Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Begini rasanya


__ADS_3

"Ohoh ... yang lagi kasmaran, dunia ini serasa milik berdua ya. Yang lain cuma ngontrak dan bila tidak bayar, usir aja! he he he ...."


Renita yang baru datang menggandeng tangan suaminya Andre. Menatap penuh menggoda ke arah Pram dan Nisa yang kini sama-sama berjalan hendak ke restoran nya untuk makan malam.


"Malah bukan cuman milik berdua saja dunia ini, rasanya binatang pun tidak di akui saking indahnya masa-masa berdua he he he ..." timpalnya Andre.


"Jangan sirik deh Kak, Bang ... kaya nggak pernah ngerasain aja ha ha ha!" balasnya Pramana sambil merangkul pinggangnya Anisa.


"Justru karena kita sudah merasakannya ya sayang ya? jadinya kita tahu gimana rasanya. Pengantar berdua ... terus, tidak ingin terpisah pengen nempel aja kayak perangko! bila perlu nih ya ... Bila perlu ... tidak usah makan dan tidak usah kerja, yang ada aja dijilati oho-oho hooo ..." tambahnya Andre kembali sembari menoleh pada sang istri yang memberi tanggapan dengan anggukan.


Yang lain hanya tersenyum mendengar perbincangan mereka semua.


"Itulah masa-masa indahnya pengantin baru, tapi itu tentunya lebih baik karena itu masa yang sudah halal dan bukan di saat pacaran," tambahnya Aisyah dari sebelah kanan.


"Rasulullah bersabda: Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya. (HR. Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman!" ucap Azis menambahkan perkataan dari sang istri, Aisyah.


"Berarti percintaan setelah menikah itu lebih indah dari masa pacaran. Tapi pada kenyataannya pacaran itu lebih menggiurkan ketimbang masa setelah menikah." Timpal kembali Aisyah.


Kini mereka sudah berada di restoran yang ada di kotel tersebut dan masing-masing mengambil tempatnya.


Hidangan yang sudah tersedia di meja, dengan menu yang serba ada pun di santap dengan nikmat di barengi dengan obrolan ringan dan juga canda tawa.


Selesai makan, kembali ke kamarnya masing-masing, biar lebih awal untuk beristirahat dan besok pagi-pagi harus bersiap-siap untuk acara resepsinya.


Setelah beberapa saat permainan sibuk dan laptopnya sambil duduk di sofa panjang yang berada di kamarnya hotelnya itu.


Kedua netra nya mencari-cari keberadaan sang istri yang tadi berada di sampingnya dan sekarang tidak ada di tempat tersebut.


"Sayang?" panggilnya Pram sambil menoleh kanan dan kiri.


Menutup laptopnya dan ciri merapikan kemejanya lalu berjalan mendekati pintu kamar mandi dan dari sana terdengar suara kucuran air. Tangan Pramana nyentuh handle pintu lalu mendorongnya.


Anisa yang sedang asyik bernama dengan aroma terapi yang tersedia di tempatnya begitu sangat menikmati sehingga dia terkaget-kaget ketika pintu tiba-tiba terbuka.


"Astagfirullah!" Hampir saja Anisa melonjak dari tempatnya. Namun keburu sadar kalau yang masuk itu adalah Pram.

__ADS_1


"Kenapa sayang? kok kaget sih! Kaya orang baru saja." Pram mendudukan menentukan dirinya di bathub.


"Gimana nggak kaget? orang masuk nggak permisi dulu," Anisa memajukan bibirnya ke depan.


"Kok nggak ngajak-ngajak sih?" ucap Pramana menyiram-nyiramkan air ke bahunya Anisa.


"Sudah keluar? aku mau bersih-bersih!" Anisa menyuruh Pram keluar dari kamar mandi.


"Nggak mau ach, pengen liatin aja." Pram mengulum senyumnya sambil terus menyiram-nyiramkan air ke arah Anisa yang menghindar.


"Ayo dong keluar dari bathub?" titah Pram sambil menarik tangan Anisa.


"Ih kamu nya keluar dulu aku malu kan keluar, "Anisa mendorong punggung Pramana dengan tangannya.


"Emangnya kenapa sih Orang aku udah lihat semuanya kok cuman satu aja yang belum kulihat--"


"Makanya ke sana dulu, keluar ... ayo dong keluar, aku mau bersih-bersih." Tangan Anisa lagi-lagi mendorong punggung Pramana.


Namun Pramana tetap tidak mengindahkan permintaan dari Anisa, dia tetap saja bergeming di tempatnya sembari tersenyum melihat ke arah Anisa yang berekspresi kesal karena permintaannya tidak dituruti oleh Pramana.


Anisa langsung menggeleng serta menggoyangkan bahunya, dia tidak bisa membayangkan kalau dirinya yang sedang polos ini diangkat dan digendong oleh Pramana.


"Ayolah sayang ... Aku ingin melihat semuanya," perkataan nakal dari Pram semakin Anisa bergidik.


"Iih ... Buruan sana Yank ... keluar? aku mau pakai handuk, buruan sana ih!" Anisa semakin kesal pada Pramana yang tetap saja di sana.


"Oke-oke ... tapi aku tidak mau keluar dan aku akan memunggungi mu dan juga menutup mata, keluar dari air." Pram sedikit menggerakkan tubuhnya memunggungi keberadaan Anisa dan pura-pura menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Beneran ya, balik sana dan jangan menoleh! tutup matanya rapat-rapat. Kalau tidak ... awas ya? aku akan marah sama kamu!" Anisa penuh ancaman.


"Iya sayang Iya ayo buruan aku sudah menutupi wajahku dengan telapak tangan!" ucap Pram kembali sembari memasang dua telapak tangannya di wajahnya.


"Awas ya jangan mulai tutup rapat-rapat," ucapan Nisa sembari naik dan mengambil handuknya.


Sementara Pramana membuka jari-jarinya mengintip pergerakan dari Anisa yang keluar dari bathub serta menunjukkan pemandangan yang begitu wauwwwh ... bikin jantung Pramana berdegup sangat kencang, dag-dig-dug tak menentu.

__ADS_1


Tidak ayal jiwa lelakinya pun meronta, bergejolak dan berontak. Membuat wajah Pramana merah merona. Kalau saja bisa memintanya saat itu juga, apa Saya melakukannya tanpa membuang-buang waktu. Tapi sayang ini bukan waktunya yang tepat mengingat Anisa belum bersuci.


Saat ini Anisa sudah tampak segar aja mengenakan piyama bunga-bunga merah dan dia sedang duduk di depan cermin mengaplikasikan body lotion dan parfum ke tubuhnya. Dari pantulan cermin Anisa melihat ke arah Pramana yang sudah berada di atas tempat tidur, dengan posisi duduk bersandar sedikit miring melihat ke arah dirinya, dia tampak gusar atau gelisah. Entah apa yang sedang dia pikirkan?


Anisa beranjak dari tempatnya, berjalan pelan dengan langkah yang teratur, menghampiri tempat tidur di mana Pram sudah berada di sana. Merangkak naik dan mendekati Pramana yang tampak aneh serta berkeringat dingin.


"Ya ampun ... kini kali ya? rasanya ketika seorang pria yang sudah berada di puncaknya, namun tidak dapat menyalurkan hasrat dengan seharusnya! aku benar-benar tersiksa jiwa dan raga!" tanya Pramana pada dirinya sendiri sembarang hewan apa yang sangat panjang lalu ia hembuskan dengan kasar.


Kemudian Anisa duduk di sampingnya Pramana, menatap lekat ke arah suaminya itu yang tampak sedikit pucat dan tatapannya pun sendu.


"Kamu kenapa, sakit atau ada yang dipikirkan? Anisa sembari menyentuh pelipis Pramana Yang berkeringat tersebut.


"Enggak ach, aku enggak kenapa-napa sayang," suaranya terdengar berat sekali.


Anisa kebingungan melihat ekspresi dari Pramana yang lama-lama tubuhnya tampak menggigil. Kemudian pria itu berbaring menarik selimutnya, tidur mengungguli Anisa sembari memeluk guling.


Pramana berusaha untuk mengontrol dirinya agar dia tidak minta sesuatu yang lebih dari Anisa, dan dia berusaha mengatur nafas yang terasa sesak juga memburu.


Anisa menghilang nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan sangat panjang melalui mulut sehingga terlihat kedua pipinya mengembung.


Lantas Anisa pun memberikan tubuhnya di samping Pramana tanpa mengganggu pria itu. Dengan perasaan heran dengan sikap brahmana yang tampak dingin Anisa mencoba memejamkan kedua menikmatinya.


Drettt ....


Drettt ....


Tok ....


Tok ....


Suara getaran dari ponsel Anisa beriringan dengan suara ketukan pintu dari luar kamar ....


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2