Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Mengambang


__ADS_3

Kedua tangan Pramana membingkai wajah Anisa, ditatapnya sangat-sangat lekat kemudian dia mendaratkan kecupan di kening Anisa dengan mesra.


Entah apa arti dari semua itu? setiap sentuhan yang Pramana berikan kepada Anisa, entah dari perasaan yang mencintai atau hanya sekedar menghargai? entahlah Anisa pun belum bisa memaknakan nya.


Kemudian Pramana menyilakan Anisa untuk berjalan lebih dulu, keluar dari ruangan itu dan ia sendiri menutup pintu yang kemudian ada suster yang datang untuk membersihkan atau mensterilkan ruangan tersebut.


Anisa berjalan di sebuah koridor rumah sakit dengan kedua menik matanya mencari keberadaan orang tua dan mertuanya yang sudah tidak ada di sana. Lalu dia menoleh ke arah belakang dimana ada Pramana tengah berjalan menyusulnya.


"Bunda dan yang lainnya sudah tidak ada, kayaknya sudah sampai deh ya ke parkiran!" gumamnya Anisa.


"Mungkin, mereka sudah sampai di mobil," jawabnya Pramana lalu mereka berdiri menunggu pintu lift terbuka.


"Mungkin mereka lama menunggu kita!" sambung kembali Anisa setelah berada di dalam lift.


"Ya nggak apa-apa. Mereka nggak akan membiarkan kamu sendiri kalau memang nggak ada aku!" sahutnya Pramana.


Pramana meraih tangan Anisa serta meremas dengan lembut jari-jemarinya. Anisa melihat tangan yang dipegang oleh Pramana lalu melihat ke arah wajahnya yang entah melihat ke mana.


Hati kembali dag-dig-dug serr ... bagai ada sengatan listrik yang menyengat tubuh dan itu bukan cuma Anisa yang merasakannya tapi Pramana pun sama merasakan dahsyatnya perasaan yang bergejolak.


Kini mereka sudah keluar dari pintu lift dan berjalan menuju sebuah parkiran, benar saja kedua orang tua mereka sudah berada di dekat mobil Pak Joni berdiri menunggu mereka berdua.


"Ya sudah, aku pergi dulu ya!" ucapannya Anisa dengan lirih pada Pramana setelah hampir dekat dengan kedua orang tuanya.


"Iya!" hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya Pramana saat itu seraya memberikan tas miliknya Anisa.


Lalu kemudian Anisa pun berjalan mendekati mobil, lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya sejenak Anisa memeluk sang ibu mertua. "Ibu Nisa pamit pergi dulu ya!"

__ADS_1


"Iya, Nisa ... Ibu pasti merindukan mu nak ... cepat sembuh ya? agar kamu segera kembali ke tempat Ibu dan berkumpul kembali bersama Pramana." Balas Ibu Bella dengan suara yang bergetar, dia merasa sedih mau berpisah dengan mantunya tersebut. Sehingga air matanya pun keluar begitu saja.


Padahal Anisa pergi hanya untuk memulihkan kesehatannya saja, setelah itu pun Anisa Pasti kembali ke rumah mereka dan berkumpul dengan Pramana. Apalagi setelah menikah kedua kalinya Nanti.


Sementara Pramana langsung menuju mobilnya meninggalkan tempat itu begitu saja. Tanpa pamit atau apa, dia langsung pergi saja.


Setelah berpamitan, Anisa pun memasuki mobil sang ayah dan berapa saat kemudian mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Tanpa terasa air mata Anisa mengalir! entah apa yang dia tangisi? dadanya terasa sesak sedih bagaikan mau meninggalkan untuk selamanya. Padahal waktu itu pun ... waktu dia bersama Pramana berkunjung ke rumah orang tuanya, tidak sesedih ini. Tetapi untuk saat ini dia benar-benar merasa sedih.


"Kenapa, kok menangis? ini untuk sementara sayang, sampai kamu benar-benar pulih atau perlu waktu seminggu dua minggu lah tinggal bersama Bunda! nanti Anisa boleh kembali ke tempatnya Ibu Bella, apalagi nanti Anisa sama Pramana mau menikah lagi jangan bersedih Nisa." Lirihnya sang Bunda seraya merangkul bahunya Anisa.


"Entah kenapa, Bunda ... kok Anisa merasa sedih seolah-olah mau pergi untuk selamanya meninggalkan keluarga itu. Anisa merasakan gimana ... gitu, apalagi mengingat kasih sayang mereka kepada Anisa, Bunda!" suara Anisa bergetar.


"Tentu saja mereka sangat sayang dengan mu, kami sudah lama bersahabat apalagi sekarang kamu itu menjadi mantunya! wajar kalau mereka sangat sayang padamu, Ayahnya menyesal. Kenapa dulu nggak menjodohkan kalian saja! mungkin nggak akan ada kejadian kamu hamil duluan atas tragedi itu," ucap sang ayah dari belakang kemudi.


"Ayah, sudah deh jangan mengingatkan itu lagi. Semuanya sudah terjadi dan sekarang apa? Anisa keguguran kan, kita nggak akan melihat anak itu lahir apalagi mengurusnya anggap saja semuanya tidak pernah terjadi, Yah ... karena kalau kita ingat-ingat lagi hanya akan membuat hati kita sedih, sakit ... apalagi hati Bunda sangat sesak tau nggak, Yah?" timpalnya sang istri.


"Emang, Ayah sebenarnya bersyukur juga, anak itu tidak sampai lahir ke dunia ini. Karena anak itu akan mengingatkan Ayah sama si bajingan! laki-laki lak-nat, kenapa dia gak kena penyakit kelamin sekalian? boro-boro mau menikahi, mengakuinya saja tidak mau! benci Ayah sama dia!" gerutu pak Joni yang ditujukan kepada Hendar.


Mungkin bagi Pak Joni kehilangan bayi yang ada di dalam perut Anisa itu lebih baik! ketimbang dia tumbuh kemudian lahir.


Begitupun dengan Anisa dia hanya menarik ingusnya yang masih keluar dan air mata pun yang sudah mulai mengering. Anisa melihat keluar jendela begitu banyak kuda besi kuda besi yang melintas dan berlalu lalang! langit begitu cerah dan terlihat biru, tampak ada beberapa burung yang beterbangan di atas sana.


Biarpun waktu masih menunjukkan pukul 09.00 tapi matahari sudah terasa terik membakar kulit.


Setelah beberapa lama di jalanan, akhirnya tiba juga di kediaman Pak Joni, Bu Farida dan Anisa lebih duluan turun. Anisa berjalan membawa tas kecilnya sebentar menunggu sang ibu yang membawa tas pakaiannya.


Tapi kalau dipikir-pikir sih ... ngapain bawa tas pakaian? orang pakaian itu buat di sana di tempat Pramana. "Buat apa juga ya Bun itu tas dibawa? kan pakaian buat aku di sana!" ucapnya Anisa.

__ADS_1


"Iya juga sih ... tapi tidak apalah. Nanti aja bawa lagi, masa kita nyuruh besan untuk membawakan tas ini ke rumahnya, kan? kan malu!" balasnya Bunda Farida sembari melintasi pintu utama.


"Assalamu'alaikum ..." ucap Anisa seraya melangkahkan kakinya memasuki ruangan keluarga, sejenak ia berdiri dan melihat-lihat suasana sekitar serta menghirup udara yang ada di rumah tersebut.


Kenapa berdiri di situ? apakah ada yang aneh, Oh iya, ya ampun ... ini berantakan banget ... dasar laki-laki nggak bisa beres-beres apa ya?" gumamnya Bunda Farida ketika melihat meja yang berantakan dengan bekas minum, air teh. Kopi! bekas makanan.


Anisa pun mengalihkan pandangannya ke arah meja dimana memang seperti itu adanya, berantakan di bawah meja pun ada sampah.


"Ayah ini ... beberapa hari ditinggalin Ibu saja nggak bisa ngurus rumah kali ya! apalagi lama, ampun deh ayah-ayah." Gerutu bunda Farida sambil memungut sampah dan bereskan gelas dan juga bekas makanan.


Sementara Anisa meraih tas pakaiannya, lalu dia bawa ke lantai atas mendekati anak tangga dan menampakkan kedua kakinya dengan teratur di sana.


,


Baru saja menapakkan kakinya di rumah itu, hati Anisa merasa sepi. Sunyi dan mulai menyiksa hati, dimana dia tidak akan melihat lagi Pramana.


Anisa menghela nafas dalam-dalam seraya dihembuskan melalui mulutnya yang terasa berat, entah kenapa sunyi dan sepi mengikat hati. Padahal baru berapa jam dia berpisah dengan Pramana bukankah setiap hari juga seperti itu setiap pagi dia berangkat kerja siang baru ketemu ketika makan siang dan malam juga ketemu.


Namun setelah berada di sana jelas itu tidak ada lagi, tidak ada lagi bertemu sehari tiga kali bersama Pramana. He he he ... bak minum obat aja ya tiga kali sehari.


...______...


Begitupun dengan Pramana, saat ini dia sudah berada dalam kantor dan dia sudah menghadapi setumpuk pekerjaannya! namun pikirannya mengambang, hatinya pun sama sehingga dia tampak melamun. Biarpun mata tertuju ke arah laptop! tangan atau jari-jari berada di atas papan keyboard.


Sungguh Pramana tak dapat fokus untuk bekerja saat ini. Dia pun kepikiran Anisa yang biasanya setiap hari bertemu dan untuk berapa waktu ... tidak akan pernah melihatnya, kecuali Pramana yang mendatanginya ke tempat Anisa.


Prek!!!

__ADS_1


...🌼---🌼...


Bersambung


__ADS_2