.
"Aku berduaan sama istri aku, apakah mau di pecah belah? ha ha ha ..." ucapnya Pram yang ditujukan kepada Renita.
"Yey ... Siapa juga yang mau pecah belah? orang cuman ngomongin sama ibu, itu pengantin baru pulang. Emangnya salah ... kita aja dari tadi ya kan, Bu?" dalihnya Renita sembari memanyunkan bibirnya.
Di ruang tengah memang sedang berkumpul, keluarga Pak Joni juga keluarga Pak Lukman Yang sebentar lagi juga akan pulang.
"Pram, sebentar lagi kami akan pulang. Kamu akan menginap lagi di sini apa langsung pulang?" tanya sang ibu kepada putranya, Pram.
Pram dan Anisa saling melempar pandangan, kemudian Pramana berkata. "Sepertinya aku menginap di sini satu malam lagi dan besok pagi-pagi sekali aku akan ... gimana ya, Sayang di gimana, mau kapan kita pulang?" Pramana malah bertanya pada istrinya.
"Aku sih terserah, besok pagi boleh. Sekarang juga tidak apa-apa!" jawabnya Anisa menyerahkan gimana saja keputusan Pramana yang mau sekarang atau besok juga tidak masalah.
"Em ... kalau gitu ... besok pagi saja. Subuh-subuh kita pulang!" Pramana menyentuh tangan Anisa.
Anisa pun mengangguk pelan. Lalu tersenyum pada semuanya.
__ADS_1
"Sekarang hati ini terasa tenang, karena semuanya sudah selesai tinggal meniti kehidupan kedepannya dan semoga menjadi rumah tangga yang sakinah madah warohmah," ucapnya Pak Lukman yang merasa lega karena semua urusan Pram sudah selesai.
"Iya benar, tinggalah meniti hari menata rumah tangga yang bahagia. Saling menyayangi saling memberi dan menerima! karena pada akhirnya jodoh Anisa adalah Pram. Dan kita berdua bukan cuma sahabatan dari dulu tapi juga menjadi besan." Tambahnya Pak Joni.
"Yaps itu benar, memanjangkan silaturahmi antara kita bersama!" timpalnya Pak Lukman.
"Padahal tidak menyangka juga ya, kalau kita akan menjadi besan! tidak pernah kepikiran gitu!" kata Bu Farida sembari menggeleng.
"Sama, saya juga nggak kepikiran ke sana! orang Pramana mau nikah sama wanita lain kok, tapi begitulah cara Allah menyatukan kita semua, tiba-tiba calonnya Permana kabur dan Anisa hadir di sini. Akhirnya Anisa lah yang Pramana nikahi, sesuatu yang Allah berikan tanpa kita duga-duga sebelumnya!" bu Hajjah Bella menambahkan obrolan di antara mereka.
Kemudian Pak Lukman beserta keluarga pun berpamitan, karena takut kemalaman. Mereka pun bergegas untuk pulang.
Pramana dan Anisa mengantar mereka hanya sampai teras saja.
"Pram, di jeda lho. Kasihan istrimu nanti dia sakit lho ... kalau kamu lupa daratan!" celetuknya Renita pada Pram.
"Masih mending lupa daratan, daripada lupa lautan! nggak bisa mandi deh ha ha ha," tambahnya Andre di barengi dengan ketawa.
"Ach, kalian ini ada-ada saja deh!" kata Ibu hajah Bella.
"Ya sudah, kita pulang dulu Assalamu'alaikum." Pak Lukman lebih dulu berjalan menghampiri mobilnya.
"Wa'alaikumus salam ... hati-hati semuanya, sampai ketemu besok." Pramana melambaikan tangannya.
Begitu juga dengan Anisa, dia mencium tangan kedua mertuanya. Kakak ipar dan juga istrinya.
"Kalau Pram galak-galak! bilang ya sama Abang, nanti Abang ketok kepalanya." Pesannya Andre sebelum masuk ke mobilnya pada Anisa.
Anisa hanya tersenyum manis dan melambaikan tangan, di saa mau melangkah ke dalam rumah. terdengar suara yang berteriak memanggil Anisa yang terdengar panik ....
.
Bersambung
__ADS_1