
"Gimana Nggak cemas, ini hari H nya, sementara mempelai wanita tak datang, ya Allah ... sesaknya dadaku ini!" lirinya sang istri.
"Berdoa saja semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita semua." Sang suami mengajaknya masuk.
"Iya, Bu ... jangan panik Nanti ibu sakit timpalnya sang mantu yaitu istrinya dari Andre.
...----------------...
Mobil Pramana yang terus meluncur dengan sangat cepat bak panah yang terlepas dari busurnya, sudah hampir setengahnya perjalanan menuju kediamannya Adisty.
"Pram-Pram, berhenti dulu? Aku pengen pipis nih, nggak kuat!" pintanya Andre pada sang adik membuat sang adik mendelikkan matanya dengan sangat sempurna.
"Dalam keadaan begini, kamu masih ingin buang air kecil?" ucapnya sang adik dengan ketus.
"Ya gimana lagi? Nggak bisa ditahan nih buruan?" pintanya Andre lagi.
Sehingga Pramana pun menemukan mobilnya di tempat yang agak sepi dan Andre buru-buru turun dan entah mau di mana dia membuang air kecil.
"Jangan lama-lama!" gumamnya Pramana sembari mengetuk-ngetuk jarinya di atas kemudi, dia benar-benar nampak gelisah.
"Ya Allah ... biarlah aku jalan keluar dari setiap permasalahan. Aku tidak mengerti kenapa ini terjadi? kenapa tiba-tiba Adisty tiba-tiba membatalkan pernikahan. Bahkan tanpa berunding dulu denganku." Gumamnya Pramana dalam hati.
Beberapa saat kemudian Andre pun masuk kembali ke dalam mobil nya Pramana. Dan Pramana tanpa menunggu lama. Dia langsung menjalankan kembali mobilnya meluncur dengan sangat cepat.
Selang beberapa puluh menit kemudian. Mobil Mercedes berwarna hitam mengkilat itu tiba di sebuah rumah kediaman Adisty, sang calon istri.
Pramana langsung turun dan tidak perduli dengan kunci yang menggantung di tempatnya. Pemuda tampan itu berlari ke dalam rumah yang terdapat ada beberapa orang yang bagian dari keluarga itu yang mungkin tadinya mau mengantar sang mempelai nikahan.
"Adisty? Adisty ... dimana kamu?" teriak Pramana sambil berlari ke dalam.
Di ruang keluarga, tengah berkumpul dengan keluarga lain dengan wajah yang sendu dan sedih.
__ADS_1
"Om, Tante ... mana Adisty?" tanya Pramana sesaat berdiri dan hendak mengayunkan langkahnya ke arah tangga namun di cegah oleh seseorang.
Semua yang berada di sana menatap teduh ke arah Pramana yang menunjukan wajah nya yang tegang.
Karena tidak dengan cepat mendapat jawaban. Pramana membawa langkah lebarnya ke lantai atas dan mendatangi kamar Adisty yang kosong.
"Adisty ... kamu di mana?" teriak Pramana sambil mengedarkan pandangannya dan kamar mandi juga wardrof pun tidak luput dia periksa.
Semua ruangan tampak kosong membuat Pramana kembali berteriak memanggil nama kekasihnya. "Adisty. Kamu di mana? kenapa tidak pergi ke pernikahan kita?"
Orang tua Adisty yang menyusul Pramana ke kamar putrinya, di ikuti juga oleh Andre dan beberapa orang di sana.
"Dia tidak ada. Dia sudah pergi tanpa sepengetahuan kami dan ini secarik kertas yang dia tinggalkan." Kata ayah dari Adisty sembari memberikan secarik kertas.
Pramana mengambil secarik kertas tersebut dan lalu membacanya.
"*Ayah, Ibu. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan aku yang pergi tanpa pamitan. Bukan niat aku untuk mencoreng muka arau membuat malu kalian semua, atas gag*alnya pernikahan ku. Namun aku merasa ... aku belum siap untuk menikah. Sekali lagi maaf kan aku Ayah ... Ibu. Sampaikan juga maaf ku pada Pramana, aku tidak siap untuk menikah dengannya. Aku ingin mengejar karier dulu. Dalam beberapa bulan atau satu tahun ini, di saat surat ini di baca. Aku pasti sudah terbang ke sebuah tempat. Selamat tinggal semuanya."
Andre mengikuti nya dari belakang. Mengejar sang adik yang berjalan cepat menuju mobilnya yang entah mau kemana kuncinya.
"Kunci, Abang. Kuncinya?" pinta Pramana sambil celingukan mencari kunci.
Andre memberikan kuncinya pada sang adik yang begitu tampak gelisah dan cemas.
"Mau kama sekarang?" tanya Andre sambil memasang bel safety di tubuhnya. Dia merasa ngeri dengan kecepatan mobil yang Pramana jalankan.
"Bandara!" Pramana pun memasang bel safety nya lalu nge gas mobilnya mundur, belok lalu maju. Dengan kecepatan sangat tinggi.
"Jangan cepat-cepat juga dong ... saya ngeri, saya masih ingin hidup. Saya punya istri yang masih cantik dan masih belum lama kawin nya juga, sayang dong kalau secepat ini dia menjadi janda!" Celoteh Andre sambil memegangi pegangan di pintu mobil.
Andre sangat ketakutan dibuatnya.
__ADS_1
Pramana tidak menjawab apapun, dia tetap fokus saja dengan pandangan ke depan. Dalam pikirannya sudah berada di salah satu bandara dimana sang kekasih berada dan akan menjalani penerbangan ke suatu tempat.
Pramana bertekad kalau dia harus bertemu dulu dengan sang kekasih yang tidak bisa dihubungi lewat pesawat teleponnya. Di saat detik-detik acara pernikahan yang akan mereka jalani yang sebelumnya sudah disepakati dengan baik, dan penuh persiapan yang benar-benar matang! namun tiba-tiba semua harus batal begitu saja.
Ini sesuatu yang benar-benar bikin kecewa jika tidak bisa menemukan dan merubah pendirian dari sang kekasih.
Kini Pramana berlari memasuki area bandara yang dihadang oleh penjaga pintu. "Disty? Adisty!" teriak Pramana seakan tidak punya malu lagi untuk berteriak-teriak seperti orang gila saja.
"Maaf, anda tidak boleh masuk. apalagi tak ada keperluan sama sekali." Cegah scurity bandara tersebut menghadang Pramana yang hendak masuk.
"Tolong izinkan saya untuk masuk. Saya ingin bertemu dengan salah satu penumpang Lion air. Dia calon istri saya dan sebentar lagi kami berdua harus menikah, tolong izinkan aku bertemu dengannya." Pramana memohon.
"Maaf tidak bisa! lagian pesawat itu sudah terbang 5 menit yang lalu! jadi anda sudah terlambat!" jelas orang tersebut.
"Nener pak, pesawat dengan nomor xxx sudah terbang?" selidiknya Pramana setengah tidak percaya.
"Beneran, Tuan. Sudah terbang 5 menit yang lalu!" jawabnya orang tersebut.
"Yakin Pak?" Andre pun ikut bertanya dan jawabannya sama.
Pramana mengedarkan pandangannya ke sekitar bandara dan tidak sedikitpun luput dari pandangan, Pramana yang mencari keberadaan Adisty yang siapa tahu tidak jadi berangkat dan merubah pikirannya lagi demi dirinya.
Namun semua sia-sia dan yang dicari sepertinya tidak ada di sana. Membuat tubuh Pramana melemas dan luruh ke lantai.
Memegangi kepalanya dengan kedua tangan yang terasa berdenyut. Pusing, kecewa. Marah tidak tahu harus di lampiaskan nya kepada siapa?
Andre langsung merangkul bahu Pramana dan mengangkat dia supaya berdiri. "Ayo Pram, mendingan kita pulang? percuma kita di sini. Dia sudah tidak ada dan dia memang tidak mau menikah dengan mu."
Dengan lemas dan langkah yang gontai, Pramana dipapah oleh sang kakak ke dalam mobil ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mohon dukungannya ya terima kasih.