
Di sepanjang perjalanan tidak ada yang buka pembicaraan sepatah kata pun. Anisa teringat kembali akan sentuhan Pramana tadi sehingga ada rasa kesal dan marah.
Sementara Pramana, senyum-senyum dalam hati. Mengingat kalau dia sudah merasakan manisnya bibir Anisa walaupun dalam hati yang paling dalam, ada rasa penyesalan. Karena itu tidak seharusnya dia lakukan.
Setibanya di kediaman Pak Lukman, Anisa langsung membawa martabak bulannya ke dalam dan kebetulan mereka masih berkumpul di ruang keluarga.
"Assalamu'alaikum." Anisa mengucap salam sembari mendekati mereka dan mencium tangan kedua mertuanya bergantian.
"Wa'alaikum salam ... warahmatullahi wabarakatuh, gimana! dapat belanjaannya? tanya sang ibu mertua dengan lirih.
"Alhamdulillah, Bu dapat!" sahutnya Anisa.
"Ya syukurlah!" sambungnya sang ibu mertua.
"Em ... ini kak martabaknya. Ini pesanan Kakak dan ini buat Ibu dan Ayah!" Anisa memberikan sebuah kantong kepada Renita dan satu kantong lagi kepada ibu mertua.
"Eeh ... beneran dibelikan! berapa nih?" tanya Renita sembari mengambil martabak untuknya.
"Tidak usah, Kak ... dimakan saja!" jawabnya Anisa.
"Oh ....ya, gratisan? alias gretongan Alhamdulillah ....akhirnya makan martabak gretongan juga. Makasih ya? makasih ya Anisa!" Renita terlihat senang sekali.
"Kamu ini bikin malu deh sayang, masa pengen gratisan! orang suaminya punya duit kok!" ucap Andre kepada istrinya. "Tapi nggak apa-apa sering-sering juga! makasih ya he he he ... bercanda kok!"
Anisa tersenyum kepada Hendar dan Renita juga kepada kedua mertuanya, yang kini sedang menikmati martabak bawaannya.
"Sama-sama, Oh ya Bu ... Ayah, Kak Andre dan Kak Nita aku pamit ke kamar dulu ya?" ucap Anisa kepada orang-orang yang berada di sana.
"Lho ... kenapa buru-buru! kita makan sama-sama dulu martabaknya, setelah itu baru istirahat!" kata sang ibu mertua.
"Hooh. Buru-buru masuk kamar aja nggak asik ah!" tambahnya Renita sambil mulai menikmati martabak pesanannya.
"Nisa masih kenyang! tadi sudah makan di luar," jawabnya Anisa yang sedang menantang berapa paper bag belanjaannya tersebut.
"Oh, ya Pramana nya mana?" tanya sang ayah mertua karena tidak melihat Pramana masuk.
__ADS_1
"Mungkin ... dia masih di mobil Ayah." kemudian Anisa pun membawa langkahnya mendekati anak tangga, dia ingin ke kamar saja pikirannya sedikit agak kacau dengan perlakuan Pramana tadi di mobil kalau soal Hendar sih dia tidak peduli, terserah. Bodo amat.
"Hati-hati sayang, naik tangganya!" ucap sang ibu mertua ketika melihat Anisa menaiki tangga agak tergesa-gesa.
"I-iya Bu ..." Anisa menolehkan kepalanya sembari tersenyum.
"Assalamu'alaikum ... kalian masih berkumpul di sini!" suara Pramana yang baru memasuki pintu utama.
"Wa'alaikum salam ... kalian tidak kami tungguin untuk makan bersama! sudah makan belum?" tanya sang Bunda.
"Sudah! Aku dan Anisa sudah makan di luar, Bu ..." jawabnya Pramana sembari mendudukan dirinya bersebrangan dengan kedua orang tuanya.
Di meja sangat berantakan dengan martabaknya yang sedang mereka nikmati.
"Dicoba martabaknya! enak lho ... manis apalagi gratisan. Makasih ya!" katanya Andre pada sang adik.
Pramana melepas pandangannya ke meja tersebut di mana martabak bulan yang mereka bilang manis, Pramana berpikir, Oh berarti Anisa membelikan untuk mereka semua dia kira cuma nalangin doang.
"Oh, iya sama-sama. Aku masih kenyang baru saja makan di luar." lantas Pramana pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar, kebetulan waktu pun sudah menunjukkan pukul 09.30 lewat.
Anisa yang sudah berada dalam kamarnya, membuka beberapa paper bag dan mengeluarkan barang belanjaannya ia masukkan ke dalam lemari satu persatu, sembari melamun membayang kan kejadian tadi hingga sesekali dia menyentuh bibirnya! rasanya masih terasa lembut dan hangatnya bibir Pramana yang menempel pada waktu itu.
Beberapa saat kemudian, Pramana pun keluar dari kamar mandi dan entah melamun entah gimana? tiba-tiba langkahnya terhenti Di depan pintu kamar Anisa, ketika tangannya sudah memegang handle dia baru sadar.
"Lho, ini kan pintu kamar Anisa ngapain aku ke sini?" gumam Pramana yang lantas buru-buru kembali ke kamarnya.
"Huuh ... ngapain juga aku kepikiran kamu Anisa, jangan bilang kalau pikiran mu mulai mesum! cukup satu kali kau melakukannya. Sebelum dia benar-benar sah menjadi istrimu." gumamnya Pramana sembari menutupi pintu kamarnya tersebut.
Lantas Pramana berjalan menghampiri tempat tidur yang kemudian dia menjatuhkan tubuhnya di sana, menatap langit-langit kamar dan yang terbayang adalah wajah Anisa yang tampak kesal dan marah setelah ia mendapatkan bibirnya.
"Mungkin aku kurang ajar sama kamu, telah menyentuh mu tanpa permisi. Tapi setidaknya aku berstatus suami mu!" monolognya Pramana sembari menatap langit-langit.
Pikirannya Pramana melayang jauh terbang ke angkasa dan lama-lama kedua netra nya terpejam juga memasuki sebuah mimpi yang indah. Melewati malam yang dingin mencekam dan sampai detik ini masih juga sendirian.
Yang seharusnya sudah ada yang memeluk penuh kehangatan! eh yang ada cuman peluk guling doang.
__ADS_1
Sepanjang malam, Anisa terjaga! dia tidak dapat tidur dan yang terbayang, yang terasa hanyalah sentuhan Pramana saja! bak orang yang baru pertama jatuh cinta di saat usia masih labil ataupun anak ABG.
Menjadikan kepala Anisa sedikit pusing karena memang kurang tidur, dan menjadikan pikirannya pun kurang tenang.
Seperti biasa, pagi-pagi Anisa sudah melaksanakan salat subuh, membersihkan kamar sendiri. Lalu Anisa pun membuatkan susu jahe buat Pramana.
Anisa berdiri di depan pintu kamar Pramana, rasanya lagu-lagu untuk masuk dan dia menjadi merasa khawatir kalau Pramana akan melakukannya kembali. Bahkan ada rasa malu yang mengganggu.
Tok ....
Tok ....
Tok .....
Anisa mengetuk pintu, seiring dengan mendorong handle pintu lantas masuk dengan kepala sedikit menunduk, namun Anisa tahu pasti kalau Pramana sedang berada duduk di atas sofa.
Setelah menyajikan susu jahe nya di atas meja di hadapan Pramana. Lalu Anisa melirik ke arah tempat tidur yang masih berantakan, kemudian membereskan tempat tersebut dan dirapikan selimutnya, lanjut membuka jendela yang belum dibuka-buka gordennya.
Pramana menatap punggung Anisa dan dia merasa kalau Anisa kali ini bersikap dingin, tidak banyak bicara seperti biasanya. Pramana pikir Anisa bersikap demikian pasti gara-gara semalam, kalau bukan karena ciuman itu pasti gara-gara karena dia sudah menghajar Hendar.
Pramana berdiri dan menghampiri Anisa yang sedang berdiri di depan jendela sedang merapikan gorden, namun Anisa langsung pergi menghindari Pramana.
Geph.
Tangan Pramana menangkap pergelangan tangan Anisa. "Kamu kenapa? kenapa menghindar dariku?"
"Siapa yang menghindar? aku tidak menghindar, lepaskan tangan ku!" pintanya Anisa sembari menatap tangan Pramana yang memegangi tangannya.
Pramana pun langsung melepaskan tangan Anisa. "Tapi sikap mu terasa aneh, di pagi ini tidak seperti biasanya!"
"Mungkin itu cuma perasaan mu saja." Jawabnya Anisa sembari bergegas meninggalkan kamar Pramana tersebut.
"Pakaian kotor Pramana biar saja di situ, nanti saja ku cuci setelah orangnya tidak ada." Gumamnya Anisa sambil berjalan dan menutup pintu kamar Pramana.
Pramana hanya melongo melihat kepergian Anisa, lalu bibirnya tersenyum simpul ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa dukungannya ya ... makasih.