
Membuat Pramana terkaget-kaget dan langsung buka matanya. "apa-apaan sih?" kelopak mata Pramana yang tertutup langsung terbuka lebar melihat wajah Anisa yang sangat dekat dan Anisa tidak buru-buru naik sementara tangannya mengambil benda itu sembari menunjukkan bibinya yang tersenyum.
Anisa menyembunyikan benda itu ke belakang tubuhnya sambil berkata maaf aku terpeleset. Tubuhnya bergerak naik.
"Suka benar menyentuhkan benda empuk itu ke tubuh ku, kau sengaja menggoda ku apa? maaf aku tidak tergoda." Jelas Pramana sambil kembali terpejam.
"Emang siapa yang menggoda mu? orang terpeleset kok." Belanya Anisa sembari mengernyitkan bibirnya.
"Tidur." Gumamnya singkat dan padat.
Anisa hanya menggerakan bibirnya lalu buru-buru menyimpan sesuatu yang berada di tangannya ke tempat pakaian kotor.
"Huuh ... untung nya dia gak lihat, kalau lihat. Malunya aku ..." Anisa sedikit menggeleng.
Kemudian Anisa gegas keluar lagi dari kamarnya meninggalkan Pramana yang sedang berbaring.
Pramana membuka matanya setelah terdengar suara pintu yang tertutup. Sesaat dia memandangi daun pintu yang kemudian terpejam kembali.
Anisa pun yang merasa ngantuk, keleyengan kepalanya. Mau tidur di mana nih? dan dia mendapat ide untuk tiduran di kamar kakaknya saja, Aisyah.
Sekitar pukul 15.30. Anisa sudah bangun kembali. Mendatangi kamarnya yang tadi ada Pram di sana. Ternyata dia sudah terbangun duduk di tepi tempat tidur sambil menggelengkan kepalanya.
Melihat pintu terbuka dan Anisa berdiri di sana dengan sama-sama bermuka bantal , Pramana bergumam. "Aku mau mandi, pinjem handuk."
"Ha. Handuk, kan gak bawa baju ganti!" Anisa langsung mengambilkan handuk bersih.dari lemari.
"Nggak pa-pa, ini lagi aja." Pramana membuka kemeja nya dan menyisakan kaos putih di dalamnya.
"Ini handuk nya!" Anisa memberikan handuk pada Pramana.
"Kau bangun tidur apa?" selidik Pram ketika melihat sajak bantalnya Anisa.
"He'em." Anisa mengangguk pelan.
"Di mana?" tanya lagi Pram sambil menyimpan handuk di pundaknya.
"Kamar sebelah." Anisa singkat Engan langkah yang ingin dia bawa ke luar.
"Kenapa gak tidur dengan ku?" Pramana nyengir.
Anisa menunjukan wajah yang sedikit membelalakkan manik matanya pada Pram ngeloyor ke kamar mandi.
Detik kemudian di saat Anisa mau keluar kamar, terdengar suara Pram.
"Sabunnya di mana?" pekiknya namun sambil membukakan pintu dengan sudah bertelanjang dada.
Sejenak manik Anisa menatap tak berkedip ke arah perut yang sixpack itu bak roti sobek.
"Kan ada di sana." Tunjuk Anisa ke arah penyimpanan sabun.
__ADS_1
"Itunya?"
"Apa lagi? shampo? ada juga di sana. Aku tadi sudah cek kok. Ada!" Anisa mengalih pandangan ke lantai.
"Ya sudah!" Pram kembali menutup pintu dan Anisa segera keluar kamar.
"Huuh ..." Anisa berjalan menuruni anak tangga, rupanya sang ayah sudah pulang.
"Assalamualaikum ... Ayah apa kabar?" Anisa menghampiri sang ayah.
"Hem, sama siapa ke sini? suami mu mengijinkan tidak?" tanya pak Joni sambil menatap putri nya dengan intens, kini kehamilan Anisa sudah ketara.
"Nisa ke sini sama Pram, Yah ..." jawabnya Bu Farida.
"Ooh, mana dia sekarang?" selidiknya pak Joni sambil menoleh ke lantai atas.
"Sedang mandi dia," sahut Anisa sambil menunjuk ke atas.
"Gimana kamu betah di sana?" pak Joni mendudukan bokongnya di sofa.
"Alhamdulillah, Yah ... Nisa betah dan keluarga di sana sangat baik pada Nisa." Anisa sambil mengalihkan pandangan ke arah tangga dimana Pram turun sambil mengancingkan kemejanya dengan tubuh yang tampak segar.
"Syukur lah kalau begitu!" pak Joni mengangguk dengan pandangan ke arah Pram yang menghampiri.
"Apa kabar, om?" Pram mengulurkan tangan pada pak Joni.
"Entah, Anisa. Aku cuman ngantar saja." Balasnya Pram seraya mendudukan dirinya di bekas duduk Anisa yang sudah pergi ke lantai atas.
Mereka pun mengobrol berdua. Sementara Bu Farida pun beranjak dari duduknya dan pergi entah kemana.
Di luar tampak sebuah taksi memasuki halaman dan turunlah Aisyah dan kedua anaknya yang langsung berhamburan berlari memasuki rumah opa dan Oma nya.
Kehadiran Aisyah dan kedua anaknya di sambut hangat oleh keluarga.
"Assalamualaikum ... Ibu, Ayah ..." Aisyah mencium tangan dan memeluk keduanya bergantian.
"Aisyah dah sampai, Alhamdulillah ..." Bu Farida mengulas senyum nya penuh syukur karena putri sulungnya sudah sampai dengan selamat.
"Azis mana?" tanya sang ayah.
"Mas Azis nanti menyusul." jawabnya Aisyah sambil mengalihkan pandangan pada Pramana yang terdiam sambil berdiri.
Wanita cantik dan berkerudung itu menunjukan senyum nya pada Pram, mengangkat kedua tangan memberi salam yang di satukan di dada seraya berkata. "Pram, Anisa nya mana?"
"Dia, di kamar mungkin!" Pram pun menyatukan kedua tangannya di dada.
Suasana yang hening, tenang ... kini berubah riuh dan ramai dengan suara Fika dan Ferly juga suara mainan yang mereka keluarkan.
Pram hanya memandangi anak-anak tersebut. Dia sih di bilang gak suka, biasa aja! di bilang suka sama anak kecil? gak terlalu juga.
__ADS_1
Aisyah Membawa langkahnya ke kamar Anisa yang katanya berada di sana.
Anisa baru selesai mandi dan salat. tidak lupa mencuci kaos putih yang Pram tinggalkan.
Ketika pintu terbuka dan munculah Aisyah membuat Anisa menjerit girang. "Kak Aisyah!"
"Nisa ... Kak Aisyah kangen sama kamu!" keduanya berpelukan erang melepas rindu. Lalu Aisyah menatap intens ke arah Anisa dan menatap ke arah perutnya yang sudah nampak.
"Sekarang perut mu sudah nampak, Dek." Tangan Aisyah menyentuh perut Anisa yang mulai membulat.
"Iya, Kak. sudah mulai ketara nih!" Anisa menunduk melihat perutnya.
Sudah di periksakan ke dokter belum?" tanya Aisyah lagi.
"belum, Kak! Anisa menggeleng.
"Kenapa gak di periksakan ke dokter Nisa ... seharusnya sudah di periksa kesehatannya. Detak jantungnya." Tambah Aisyah.
"Ibu juga di sana mengajak ku periksa, tapi aku gak mau ... karena aku malas di tanya-tanya sama dokter atau bidannya, Kak." Anisa mendudukan dirinya di tepi tempat tidur.
"Di tanya apa, Dek ..." sang kakak menatap lekat.
"Ya malas saja Kak. Nanti di nya ini itu termasuk nikahnya, berbohong dosa, jujur gimana? yang malu bukan cuma aku tapi keluarga Pram juga. Aku gak mau kak bikin mereka malu." Anisa melepas tatapan yang sedikit berkabut.
"Ya ampun, Dek ..." Nisa memeluk kembali sang adik.
"Terus gimana sikap Pram selama ini Sam kamu?" selidik Aisyah dengan posisi masih memeluk sang adik.
"Dia ... kadang baik kadang menyebalkan, mulutnya kaya perempuan malah lebih dari perempuan. Pedas level tinggi Kak." Jawabnya Anisa.
"Yang sabar aja. Nanti juga nggak kaya gitu lagi ... dia belum mengenal Nisa aja. Kakak yakin kalau dia itu baik kok." Aisyah memudarkan pelukannya.
"Kak Aisyah benar ... Pram itu orangnya baik kok. Cuman belum itu saja ... belum begitu mengenal." Tambahnya sang bunda.
Kemudian datang lah kedua ponakannya ke kamar Anisa membuat suasana menjadi ramai dan berantakan isi kamar, ini di ambil itu di turunkan padahal gak kecil amat nih anak-anak cuman hiper aktif saja.
"Aduh ... kepala tante pusing nih ... kalau kalian berbuat kaya gitu." Anisa memekik membuat kedua ponakannya menoleh dan langsung menyimpan yang sudah mereka ambil.
Aisyah dan ibunda hanya tersenyum melihat teguran Anisa pada keponakannya.
"Nah ... gitu dong! kan comel ponakan Tante kalau menurut begitu. Sayang tante!" Anisa tersenyum dan membuka tangannya untuk memeluk mereka berdua.
"Auwh!" rintih Anisa yang merasakan nyeri di bagian perut.
Aisyah dan ibunda heran dan bertanya kenapa? begitupun dengan kedua ponakannya yang langsung memudarkan pelukannya itu ....
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya ya like komen dan subscribe-nya... makasih
__ADS_1