
"Sudah kubilang jangan ngurusin aku. Masih juga keras kepala, mana niatnya setengah-setengah lagi! kalau gini aku juga yang ngerjain dan memasukkan ke dalam lemari." Pramana terus menggerutu sambil memasukkan pakaian yang sudah rapi itu ke dalam lemarinya.
"Emangnya kenapa Anisa nggak masukin pakaian ke dalam kemari?" tanya sang ibu mertua kepada Anisa.
Sejenak Anisa terdiam sebelum mengatakan sesuatu. "Karena Pram nggak suka kalau Anisa membukanya, dia pernah bilang kalau Anisa jangan membuka lemarinya itu. Makanya Nisa nggak berani," Anisa bicara apa adanya.
"Kenapa seperti itu sih? Bibi aja boleh membukanya dan merapikan semua pakaian dia, kenapa Anisa nggak boleh? aneh tuh anak." Sang ibu mertua menggelengkan kepalanya lalu dia meneruskan masak bersama Bibi.
Anisa tidak menjawab lagi dia melanjutkan memotong sayur dan mengupas terong.
"Ya sudah, sekarang Anisa naik ke kamarnya Pram dan bereskan pakaian ke dalam lemari, bilang Ibu yang suruh!" titahnya sang ibu mertua kepada Anisa yang langsung Anisa pun mengangguk dan berdiri meninggalkan tugasnya kembali.
Anisa membawa langkahnya berjalan menaiki anak tangga satu persatu dia tapaki. Berapa langkah Anisa yang teratur berhenti di depan pintu kamar Pramana.
"Assalamu'alaikum!" Anisa langsung mendorong handle pintu tersebut dan alangkah terkejutnya dia melihat pemandangan yang berada di dalam, yaitu Pramana sedang membuka semua pakaiannya. Anisa langsung berbalik dan membunggngi pintu kamar tersebut.
Begitupun dengan Pramana. Dia sangat terkaget-kaget ketika pintu tiba-tiba terbuka tanpa permisi, sehingga dia dengan cepat menaikkan lagi celananya.
"Bisa nggak kasih, salam dulu apa gitu? jangan langsung dibuka pintunya!" ucapnya Pramana dengan nada yang agak tinggi.
"Ma-maaf? aku nggak sengaja. Lagian aku sudah mengucap salam kok!" balasnya Anisa dengan tetap memunghungi.
"Apanya mengucap salam! orang pintu langsung dibuka kok." tambahnya Pramana.
"Demi Allah ... aku sudah mengucap salam!" bela nya Anisa dia langsung mengakui dalam hati. Mengucap salam namun salahnya tangan Anisa dengan reflek langsung mendorong handle pintunya! gak menunggu jawaban dulu dari dalam.
"Oh masalahnya, aku yang tidak menunggu balasan dulu! ini tangan main dorong aja. Jadinya mataku melihat yang aneh-aneh!" gumamnya pelan dan sembari. Menghembuskan nafas dari mulut, menggerak-gerakkan dua kenikmatan nya.
Dan untuk sesaat pemandangan yang tadi begitu lekat di pikirannya. Sehingga gadis itu berkali-kali menggelengkan kepala ingin membuang yang ada dalam pikirannya itu, yang malah menjadi travelling ke mana-mana.
__ADS_1
"Emangnya mau apa?" tanya Pramana pada Anisa. Setelah dia memakai celana yang tadinya dia mau mandi, makanya dia membuka semua pakaian dan salahnya bukannya di kamar mandi, sebab dia pikir nggak akan ada siapa-siapa.
"Em, aku ... aku disuruh ibu untuk membereskan pakaian mu yang tadi di atas tempat tidur." Kata Anisa dengan masih memunggungi Pram.
"Tidak usah, sudah aku bereskan semuanya! kalau mau ngerjain? kerjain yang bener, nggak niat banget setiap hari kayak gitu!" kata Pramana sembari melirik ke arah tempat tidur yang memang sudah rapi tidak ada lagi pakaian yang menumpuk di sana.
"Ya sudah, kalau sudah dimasukkan ke dalam lemari. Lagian aku selalu salah di mata kamu! nanti aku masukkan ke lemari kamu marah, tidak dimasukkan marah-marah juga." Balasnya Anisa dengan posisi yang sama memunggungi Pramana.
"Lagian suruh siapa? aku nggak menyuruh mu untuk melakukan itu!" sambung Pramana sembari berjalan beberapa langkah mendekati Anisa.
"Kamu aneh ya! emangnya kamu mau selalu di layani sama ibu yang sudah tua atau sama Bibi? kamu nggak kasihan sama ibu? ibu harus terus melayani kamu gitu?" Anisa sedikit meninggikan suaranya.
"Eeh, nggak usah teriak-teriak! aku berada di belakang mu!" akunya Pramana dengan suara yang begitu dekat.
Membuat Anisa langsung berbalik, dan benar saja Pramana kini berdiri di belakang Anisa sehingga jarak dua langkah darinya. Pramana dengan menempelkan tangan ke sisi dinding pintu.
Lagi-lagi Anisa mendapatkan pemandangan yang bikin dadanya berdebar kencang, melihat tubuh Pramana yang telanjang dada sehingga mengekspos perutnya nya yang sixpack. Dia hanya mengenakan celana kolor saja membuat Anisa sedikit merasa malu dan menyampingkan tubuhnya serta melihat ke arah lain.
"Kalau begitu aku pergi dulu!" ucapnya Anisa dengan niat mau meninggalkan tempat tersebut.
"Tunggu? Aku ingin mengatakan sesuatu!" Pramana mencegah Anisa untuk pergi lebih dulu dan dengan refleks menangkap pergelangan tangan Anisa.
Kedua manik mata Anisa bergerak melihat ke arah tangannya yang dipegang oleh Pramana yang dengan kontan hatinya merasa bergetar.
Pramana segera melepaskan tangan itu. "Sorry. Soal yang tadi siang! dia namanya Caroline temannya Adisty!"
Anisa kembali dan memutar memorinya mengingat kejadian tadi siang di kantornya Pramana, yaitu kedatangan seorang wanita cantik tubuh tinggi. Membawakan makanan buat Pramana.
Sesaat Anisa menghercapkan matanya seraya menghela nafas dalam-dalam. "Aku nggak bertanya itu! dan ... aku nggak mau tahu, sekalipun aku mau tahu ... kamu pasti bilang, jangan urusin aku! gitu kan?" sejenak Anisa melihat ke arah wajah Pramana yang tengah menatap dirinya.
__ADS_1
"Ya ... aku bilang! karena biar kamu nggak curiga aja, aku dan dia gak ada hubungan apa-apa. Siapa tahu kamu bilang sama ibu yang gimana-gimana!" tambahnya Pramana.
"Nggak, aku nggak bilang apa-apa sama ibu. Lagian masa bodoh kamu mau sama siapa! atau mungkin kamu jalan sama dia juga terserah, aku nggak peduli!" Anisa sedikit menggoyangkan bahunya lalu dia mengayunkan langkahnya meninggalkan Pramana yang masih di posisi yang sama.
"Ck." Pramana berdecak kesal.
Bibir Anisa sedikit tersenyum sambil terus berjalan, tanpa dia selidiki Pramana mengatakan siapa wanita yang tadi. Dia terus berjalan meninggalkan Pramana hatinya sedikit berbunga mendengar pengakuannya Pramana.
"Tapi ... mungkin saja Pramana tidak mengakui kalau dia bukan siapa-siapanya, kan bisa saja wanita itu memang menyimpan perasaan terhadap Pramana. Buktinya dia sangat perhatian sama Permana." Anisa menuruni anak tangga satu persatu yang ia tapaki.
Membuat dalam penglihatan sang ibu mertua, Anisa Tengah melamun sambil berjalan.
"Nisa, jangan melamun nanti jatuh?" pekiknya sang ibu mertua penuh dengan kecemasan.
Suaranya sang ibu mertua menyadarkan Anisa dari lamunan. Yang lantas bibirnya Anisa membentuk sebuah senyuman. "Nggak kok, Bu ... aku nggak melamun!"
Kini Anisa sudah sampai lagi di depan meja yang tadi ada sayuran yang belum selesai dia kerjakan! namun sudah kosong karena sudah dibereskan oleh bibi.
"Gimana, sudah dibereskan pakaiannya?" selidiknya sang ibu mertua.
"Sudah, sudah di bereskan sendiri ke dalam lemari sama pemiliknya." Jawaban Nisa seraya menghampiri sang ibu mertua dan mengambil alih apa yang dia kerjakan.
"Dibereskan sendiri? maksudnya?" selidik Bu Bella.
"Hooh, sudah dibereskan sama dia sendiri." Jawabnya Anisa kembali. Dan diam-diam bibir Anisa mengulum senyumnya mengingat kejadian barusan di lantai atas, di mana dia sempat melihat suatu yang bikin dag-dig-dug serr jantungnya.
Brugh.
Pintu kamar Pramana ditutup dan dia membawa langkahnya menuju kamar mandi dengan niat mau membersihkan diri, yang sedari dari tadi belum terealisasikan ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Tiada kata seindah Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar reader ku semuanya? Semoga di hari ini kabar kalian sangat baik dalam lindungan yang maha kuasa.