
"Jalan ke mana?" tanya Pramana setelah keluar dari kamar mandi.
"Ya ke mana aja! ke mall, ke mana gitu? jawabnya Deni.
" Malas ach. Aku mau pulang!" sombongnya Pramana.
"Ayolah kawan ... come on ... mumpung kita ketemu, nongkrong." Tambahnya Deni seraya membujuk.
"Boleh lah, aku ingin makan dulu! lapar nih." Pramana langsung mengambil makan nya yang ada di meja kecil.
Sebelum menyuapkan sendok ke mulutnya. Dia melihat ke arah Anisa yang berada di dekat lemari mengemas baju.
Mau di bawa ke mana?" tanya Pramana sambil menatap ke arah Anisa.
Kepala Anisa menoleh pada Pramana. "Ha? aku, aku mau bawa ke rumah ibu."
"Buat apa? di sana kan baju banyak, lagian baju lama tidak akan muat lagi bila tubuh mu melar gitu!" ucap Pramana sambil menyuapkan makanan yang tidak lupa membaca doa dulu.
"Bener, Nis. kan tubuh mu akan melat, masa baju lama masih akan muat?" tambah nya Deni sambil beranjak dari duduknya meninggalkan kamar tersebut.
Anisa melihat ke arah Pram lalu bengong. Memang benar juga sih ... ke.pakainya tidak akan lama.
"Kalau mau, beli yang baru dengan ukuran besar. Kalau yang kecil ya percuma, lagian kalau gak lama di sana berabe bawa lagi nya." Kata Pram.
Degh.
Ucapan Pramana cukup membuat Anisa tersentak dengan kalimat, kalau nggak lama! berarti dia mengingat rumah tangga dengannya tidak akan lama.
"Maksud mu apa? nggak lama ... maksudnya apakah akan ceraikan aku lebih cepat," seru Anisa merasakan sakit di dada nya.
"Bukan aku yang ngomong ya. Kamu yang ngomong begitu--"
"Tapi, kan tadi kamu bilang! kalau nggak lama, berarti intinya kalau aku di sana cuma sebentar bukan?" Anisa memotong perkataan dari Pramana.
"Maksud aku. Iya ... mending kalau kamu itu, misalnya lama di sana. Kalau nggak lama kan berarti kamu berabe bawa barang-barang dari sini, mendingan pakai yang ada saja. Atau bila perlu beli yang baru, apa aku salah ngomong kayak gitu!" nada bicara Pramana agak tinggi.
"Nggak. Nggak salah kok, kamu benar!" ucap Anisa sembari mengusap sudut matanya serta berpaling dari wajah Pramana.
Suasana begitu hening ...
__ADS_1
Pramana menikmati makanya dan Anisa masih bergeming di tempat semula dekat lemari yang di sampingnya pakaian yang sudah menumpuk! hingga akhirnya Anisa mengembalikan pakaian tersebut ke tempatnya.
"Ya sudah, aku mau pergi dulu. Nanti sorenya kita pulang! aku jemput kamu," seru Pramana sembari berdiri dan dia membawa bekas makannya keluar dari kamar Anisa.
Anisa menelan saliva nya sembari mengedarkan pandangannya mengikuti langkah Pramana, sampai menghilang dari pandangan.
Kemudian Anisa menutup lemarinya lalu menjatuhkan diri di tempat tidur, memunggungi langit-langit dan memeluk guling. Tidak terasa sudut matanya mengeluarkan air yang begitu terasa hangat membasahi sudut pipi.
Saat ini Anisa merasa kalau dia benar-benar tidak dibutuhkan oleh Pramana. Terus buat apa dia ikut lagi ke sana? bila Pramana tidak membutuhkan dia.
Teng ...
Teng ...
Teng ....
"Bakso dorong!" gumamnya Anisa sembari bangun dan mengusap wajahnya serta mengeringkan dengan tisu.
Agar tidak ada yang tahu kalau dia habis menangis, Anisa turun untuk menghentikan tukang bakso langganannya! sudah lama sekali dia tidak makan bakso di amang tersebut.
Anisa setengah berlari menuruni anak tangga dan bertemu dengan Aisyah juga Dea.
"Mau beli bakso, Kak Aisyah mau beli bakso nggak! lama tidak beli bakso si Abang itu, lagian selama di tempat Bu Bella. Aku nggak pernah makan bakso deh," jawabnya Anisa sembari terus berjalan keluar yang diikuti oleh Dea dan Aisyah.
"Kakak sih sering makan bakso. Tapi tetap aja bakso si Abang ini ngangenin," ucapnya Aisyah.
"Enak nggak sih baksonya? Aku pengen nyobain deh!" tanya Dea.
"Enak dong! enak banget kadang aku habis nggak cukup satu mangkok lho." Jawabnya Anisa.
Di depan sudah banyak orang yang mengerubungi tukang bakso. Yaitu tiada lain tetangga-tetangga Nisa di sana.
Anisa dan Aisyah berdiri tidak jauh dari mereka, untuk membeli bakso. Mereka pun tersenyum dan menatap heran tentunya yang diarahkan kepada Anisa.
"Eh ... Aisyah, kapan datang? baru melihat." Tanya si Ibu tetangga.
"Sore, Bu ... Aisyah ke sini nya, apa kabar ibu-ibu?" Aisyah langsung mengulurkan tangan dan juga memeluk berapa tetangganya tersebut.
"Alhamdulillah ... kabar kami baik semua, rasanya adem deh lihat Neng Aisyah, anak-anak nya pasti sudah pada besar ya?" tamat seorang ibu.
__ADS_1
"Aah bisa aja! tapi ya alhamdulillah ... sudah pada besar dan sekarang ada di dalam!" jawabnya Aisyah.
"Neng Anisa apa kabar? duh ... tambah gemuk, Ibu teh suka nanyain sama Bunda. Katanya neng Anisa sudah menikah dan tinggal di tempat suaminya! kok nggak kabar-kabari kita? nikahnya juga gak ngundang-ngundang, apakah sudah kecolongan duluan ya?" tanya si Ibu satu lagi dengan tatapan sangat tajam.
Aisyah, Dea dan Anisa saling bertukar pandangan.
"Bener, kan orang sini seharusnya nikahnya di sini atau setidaknya biarpun menikahi di tempat suaminya! mengundang kita sebagai tetangga gitu, minta doanya yang terbaik gitu! Ini kok nikahannya diam-diam bae!" kata tetangga yang lainnya.
"Tapi kalau kecolongan sih nggak mungkin! neng Anisa kan alim, baik ... gak mungkinlah sampai kecolongan begitu. Bu ..." Timpal yang lainnya.
"Iya juga sih, tapi kelihatannya badan neng Nisa sekarang gemuknya beda, apa iya sedang badan dua? Tapi kalau ia juga nggak apa-apa, itu hak asasi manusia kok. Lagian maklum anak zaman sekarang mah kalau pacaran itu suka gelap-gelapan! dua-duaan dan Baru nyadar setelah berbadan dua!" kata ibu-ibu yang lain lagi.
Anisa tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menunduk sembari menghembuskan nafasnya dari mulut, dadanya yang terasa begitu sesak dan juga Nisa mengontrol emosinya, bagaimanapun memang begitu adanya! sekalipun bukan kesalahannya. Tangan kanan sedikit merapikan baju di bagian perutnya.
"Ibu maaf ya! Anisa ini bersuami, dan bukannya kamu melupakan pera ibu-ibu semua. Sehingga tidak mengundang kalian! di pernikahan Anisa! cuman maaf pada semua. Kami hanya mohon doanya saja, doa yang terbaik buat Anisa dan rumah tangganya!" ungkap Aisyah.
Aisyah pun sedikit bingung, harus menjawab gimana karena memang kenyataannya seperti itu Anisa menikah di tempat mempelai pria dan tidak mengundang tetangga satupun.
"Lagian ya ibu-ibu, maaf ya aku ikut ngomong! benar atau tidaknya yang dikatakan oleh ibu-ibu tadi. Hanya sang maha pencipta yang tahu mengenai itu kesalahan siapa! pergaulan bebas itu sih emang tergantung orangnya masing-masing, tapi aku pikir sih ... tidak semua kayak gitu." Kata Dea.
"Neng Anisa, ini baksonya pasti menunya seperti biasa kan? menu spesial." Kata si abang tukang bakso sembari memberikan mangkok baksonya kepada Anisa yang sedari tadi tuh diam saja tidak mengeluarkan sepatah apapun.
"Oh, iya Mang. Makasih. Aku makannya tuh di depan!" Anisa menunjuk ke arah terasnya sambil bawa mangkok bakso di tangan.
Anisa membawa langkahnya dengan perasaan yang tidak nyaman dan dia hanya mengangguk pada ibu-ibu yang berada di sana.
Aisyah dan Dea mengerti gimana suasana hati Anisa saat ini, pasti merasa tidak nyaman atau tidak mengenakan. Namun sepertinya Anisa berusaha untuk bersikap tenang yang seolah tidak ada apa-apa.
"Ini mah Mang." Kata seorang ibu lalu menoleh ke arah ibu-ibu lainnya. "Saya mah heran gitu ya? kok nggak ada berita apa gitu! tiba-tiba dia menghilang dan katanya sudah menikah dan sekarang ada di sini, dengan postur tubuh agak beda. Itu tanda orang hamil." Suara ibu itu yang masih terdengar jelas! biarpun sambil berjalan bersama temannya.
Aisyah bengong melihat si Ibu yang barusan menggunjingkan Anisa tersebut.
"Nggak usah pakai sayuran ya? dan sambelnya agak banyakan, aku akan makan di teras!" pintanya Dea kepada si amang tukang bakso.
"Oh baik, Neng. Atau nanti mamang antarkan ke sana saja." Kata ci amang tukang bakso.
Kemudian Dea dan Aisyah pun menghampiri Anisa yang sudah berada di teras yang tersenyum getir ketika Aisyah dan Dea datang, duduk bersama dirinya ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Tidak bosan-bosan aku meminta dukungan dari kalian semua like komen dan subscribe bagi yang belum. Agar dapat notif, makasih banyak