Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Pertama


__ADS_3

Kedua netra Pram seolah tidak berkedip melihat pemandangan yang nyata di depan mata. Sebagai pria normal, tubuhnya langsung panas dingin. Biasanya dia yang buka, sekarang malah tembus pandang begitu saja.


Sementara Anisa tertunduk malu. Rasanya gimana gitu. Perasaan tidak menentu.


"Sayang. Kau sangat cantik dan aku suka, tapi jangan salah. Aku suka kamu memakai ini di saat kita berdua saja, kalau tidak berdua jangan di pakai." Lirihnya Pram sambil memeluk Anisa dari depan.


"Ya ... Nggak lah, mana ada aku seperti itu. Ada-ada saja deh!" Anisa menggeleng sambil mesem.


Pram menempelkan dagunya di bahu nya Anisa tangannya membelai rambut sang istri dengan sangat lembut. "Sayang ... aku bahagia akhirnya kita sudah melewati semuanya. Akad sudah, resepsi sudah. Tinggal kita menjalani pernikahan kita."


Anisa mengangguk pelan dan tidak bisa berkata-kata, selain memeluk erat pundaknya Pram. Setelah sekian lama berpelukan. Perlahan tangannya Pram mulai. Bergerak bertraveling ke tempat-tempat yang biasa dia bermain.


Bibirnya pun menyusuri tempat-tempat yang sesekali transit di sana. Menikmati indahnya alam ini.


Mendatangi tempat-tempat ternyaman. Secara perlahan Pramana mendorong tubuh wanitanya agar berbaring. Dan dengan cepat dia memposisikan dirinya berada di atas tubuh wanitanya. Mencondongkan tubuhnya menciumi pipi kening dan benda tipis miliknya.


Nyess ....


Terasa dingin ketika dua benda tipis itu bersentuhan. Namun lama-lama menghangatkan, biarpun geli-geli gimana gitu, dan sangat mengasyikan. Pram tentu tidak berhenti di situ saja, karena bagaimanapun ada sesuatu yang menuntut. Sementara Pram sudah tidak bisa untuk menahan diri lagi untuk bertahan di tempat. Apalagi kesempatan itu ada untuknya sehingga dia ingin segera menerjang badai yang datang menghantam batu karang.


Bulan, bintang bagai saksi Surya bagai saksi dalam meniti hari-hari yang indah ini. Gunung akan ku daki lautan aku renangi, demi memburu impian pasti.


Nafasnya yang memburu akibat perjalanan jauh dan traveling yang teramat mengasikan, pada akhirnya dia berhenti di suatu tempat untuk melakukan sebuah ritual yang sudah di nantikan cukup lama bagi seorang Pramana.


"Sayang, aku mencintai mu ku! kau akan menjadi milik ku selamanya dan miliki aku seutuhnya!" Racau Pram yang terdengar begitu jelas di telinga Anisa, yang sedang terpejam dalam menemani Pram traveling. Atau menikmati yang namanya malam pertama yang tanda kutip.


Dan hampir sepanjang malam mereka berdua menghabiskan waktu dengan saling memberi kasih sayang, Pram seakan tak ada lelahnya menjalani ritual memandikan benda pusaka yang dia punya. Menunjukan kalau dia pria perkasa, pria sejati yang tidak seperti yang ono yang lagi viral itu. Sering lemah terkulai di tengah jalan.


Pram benar-benar membuktikan kalau dia pria normal yang sangat membutuhkan seorang wanita untuk memenuhi hasrat dan menemani dalam hidupnya.


Setelah melaku waktu yang teramat panjang, keduanya tampak sangat lelah sehingga pada akhirnya mereka pun menyudahi sebuah ritual di malam pertama setelah resepsi pernikahan tersebut.


Waktu yang terus berputar, malam terus berlalu penuh mimpi dan gelap berubah terang. Jarum jam sudah menunjukan pukul 07.30. Sepasang suami istri yang baru saja bermalam pertama itu pun masih tampak lelap dalam balutan selimut putih saling pelukan.


Keduanya tidak menyadari kalau hari yang sudah pagi menjelang siang. Matahari pun sudah mulai meninggi menyengat hamparan bumi.

__ADS_1


Cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar melalui beberapa celah gorden, mengalahkan sinar temaramnya yang berada di dalam kamar tersebut dan menyapa kulit pipi Anisa yang mulai bergerak merasakan kehangatannya.


"Huam ..." Anisa menguap dan memicingkan matanya sesaat lalu terpejam kembali dan memposisikan pipinya menempel di dada Pram yang masih tampak nyenyak itu.


Tiba-tiba Anisa beranjak bangun, ketika dia menyadari sinar matahari yang masuk sudah menghangat dan lebih terang. Dari sinar temaram di dalam kamar yang mereka tempati.


Anisa langsung membangunkan Pramana. "Yank-Yank, bangun. Jam berapa nih?"


Anisa pun selingkuhan melihat ke arah jam langsung menunjukkan hampir pukul 08.00 pagi. "Astaghfirullah, ya Allah ... sudah siang banget." Anisa sambil menggoyangkan tangan Pram.


Pram memicingkan manik matanya sebelah dan kembali terpejam sembari bergumam. "Hem ... apa sih sayang ... Masih ngantuk nih." Suara Pram yang parau khas bangun tidur.


"Yank bangun, sudah hampir jam 08.00 ya ampun," ucap Anisa dengan suara serak nya lalu menggeser tubuhnya seraya tengok kanan dan kiri, mencari gaunnya.


Tubuhnya terasa pegal-pegal dan sakit. Apalagi dengan daerah inti nya yang terasa bengkak dan perih. "Ach, sakit."


Setelah mendengar gumaman sakit dari bibir Anisa, Pramana langsung membuka matanya lebar-lebar dan mendudukkan dirinya. "Kenapa Sayang apa yang sakit?" dengan masih dihinggapi rasa kantuk yang berat.


"Seluruh tubuhku, rasanya pegal-pegal sekali dan itu ... aku rasanya sakit dan bengkak," sahutnya Anisa dengan pelan dan sedikit menangis.


"Sudah deh jangan bahas itu dulu. Ini udah siang ... jam 08.00 lihat tuh jam!" Anisa menunjuk jam dinding.


Pramana melonjak naik sembari mengibaskan selimutnya, setengah melompat turun dari tempat tidur ke lantai dan dia langsung terhenyak kembali. Setelah melihat pakaiannya tergeletak di bawah. Sehingga dia buru-buru mengambil dan mengenakannya.


"Kita sudah ketinggalan subuh sayang!" ucapnya Pram sambil menaikkan celananya, dia buru-buru menghampiri pintu kamar mandi.


Anisa bengong melihat Pram yang terburu-buru, sementara ia masih juga memeluk selimut yang menutupi tubuhnya.


Pram kembali melihat Anisa yang masih bengong di tempat. Setelah tinggal satu langkah lagi Pram kembali dan langsung mengangkat tubuh Anisa beserta selimutnya.


Anisa kaget dan dengan refleks melingkarkan tangannya di pundak Pram yang terus membawa dirinya ke kamar mandi.


"Kita akan berendam air hangat dan katanya itu sapat mengurangi sakit di badan atau pegal-pegal, nanti aku membeli obat untuk mu setelah bersih-bersih," gumamnya Pram sambil menurunkan tubuh Anisa di dudukannya di bibir bathub.


"Obat buat apa emang?" tanya Anisa penasaran.

__ADS_1


Pram menyiapkan air hangat di bathub dan lalu menoleh pada sang istri. "Katanya pegal-pegal dan daerah intinya sakit dan bengkak."


"Em, Iya emang ada obatnya?" tanya kembali Anisa.


"Ada dong Sayang, sudahlah jangan banyak-banyak bicara dulu. Kita mandi aja dulu, sudah jam berapa nih siang banget mana ketinggalan subuh lagi," seketika keduanya masuk ke dalam bathub. Saat merendamkan diri di sana dan berapa saat kemudian, mereka membersihkan dirinya di bawah kucuran air shower.


Setelah selesai mandi dan rapi Pramana langsung mengerjakan salat subuhnya, biar pun terlambat dari pada tidak sama sekali.


"Cuph, kita mau sarapan. Di luar atau ... di sini saja?" tanya Pram sambil mengecup kening sang istri.


"Yank, yang lain dimana ya. Apa mungkin mereka sudah pulang? dan tadi membangunkan kita tapi kitanya nggak bangun-bangun!" Anisa mengingat keluarganya yang tidak tahu sekarang di mana.


"Paling masih di kamarnya. Lagian biarlah mereka pulang duluan, orang kita bisa pulang sendiri kok." Lalu Pram menelpon dan meminta sarapan di antar ke kamar.


Pram memeluk Anisa, namun tidak berlangsung lama karena terdengar ada suara ketukan pintu.


Pram langsung menghampiri pintu nya. Sementara Anisa menatap punggung Pram yang sedang berjalan.


Masuklah pelayan hotel yang membawa untuk mereka sarapan. Selanjutnya mereka pun sarapan berdua.


Anisa sesekali menyibukkan jari jemarinya di layar ponsel. Sedang chatan dengan sang kakak, Aisyah yang katanya masih di hotel tersebut menemani buah hatinya berenang.


"Siapa sayang?" selidik Pramana sembari memicingkan matanya dengan tangan memotong ayam goreng.


"Ini ... Kak Aisyah, katanya masih di hotel ini cuma sedang mengajak anak-anak berenang, sama Dea dan yang lainnya juga." Anisa sembari membuka mulutnya menerima suapan dari Pram.


Pramana menyudahi makannya dengan segelas air putih. Mengelap mulutnya dengan tisu.


Sesaat kemudian datanglah seseorang yang mengantarkan paket pada Pramana.


"Paket apa yang?" Seketika Anisa menoleh pada Pramana yang berjalan menghampirinya, sembari membuka kantong Yang dia dapatkan barusan.


"Ini obat buat kamu katanya badan terasa pegal-pegal!" Pram duduk di samping Anisa sambil menunjukan sebuah salep kecil dan satu bet kapsul ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan tinggalkan jejaknya ya makasih.


__ADS_2