Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Berbunga-bunga


__ADS_3

Carolin tampak mendudukkan dirinya di kursi tepat di depannya Pramana, dia menatap pria itu dengan sangat lekat. "Gimana kalau nanti malam ... kita nonton yo! temenin aku?" Carolin berkata penuh harap kalau Pramana mau menemaninya malam ini.


"Sepertinya ... aku nggak bisa! aku lagi males keluar, kecuali urusan pekerjaan ... kalau yang lainnya aku lagi malas-malasnya nih," jawabnya Pramana sembari menyibukkan dirinya dengan layar laptop dan tangannya pun ke papan keyboard.


"Aku cuma mau nonton doang, nanti balik lagi mau ya? temenin aku ya?" lagi-lagi Carolin membujuk penuh rasa iba.


Namun sepertinya jurus itu tidak mempan pada Pramana. "Sorry, kan sudah ku bilang ... Aku lagi males keluar, lain kali aja lah!" balasnya Pramana seolah memberi harapan kalau lain waktu dia akan mau menemani Carolin untuk pergi.


Carolin mencabik kan bibirnya ke depan, apa boleh buat kalau memang Pramana tidak mau menemaninya. "Baiklah, kalau seperti itu! tapi bener ya ... lain kali aku ajak kamu pasti mau!"


"Aku nggak janji sih!" tambahnya Pramana lagi tanpa melihat ke arah Carolin.


"Em ... Baiklah kalau begitu, aku mau pulang dulu ya? sampai ketemu di lain kali." Carolin berdiri dari duduknya, sekilas menyentuh tangan Pramana lalu dia melangkah kan kakinya untuk menuju pintu.


"Aduh-aduh, aduh-duh ... kepala ku pusing banget! Pram, tolong aku? suara Carolin yang membuat Pramana langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Carolin yang sedang memegangi kepalanya.


"Kamu kenapa sih? sakit kepala lagi?" tanya Pramana sembari merangkul bahunya Carolin dan dia bawa agar Carolin duduk di atas sofa.


"Iya nih Pram, kepala aku berat banget. Penglihatan ku pun berkunang-kunang dan aku butuh istirahat sebentar ... aja!" jawabnya Carolin sembari terus memegangi kepalanya dan tangan yang satunya melingkar di pinggangnya Pramana.


Pramana pun memberikan segelas air minum kepada Carolin. "Ini diminum dulu!"


"Makasih Pram? makasih banget," Carolin menatap wajah Pramana setelah dia meneguk minumnya. Rasanya bahagia banget bisa melihat wajah itu begitu dekat dan ingin rasanya menyentuh wajah Pramana dengan penuh perasaan.


"Aku antar kamu ke dokter ya?" tawar Pramana dan memecah lamunannya Caroline.


Dan Carolin menggercapkan matanya. "Oh, apa Pram?"


"Aku bilang ... aku antar kamu ke dokter!" ulangnya Pramana lagi.


"I-iya, boleh! eh tidak-tidak antar aku pulang saja." Carolin mengangguk dan menggelengkan kepalanya tampak kebingungan.


"Kamu gimana sih Cer? kamu mau aku antar ke rumah pulang! atau ke dokter saja?" selidiknya Pramana yang masih di posisi yang sama duduknya berada dekat dengan Carolin.

__ADS_1


"Kamu antar aku pulang saja pengen istirahat di rumah." Jawabnya Carolin kembali.


"Baik lah ... kalau begitu, aku antar pulang. Bisa jalan kan?" Pramana membantu Carolin berdiri dan memapahnya keluar.


Pramana terus memapah Carolin berjalan meninggalkan ruangannya, namun di saat berjalan Pramana kepikiran Anisa yang hari ini tidak datang ke kantor karena katanya sakit kepala.


"Kamu bawa mobil sendiri, kan Cer?" selidik nya Pramana sambil berjalan menuju sebuah pintu lift.


"Iya bawa, Pram. Kamu saja bawa mobilnya. Aku pusing!" jawabnya Carolin.


Pramana mengangguk sembari mengklik tombol pintu lift. Keduanya memasuki sebuah lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar.


Tangannya Carolin yang sebelah tidak pernah terlepas dari pinggangnya Pramana, dan kepalanya pun seolah bersandar ke bahunya pria tampan tersebut. Hidungnya Carolin perlahan mendengus mencium bahu aroma tubuh Pramana.


Bibirnya pun senyum-senyum sendiri, cuman tidak terlihat saja sama Pramana. Dia merasa menang banyak dan dia pikir kalau kali ini dia akan bisa bersama Pramana lebih lama lagi.


Setibanya di lantai dasar dan tepatnya di parkiran, Carolin memberikan kunci mobilnya kepada Pramana.


"Kamu saja yang bawa ya? kepala pusing banget," kata Carolin sembari menyerahkan kunci mobilnya.


Carolin pun merasa heran dengan kepergian Pramana yang malah menghampiri seorang security dan dia tampak berbincang sebentar, lalu Pramana kembali lagi bersama security yang barusan dia ajak bicara.


"Cer, kamu pulang sama security ini ya? aku ada urusan mendadak dan maaf banget aku nggak bisa mengantar mu pulang!" ucapnya Pramana sembari menyerahkan kunci mobil Carolin kepada security.


Carolin sangat kaget, dia tidak menyangka sama sekali. Kalau Pramana malah akan membiarkan dia pulang bersama security. "Kamu menyuruh aku pulang sama security? bukannya kamu yang akan mengantar ku pulang?"


"Aku rasa kamu tidak terlalu parah dan baik-baik saja bila di antar oleh scurity pun. Dan aku ada urusan yang lebih penting, aku pun harus segera pulang." Kata Pramana sambil membantu Carolin untuk memasuki mobilnya yang membuat Caroline tidak bisa berkutik.


"Tapi Pram?" suara Carolin dari dalam mobil.


Brugh ....


Pramana menutup pintu mobilnya Carolin seraya berkata kepada scurity. "Tolong antarkan Nona ini ke tempat nya dengan selamat."

__ADS_1


"Baik Tuan. Saya akan antar nona ini dengan selamat ke tempat tujuan." Jawabnya security sembari memasuki mobilnya Carolin duduk di belakang kemudi.


Setelah mobil Carolin meluncur dan meninggalkan tempat tersebut, Pramana pun langsung masuk kembali ke dalam ruangannya hanya untuk sekedar mengambil barang-barangnya saja.


Sebab Pramana pun berniat untuk segera pulang, dia menjadi kepikiran tentang kondisi Anisa dan wajahnya yang menari-nari di kelopak mata.


Saat ini Pramana sudah berada dalam mobilnya dan mulai melajukan nya dengan kecepatan sedang. Hari yang Begitu terik awan yang putih, menghiasi langit yang biru tampak indah! walah terasa panas. Begitupun hati Pramana yang mulai berbunga-bunga dan entah karena apa sebabnya.


Pandangan Pramana begitu fokus ke depan, melihat jalanan yang tampak sangat ramai dengan pengendara lainnya. Sesekali mobil tersebut berhenti bila ada :lampu merah.


Dan Tidak selang lama, hanya membutuhkan sekitar 25 atau 30 menitan di jalan, sehingga kini mobil Pramana sudah berada di dalam halaman rumah dan segera memasukkannya ke dalam garasi.


Pramana bergegas turun dan memasuki kediaman tersebut melalui pintu belakang, yang mana di sana ada bibi, sang Bunda dan Renita dan tidak nampak adanya Anisa bersama mereka.


"Assalamu'alaikum!" ucap salam dari Pramana yang langsung menghampiri sang muda dan mencium tangannya.


"Wa'alaikum salam ... sudah pulang Pram ..." sapa sang bunda.


"Iya Bu ..." jawabnya Pramana.


"Tumben pulang lebih cepat?" sambungnya sang bunda.


"Kan hari libur, Bu ..." jawabnya Pramana pada sang Bunda kembali.


"Ooh iya, Ibu lupa! he he he ..." ibu Bella terkekeh sendiri.


"Ibu gimana sih? kan tahu hari libur eh bukan hari libur, hari Sabtu!" timpalnya Renita sambil memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya. "Lagian dia pasti kangen tuh sama istrinya. Makanya cepat pulang."


Pramana tidak merespon omongan dari Renita, dia terus berjalan mendekati anak tangga. Dengan langkah yang lebar agar segera sampai ke atas. Dan dia pikir Anisa pasti berada di lantai atas.


Mau menanyakan tentang Anisa kepada ibu dan Renita rasanya malu, sehingga Pramana hanya diam saja dengan mata yang bergerak mencari keberadaan sang istri ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Mohon dukungannya ya dalam bentuk apapun terima kasih 🙏


__ADS_2