
Keduanya yang baru saja mau melayangi mimpi langsung terbangun dengan suara-suara yang mengganggu pendengaran keduanya.
“Ponsel mu sayang berbunyi dan siapa itu?” tanya Pram sambil bangun.
Anisa menggeleng dan berkata. “Aku tidak tahu siapa.” Anisa malas untuk menerima telepon tersebut.
“Terus siapa yang mengetuk pintu yang tidak berjeda itu? tidak tahu kah mengganggu kita.” Pram tampak sewot, sudah kesal dengan perasaannya yang sulit di kendalikan. Bisa tidur eh ... malah terganggu.
Anisa turun yang sebelumnya mengibaskan selimut nya lalu menyampingkan rambutnya lalu berjalan mendekati pintu. Anisa lebih memilih membuka pintu dari pada mengangkat telepon.
Sementara Pram mengarahkan pandangannya pada ponsel Anisa yang tergeletak berdampingan dengan ponsel miliknya. Lalu Pram mendekati dan menjangkaunya, mengambil ponsel Anisa yang terus bergetar namun tidak ada nama kontaknya! membuat Pram digelayuti rasa penasaran.
“Halo?” suara Pram beriringan dengan suara heboh Anisa dan seorang wanita pasa Pram lihat ternyata itu Dea yang mungkin baru datang yang katanya ada kesibukan lain.
“Hi ... pengantin lama menjadi baru ...” Dea sangat antusias bertemu dengan Anisa sebagai sepupunya.
“Hi ... kok gak bilang sih mau datang sekarang? katanya paman dan tante kama mau mau datangnya besok, kak Deni juga,” suara heboh Anisa sambil memeluk Dea.
“Halo ... pengantin baru? Tidak mengganggu kan?” Deni mengingat tangan pada Pram yang datang mendekati mereka bertiga yang masih berdiri di depan pintu.
“Sudah tahu mengganggu. Tahu gak? lagi nanggung-nanggung nya nih, sudah di ujung!” ucap Pram dengan sedikit ketus namun mengulas senyumnya.
“Yah ... Kak ... sudah ku bilang kan, jangan temui mereka sekarang. Besok aja ketemunya sekalian, kamu sih ... jadinya ganggu kan?” Dea memudarkan rangkulannya pada Anisa dan menoleh pada sanga kakak, Deni.
“Bodo amat. Pening-pening deh tuh kepala atas bawah, paling menyembur sembarangan Ha ha ha ...” Deni nyeleneh sambil melangkah maju beberapa langah.
Anisa menoleh pada Pram dan Deni juga Dea bergantian. “Apaan sih ... bohong, kita tadinya sih mau tidur iya. Nggak ngapa-ngapain kok, ngarang.”
“Ya terserang, lagi bercocok tanam juga dan sukurin saja gak tuntas.” Deni dengan suara dingin dan berjalan masuk mengamati suasana kamar tersebut.
“Sialan, doa’in aku sakit segala, tersiksa tahu.” Pram menggeleng pelan. Keduanya duduk di sofa.
Tatapan Deni tertuju pada tempat tidur yang mewah dan juga berhias bunga-bunga serta angsa putih kembaran pun masih tampak rapi di tempatnya. “Pantas, mana tahan dengan suasana kamarnya juga yang bikin ingin segera belah duren juga. Ck-ck.”
__ADS_1
“Begitu lah, eeh kok tahu sih? jangan-jangan kau sudah ini ya?” Pram menunjuk hidung Deni yang melotot.
“Sudah apaan? Sembarangan. Aku dengar kata orang saja dan dari film gitu.” Elaknya Deni sambil menggeleng kecil.
Anisa dan Dea yang masih berdiri di dekat pintu lalu berjalan menyisir setiap sudut kamar tersebut. “Kamu sibuk banget ya sehingga baru bisa datang ke sini?” tanya Anisa.
“Hooh, aku sibuk. dan memang tadinya mau besok saja ke sini nya pagi-pagi. Tapi setelah di pikir-pikir ... ya sudah lah sekarang saja, lagian kalau besok datangnya, kak Deni pasti akan menjemput gebetannya, lah gue mau sama siapa kan? mendingan sekarang saja deh.” Dea menyentuh bunga hiasan lalu di ciumnya. Mendekati jendela besar dan mengintip keluar di mana terlihat di luar sana begitu indah yang berhias lampu-lampu yang bersinar terang menghiasi kegelapan.
“Eh bay the way busway, sudah belah duren dong ...” pertanyaan dari Deni sembari sedikit memicingkan matanya pada sesuatu milik Pram yang tampak menonjol apalagi Pram saat ini sedang mengenakan celana pendek.
Bugh ...
Pram melempar Deni dengan bantal sofa seraya berkata. “Melihat apa sih dan pertanyaan nya mesum banget. Gak bermutu."
“Biarpun mesum kan memang suka. Ha ha ha ...” Deni tertawa lepas sehingga suaranya bergema di rungan tersebut.
“Gila lu. Jangan membuat orang mengingat itu lah ... orang lagi berusaha untuk tidur, dan melupakan itu, main games yok? dari pada gabut gue.” Pram bangun dan mengambil ponselnya dan sebelumnya dia mengenakan kaos pendek.
“Ha ha ha ... cielahhhhh ... gabutt! pengen segera menembak ya? mana tahan ... oh Tuhan ... aku tidak tahan ingin segera merasakan rasanya melepas tembakan dengan tepat sasaran ha ha ha ...” lagi-lagi Deni menggoda Pram yang sedang galau.
Dea dan Anisa asik mengobrol di atas tempat tidur. “Oya Nisa, masih ingat kan sama si Dewo yang dulu waktu SMA nembak aku?”
“Sebentar, Dewo ... oh yang itu.” Anisa sejenak berpikir.
“Nah ... itu—“
“Yang mana? aku gak ingat!” Anisa memotong perkataan Dea.
“Lho katanya barusan ingat?” Dea menatap ke arah Anisa.
“Nggak. Yang mana sih?” Anisa mengerutkan keningnya.
“Aish ... aku kira tadi bilang oh itu, ingat malah tidak.” Dea menepuk jidatnya dengan ulah sepupunya itu. “Yang itu sewaktu di SMA ... dia menyatakan cinta pada ku dan aku tolak.”
__ADS_1
“Ooh ... yang itu ...” Anisa menganggukkan kepalanya.
“Nah ... itu bener—“
“Nggak ingat aku.” Goda Anisa sambil mesem dan sengaja untuk menggoda Dea saja.
“Busyet ... malas ach gue cerita.” Dea cemberut dan kesal pada sepupunya tersebut.
“Hi hi hi ... aku ingat kok ... Dewo yang itu yang waktu itu suka memberikan mu bunga kotok ha ha ha ...” Anisa tertawa kecil.
“Itu kamu ingat dia, baru-baru ini aku bertemu dia lagi dan dia sekarang sudah mapan juga dia ... menyatakan cinta lagi sama aku—“
“Terus-terus?” potong Anisa.
“Terus-terus? parkiran kali ach. Aku belum jawab sih ... tapi kalo dia mengajak ku jalan dan dan dinner misalnya, aku mau sih di ajak sama dia.” Kenang Dea sambil menarik guling.
“Kenapa kamu belum terima? terima saja ... mungkin dia memang mencintai mu dengan tulus dari dulu sampai sekarang tidak berubah dan dia masih punya keberanian untuk menembak mu lagi setelah sekian lamanya kamu tolak. Siapa tahu memang itu cinta sejati mu Dea ... jangan sia-siakan lagi dia. Jangan sampai kau menyesal Dea.” Ujarnya Anisa yang tampak serius pada Dea.
“Sebenarnya ... aku juga berpikir begitu Nisa, tapi aku ... masih ingin memikirkannya dan meminta saran dari mu dulu—“
“Buat apa kau meminta saran dari ku? kamu harus punya keyakinan sendiri dan apa salah nya kamu terima dulu, siapa tahu memang dia yang terbaik untuk mu.” Tambahnya Anisa kembali.
Saking asik nya mengobrol, sampai tidak terasa waktu pun sudah menunjukan pukul 00.00 dan Dea sudah beberapa kali menguap, begitupun dengan Anisa dia tampak lelah sekali.
Dea memutuskan untuk keluar dari kamar Anisa dan Pramana serta mengajak Deni yang juga tampak lelah, malahan Pram sudah tepar sambil memegangi ponselnya.
“Nisa ... silakan lanjutin lagi deh jika mau bermain lagi, bilang dan bangunkan suami mu. Siapa tahu mau main perang-perangan.” Ucap Deni setelah berada di depan pintu.
“Sudah, jalan ah ...” Dea sambil mendorong kedua bahunya Deni dari belakang. Kedua adik kakak itu tampak selalu akur dan saling menyayangi.
Anisa mengunci pintu kamar setelah sepupunya tidak lagi berada di tempat tersebut. Lalu mendekati suaminya mengambil ponsel yang masih menyala di app games.
Drettttt ... suara ponsel Anisa kembali bergetar dan Anisa menoleh tanpa ekspresi
__ADS_1
....